Langsung ke konten utama

Wangi Iman Jangan Bergoyang

Mulai sekarang saya berusaha untuk menjaga penampilan layaknya seorang pria dewasa. Setelah mengganti model rambut dari 'gondrong merana' ke 'belah pinggir mempesona' saatnya memilih parfum yang sesuai dengan karater personal saya. Konon katanya, jenis parfummu menunjukkan kepribadianmu. Jargon yang mantap. Eksperimen penggunaan sabun bayi kemaren untuk sementara ini saya anggap gagal. Ternyata sabun bayi itu tidak menimbulkan banyak busa. Dengan kata lain penggunaannya memang sangat cocok untuk bayi yang memiliki anatomi tubuh yang kecil. Kalau yang memakai adalah orang dewasa yang tentu saja tubuhnya sudah mengalami pertumbuhan disana-sini maka, mandi dengan sabun bayi adalah suatu bentuk keborosan. Cepat habis. Itu yang saya alami. Kalau begini caranya pendanaan saya bisa membengkak. Semakin terkuras tabungan saya.

Parfum. Membuat bau badan anda menjadi wangi. Menjadikan anda lebih percaya diri menjalani aktivitas yang padat sehari-hari. Iklan banget ya? Soal parfum, saya pernah sempat tergila-gila dengan benda yang satu ini. Masa pubertas saya aneh. Setiap malam minggu saya memakai parfum orang dewasa. Entah itu keluar atau tidak keluar rumah, saya tetap memakai parfum. Padahal usia saya baru SMP. Najis kalau ingat hal itu. Mandi, pakai parfum, pakai celana pendek seragam SMP, dompet berantai, kaos jersey Manchester United bertuliskan Gigs di bagian punggungnya, nongkrongnya cuma di perempatan dekat rumah. Dimana kerennya? Bener-bener hal ter-super duper najis stadium empat belas. Yang tak kalah aneh adalah, semasa SMP sampai SMA dulu, ada kebanggaan tersendiri mana kala keluar rumah masih memakai celana atau bawahan seragam sekolah. Kebanggaan yang salah tempat sepertinya. Ada yang pernah mengalami kebanggaan aneh seperti itu? Atau kalau pulang sekolah, baju seragamnya dikeluarkan biar kelihatan badungnya sebagai sebagai simbol kebebasan sesudah keluar dari sekolah yang terlalu banyak aturan? Sekolah adalah penjara? Bukan ah. Sekolah itu tempat yang baik kok. Salah satunya baik untuk nyari gebetan yang syukur-syukur bisa jadi istri atau suaminya kelak. Bukan nyari ilmu. Ngapain cengar-cengir? Iya kan? Di kampus juga begitu? Eh kalau yang sering ikut liqo' tarbiyah, pengajian nggak kayak gitu kan ya niatnya?

Back to parfum. Ibu dulu pernah berpesan kepada saya. Kata beliau saya terlalu menyepelekan penampilan. Kalau terus menerus seperti itu bisa dipastikan saya akan mengalami fase paling tidak enak sepanjang sejarah hidup umat manusia. Jomblo permanen. Pria dewasa harus mulai memikirkan penampilan. Begitu ujar ibu. Namun setiap manusia punya naluri untuk mengetahui siapa dirinya yang sejati. Begitupun dengan saya. Setelah parfum jaman SMP, kemudian yang baru saja kemarin sabun bayi, kini saya menemukan parfum yang sangat cocok dan pas dengan saya. MINYAK KAYU PUTIH. Sejarahnya? Baca postingan ini Kebaikan Yang Berjilbab. Selain bisa mengingat kebaikan orang lain, minyak kayu putih juga bisa menghangatkan tubuh saya yang kesepian ini. Eh, kok kesepian, kedinginan ini maksutnya. Fakir lemak seperti saya agaknya bermasalah dengan udara dingin yang akhir-akhir ini menyelimuti kota Solo. Kalau siang panas menyengat, kalau malam dingin menyayat. 

Wangi itu kata yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Saat hidup harus tetap menjaga diri supaya wangi. Begitu mau dikubur atau dikremasi juga harus wangi. Jadi kemana dan dimanapun saja, jagalah kewangian dirimu. Cuma, bagi saya, wangi itu ya yang seperti bau minyak kayu putih tadi. Tiap habis mandi hampir selalu saya memakai minyak kayu putih. Bukan. Ini bukan iklan. Ini hanya sebagian kecil dari dinamika hidup. Memang saat ini saya jatuh cinta dengan minyak kayu putih. Kenapa disebut dengan minyak kayu putih saya juga tidak tahu. Entah yang putih itu minyaknya atau kayunya. Kalau saya lihat sih seperti air biasa.  Bening. Bahasa Indonesia memang agak sulit untuk saya pahami. Orang memakai idiom 'putih' untuk menyebut hal-hal yang 'bening'. Mungkin karena putih adalah lambang kesucian sebagaimana dalam warna bendera Indonesia merah putih. Semua juga sudah paham bahwa penyebutan 'air putih' dirasa aneh. Kalau susu itu seharusnya tidak perlu diberi embel-embel putih. Karena dasarnya semua susu itu putih. Jadi cukup disebut susu. Bukan susu putih. Susu disebut susu putih karena ada penemuan susu cokelat yang kemudian dilanjut dengan susu rasa strawberi yang berwana merah muda. Bisa saja karena saking kreatifnya manusia, besok akan ada minuman susu abu-abu, susu hitam pekat, susu hijau lumut, susu biru langit, susu kuning keemasan, susu merah merona, atau susu putih mulus. Sudah susu, ditambah putih, mulus lagi. Nilai gizinya bakalan tinggi sepertinya. 

Bagi sebagian orang memakai minyak kayu putih adalah hal yang kurang wajar. Apalagi sampai menyetarakan antara minyak kayu putih dengan parfum berkelas dunia. Untungnya saya bukan siapa-siapa. Coba kalau saya pesohor alias selebritis yang dianggap panutan publik itu. Nanti di headline majalah gosip, "Didik selebritis pemakai minyak kayu putih dikabarkan menikah lagi". Nggak enak ah. Kurang menjual menurut saya. Sudah namanya Didik, pakainya minyak kayu putih, dikabarkan menikah lagi. Mana ada yang percaya.

Sama tidak percayanya kalau saya bilang suara saya merdu. Pasti lebih tidak percaya lagi. Tapi ada hal senonoh yang telah diperbuat grup musik Kidungan terhadap saya. Saya diintervensi, diancam, dan didoakan akan dikerubuti seratus wanita setiap harinya kalau saya tidak mau menjadi lead vocal di grup mereka. For your information, ini salah satu grup dangdut ter-absurd. Aneh. Mana ada grup musik dangdut anggotanya cuma empat orang. Laki semua lagi. Itu sudah termasuk saya lho. Saya masuknya dulu digendam. Begitu sadar terus diancam macem-macem itu tadi. Siapa yang tidak takut dikerubutui seratus wanita dalam sehari? Setiap hari lagi. Mereka tidak spesifik menyebutkan kriteria wanitanya seperti apa. Terus mengerubutinya sambil membawa apa tidak jelas juga. Iya kalau semuanya minta cium sih nggak apa-apa. Lha kalau semuanya bawa pentungan terus gebukin saya ramai-ramai gara-gara saya menolak menikahi mereka semua, kan runyam. Siapa yang sanggup menikahi seratus wanita? Siapa yang tidak takut coba?

Iya. Selain sukanya pakai minyak kayu putih suara saya itu kalau dilukiskan dalam tiga kata adalah suara yang memiliki tipe 3P. Pukul Pantat Panci. Artinya kalau mau tahu suara saya yang sebenarnya, pukul pantat panci. Sama kok frekuensinya. Beneran deh. Kalau tidak percaya coba klik dan dengarkan lagu ini Kidungan - Tak Sekedar Memiliki. Di lagu ini dari awal sampai akhir ada suara saya semua. Untungnya dalam lagu ini Kidungan meminta Aris, recording's operator di SusahSenangRecords, agar mengemas lagu ini  menjadi seperti dangdut-dangdut jaman tahun 70an. Kalau yang pernah dengar Pengantar Minum Racun (Jhonny Iskandar dkk) atau Pancaran Sinar Petromax (PSP), hampir mirip seperti itu. Jadi suara saya dibuat tambah cempreng dengan penambahan efek echo yang berlebihan. Atau gampangnya, suara khas dari Toa. Iya toa penemuan Jerman itu yang sering dipakai di masjid. Kalau tidak tahu ya corong masjid. 

Membahas musik dangdut, ternyata ibu saya adalah salah satu penggemar Rhoma Irama di jamannya. Menurut cerita ibu, dulu bioskop-bioskop selalu full penonton jika menayangkan film Rhoma Irama. Menurut kabar burung yang tersebar di keluarga saya, nama kakak saya Ani, diilhami dari film Rhoma Irama. Dimana tokoh Ani adalah nama tokoh perempuan yang selalu dekat dengan Rhoma. Saya masih bersyukur, untung nama saya bukan Didik Irama. Atau Zulfikar Wahyu Kurniawan. Karena Rhoma Irama kalau tidak memakai namanya sendiri ya memakai nama Zulfikar di dalam film-filmnya.

Musik dangdut juga yang sering saya jadikan tameng kalau dimarahi ibu. Cerita begini. Jadi sejak kelas 5 SD saya sudah mengenal dan belajar gitar. Sudah nongkrong di perempatan juga bareng tetangga tapi belum memakai minyak wangi. Hampir setiap hari saya pegang gitar. Bangun tidur, pulang sekolah main gitar terus. Lagu-lagu yang saya mainkan adalah lagu-lagu orang dewasa saat itu. Ibu sering memarahi saya. Takut kalau  kalau nilai mata pelajaran di sekolah saya jelek karena dari kelas 1 SD saya ini selalu dapat juara kelas. Kalau tidak satu, dua, ya tiga meski hampir bisa dipastikan saya tidak pernah belajar. Sering juga didaulat ikut lomba mewakili SD. Nggak ada yang percaya pasti. Baiklah.

"Dik. Le! Mbok belajar sana. Main gitar terus! Kalau main gitar itu ya mbok lagunya yang enak!" ujar Ibu tegas.
Kemudian senar gitar saya sentuh perlahan, jreeeeeng.....
"Bila kamuuuuuuu......." jreeeeeng "Di sisikuuuuu......." jreeeeng "Hati rasaa syahduuu...." jreeeeng...
Kemudian saya teruskan lagu Rhoma Irama berjudul Syahdu itu. Tahu kan lagunya kayak gimana? Oh sudah hafal malah? Kalau sudah hafal ya tidak jadi saya tulis liriknya. Saya mau nyanyi sedikit.
Ku yakin ini semua, perasaan cinta...
Tetapi hatiku malu, untuk menyatakannya...
Bila kamu, di sisiku...
Alhasil, ibu tidak jadi marah. Malah bilang gini, "Nah gitu lho. Lagu mbok ya yang enak."
Jadi ternyata ibu marah-marah itu bukan karena saya berlebihan belajar gitarnya, tapi karena lagunya. Kalau lagunya Rhoma Irama, beliau bisa ikutan nyanyi sambil goreng ikan.

Pada suatu malam di masjid Hidayatullah saya dipanggil takmir masjid.
"Dik ini ada yang mau tanya-tanya soal studio musik. Siapa tahu antum bisa membantu."
"Mana?"
Kemudian saya menemui sosok misterius itu.
"Iya pak."
"Oh dek. Perkenalkan saya Cak Mat. Saya mencari studio musik di Solo ini."

Cak Mat. Seorang yang mengaku mengetahui banyak tentang teknik bermain ketipung bahkan lebih luas lagi tentang perkembangan musik dangdut di tanah air. Beliau menerangkan banyak hal tentang musik dangdut, termasuk jenis dangdut yang begitu populer saat ini, dangdut koplo. Menurut beliau dangdut koplo lahir dari komunitas pemusik dangdut yang berada di kawasan lokalisasi prostitusi Dolly Surabaya. Dangdut koplo muncul karena permainan spontan yang sepintas mirip pola kendang Jaranan itu. Penuh semangat dan membangkitkan gairah untuk semakin bergoyang. Sempat beliau saya tawari untuk menginap di kos saya saja namun beliau memilih untuk tidur di serambi masjid. Beliau malah menawari saya untuk mengajari bermain teknik dangdut koplo yang bener supaya bisa konstan dan tidak mudah capek. Katanya juga beliau salah satu pengisi bass di dalam salah satu lagunya Jaja Miharja yang berjudul Cinta Sabun Mandi, yang liriknya mungkin banyak yang sudah tahu, "Meskipun Madona cantik, Marilyn Monroe juga cantik, tetapi bagiku lebih cantik Nyaiiii...". Beliau juga berkata dekat dengan almarhum Gombloh. Seorang seniman yang suka membagi-bagikan kutang gratis di Dolly dan dilemparkan sambil naik becak. Bagaimanapun kebenaran cerita-cerita itu yang jelas banyak hal yang saya dapat dari pertemuan dengan beliau di sekitar tahun 2009 itu. Di masjid, kita membicarakan dangdut. Salah?

Tidak ada yang salah dengan dangdut. Bukan. Saya tidak membela siapapun. Yang salah bukan dangdutnya. Bukan pada nasinya. Tapi pada bagaimana cara manusia mendapatkan uang untuk membeli beras. Kalau uangnya hasil korupsi ya nasinya ikut kena imbasnya. Atau kalau mau berbagi dengan tetangga, masa nasi basi yang kita berikan? Tidak mungkin tega kan?

Mulutmu boleh berdendang. Badanmu boleh sedikit bergoyang. Tapi jangan sampai wanginya iman ikut bergoyang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...