Langsung ke konten utama

Mata Yang Membakar

Setelah sempat dihampiri semacam lupus kulit di kaki, hari minggu kemaren datang lagi keanehan di dua mata saya. Sementara mata saya yang terlihat hanya dua karena mata ketiga masih saya sembunyikan. Letaknya di tengah dahi. Kalau waktunya sudah tiba dan pada saat dibutuhkan mata ketiga saya itu akan terbuka dan mengeluarkan sinar. Saya sebut mata ketiga saya itu dengan 'senter'. 

Minggu pagi setelah bangun tidur rasanya ada yang mengganjal di mata. Sulit mata ini untuk terbuka. Agak berat dan lengket. Ini kenapa lagi pikir saya. Kemudian saya berdiri di depan cermin dan mendapati sesosok manusia dengan ciri-ciri 3T. Tinggi Tegap Tampan. Oh itu saya sendiri. Hampir lupa kalau saya memang tampan. 

"Kamu mau tubuh yang seperti apa?'
"Asal Engkau menghendaki untukku, apapun aku terima."
"Ini?"
"Tidak. Karena Engkau menggunakan kalimat tanya."
"Ini!"
"Tidak juga. Karena Engkau selalu mendahulukan kasih sayangMu daripada murkaMu."
"Ini."
"Iya. Kuatkan aku dengan bentuk tubuh dan wajah tampan seperti itu."

Saya lihat mata ini di cermin. Agak merah sih. Kalau dunia medis sekarang menyebutnya iritasi. 

Begini. Sebenarnya para penemu istilah iritasi bukanlah dari dunia medis. Penemunya adalah segerombolan mahasiswa miskin yang tinggal di kos. Miskin, bodoh, tanpa beasiswa dan menyebar benih-benih hutang di setiap kantin yang dijumpainya. Mungkin jenis mahasiswa seperti ini sudah jarang kita jumpai. Karena mahasiswa-mahasiswa jaman sekarang adalah mahasiswa yang cerdas secara intelektual, spiritual, emosional, dan tidak radikal. 

Iya disebutkan dalam kitab Al-Pekok'un bahwa pada tahun 365 SM, para mahasiswa miskin, bodoh, tak terpelajar itulah yang akhirnya berserikat dan berkumpul di lereng bukit Tengkorak untuk mencetuskan gerakan penghematan hidup atau pengiritan besar-besaran dan serentak dilakukan di seluruh wilayah Nusantara. Gerakan pengiritan itulah yang kini dikenal dengan gerakan IRITASI.

Iya mungkin ini iritasi tapi apa penyebabnya. Saya lihat terus. Yang kiri juga mengalami hal yang sama. Ah mata, kalian kompakan sih. Satu-satu aja kenapa sih. Masa barengan gini. Kayak aku sama kamu aja yang selalu bersama. Oke, saya tahu. Kalau kondisi mata mengalami hal semacam ini, hal yang dilarang pertama kali untuk dilakukan adalah mengucek mata. Yang boleh dikucek itu cucian, sedangkan mata yang terkena iritasi jangan. Lengketnya makin terasa. Saya takutnya begini. Jangan-jangan kekuatan kakek saya menurun ke saya.

Jadi dulu ceritanya, kakek saya punya kemampuan unik. Matanya mampu mengeluarkan sinar. Sinar yang membakar. Maka, oleh teman-teman seangkatannya, kakek diajak untuk menjadi salah satu pendukung gerakan IRITASI tadi. Karena kakek saya termasuk tipikal manusia yang irit. Kalau masak tidak memerlukan banyak kayu, minyak tanah, ataupun gas. Kakek saya bisa menghangatkan apapun cukup dengan sinar matanya. 

Tapi masa, iya saya akan mempunyai tatapan mata yang mampu membakar. Kalaupun iya, masa dengan cara yang kurang asyik seperti ini sih. Kayak ada pegel-pegelnya juga mata ini. Haduuuh, mana gatal lagi. Padahal sebentar lagi saya sudah dijadwal teman-teman untuk membersamai mereka ngamen di acara pernikahan. Kan nggak keren kalau mata merah gini. Oh, iya saya punya kacamata. Tapi kacamata itu sudah dipesan mau dipinjam teman saya. Saya sudah terlanjur bilang iya. Laki-laki kan yang dipercaya omongannya. Masa mau saya pending. Gimana ya? Nggak ada jalan lain selain 'membiarkannya'. Mau tahu seperti apa kalau saya cuekin iritasi mata saya itu. Rasain! Apakah dia akan caper terus atau capek kemudian pergi tanpa pamit. Sukurin! Kamu aku cuekin! Suruh siapa datang tanpa permisi! Wek!

Kemudian saya melenggang ke kamar mandi untuk memasak. Ya untuk mandilah! Masih ada bekas-bekas lupus kulit yang menghitam di tubuh saya. Manusia sebenarnya nggak perlu repot menghias tubuhnya dengan tatto atau rajah-rajah. Saya punya banyak noda hitam di tubuh. Indah? Jelas iya! Ini seni abstraksi tingkat tinggi. Randomnya jelas banget. Acak seolah tak beraturan. Seperti hidup saya, acak. Acak bumi dan bangunan. Iya, noda hitam ini masih kalah banyak dengan dosa saya. I see it. Kenapa Tuhan selalu meninggalkan jejak di setiap kesalahan manusia? Supaya manusia tetap belajar dengan penuh kesadaran. Dan kalian tentu sudah khatam untuk urusan semacam itu.

Mandi sudah oke. Saatnya berganti baju dan menyemprotkan sedikit minyak wangi. Minyak wangi ini adalah minyak wangi yang... ah nanti aja ceritanya. Pokoknya minyak wangi ini adalah minyak yang baunya wangi. Namanya saja minyak wangi. Tapi, kau buat sewangi apapun tubuhmu, tetap saja dia akan selalu mengeluarkan bau yang tidak sedap. Kalau dirunut lagi, segala hal yang dikeluarkan oleh tubuh manusia itu lebih cenderung ke najis lho. Kotor. Iya nggak. Kentut, iler, keringat, bau mulut (abab), apalagi? Darah haid. Mimpi basah. Apalagi? Kotoran. Menurut saya kok aneh ini. Lha terus kok aku ngaku-ngaku suci, alim, sholeh, penebar manfaat, parameternya darimana? Wong saya lebih banyak menimbulkan kenajisan setiap harinya kok. Kebersihan sebagian dari iman. Sebagiannya lagi apa? Masa kekotoran? Ya nggak mungkin. Apa? Dahi saya menghitam? Itu bekas jerawat tahu! Jangan terkecoh kalian. Ada lagi. Kalau Tuhan bilang "Sebenarnya semua manusia sama di hadapanKu. Kecuali takwanya", itu saya setuju lho. Semua manusia itu sama. Lebih-lebih kalau di pandang dari sudut 'bau kentutnya'. Pasti sama-sama bau.

Lalu berjumpalah saya dengan seorang kawan. Dia memergoki mata saya yang memerah.

"Mas matamu kenapa?"
"Oh, ini? Nggak tahu."
"Rasanya ngganjel?"
"Iya."
"Gatel?"
"Iya."
"Dikasih obat tetes mata aja mas."
"Nggak. Nggak mau."
"Kenapa?"
"Karena belum ketemu penyebabnya. Kalau sudah ketemu penyebabnya baru mau saya obati. Karena percuma kita mengobati tanpa tahu penyebabnya terlebih dahulu. Itu kebodohan besar."
"Sulit memang bicara dengan keturunan makhluk Mars."

Iya sih sebenarnya silau juga kalau untuk melihat sesuatu yang terang. Maka tak ada jalan lain selain menyipitkan sedikit pandangan. Menjaga pandangan. Karena mata ini adalah mata yang membakar...


Tambahan:
1. Yang baca ini kalau ketemu saya nggak usah khawatir.
2. Nggak perlu menghubungi pemadam kebakaran untuk mengawal saya.
3. Nggak perlu juga kalian bawa daging ayam mentah, daging sapi, daging kambing, sosis, ikan gurame, ikan mas, kalian kira di mana ada saya di situ ada pesta kebun lantas kita bakar-bakaran?
4. Mata saya sudah biasa. Kan tadi ceritanya hari Minggu. Ini kan Senin. Baca yang bener dong!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...