Paijo
menggulung celananya sampai atas lutut. Diangkatnya beberapa benda seperti
kasur, panci, televisi, dan perabotan penting yang masih bisa diselamatkan. Sudah
dua hari ini rumah Sri tergenang air. Tepatnya desa tempat dimana Sri tinggal
sembilan puluh persen terkena banjir karena berada di sekitar tanggul sungai
yang airnya meluap setelah diguyur hujan tiga hari tiga malam. Lantas siapa
Paijo? Dia adalah calon tunangan Sri. Calon. Masih calon. Dan sebagai calon
tunangan yang baik Paijo ikut berjibaku membantu mengevakuasi barang-barang
milik keluarga Sri. Bapak, ibu, dan tiga adik Sri sudah mengungsi di kantor
kelurahan yang kebetulan tidak terendam air. Bapak Sri sudah agak tua untuk
melakukan aktivitas angkat mengangkat barang. Sedang ketiga adik Sri masih
tergolong imut. Sri merupakan anak sulung di keluarga ini. Sebuah keluarga,
dimana sebentar lagi Paijo akan menjadi salah satu bagiannya.
“Mas
itu figuranya ditinggal saja. Kata bapak tidak perlu semua barang
diselamatkan.”
“Kenapa
tidak dibawa sekalian dek? Ini kan
ringan.”
“Tak
usah mas Ai. Nanti bisa beli lagi. Cuma figura saja kok.”
“Siapa
tahu nanti berguna dek.”
“Tak
usah mas Ai. Tak usah. Mending bawa yang lain saja.”
“Siapa
tahu nanti bisa dipakai untuk menaruh foto pernikahan kita berdua.”
“Ahhhh.
Mas Ai nekat. Masa kondisi gawat begini masih sempat merayu sih.”
Ai.
Panggilan sayang dari Sri untuk Paijo. Ai. Iya Ai. Meski terkesan janggal, tapi
itulah ekspresi rasa sayang. Paijo juga tidak menolak dipanggil seperti itu.
Tetapi untuk memanggil Sri, Paijo lebih memilih panggilan yang wajar ‘Sri’.
Paijo pikir kata Sri itu kan
hanya terdiri dari tiga huruf. Sudah sedikit dan cukup enak untuk diucapkan.
“Kata
ketua RT ku bantuan dari desa sebelah sudah dikirim dek. Mie instant, selimut,
obat-obatan semua sudah sampai di kelurahan.”
“Masa?
Tapi kata bapak belum ada bantuan yang masuk sejak kemaren mas Ai.
Jangan-jangan ketua RT mas ngelindur lagi.”
“Sudah
ada kok dek.”
“Alah
mas. Paling juga dimakan sendiri sama penyalur-penyalur itu. Lagu lama mas.
Yang dulu-dulu juga kayak gitu.”
“Eh,
dek Sri tidak boleh berpikiran negatif seperti itu ah. Tidak baik berburuk
sangka. Ini kan eranya sudah
beda. Sudah direformasi lho.”
“Aduh
mas Ai. Jangan ngomong reformasi-reformasi gitu deh ah. Itu masih banyak panci
di dapur yang tertinggal kemaren.”
Desa tempat Paijo tinggal
bersebelahan dengan desa Sri. Tetapi posisi geografisnya lebih tinggi dibanding
desa Sri. Kalau desa Sri sudah langganan banjir. Dulu orang tua Paijo sempat
melarang hubungan Paijo dengan Sri karena alasan banjir. Orang tua Paijo tidak
mau anaknya ikut-ikutan repot mengurus ini itu.
“Paijo. Bisa tidak kamu cari yang
lain saja?” tanya Ibu Paijo di suatu sore.
“Paijo sudah terlanjur cinta sama
Sri bu. Paijo tidak bisa pindah ke lain hati.”
“Jadi kamu cinta Sri karena
terlanjur? Dia hamil?”
“Bukan begitu maksudnya bu. Paijo
dekat sama Sri sudah lama. Ibu juga sudah tahu kan ?
Paijo mau serius sama Sri.”
“Iya. Tapi desanya itu setiap tahun
langganan banjir. Kalau kamu tinggal di sana
nanti kan kamu juga ikut terkena
dampaknya. Mau kamu?”
“Cinta butuh pengorbanan bu. Banjir
itu juga sekaligus untuk menguji seberapa kadar kesungguhan Paijo kepada Sri
bu.”
“Ya sudah. Terserah kamu saja. Kamu kan
sudah dewasa. Jangan lupa nanti kambingnya dikasih makan.”
Sudah beberapa barang yang diangkat
Paijo dari rumah Sri ke kelurahan. Prediksi bahwa air akan semakin meninggi
mengharuskan warga bersiap siaga level satu. Semua orang berduyun-duyun
menyelematkan barang masing-masing.
“Mas Ai istirahat dulu. Biar dek Sri
yang melanjutkan. Nanti mas Ai kecapekan.”
“Tidak apa-apa. Sekalian. Tinggal
sedikit lagi kan . Dek Sri saja
yang istirahat menemani bapak, ibu, sama adik-adik disini. Lagian langit
semakin gelap. Lihat mendungnya kayak gitu. Sebentar lagi hujan deras. Kamu
disini saja. Biar mas yang kesana. Sekalian aku ambil figuranya yang tadi.”
“Ya sudah mas. Hati-hati.”
Paijo kembali melanjutkan perjalanan
menuju rumah Sri. Namun mendung yang dibarengi halilintar menggelapkan desa. Di
posko pengungsian Sri nampak khawatir. Dia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Paijo. Lalu hujan deras disertai angin kencang menghujam bumi.
Seluruh pengungsi mulai mengkhawatirkan keluarga masing-masing yang masih
tertinggal di rumah. Wajah cemas nampak di berbagai sudut ruangan. Beberapa
bayi juga mulai menangis. Menambah suasana semakin miris. Sri semakin khusyuk
berdoa sembari menggigil menahan dingin yang datang dengan tiba-tiba.
“Air datang lagi dan semakin
meninggi! Kita harus segera mengevakuasi semua warga!” teriak salah satu regu
penyelamat.
Teriakan yang cukup keras sehingga
para pengungsi bisa mendengarkan dengan jelas. Semakin paniklah mereka di
dalam. Gemuruh suara halilintar beradu dengan suara-suara kecemasan.
“Anakku!”
“Suamiku!”
“Bapakkkk!”
“Mas Aiiii!!!”
Nampak dari kejauhan seseorang
berlari kencang menuju pengungsian sambil berteriak.
“Desa tenggelam! Desa tenggelam!
Desa tenggelam!”
Orang itu bergegas menemui kepala
tim penyelamat.
“Ada
apa?” tanya kepala tim cemas.
“Itu! Anu! Desa! Anu! Itu!”
“Kenapa?!”
“Desa Tenggelam!” kata orang itu
dengan nafas tersengal.
“Apa? Tenggelam?”
“Iya. Rumah semuanya sudah tidak
terlihat. Air datang cepat sekali.”
“Astaga! Kalau begitu cepat segera
bawa perahu karet! Semua tim! Berangkat!!!”
Perahu-perahu karet berkonvoi
menembus kencangnya angin dan luapan air yang sudah menenggelamkan desa. Ini
memang benar-benar di luar prediksi tim. Ini banjir yang terparah selama ini.
Perahu karet berjalan beriringan sambil sesekali mengenai ranting-ranting pohon
yang biasanya tinggi menjulang sekarang hanya terlihat pucuknya saja.
“Tajamkan mata kalian! Siapa tahu
masih ada yang bisa diselamatkan!”
Di pengungsian, Sri meneteskan air
mata. Dia tahu betul bahwa mas Paijo bukan perenang yang baik. Bahkan bisa
dikatakan hampir tak bisa berenang. Dia juga masih ingat waktu Sri iseng
mendorong Paijo ke sungai. Saat itu Paijo yang tidak bisa berenang hampir mati
terseret arus sungai. Sri tidak bisa banyak berkata. Bapak dan Ibu beserta
ketiga adiknya memeluk erat Sri.
“Sabar ya. Tuhan pasti menyelamatkan
nak Paijo. Dia anak yang baik.” kata Ibu Sri. Sri mengangguk sesenggukan.
Tim penyelamat menyisir seluruh
desa. Beberapa orang berhasil dievakuasi. Untung saja anak-anak, perempuan, dan
lansia semua sudah berada di pengungsian. Data yang ada menyebutkan bahwa hanya
para laki-laki yang masih berada di desa untuk mengambil beberapa barang penting
rumah tangga mereka. Setelah dirasa cukup tim kembali ke pengungsian dan membawa
korban dengan mobil ambulan.
Di
saat yang lain terdengar bisik-bisik dari beberapa pengungsi.
“Eh katanya ada satu yang
meninggal.”
“Ah jangan bikin panik. Emang ada?”
“Iya ada satu laki-laki. Kabarnya
sih begitu.”
“Ah paling juga gosip.”
Kabar tersebut segera menyebar. Semua
pengungsi semakin sedih. Mereka tidak ingin kehilangan kerabat yang mereka
cintai. Namun kesedihan itu segera sirna. Dengan tegas kepala tim penyelamat
menyatakan,
“Perhatian kepada seluruh pengungsi.
Bahwa semua korban selamat dan saat ini sudah kami bawa ke rumah sakit daerah.
Sekali lagi semuanya selamat! SELAMAT!” kata kepala tim melalui pengeras suara.
Segera saja disambut dengan tepuk tangan meriah para pengungsi. Mereka pun
saling berpelukan.
“Nanti akan kami tempel
pengumuman nama-nama korban yang sekarang sedang dirawat. Untuk tambahan
informasi, adakah di sini yang memiliki kerabat yang bernama Paijo? Sekali lagi
Paijo!”
Segera Sri tersadar dan berlari ke
ruang tim penyelamat. Paijo! Mas Ai! Batin Sri.
“Iya pak saya kerabatnya.” Ujar Sri panik.
“Maaf. Sebentar. Kami ingin
memberitahukan sesuatu. Tapi saya mohon mbak tenang dulu.”
“Iya. Saya kerabatnya. Ada
apa?” Tapi Sri tidak bisa menyembunyikan kepanikan itu.
“Begini. Saudara Pajio bisa kami
selamatkan tapi saat ini kondisinya kritis.”
“Apa?” Sri terduduk lemas hampir
pingsan.
“Mbak? Mbak tidak apa-apa kan ?”
“Tidak apa-apa pak. Tapi bawa saya
kesana. Saya ingin bertemu dengan mas Paijo.”
Setelah berpamitan dengan
keluarganya, Sri bergegas menuju rumah sakit daerah ditemani beberapa anggota
tim penyelamat. Di dalam mobil mereka menceritakan kronologis kejadian saat
menemukan tubuh Paijo.
“Saat itu gelap. Kami hampir tidak
bisa melihat. Tapi tiba-tiba ada pantulan cahaya. Sinar dari lampu senter ini
memantul dan bergerak-gerak. Setelah kami dekati, ternyata ada tangan yang
sedang memegang kaca.”
“Kaca?”
“Oh bukan. Maksut saya memegang
figura.”
“Figura?” Sri teringat Paijo. Dia
menangis. Haru.
“Iya. Ternyata figura tersebut ada
yang memegang. Cuma tangannya saja yang terlihat. Lalu segera saja kami tarik
tangan itu ke permukaan. Nampak mas Paijo yang sudah lemah dan tentu saja
basah.”
Mas Ai mas Ai mas Ai. Kata itu
memenuhi kepala Sri hingga tanpa sadar sampailah ia ke rumah sakit daerah.
Setengah berlari ia mengikuti seorang suster menuju kamar tempat Paijo dirawat.
Pintu terbuka. Sri mendekat. Paijo masih memejamkan mata. Di tangannya
tertancap jarum infus. Suasana sendu memenuhi ruangan berwarna kombinasi putih
hijau itu.
“Mbak. Dia tidak apa-apa?” tanya Sri
kepada suster.
“Tidak apa-apa. Masa kritisnya sudah
lewat. Tadi sudah sempat mengigau juga.”
“Mengigau?”
“Iya. Katanya figura, figura, figura
gitu mbak.”
Mendengar itu Sri semakin meleleh
hatinya. Suster pamit. Sekarang hanya mereka berdua yang tertinggal.
Perlahan mata Paijo terbuka. Begitu
tahu Sri yang ada di depannya ia membuka matanya lebih lebar. Didapatinya wajah
Sri yang nampak kusut karena mata Sri yang sembab sebab terus terusan menangis.
Paijo mencoba berbicara.
“Kenapa kamu cemberut? Bibirmu mengkerut. Wajahmu tak lagi imut.”
“Mas Aiiiii….” Sri memeluk Paijo.
“Iya.” Paijo terbatuk.
“Syukur mas Ai tidak kenapa-kenapa.
Sri kira mas Ai sudah…”
“Sssttt.. Lihat aku disini masih
bisa tersenyum berseri-seri dek Sri.”
“Iya mas iya. Tapi senyumnya jangan dipaksakan.” Sri juga ikut
tersenyum.
“Kamu tak perlu khawatir. Aku bisa
berenang kok.”
“Yeee. Sri juga tahu kalau mas Ai
tidak bisa berenang. Kalau bisa berenang mas Ai tak mungkin seperti ini.”
“Iya. Tak baik juga jaga gengsi.
Kalau tak mampu ya diakui saja tak mampu. Eh dek Sri coba kamu buka laci.”
Sri membuka laci. Disana ada figura.
Figura kosong nan usang milik keluarga Sri untuk foto berukuran 10R.
“Mas Ai seharusnya tidak berlebihan
seperti ini. Kalau seperti ini kan
mas Ai juga
yang menanggung resikonya.”
“Maksutnya?”
“Mas Ai. Masa demi figura saja mas
Ai sampai rela seperti ini. Sri kan
khawatir mas. Khawatir.”
“Dek Sri. Tidak apa-apa kok. Musibah ini sebagai alarm untukku sendiri dek. Bahwa aku pun pernah luka, pernah terjatuh
merasakan perih yang dalam hampir mati tenggelam. Aku jadi tahu rasanya
mendekati kematian. Dan itu sangat sakit sekali. Ini bukan persoalan ujian raga semata, tapi juga ujian hati. Di dunia inilah, di sinilah kita akan
belajar menjalani tiap ujian hati. Dan dek Sri harus tahu, cinta adalah
memberi, tak sekedar rasa untuk memiliki dek.”
Sri menatap wajah Paijo yang masih
pucat. Sambil tersenyum Sri berdoa dalam hati supaya kekasihnya itu segera
sehat seperti sedia kala. Juga didekapnya figura itu erat-erat. Figura yang
kata Paijo akan menjadi bingkai masa depan mereka berdua.
Selesai
Klik bawah ini untuk menikmati lagu Kidungan

Tak komen sithik ya Kang...
BalasHapusPaijo baru bangun dari ketidaksadarannya tapi sudah tau klo figura itu diletakkan di dalam laci.. pertanyaannya, siapa yang meletakkan figura itu di laci? Dan, logikanya..Paijo seharusnya tidak tau dimana figura itu berada karena dia baru bangun dari pingsannya.. (cuma itu thok sing janggal, menurutku lho yaaa...), Suwun ^_^
Sek tak takon Paijo. ^_^
Hapustak ikutin ceritamu, Kang,,
BalasHapushampir sama,, pa lagi ma yang dua orang yang berjilbab itu,, hehehe,,
forester IPB,,
wah makasih salam kenal ya mas... hehehe
HapusIPB apaan ya?
Universitas kalo B.Inggrisnya,, padahal Institut,, Pleksibel Banget,, Bogor,,
BalasHapusOoooh, iya iya tau meski belum pernah kesana.. :)
Hapus