Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta.
Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit snack ini sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keikhlasan mereka untuk mendengar sekaligus membaca dan membaca sekaligus mendengar apa-apa yang akan saya sampaikan sampai beberapa menit ke depan. Nanti silakan kalau ada yang mau membaca ayat-ayat Al Quran saya akan sediakan tempat di depan untuk mengawali dialog ini. Supaya dialog ini tidak berjalan tanpa arah yang jelas. Nah Al Quran itu nanti adalah GPS kita bersama. Mulai sekarang saya mohon setiap teman-teman akan membaca tulisan apapun usahakan untuk membaca dulu beberapa ayat Al Quran. Terserah ayatnya yang mana. Al Fatehah juga boleh. Syukur mulai menyicil beberapa ayat yang tidak begitu populer dan jarang dibaca. Lebih syukur lagi kalau ada yang melantunkannya secara tartil dan enak didengarkan telinga semua umat manusia secara universal. Bagi yang merasa tidak mau maupun tidak mampu, atau yang berbeda keyakinan, saya mohon agar memanjatkan doa seikhlas-ikhlasnya kepada Tuhan supaya dalam dialog kali ini tidak ada yang tersakiti, semuanya aman, semuanya mendapat berkah dari Tuhan. Begitu ya?
Oh, silakan-silakan mbak yang pake kerudung merah. Silakan duduk mbak. Di sebelah kanan masih ada tempat kosong. Kasih jalan kasih jalan. Itu masih muat untuk tiga sampai lima orang. Iya mbak silakan maju saja. Kasih jalan tolong.
Sekarang, mari kita bersama-sama menundukkan diri kita atas setiap ketidaktahuan demi ketidaktahuan, atas ketidakpastian demi ketidakpastian, atas kebodohan demi kebodohan yang terus kita lakukan secara berulang-ulang dan sistematis yang bahkan kita lakukan tanpa kita sadari, kita tunjukkan itu semua di hadapan Tuhan, dan kita akui. Harapannya semoga Tuhan mau sedikit melimpahkan kasih sayangNya dan memodifikasi kebodohan kebodohan, ketidaktahuan-ketidaktahuan, dan ketidakpastian-ketidakpastian itu menjadi bekal untuk menuju pengetahuan-pengetahuan yang baru, kecerdasan-kecerdasan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan keridhoan-keridhoan Alloh terhadap hidup dan mati kita.
Sekarang siapa yang mau membaca ayat Al Quran? Kalau bisa anak kecil saja. Baca Al Fatehah. Kenapa anak kecil? Karena mereka masih banyak ruang kosongnya belum banyak terkontaminasi oleh apapun. Iya, adek di sebelah sana boleh maju. Ayo. Nggak papa. Sini. Ya, sebut nama sama nama bapak ibunya.
“Nama saya, Siti Nur Afifah. Nama bapak, Sutarno, nama ibu, Sutiyem.”
Iya kita beri waktu adek Siti Nur Afifah untuk membacakan surat Al Fatehah untuk semua teman-teman yang hadir disini. Yuk dek. Bismillah.
Amin amin amin ya Allah aamiin....
Sebelum benar-benar kita mulai, saya sedikit tersentil dengan kenyataan yang saya lihat barusan. Ada anak kecil namanya Siti Nur Afifah. Orang tidak berpendidikan pun tahu kalau itu bahasa Arab. Ada dua orang bernama Sutarno dan Sutiyem. Nama mereka jelas menggunakan bahasa Jawa. Lantas punya anak dan diberi nama dengan bahasa Arab. Terus ada indikasi kalau melihat pola pergerakan dan perubahan zaman ini, ada kemungkinan Sutarno dan Sutiyem itu nanti memiliki cucu yang diberi nama dengan bahasa Inggris. Jadi ada semacam pola penggunakan bahasa seperti ini. Jawa-Arab-Inggris. Misalnya ada ibu namanya Suparinah. Karena dia semasa muda belajar ilmu agama Islam jadi aktifis, lantas memberi nama anak laki-lakinya dengan nama Muhammad Nur siapa. Nah si Muhammad Nur ini hidup di jaman yang serba canggih dalam penyebaran informasi lantas mengenal dan menyukai grup band asal Amerika Linkin Park. Kelak dia menamai anaknya dengan Chester. Jadi ada pola pergerakan dari Jawa kemudian berubah ke Arab kemudian ke bahasa Inggris dengan beberapa varian kebudayaan baratnya. Banyak anak-anak sekarang diberi nama dengan unsur bahasa Inggris? Ini bukan soal salah dan benar lho. Ini juga bukan soal strata bahwa bahasa Inggris lebih modern, bahasa Arab lebih religus dan bahasa Jawa hanya seonggok bahasa yang mulai tidak dipedulikan lagi bahkan oleh pendukung kebudayaan Jawa itu sendiri. Sekarang kitab berbahasa Jawa bahkan dianggap kitab kesyirikan. Kita di sini hanya berusaha membaca secara tartil setiap perubahan dan pergerakan jaman.
Nama: Suparno
Nama anak: Dzulkifli
Nama cucu: Superman
Oke sudah cukup pengantarnya. Iya bapak silakan. Ini belum dimulai sudah ada yang mengangkat tangan. Silakan bapak. Siapa tahu ini nanti bisa menjadi bahan kita bersama.
“Mas kira-kira siapa nanti akan yang menjadi juara 2014?”
“Sebelum saya jawab, bapak tanya soal piala dunia Brazil atau pemilu Indonesia?”
“Hahaha.. mas mas. Kita ini orang kecil. Nurut saja sama yang di atas. Ya jelas piala dunia Brazil lah mas. Mana mungkin otak orang kecil kayak saya sanggup memahami pemilu?”
“Sebentar bapak. Bapak mau pasang taruhan? Kok tanya siapa yang bakal jadi juara?”
“Hahaha.. mas tahu aja. Iya mas. Saya mau masang taruhan. Soalnya lihat sepak bola tanpa bertaruh itu nggak ada gregetnya sama sekali. Kayak makan pizza kurang minum. Seret!”
“Maksut bapak, bapak juga mau meraup untung dari pertandingan sepak bola?”
“Iya mas. Buat apa kita fanatik sama salah satu klub atau negara mas kalau kita tidak mendapatkan untung dari itu semua? Kita mati-matian membela klub negara Argentina. Cuma seneng aja karena pemainnya rata-rata bagus. Tapi tanpa kita bertaruh untuk mereka ya rugi mas. Misal mereka menang, jadi juara, lantas apa pengaruhnya buat kita? Cuma ikut menikmatinya sesaat lalu membicarakannya di warung-warung selama sekitar paling lama sebulan setelah itu apa? Tidak membekas apa-apa mas. Kita tetap kesulitan bayar sekolah anak mas.”
“Terus kalau bapak kalah bertaruh gimana? Apa malah tidak rugi?”
“Kalahnya kan jelas mas. Jadi kalau misal klub kesayangan saya Argentina itu kalah, dan saya sedih, sesungguhnya kesedihan itu bukan untuk klub Argentina, melainkan saya tujukan untuk diri saya sendiri mas. Untuk diri saya yang kalah taruhan itu mas. Lagian mas, dunia taruhan itu memiliki alam yang berbeda dengan alam kenyataan. Di dalam kenyataan pertandingan bola misalnya Argentina menang 1-0 atas Nigeria, di dalam alam taruhan bisa jadi Argentina itu kalah oleh Nigeria mas. Karena alam taruhan memiliki aturan sendiri. Kalau dalam bahasa kita sehari-hari yang gemar bertaruh ini ada istilah ‘pur-puran’, dan ‘glek-glekan’. Nah yang ‘pur-puran’ itu mas yang saya maskut tadi. ‘Pur-puran’ itu seperti ada tawar menawar antar petaruh. Jadi misal saya taruhan masang Argentina tapi harus ‘ngepur 2’ kepada Nigeria, itu artinya Argentina memberikan dua gol dulu untuk Nigeria. Jadi meskipun kenyataannya Argentina menang 1-0 atas Nigeria, tapi saya tetap kalah taruhan mas. Karena saya sudah menyumbangkan selisih dua gol untuk yang megang Nigeria. Syarat rukun agar saya menang taruhan tersebut, secara kenyataan Argentina setidaknya harus menang 3-0 atas Nigeria...”
“Pak sebentar di stop dulu. Penjelasan bapak sudah cukup untuk saya mengerti.”
“Terus mas yang jadi juara siapa?”
“Yang jadi juara ya yang menang di pertandingan final bapak.”
“Lha? Mas ini gimana? Ini dialog macam apa?! Tidak memberikan satu pemecahan pun bagi orang kecil seperti saya ini. Tugas mas itu sederhana. Hanya menjelaskan memberitahu secara detail dengan pelbagai macam analisis dari ilmiah sampai yang dianggap klenik siapa nanti yang menjadi juara piala dunia. Gitu aja masa nggak bisa bantu mas! Dialog macam apa ini?! Percuma dong saya ke sini! Asal mas tahu ya! Sepak bola itu satu-satunya yang menghibur kami mas! Dan kalau kami taruhan itu nominalnya paling banyak 50.000 saja, tidak lebih mas! Saya lebih baik pulang saja kalau gitu.”
“Bapak sebentar. Kalau bapak saya beritahu sekarang, di mana letak keasyikan bertaruhnya? Bukannya salah satu tujuan bapak bertaruh juga untuk merasakan dagdigdung-nya jantung bapak? Bukannya salah satu tujuan bapak bertaruh supaya adrenalin bapak meningkat sehingga saat bapak melihat tayangan sepak bola dari layar kaca bapak seolah-olah sedang ikut di dalamnya. Atau yang lebih ekstrim seolah-olah bapaklah pelatih klub kesayangan bapak itu, sehingga bapak ikut berteriak-teriak memberikan instruksi kepada para pemain kemana harus mengarahkan bola? Terus kalau bapak sudah tahu siapa yang menang, memang bapak sudah pasti bertaruh? Bukannya bapak tadi bilang kalau bapak juga masih kesulitan untuk membayar biaya pendidikan anak? Bapak sebagai kepala keluarga yang baik, memilih tetap menggunakan uang untuk taruhan bola atau untuk menyekolahkan anak?”
Oke teman-teman. Kita di sini tidak sedang menghakimi siapa-siapa. Hanya menemani bapak ini untuk memilih jalannya sendiri. Pun kalau bapak ini tetap bersikeras memilih taruhan ya silakan. Cuma teman-teman di sini juga paham, bahwa selalu ada yang lebih baik di antara yang baik. Tidur itu baik, tapi sholat lebih baik. Minum sambil berdiri itu baik apalagi anda sedang bermain sepak bola, tapi kalau anda sedang tidak beraktifitas apa-apa lebih baik ya minum sambil duduk saja.
Mungkin ini memang kebetulan semata bahwa tahun 2014 nanti ada dua peristiwa yang berpengaruh bagi bangsa ini. Pemilu dan piala dunia Brazil. Sekarang saya tanya, teman-teman kalau melihat jadwal pertandingan sepak bola itu yang dicari pertandingan yang diprediksi bakal menjadi pertandingan yang seru atau pertandingan yang biasa saja? Pertandingan antara klub yang kuat melawan klub yang kuat atau pertandingan antara klub yang kuat dengan yang lemah? Pertandingan di grup neraka, atau grup yang biasa saja? Grup neraka ya? Semuanya suka dengan grup neraka karena di grup nerakalah klub-klub bagus bertanding. Tahu kenapa justru yang menarik itu disebut grup neraka? Kenapa tidak disebut dengan grup surga? Tahu sebabnya? Karena di grup itulah peluang kita untuk ikut-ikutan taruhan sangat besar. Apa saking serunya, saking sama-sama kuat parpol-parpolnya, saking sama-sama berkompeten calon-calon presidennya, pemilu 2014 nanti kita sebut saja itu dengan pemilu neraka?
“Sekarang bapak mau tetap di sini atau pulang?”
“Di sini saja mas. Lha mas belum memberitahu saya siapa nanti yang menang kok!”
Komentar
Posting Komentar