Langsung ke konten utama

Popok dan Pupuk

Hijaunya itu yang pertama kali membuat saya jatuh cinta. Geraknya yang gemulai tatkala diseret angin, itu yang membuat hati ini ingin. Iya. Padi di sawah yang menghijau lalu menguning untuk kemudian di makan oleh manusia. Iya padi itu yang membuat pagiku selalu menjadi syahdu.

Bapak saya dulu punya kebiasaan mengajak saya muter-muter naik sepeda onthel tiap pagi. Sawah di sekitar kota kabupaten ini masih banyak. Yang saya rasakan pada saat itu hanya perasaan ‘adem’ tatkala memandang hamparan sawah yang menghijau. Hati ini riang tatkala berpapasan dengan para petani yang akan menggarap sawah di pagi hari. Saya menyebut mereka dengan kata ‘tentara’. Tak tahu juga mengapa justru saya menyebut para petani itu dengan tentara. Didik kecil sudah menaruh hati pada sawah.

“Brata? Cita-citanya apa?”
“Jadi dokter pak.”
“Rudi apa?”
“Pemain sepakbola.”
“Diah?”
“Polwan.”
“Didik?”

Bingung. Diam. Tapi hati ini berkata “punya sawah.” Yang lebih ekstrim, “mau beli gedung-gedung besar itu lantas diluluh lantahkan kemudian dikembalikan lagi untuk dibikin sawah.”

Keluarga saya bukan keluarganya yang berada. Sawah juga tak ada. Hanya saja entah mengapa hati ini memendam kerinduan yang luar biasa menggelora tentang sawah. Sampai sekarang kalau melihat para petani mengambil gerakan ‘rukuk’ sambil menancapkan benih-benih, ada ruang di hati ini yang berucap “Nusantara masih punya harapan.”

Saya merasa ada satu pesan yang ingin disampaikan bapak kepada saya khususnya tentang sawah atau lebih luas lagi tentang ‘perjalanan’ ini. Iya. Hubungan anak dan orang tua itu sebaiknya diperkuat dengan jalinan komunikasi yang mumpuni. Saya ini anaknya dari dulu pendiam. Apa-apa dipendam. Kelereng saja saya pendam. Segala jenis mainan hampir semuanya pernah saya pendam. Saya jago memendam. Kata ibu, saya ini anaknya yang paling kuat memendam rasa sakit. Mampu untuk tidak merasakan sakit meskipun sebenarnya sakit. Tidak pernah merengek kalau sakit. Kata mereka seperti itu. Dan ternyata sampai sekarang juga saya masih jago memendam kerinduan terhadap sawah.

Saya ingin mencintai sawah secara puitis karena kenyataan saya juga belum punya sawah dan tidak ada bekal kelimuan yang mumpuni soal itu. Saya juga tak mau diajak diskusi perihal bahwa ternyata negara ini sudah diserang sejak lama oleh kekuatan yang tersistem dengan apik, halus, samar, hingga kita tidak sadar bahwa kita sedang dirampok dijarah habis-habisan sumber daya alamnya. Kita diadu dengan berbagai macam konflik. Saya tidak mau membahas itu. Bahwa ada perusahaan berinisial ‘M’ nun jauh di negeri seberang sana yang punya laboratorium di daerah Tangerang sedang berusaha menipu manusia-manusia nusantara untuk tidak peduli lagi dengan sawah yang sekarang juga sedang menyiapkan kader-kadernya dari golongan bangsa kita sendiri, saya lebih baik menghindar saja dari bahasan itu. Instant. Itu keyword-nya. Jadi beras yang kita konsumsi sekarang ini sesungguhnya adalah benih dari mereka semua. Termasuk kedelai yang serba impor itu. Dan yang sekarang sedang gencar terjadi adalah Perang Bakteri. Biotera apa apa itu lupa namanya saya. Ini bukan tentang alien yang sering saya bahas. Ini terjadi di bumi. Jadi beberapa bangsa di luar sana sudah punya banyak sekali data tentang nusantara ini. Bahkan nusantara di ribuan tahun yang lalu. Mereka tahu. Tapi mereka sembunyikan. Kalau ada waktu luang kita cari tulisan-tulisan para penjelajah Portugis. Sampai dikisahkan bahwa kuda-kuda di sini memiliki sepatu yang bersepuh emas. Emas. Hanya untuk kuda. Dan kabar berita keindahan-keindahan itu yang membuat mereka berduyun-duyun berdagang sekaligus belajar tentang tata kelola negara beserta sumber daya alamnya di sini.

Getir. Nyinyir kalau mendengar pemaparan data-data dari para petani yang saya kenal. Tanah sawah yang sekarang sedang tidak seperti tanah yang dulu. Tanah sekarang sudah mengalami ketergantungan terhadap pupuk. Kecanduan level akut. Padahal ada jenis tanaman yang mampu menyuburkan tanah. Ketakutan saya, akankah anak-anak saya kelak akan mengalami hal yang begitu menyakitkan seperti saya. Kalau sempat buka Al-Qur’an, ada salah satu ayatnya yang menyatakan “perhatikanlah apa yang kamu makan.”. Ini bukan sekedar persoalan halal haram. Lebih luas dari itu. Bagaimana kita mengetahui secara detail, apa-apa yang kita konsumsi sehari-hari. Bagaimana kita harus kenal padi beserta ilmu-ilmunya. Paham sawah, paham tanah, paham sistem pengairan, paham masa tanam, masa panen, paham tumbuhan pengganti, paham distribusi secara ekonomi secara global, paham religiositas bahwa setelah panen harus ada tasyakuran, pesta panen, sebagai bentuk rasa syukur terhadap kekuasaan Alloh, dan segala hal yang meliputi itu semua.

Dan ironisnya menurut mereka, para sarjana pertanian, hanya dibentuk memiliki kesadaran saja tanpa melakukan tindakan. Mereka tahu, paham tentang pertanian. Tapi paham dalam diam. Saya tak mau peduli soal itu. Bahwa ada banyak sarjana pertanian yang kerja di bank, itu rezeki mereka. Dan itulah manusia nusantara. Multi guna.

“Mas, hidup di dusun ya seperti ini. Kerjanya setiap hari di sawah. Nanti kalau ada kumpulan mengaji ya kita libur di sawahnya.” Lelaki setengah baya yang insyaallah saya menjadi bagian dari keluarganya itu berucap. Satu kalimat yang membuat saya tak bisa berkata apa-apa lagi. Ini. Ini. Batin saya. Ini yang akan menjawab segala keresahan saya sejak kecil. Sawah. Padi. Mencangkul. Mungkin bahasa saya menunjukkan adanya keputusasaan. Bahwa karena mencari pekerjaan itu susah lantas saya melampiaskan diri untuk bertani, salah. Karena menjadi petani adalah hal yang paling dihindari oleh orang-orang di era Indonesia modern ini. Bahwa menjadi petani sama saja dengan bunuh diri. Kalian tidak akan mampu hidup dari bertani. Lebih enak menjadi pegawai negeri melalui lelang posisi senilai ratusan juta rupiah oleh para petinggi. Iya, karena sistem yang halus tadi sedang menggerogoti pola pikir kita. Bahkan sudah merasuk di sistem pendidikan dan perundang-undangan negara ini bahkan ilmu kesehatan. Terserah lah.

“Nanti kalau mas Didik di sini bantu-bantu bapak di sawah. Hehehe...” perempuan yang insyaallah menjadi kakak saya itu menambahi. Kalau tidak ada rasa pekewuh, saya sudah nangis di rumah sederhana namun berasa istana itu. Itu. Itu. Itu yang Didik kecil impikan mbak. Setidaknya supaya saya tahu sedikit ilmu tentang sawah. Sedikit saja supaya saya mampu mencintai sawah dengan lebih puitis lagi. Mencintainya lewat tutur kata dan tutur tulis. Mencintainya dengan perasaan yang syukur berujung dengan tindakan. Mau untuk bersentuhan langsung dengannya.

Cukup. Lebih baik saya cerita tentang hal-hal yang membahagiakan saja ya. Ini tentang bayi. Begini. Kemaren kami ramai-ramai, sama Kamu juga, berduyun-duyun menerobos hujan untuk menengok bayi. Salah satu saudara kami sedang dianugerahi bayi mungil. Lucu. Meskipun bayi itu nggak ada yang satupun berprofesi menjadi pelawak. Namanya lupa. Arsyadani siapa al siapa gitu. Bahasa Arab pokoknya. Tuh kan, kurang ampuh apa bangsa ini. Ada orang sini yang bernama Arab, Inggris, jumlahnya banyak. Tapi ada gitu orang Arab namanya Argo? Kalau Siti itu kan sebutan untuk setiap perempuan Melayu yang ada di jazirah Arab. Jadi, Siti Hajar berasal dari..... iya bener, dari tulang rusuknya Ibrahim. Kalian pinter.

Iyalah saya juga ikut seneng. Keuntungan menjenguk bayi itu ya ada harapan siapa tahu saya segera ketularan bisa menggendong anak saya sama istri saya. Eh, maksutnya anak saya saya gendong sampai bobo. Terus saya gendong istrinya saya ke ranjang. Eh, bukan bukan. Gimana sih. Maksut saya supaya saya bisa menggendong anak saya, terus saya gendong istri saya. Aduh. Nggak nggak. Gini lho. Supaya saya bisa ketularan menggendong bayi yang lahir dari perut istri saya, hasil perkawinan kita berdua. Terus saya gendong istri saya. Aduh. Tetep ke situ juga ya.

Melihat kaki-kaki mungilnya yang bergerak-gerak lincah. Mendengar rengekan tangis bayi yang kadang ngeselin tapi ngangenin. Ya kalau anak saya meniru bapaknya ya pasti gitu. Ngeselin sekaligus ngangenin. Terlihat cuek tapi mengamati dan mengerti. Ganteng, sudah fitrahnya itu. Sehat, wajib dong. Sombong, nggak. Terlihat bodoh tapi emang bodoh banget.

Belum lagi kalau malam tiba-tiba minta disusui ibunya. Terus membangunkan seisi rumah sama tetangga sebelah. Dia minta susu, kita minta maaf sama tetangga.  Dia bobo kita ronda. Dia senyum kita terharu. Dia maem kita yang nyuapin. Seru ya. Yang sudah punya bayi gitu kan ya? Jawab iya dong. Biar kebahagiaan kalian memancar ke saya juga. Iya kan? Yang sudah jadi bapak ibu itu lho. Seneng kan ya? Rasanya perjuangan mencari nafkah tidak sia-sia gitu lho. Kalian kalau mau menjemput rezeki yang dipikirkan anak istri to? Nggak mau kan anak istri kalian makan harta haram? Kalau mencarinya dengan cara yang diridhoi Alloh, hasilnya pasti berlimpah berkah. Iya to? Nah gitu dong. Senyum kalian semua menambah semangat saya lagi.

Sayangnya kemaren yang bisa menikmati memandang bayi cuma teman-teman perempuan. Kamu juga. Kita anak buahnya Nabi Adam duduk di ruang tamu dengan penuh wibawa. Pengen tahu rasanya nabi Adam punya anak Habil Qabil kayak apa ya? Seneng banget pasti beliau. Tapi terus yang jenguk bayi-bayi itu siapa? Ada yang jenguk? Teman-teman ada yang tahu siapa yang dulu jenguk?

Kita duduk bersama membahas beberapa masalah diselingi dengan canda tawa. Celakanya, yang kita bahas adalah pertanian tadi. Kampreeeet! Asal kalian tahu, popok bayimu sekarang ada urusannya dengan pupuk di sawah itu. Popok dan Pupuk!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...