Langsung ke konten utama

Pengantin Masbuk

Ini mungkin akan menjadi catatan paling tragis di awal tahun 2013. Bukan tentang sesiapa, tapi ini lagi-lagi tentang sayang. Sayang lagi. Tentang saya. 

Siang tadi saya dijemput oleh keluarga untuk diajak ke Wonogiri. Bukan. Saya tidak sedang akan melamar anak gadis dari daerah itu. Yakin. Pak lek atau paman saya ingin menggelar acara resepsi pernikahan putranya yang kedua besok pagi. Karena keluarga dari Pati tidak semua bisa hadir di hari itu, maka kami datang sehari lebih awal untuk sekedar ikut berbagi kebahagiaan dengan mereka. Kalau mau ke Wonogiri dari arah Pati kan melewati jalur Solo, jadi saya minta dijemput saja. Ide cemerlang kan? Tidak begitu merepotkan karena saya stand by di dekat terminal Tirtonadi.

Dengan mobil Avanza putih, mereka menculik saya. Di dalam sudah ada kakak, ibu, bapak, sama pakdhe. Begitu masuk langsung disambut pertanyaan yang lebih mirip tusukan.
"Sudah selesai?" tanya kakak sepupu saya.
"Belum." jawab saya meringis.
"Kok dibalap sama ponakanmu. Sudah lulus lho sekarang sudah kerja."
"Iya." Muram saudara-saudara. Karena ponakan saya itu sekolahnya terpaut dua tahun di bawah saya.

Di dalam mobil saya lebih banyak diam. Katanya ibu kangen sama saya, jadi saya duduknya dekat dengan ibu. Saya pegang kaki ibu sambil berucap dalam hati, "Maafkan anakmu ini..."
Sepanjang perjalanan saya menjadi guide keluar dari kota Solo menuju Wonogiri. Iyalah. Saya sudah hampir sepuluh tahun di kota ini. Masa jalur keluar kota nggak hafal. Malu-maluin aja. 

Sebagai bungsu, ragil, saya merasa gagal sebagai seorang anak. Kerjaan dan ketrampilannya hanya membuat malu orang tua saja. Saya paham. Harkat dan martabat seseorang di Indonesia itu lebih mengarah kepada apa yang dihasilkan dari status atau gelarnya. Misalnya pegawai. Entah seperti apa kinerjanya di kantor, yang penting hasilnya kelihatan. Bisa beli ini dan itu. Punya ini dan itu. Tidak, saya bisa pastikan, tidak ada koruptor di negeri ini. Pegawai, pejabat, aparat, semuanya bersih. Saya mau khuznudzon saja. Jadi, orang dilihat dari apa yang dihasilkan bukan dari apa yang sudah dilakukan. Dan saya belum sanggup untuk menghasilkan seperti apa yang mereka hasilkan sekarang. Karena yang saya lakukan semuanya tak terlihat, bahkan sangat sulit untuk dijelaskan kepada orang lain. Apalagi dijelaskan kepada calon mertua yang berbeda cara berpikirnya dengan saya. Dengan orang tua saya sendiri saja saya masih sulit menjelaskan tentang apa yang saya lakukan. Saya sangat-sangat tidak enak kepada orang tua saya sebenarnya. Setiap bertemu saudara-saudara, kumpul dengan keluarga besar, ibu saya selalu kesulitan untuk menjawab jika mereka bertanya seputar diri saya.

"Didik dimana sekarang?"
"Di Solo."
"Kerja atau kuliah?"
"Mbuh. Nggak tahu. Kerja sambil kuliah katanya."
"Kerja apa?"
"Mbuh. Nggak tahu juga. Eh itu tolong cabainya diiris lebih kecil lagi."

Mau menangis tapi malu. Kalau saya jawab dagang, ya pasti mereka membayangkan bahwa usaha saya sudah besar dan bisa menghasilkan apa-apa. Harta saya sudah melimpah. Padahal belum sampai itu. Bisa dapat laba enam ratus ribu sebulan saja sudah alhamdulillah. Karena teknik dagang saya mungkin berbeda dengan yang lain. Kalau saya ceritakan pasti saya sudah dikatakan penjual yang bodoh. Penjual kok nggak bisa mencari untung banyak dan sebagainya. Belum lagi kalau saya katakan dagangnya on line. Perlu waktu lagi untuk menjelaskan. Kalau saya katakan pekerjaan saya blogger, tambah rumit juga penjelasannya. Karena itu masih asing bagi mereka. Kalau saya katakan saya redaktur majalah seni dan budaya, pasti saya akan dikejar dengan pertanyaan yang serupa. Kalau saya katakan saya penulis, menulis buku, bukunya sudah terbit, tanggapannya seperti ini,

"Wah dapat royalti dong? Banyak nggak? Sudah punya mobil?"

Mati kutu saya kalau sudah seperti ini. Karena menulis bagi saya itu seperti laku hidup. Itu otomatis. Bener-bener otomatis saya lakukan. Kadang saya juga nggak berfikir nanti ke depannya bakal seperti apa saat saya menulis. Asal saya tulis. Saya bisa menulis apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang saya rasakan, bahkan apa yang saya bayangkan. Semuanya bisa muncul mengalir begitu saja tanpa beban. Tanpa harus memikirkan ini jadinya seperti apa dan bisa menghasilkan apa. Menulis ya hasilnya tulisan. Perkara jadi buku, jadi uang royalti dan lain-lain itu bukan kehendak saya. Nadanya saya putus asa ya? Nggak. Nggak ada asa yang bisa diputus. Asa bukan sejenis tali. Asa itu energi. Bisa habis iya, tapi masih bisa juga diisi ulang.  

"Besok kamu nggak perlu ke sini lagi. Nanti malem ibu nginep. Pulangnya besok bareng rombongan kloter kedua dari Pati."
"Iya. Lagian besok aku ngamen di hotel."
"Ngamen?"
"Iya ngamen."
"Kok ngamen? Maen gitu."
"Iya maen." suara saya parau menjawab pertanyaan ibu.

Kalau saya cerita bahwa saya bermusik, berkreativitas dengan teman-teman di Solo ini, nanti pasti oleh saudara-saudara yang lain dicerca dengan pertanyaan yang sama, "Dapat berapa kalau maen kayak gitu?". 
Kalau mendengar hal-hal semacam itu, bisa nggak sih orientasi kita dialihkan bukan ke hal-hal yang menyangkut uang? Bisa nggak misalnya ditanya, 
"Eh kayak gitu enak ya? Bisa dapat banyak teman nggak? Bisa memperluas jaringan bisnis nggak?". 
Kenapa selalu dan selalu hasil yang ditanyakan. Kamu sekolah tinggi-tinggi mana hasilnya? Kamu kerja susah payah mana hasilnya?

Kadang jika diri ini lagi goyah keseimbangannya, muncul pikiran-pikiran aneh. Kenapa saya tidak bisa mikir seperti orang kebanyakan. Kenapa saya tidak turuti alur berpikir mereka. Kenapa saya tidak memikirkan hasil? Kenapa saya tidak berfikir untuk melakukan hal-hal yang mereka lakukan. Sekolah, kuliah, bekerja, menikah dengan teratur? Iya. Untuk urusan yang terakhir itu juga saya seharusnya meminta maaf kepada ibu bapak saya. Karena sampai usia di ujung tanduk seperti ini saya belum bisa memberikan nama calon menantu kepada mereka. Apalagi memberikan cucu. Saya nggak tahu, bahkan otak saya saat ini sedang dipenuhi oleh 'bikin film pendek web series tentang Sarjana Masbuk'.

"Kalau orang punya kerja, hajat, yang nomer satu ya keuangannya harus mapan. Biar semuanya bisa berjalan dengan lancar. Apalagi ini untuk urusan pernikahan. Harus dirayakan. Pak lek bisa melakukan semua dengan lancar karena sudah siap sebelumnya." Saya melongo mendengar kalimat itu. 

Mungkin itu sebabnya banyak orang rela menggelar pesta hajatan besar-besaran dan berani mengambil dana hutangan. Alasannya mungkin, biar pengantinnya ingat, bahwa pesta pernikahan mereka memerlukan pengorbanan yang luar biasa sehingga jika bahtera rumah tangganya dihantam badai semisal hampir bercerai, mereka bisa mengingat-ingat pengorbanan yang sudah dilakukan saat menggelar pesta pernikahan itu. Iya tidak ada yang salah. Semua orang punya cara berfikir yang berbeda-beda. Tuhan sengaja menciptakan perbedaan itu. Sayangnya Tuhan sengaja membedakan dengan tujuan ingin menyatukan. Agak sulit dipahami memang. 

Sepertinya kalau sudah begini saya harus menjadi orang Jawa. Orang Jawa itu orang yang selalu untung. Untung saja dua hubungan saya dengan perempuan-perempuan berjlibab itu pupus di tengah jalan. Coba kalau mereka mengiyakan lamaran saya, mau saya rayakan dengan apa pernikahan saya? Uang darimana? Hutang? Pakai apa bayarnya besok? Daun kering? Maka rasa kecewa saya pelan-pelan bisa hilang. Kalau urusan mencukupi nafkah masih bisa saya usahakan. Termasuk tempat tinggal dan lain-lain. Tapi untuk pesta puluhan juta rupiah, saya masih belum mampu membayangkan. Apalagi mereka juga sama-sama ragilnya. Biasanya kalau untuk yang ragil itu harus dirayakan besar-besaran nanggap hiburan ini dan itu sebagai wujud rasa syukur karena anak gadis mereka dipinang orang. Tabungan saya aja ini satu juta entah ada entah tidak. Untungnya kok batal menikah dengan saya. Miskin ya? Bukan. Ini hanya masalah 'punya' atau 'tidak punya'. Untungnya saya merasa 'tidak punya', jadi tidak juga merasa kehilangan. 

Kalau psikologi masyarakat Pati, laki-laki usia 27 itu seharusnya anaknya sudah berusia sekitar dua tahun. Kalau usia 27 belum menikah, dianggap telat. Termasuk salah satunya ya saya ini. Sebenarnya satu juta rupiah itu sudah sangat cukup sekali untuk melaksanakan pernikahan, cuma tanpa perayaan. Tapi jaman sekarang, apa ada yang mau seperti itu? 

"Ada mas." jawab perempuan itu.
"Iya, tapi seribu banding satu." jawabku.
"Pas kan? Katanya kamu mencari yang satu, bukan yang seribu itu?" jawabmu dengan senyum sumringah syahdu. 
"Kamu rela menikah denganku? Aku sudah dianggap telat lho. Nanti kita berdua jadi Pengantin Masbuk lho. Gelarku aja Sarjana Masbuk?"
"Mas, masbuk itu telat kan? Telat itu salah satu tanda kehamilan. Kehamilan itu potensi kelahiran. Jadi kalau di dalam hidupmu selalu telat, bersiaplah untuk menyambut kelahiran-kelahiran baru. Lebih baik masbuk daripada tidak sama sekali mas."

Dan aku pun menyeretmu menuju KUA....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...