Langsung ke konten utama

Nama Sayang

Rasanya badan ini harus segera dilarikan ke hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya. Sampai saat ini belum ada niatan yang pasti. Belum juga ada visi misi yang jelas ke depannya kecuali niat melangsungkan ijab qabul dengan dana seminimal mungkin. Lelaki irit itu seksi. Iya karena memang belum ada dana yang mencukupi untuk melakukan selebrasi besar-besaran. Yang penting niatnya dulu. Perkara realisasinya kapan itu terserah sama perempuan yang mau. Nggak mungkin juga kalau harus minta bantuan orang tua. Dari kecil sudah dirawat disayang sedemikian rupa, masa sudah mau menikah masih manja. Meski ragil, tetep harus bersikap gentlemen. Kalau nggak punya ngomong nggak punya. Resikonya paling durasi jomblonya lebih lama. Karena tradisi keluarga sudah mengajarkan hal itu turun temurun. Nenek dulu juga harus menghidupi enam orang anaknya sendiri setelah ditinggal kakek. Dan enam orang itu akhirnya tidak ada yang luput menjadi pegawai. Minimal pegawai negeri dan sebagian menjadi perwira di militer. Rumus nenek cuma satu, 

"Jangan berhutang. Kalau adanya daun di pekarangan rumah, ya masak saja daun itu! Tak perlu berhutang untuk membeli daging! Jangan takut dikatakan kambing!"

Tanpa sawah, hanya kebun kecil di halaman rumah. Dan nenek sanggup bertahan sampai akhir hayatnya. Kamar tempat nenek menghembuskan nafas terakhir, sekarang jadi kamar saya. Kalau pulang ke Pati suka ingat beliau beserta ilmu kanuragannya itu. Ilmu kanuragan itu bukan ilmu kebal dibacok, ditembak, disantet, dan bentuk benturan fisik lainnya. Ilmu kanuragan itu justru ilmu 'rasa'. Termasuk seberapa kadar imanmu itulah ilmu kanuragan. Orang yang teguh imannya, dia tidak akan mampu disakiti. Orang sakti itu orang yang tidak mudah tersakiti, termasuk tersakiti hatinya. Kalau hatinya sudah selamat, raganya akan secara otomatis mengikuti. Kalau tidak banyak kepentingan dan keinginan, kamu tidak akan mudah dikalahkan. Bisa dicek, dalam setahun, tubuh anda mengalami sakit berapa kali. Yang paling ringan seperti apa, yang paling parah seperti apa. Percuma juga jika di masa mudanya kebal dibacok tapi begitu masuk usia senja tubuhnya tidak berdaya, mati segan hidup tak mampu. Namun ilmu kanuragan yang seperti itu luar biasanya sulitnya untuk diterapkan di jaman sekarang. 

"Jaman nenek dulu nasi begitu berharganya sehingga kalau makan ramai-ramai harus dibagi secara adil dan merata. Tidak ada yang tidak bisa dibagi di dunia ini. Sesedikit dan sekecil apapun itu, asal ada, pasti bisa dibagi. Helai rambut ini masih bisa dibagi menjadi seratus bagian kalau mau.  Kalau kamu mau lebih teliti lagi, kamu akan dipertemukan dengan zarah-nya zarah. Bahkan zarah-nya zarah-nya zarah. Jadi hampir tidak  ada alasan untuk tidak berbagi, selama kamu masih hidup, selama kamu masih ada di dunia ini." It's amazing quote's for me.

Itu nenek saya dari jalur ibu. Namanya Mbah Minah atau lebih akrab dengan panggilan Mak Minah. Biasanya kalau panggilannya Minah, nama lengkapnya Aminah. Atau kalau mau lebih lengkap lagi Siti Aminah. Tapi terus terang saya juga nggak ada data yang valid tentang nama nenek saya yang sebenarnya. Bisa Minah, Aminah, Siti Aminah, atau Suminah. Saya curiga, orang tua nenek saya dulu masih keturunan Arab, atau kalau tidak masih ada turunan Kiai atau Syech. Maksa banget ya saya? Bener juga sih. Nggak mesti juga kalau namanya ada unsur Arabnya selalu keturunan Arab. Orang sekarang juga banyak yang menamai anaknya dengan bahasa-bahasa Inggris meski tidak pernah ada turunan dari Inggris. Nusantara ini kan tempat pertemuan berbagai suku dan ras, karena konon dulu disinilah awal mula perdagangan global. Pengusaha atau saudagar dari berbagai belahan dunia semuanya berkumpul untuk melakukan transaksi-transaksi internasional. Katanya sih begitu. Orang turunan Jawa asli sekarang sudah banyak yang memakai nama-nama Arab. Salah satu fungsinya adalah untuk menegaskan agama apa yang ia anut. Kalau namanya ada Arabnya, kemungkinan besar ia Islam.

Tapi sekeren apapun nama kamu, ada unsur Arab, Inggris, Ibrani dan lain sebagainya, orang tua selalu punya panggilan unik untuk setiap anaknya. Misalnya saya sendiri nih ya. Didik Wahyu Kurniawan. Oleh orang tua saya dipanggil apa coba? Didik? No. Wahyu? Salah. Nia? Woy lelaki tulen woy! Cuma belum beristri jadi belum terbukti sih. Siapa coba nama panggilan khas ibu bapak untuk saya?

GEMBUT! 

Nggak enak kan?!! Itu meleset sedikit bisa runyam lho urusannya. Apalagi kalau orang Inggris yang baca di depan orang Jawa. Terus fungsinya apa nama saya yang begitu panjangnya??? DIDIK WAHYU KURNIAWAN dipanggil GEMBUT! Itu masih mending. Kadang cuma

"Mbut mbut mbut, rene le tak kandhani..."

Ini masalah serius lho! Jangan dianggap remeh! Mbat Mbut mbat mbut? Oh ibu bapakku, apa artinya Gembut itu? Kenapa engkau berdua memanggilku dengan kata itu? Adakah kepanjangan dari kata itu? Gembut. Apa sih Gembut? Arrggghhhhh...?

Contoh lagi nih. Nama Muhammad Nur Insani. Dipanggilnya? "Mamat! Sini Mat!". Atau kalau khas Jawa jadi "Met! Rene Met!". Katanya namailah anakmu dengan nama-nama yang bagus karena besok di akherat akan dipanggil sesuai dengan nama-nama itu. Pertanyaan sederhana nih. Dipanggilnya dengan nama lengkap atau nama panggilan saja atau nama panggilan sayang dari orang tua untuk kita. Saya curiga, jangan-jangan yang dipakai adalah nama panggilan sayang dari orang tua. Karena ridho Allah adalah ridho orang tua. Berarti sayang Allah sayang orang tua kan? Panggilan sayang orang tua, berarti panggilan sayang Allah untuk kita? Iya, panik kan kalian yang suka dipanggil aneh-aneh sama orang tua kalian? Saya khawatir sudah cukup lama e. Jadi pesan saya untuk kalian yang akan beranak pinak, siapkan nama panggilan sayang yang baik deh untuk anak-anak kalian. Ya misalnya Zulaekha ya dipanggil Ekha ya gapapa. Atau Rahayu dipanggil Ayu. Aditya dipanggil Adit. Estiningtyas dipanggil Esti.  Afrilia dipanggil Lia. Suharto, Harto. Pokoknya panggilan yang masih ada maknanya. Bukan sekedar memanggil. Masa saking sayangnya terus mengaburkan arti yang sesungguhnya?

Nama Lengkap: Didik Wahyu Kurniawan
Nama Panggilan: Gembut?

Berarti kalau begitu masih mending nenek saya daripada saya. Anggap saja nama aslinya Siti Aminah gitu ya. Biar saya agak ada keturunan Arabnya gitu. Dipanggilnya Minah. Masih masuk. Lha saya? Mau saya ulang lagi? Kenapa saya membahas sampai serumit ini, karena saya pernah punya teman aktivis mahasiswa  yang merangkap takmir atau penjaga masjid tiba-tiba menanyai saya dengan pertanyaan yang aneh menurut saya.

"Dik, nama lengkap kamu siapa?"
"Didik Wahyu Kurniawan mas. Kenapa?"
"Ada Arabnya nggak?"
"Nggak tahu mas."
"Oh ada ada. Wahyu."
"Wahyu bukannya bahasa Jawa?"
"Bukan."
"Terus kenapa mas tanya kayak gitu?"
"Nggak. Nggak ada apa-apa."

Aneh kan? Masih teringat sampai sekarang. Usut punya usut nama teman saya itu Jawa tulen. Nggak saya sebutkan. Terus kenapa kalau nama saya ada unsur Arabnya dan dia tidak? Dari nada bicaranya dia kelihatan minder dengan namanya sendiri. Kenapa kalau ada Arabnya? Biar Islami gitu? Arabi iya. Kalau Islami belum tentu. Lagian Wahyu saya itu bukan bahasa Arab. Yakin bukan bahasa Arab. Itu bahasa Jawa.

Tapi namanya orang tua ya. Kita bisa apalagi selain menurutinya. Meski sampai sekarang masih menjadi misteri, saya tetap yakin bahwa Gembut itu artinya yang baik-baik lah. Karena saya sadar, orang tua kalau sudah sayang itu kalau melakukan apa-apa untuk anaknya pasti ridho, ikhlas, dan tentu saja berasal dari lubuk hati terdalamnya. Nama saya yang tiga suku kata itu karena saking panjangnya di rekening cuma tertulis Didik Wahyu Kurniawa, tanpa N karena kolomnya nggak cukup. Berasa nama Jepang. Kurniawa. Mungkin Didik Wahyu Kurniawan itu nama untuk konteks sosial saja. Supaya di akte bisa tercatat dengan baik. Tidak enak saja, masa manusia lahir tidak dinamai. Hamba Allah gitu?

Saat melihat tangis saya pas lahir dan bapak mengumandangkan adzan, hati ibu saya berucap,

"Gembut, Gembut, Gembut ku..."

Gembut, Geraknya Menawan dan Lembut. Mungkin karena saking lembutnya kulit saya waktu itu, dan harapan supaya hati saya dipenuhi dengan kelembutan kelembutan. Alhamdulillah terbukti sampai sekarang. YANG NGGAK TERIMA MAJU!!!!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...