Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan.....
Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.
"Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya.
"Kamu, mau menemaniku?" pemuda itu ragu.
"Iya. Kamu meragukanku?"
"Bukan. Aku tidak sedang meragukanmu. Aku hanya..."
"Tak ingin tersakiti dengan masa lalu?"
"Iya.." pemuda itu lesu kembali.
"Setiap orang punya masa lalu. Seperti kamu, aku, juga yang lainnya. Masa lalu memang tak bisa dilupa. Bahkan semakin dilupa akan semakin kuat di ingatan kita. Tapi kamu harus tahu, bahwa cinta itu sebenarnya persoalan masa depan, bukan masa lalu." perempuan itu terlihat sangat kuat.
"Ah, sama saja. Sudah banyak yang berkata seperti itu.."
"Iya, tapi bukan aku. Itu mereka. Kalau kamu menganggapku sama dengan mereka, berarti kamu sedang hidup di duniamu sendiri."
"Iya. Aku lebih suka di sini. Di dalam pengembaraan hidup yang aku tak mau peduli dengan orang lain. Karena setiap orang sebenarnya juga sedang hidup di alam masing-masing. Apa? Untuk orang banyak? Itu hanya retorika. Sejatinya mereka hanya membuka lebar jalannya sendiri. Memperluas keuntungannya sendiri."
"Kamu salah. Tidak ada retorika dalam niat. Dalam niat yang ada hanyalah keyakinan dan kesungguhan. Selebihnya adalah pengorbanan demi pengorbanan."
"Tapi..."
"Sudahlah. Ikutlah denganku. Keluarlah dari kegelapan yang kamu ciptakan sendiri."
"Tapi cahaya yang kamu bawa kecil. Itu hanya cukup untuk satu orang. Mana mungkin bisa menerangi perjalanan kita berdua."
"Bukan soal besar atau kecil cahaya ini. Terkadang cahaya yang terlalu besar malah menyilaukan. Sekarang berjalanlah bersamaku. Kamu di depan karena kamu lelaki."
"Tapi aku sudah lupa jalan keluar dari sini. Aku sudah lama hidup di sini."
"Aku tahu. Aku yang akan memberitahumu dari belakang. Sekarang berdirilah. Segelap dan seberat apapun perjalanan kita, aku akan setia menemanimu. Sudah banyak yang menunggu senyummu di luar sana."
Pemuda itu bangkit meski sempoyongan tubuhnya. Segera ia raih tangan perempuan itu. Dibawanya cahaya kecil. Dan mulailah mereka berjalan. Lama ia tak bergerak. Bahkan berdiri pun tak mau ia lakukan. Meringkuk dan meringkuk. Terpuruk dan terpuruk. Namun sekarang lain ceritanya. Tangan yang menggenggam erat dari belakang, adalah kekuatan. Selangkah demi selangkah mereka mencoba memilah, untuk menemu jalan terindah. Setapak demi setapak mereka mencoba menebak, apakah hati perlu teriak. Sejengkal demi sejengkal, mereka mencoba menerjang aral, karena cinta patut diperjuangkan sampai ajal.
"Auw.." perempuan itu kesakitan.
"Kenapa kamu?" Dilihatnya darah keluar dari tangan perempuan itu.
"Tak tahu."
"Coba lihat. Kamu terkena duri."
"Duri?"
"Iya duri. Aku sengaja menanam tumbuhan berduri di sini. Agar tidak ada orang lain yang mampu menjangkau ku. Tapi tunggu dulu. Bagaimana mana tadi kamu bisa melewati duri-duri ini sewaktu ke sini?" pemuda itu heran.
"Aku.."
"Katakanlah."
"Aku tidak peduli dengan duri-duri itu. Aku melewatinya begitu saja dan tidak merasakan apa-apa."
"Gila! Mana kakimu! Coba aku lihat!" pemuda itu miris. Ia melihat kaki perempuan yang berdarah-darah akibat tertusuk duri. "Kenapa kamu senekad ini?"
"Karena rasa cintaku mengalahkan rasa sakitku. Keyakinanku mengubur habis keraguanku."
Dengan sedikit sesal di raut mukanya, pemuda itu mencoba memaafkan dirinya sendiri. Kenapa ia harus membatasi diri dengan duri? Tanpa ragu kemudian pemuda itu membopong si perempuan. Darah yang terus menerus keluar membuat tubuhnya mulai lemah. Mau tak mau pemuda itu harus menjadi kuat.
"Darahmu."
"Tak apa. Kata ibuku, darah perempuan itu dibuat lebih banyak daripada laki-laki. Karena di perut perempuanlah anak manusia dititipkan, jadi butuh banyak persediaan darah." jawab perempuan semakin lelah.
"Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Aku akan segera membawamu keluar dari kegelapan ini."
Perempuan itu tersenyum. Ternyata keyakinannya benar. Bahwa lekaki yang dicintainya adalah lelaki yang kuat. Tidak seperti yang diceritakan orang selama ini. Ia adalah lelaki yang penuh tanggung jawab. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan. Dan perempuan itu berhasil meyakinkannya.
Lelaki bersama perempuan mengarungi bahtera kehidupan. Perempuan bersama lelaki menemu kehidupan yang sejati. Lelaki dan perempuan, maka nikmat yang mana lagi yang akan kau abaikan?
...........
Oke. Cukup teman-teman. Bagaimana rasanya sekarang? Sudah baikan? Yang hadir di sini tapi sedang sakit bisa angkat tangan.
"SAYA!!!"
Mbak nggak usah berteriak mbak. Angkat tangannya saja. Apa? Oh maaf. Tangannya yang sakit? Ha kena duri? Masa bisa sama kayak cerita saya tadi? Kapan? Kemaren? Kok bisa? Oalah. Makanya kalau mau menerima bunga yang hati-hati mbak. Dilihat dulu itu bunga apa. Kalau mawar kan memang ada durinya. Iya sih kalian lelaki juga harus hati-hati tatkala memberi. Maunya memberi arti, eh malah menyakiti.
Yang di sini yang masih sendiri siapa? Astagfirullah... banyak ya? Hampir semuanya ya? Gini aja deh. Daripada nanti bahasannya menyinggung atau malah menyakiti, jadi kita buat santai saja seperti biasanya ya. Hatinya ditata. Nafasnya diatur. Pikirannya dibuka seluas mungkin. Oke ya? Kita mulai.
Menikah itu. Uhmmm, menikah itu, uhmmm, menikah itu kata dasarnya 'cinta' mendapat awalan 'menerima apa adanya' dan mendapat akhiran 'satu untuk selamanya'. Sepakat ya? Iya dong saya juga kepengin menikah. Cuma kadang aneh juga dengan birokrasi pernikahan. Harus ada syarat rukunnya. Harus ada 'halal bi halal' nya. Harus ada 'saling ridho'nya. Menikah secara hukum negara dan menikah secara agama. Mungkin itu ya yang membedakan manusia dengan hewan. Kadang kalau pikiran ini lagi nakal, sering bertanya.
"Wahai Kanjeng Nabi Adam, yang menikahkan engkau dengan bunda Siti Hawa siapa? Pakai proses lamaran nggak? Beli cincin juga nggak? Kayaknya nggak perlu juga ketemu dengan orang tuanya bunda Siti Hawa. Pakai perhitungan dan pertimbangan ini itu nggak? Mikir ekonomi, sosial, budaya, politik nggak? Enaknya engkau wahai Kanjeng Nabi Adam."
"Ngomong sama Alloh. Jangan sama aku!" jawab Nabi Adam.
"Oh iya deh."
Iya. Itu hanya pikiran kotor dari orang bodoh macam saya ini. Hidup Nabi Adam itu urusan Nabi Adam sendiri. Mungkin beliau lebih menderita tatkala mencari bunda Siti Hawa. Mungkin perjuangannya beribu-ribu lipat dengan manusia jaman sekarang. Yang terkadang cuma ta'aruf dua kali saja langsung bisa menikah. Beliau juga tak punya kesempatan untuk memilih. Hawa Only! Yang itu tentu saja memupuk kuat keyakinannya. Terkadang banyak pilihan itu juga menimbulkan keraguan. Yes Hawa minded! Bisa nggak ya kira-kira punya ilmu Nabi Adam yang seperti itu. Keyakinan yang kuat seperti itu.
Iya sih. Ketemu orang tua calon saja saya sudah amburadul. Apalagi pas makan bersama. Kunyahan yang biasanya 120 km/jam tiba-tiba menjadi slow motion pake banget. Rasanya seperti ada sumbatan besar yang menghalangi makanan untuk melewati kerongkongan. Tiba-tiba air liur mengering tak mampu mendorong. Seperti motor tanpa oli. Belum lagi kalau grogi muncul melebihi kapasistas. Overdosis nervous. Takutnya saya gini lho, saking paniknya, saya akan menjawab beberapa pertanyaan dengan imajinasi yang berlebihan pula.
"Mas Didik, dari Solo tadi jam berapa?"
"Saya berangkat dari masa 3500 tahun yang lalu."
"Mas Didik ke sini naik apa?"
"Pake Batmobile. Diantar Batman sampai depan rumah."
"Mas Didik, sudah lulus?"
"Sudah. Setelah saya mengalahkan 99 pendekar dari berbagai belahan dunia."
"Setelah lulus aktivitasnya Mas Didik apa?"
"Ternak Hobbit."
"Bapak Ibu apa pekerjaannya?"
"Pensiunan The Avengers."
"Saudaranya berapa?"
"Dua. Yang satu kakak laki-laki sekarang jadi guru di planet Crypton. Yang satu kakak perempuan sekarang produksi sapu terbang Harry Potter."
"Mas Didik rencana ke depannya apa?"
"Menjaga planet bumi dari serangan alien."
"Mas Didik mau minum apa?"
"Cairan yang dicampur sinar Gamma."
"Nooookkkkk, panggilkan petugas RSJ nooookkkk....."
Begitu. Makanya sekarang saya mau belajar dulu sama Nabi Adam soal keyakinan dalam menentukan pilihan. Kalau dalam memilih saja sudah timbul keraguan, bagaimana langkah kaki ini bisa kuat tatkala berjalan. Maka kemudian saya mencanangkan sebuah gerakan, pergerakan, bernama Lamaran Laa Roibafiih. Lamaran yang tak ada lagi ragu di dalamnya. Lamaran tentang kesetiaan, kesungguhan, bukan sekedar permainan. Lamaran yang akan berujung pada pernikahan yang bisa dipertanggung jawabkan.
"Mas Didik, saya titip anak saya."
"Iya pak. Jangan dikunci stang ya."
Komentar
Posting Komentar