Langsung ke konten utama

PNS (Penulis Nista Sekali)

Saya sendiri suka heran. Itu teman-teman yang sudah lama sekali tidak ketemu, sekalinya ketemu langsung menyodorkan beberapa pertanyaan.
"Gimana kabarnya?" Ini basa basi yang sudah paten tanpa dipatenkan hak patennya.
"Dimana sekarang?" Ini merujuk tentang apa pekerjaan kita sekarang.
"Sudah berapa anaknya?" Ini pertanyaan untuk menguji seberapa besar tingkat kejantannya kita.

Sekali-kali diganti gimana gitu kek. Yang kreatif sedikitlah jadi manusia.
"Gimana usahamu?" Ini bukan lagi basa basi. Konon beberapa keluarga China sering memakai pertanyaan ini. Semakin besar dan banyak usahanya, semakin bagus.
"Sudah berapa buku yang kamu tulis?" Ini merujuk tentang seberapa kita mampu berkreasi. Nggak harus buku sih, bisa apa saja.
"Berapa istrimu? Anakmu berapa dari istri keempatmu?" Ini lebih dari cukup untuk menguji kejantanan seorang laki-laki. Tidak hanya jantan, tapi juga bertanggung jawab

Kayak gitu baru pertanyaan keren. Pertanyaan kok gitu-gitu aja. Haloooo ini 2013. Katanya mau Indonesia yang lebih baik? Bisakan dimulai dari yang sederhana. Apalagi pertanyaan kadaluwarsa, "Sudah lulus?" Pffffff... Ganti deh ganti...

Apanya? Kalau saya disodori pertanyaan yang keren tadi? Ya sama sih. Sama-sama nggak bisa jawab. Usaha masih jalan. Namanya hidup kok nggak berusaha. Ya nggak enak sama Tuhan. Perkara hasil itu kan bukan urusan saya. Ya dagang. Apalagi? Kalau pas momennya ya bisa laba dan cukup untuk makan dua bulan. Buku juga baru satu, syukur ini mau dua. Biasanya sih gitu kalau ada satu nanti ada dua, ada tiga sampai tak terhingga. Istri? Skip aja deh bagian ini. 

Sebenarnya nggak enak juga kalau teman-teman menganggap saya penulis dan penulis itu dianggap adalah profesi. Sakit. Bener-bener sakit. Karena saya tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Saya menganggap menulis itu bukan pekerjaan. Menulis itu kewajaran bagi saya. Karena wajar, jadi ide itu setiap saat bisa ditampung. Jadi kalau saya menulis, entah itu blog, note fb, bb, dimana aja itu bukan sesuatu yang istimewa. Beneran deh. Malah kalau saya nggak nulis, itu yang nggak wajar. Kalau nggak wajar hidup itu kan nggak enak juga. Wajar itu hampir seakar dengan wajib, wajaba. Kalau nggak nulis, nggak enak sama Tuhan. Sudah diberi ide yang kadang bagi orang lain baru masa kitanya diem aja gitu sambil senyum-senyum sendiri dan berkata dalam hati, "yes, ada ide baru.". Ada ide kalau nggak dituangkan ya sama aja. Kayak kamu makan enak lezat bergizi tapi nggak bisa BAB? Mampet jadi penyakit.

Penulis juga nggak diakui oleh pemerintah. Coba aja cek di kelurahan masing-masing pas mau buat e-ktp. Ada gitu pekerjaan penulis? Kalau paranormal atau dukun malah ada. Makanya saya sering sok-sokan menjadi dukun. Tujuannya biar besok pas mau bikin e-ktp kolomnya nggak kosong. Kasihan petugasnya. Sudah capek-capek nyiapin kolom kok dicuekin.

Jadi hidup saya hanya untuk menulis? Nggak juga ah. Saya juga masih makan minum juga. Iya makannya kembang sama kemenyan. Tiap bulan purnama saya jadi serigala berbulu tangkis. Kalau malam jumat ngepet. Untuk urusan ekonomi kan saya dagang. Tentu cara dagang saya ya sesuai dengan metode yang saya cari sendiri. Kalau rugi kan nggak serta merta nyalahin orang lain. Kalau laba, syukur. Gitu aja sih. Untuk urusan berkesenian juga masih ada beberapa grup yang mengajak saya. Ada yang bilang jiwa saya ini penulis. Tambah nggak ngerti juga kalau ada yang bilang seperti itu. Maksutnya gimana itu? Jiwa penulis? Setahu saya yang ada jiwa penolong. Ini kenapa ada jiwa penulis? Horor.

Makanya tiap ada yang berbasa-basi minta diajarin nulis, sayanya yang kelimpungan. Menulis gimana cara belajarnya? Itu kan sejak sebelum TK sudah diajari sama bapak ibunya. Masih minta diajarin lagi. Saya juga nggak ngerti kenapa saya bisa menulis. Ini tangan juga bergerak-gerak sendiri. Kalau nggak percaya kapan-kapan temani saya ngetik. Diajak sambil ngobrol sudah bisa sekarang. Orang tinggal nulis aja kok bingung. Gini, kan itu sudah banyak wadah untuk merangsang manusia jaman sekarang menulis. Ada kotak status Fb, ada word di komputer, ada blog yang tiap saat bisa diakses dari mana saja. Terus ada twitter. Kan seharusnya orang nggak kesulitan lagi menulis.

Misal ini yah yang hampir tiap saat up date status. Itu kalau dikumpulkan dan agak panjangan dikit kan bisa jadi note FB. Kan nggak ada aturannya menulis harus sepanjang sekian. Kecuali kalau kamu mau konsisten bikin novel atau skripsi. Polanya kan mirip. Harus terjaga alurnya, apa temanya, konsistennya watak tokohnya. Saya kan belum bisa menulis seperti itu. Tulisan saya ya seperti ini. Atau kalau yang udah pernah baca buku Sarjana Masbuk, ya seperti itulah tulisan saya. Kalau untuk urusan waktu, itu kan emang saya pas lagi nggak ada kegiatan lain. 

Kalau saat menulis kamu berpikir bahwa kamu seorang penulis, ya malah nggak jadi nulis. Saat kamu sedang menulis, itu sudah otomatis kamu menjadi penulis. Perokok itu orang yang saat itu sedang merokok. Kalau tidak sedang merokok ya jangan disebut perokok. Pelukis ya saat dia sedang melukis. Karena dia mungkin bisa saja mengerjakan hal-hal lain selain melukis, mengajar mengaji barang kali.

Belajarnya bisa darimana aja kok. Saya ini kan tidak banyak bicara, selain tidak banyak duit juga, jadi tiap ada forum apa, pokoknya ada orang ngomong gitu, saya diem saja. Diem tapi telinganya dipasang baik-baik. Nggak usah mikir macem-macem pokoknya dengarkan saja. Sering kumpul aja sama orang-orang. Nanti juga tahu kalau ada apa-apa.

Saya malah justru sering bertanya, apa jadinya saya kalau Tuhan tidak memberi saya anugerah kewajaran menulis. Karena sakit hatiku sekarang, tidak enaknya hidupku yang sekarang, bisa menjadi tabungan kebahagiaanku kelak. Sederhana. Tulislah. Dan tabungan itu bisa saja tidak habis dimakan sampai tujuh turunan dan keturunan keturunan saya selanjutnya. Amin.

Selamat menulis. Kalau memang menulis itu membangun peradaban, menulislah hingga kamu benar-benar beradab. Beradabtasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...