Sabtu malam, 5 Januari 2013, saya melakukan hal yang paling romantis selama hidup saya. Saat itu Solo diguyur hujan deras sedari siang. Tentu ini berpengaruh terhadap cuaca. Sederhananya, hujan sama dengan dingin.
Hujan + Dingin + Jomblo = Neraka Dunia
Iya, hidup sendiri itu juga nggak gampang ternyata. Resolusi dua tahun yang lalu untuk menikah diumur 25 atau 26 mentah semua. Makanya saya sekarang nggak mau resolusi-resolusian! Bukan nggak percaya, tapi ikut kehendak Pencipta itu kok sepertinya lebih enak daripada ngeyel dengan pengetahuan yang terbatas ini. Sudah direncanakan matang-matang, tidak terwujud juga. Yang dilakukan sekarang hanya menerima. Iya eksekusinya yang buruk mungkin.
Hujan + Dingin + Jomblo = Neraka Dunia
Iya, hidup sendiri itu juga nggak gampang ternyata. Resolusi dua tahun yang lalu untuk menikah diumur 25 atau 26 mentah semua. Makanya saya sekarang nggak mau resolusi-resolusian! Bukan nggak percaya, tapi ikut kehendak Pencipta itu kok sepertinya lebih enak daripada ngeyel dengan pengetahuan yang terbatas ini. Sudah direncanakan matang-matang, tidak terwujud juga. Yang dilakukan sekarang hanya menerima. Iya eksekusinya yang buruk mungkin.
Oke. Sabtu malam, disaat yang lain berduaan dengan orang yang disayang, saya harus berduaan dengan dosen pembimbing skripsi di rumah beliau. ROMANTIS! Rumus paling romantis sedunia, hujan + dingin + jomblo = bimbingan skripsi.
Saya melakukan dengan cepat dan langsung pulang tanpa suguhan, selain beliau juga laki-laki. Hujan seperti ini, lebih baik berdiam diri di kamar. Meringkuk sambil meratap dan ngobrol dengan bantal. Kalau kamu lagi sendiri yang paling bermanfaat dalam hidupmu adalah alam imajinal, bukan sekedar imajinasi. Apa bedanya? Cari sendiri. Gila? Sekilas iya, tapi ini melatih kepekaan untuk berbicara dengan diri sendiri. Kita seolah berbicara dengan bantal, dan bantal seolah menjawab semua keluh kesah kita. Tapi yang sebenarnya, kita sedang berbicara dengan diri kita sendiri. Mungkin dengan nurani juga atau imajinasi itu sendiri. Ini kalau diasah, bisa menjadikan kita pemain teater yang handal, comic (stand up comedian), atau penulis novel best seller dan public speaker yang mumpuni, serta segala profesi yang menuntut kita berbicara di depan orang banyak dan mempengaruhi mereka. Semua dimulai dari berbicara dengan diri sendiri. Ada teknik berbicara di depan cermin untuk melihat seperti apa mimik mukanya. Kalau saya lebih memilih bantal, karena bantal itu memenuhi kriteria atau bisa disebut bantal itu adalah diri saya sendiri. Sebabnya karena di bantal itu terdapat berliter-liter air liur saya. Ok, disgusting paragraph...
Kalau sendiri, memori otak ini bekerja beberapa kali lipat dari kondisi normal. Nah disinilah saat yang tepat untuk mengingat kebaikan-kebaikan orang lain terhadap kita. Kita buka file file lama, siapa saja yang pernah bersinggungan dengan kita. Keburukan orang lain? Bisa sih. Tapi buat apa kalau itu hanya semakin membuat lemah mental kita. Mending kebaikan deh yang kita ingat. Buat saya yang hidup sebatang kara ini, yang saya terima selama ini adalah kebaikan-kebaikan orang lain. Saya juga nggak ngerti kok sampai seperti ini. Tulisan ini ditulis tidak dengan menggunakan perangkat komputer saya sendiri. Iya meskipun saya sudah punya buku, tapi laptop nggak ada, komputer apalagi. Termasuk koneksi internet, listrik, kamar dan semuanya ini adalah hasil dari kebaikan orang lain terhadap saya. Jadi kalau saya di luar rumah mau berbuat macem-macem, kalau inget kamar, inget bantal yang ada ilernya, inget kasur, kok jadi nggak enak rasanya. Saya seolah orang baik ya? Nggak. Karena saya berbuat baik masih berdasar, atas dasar nggak enak sama orang rumah. Kalau berbuat baik dilakukan tanpa dasar itulah sesungguhnya kebaikan.
Saya itu hidupnya dipenuhi keburukan-keburukan namun entah mengapa orang-orang di sekitar saya itu kok orang-orang penebar kebaikan semua. Itu tadi saya cerita hari Sabtu ya? Sekarang hari Minggunya. Tanpa rencana pokoknya hari itu saya ingin naik ke daerah Tawang Mangu. Nggak tahu nanti di sana mau apa. Biasa seperti itu. Di Tawang Mangu ini tepatnya di Kalisoro ada rumah kecil agak berarsitektur joglo kuno-kuno gimana gitu. Rumah yang diwakafkan pemiliknya untuk digunakan sebagai sarana kegiatan sosial. Oleh teman-teman saya yang tentu saja orang-orang baik semua, rumah ini dimanfaatkan sebagai sekolah. Namanya Lembah Manah Humanity School. Saya sering menambahi menjadi Lembah Manah Humanity School of Rock. Iya karena dekat bebatuan gunung Lawu. Kalau dalam bahasa Jawa Lembah Manah itu berarti kerendah hatian. Karena kita orang Indonesia dan nggak suka hal-hal yang ribet maka nama gabungan dari bahasa jawa dan Inggris Lembah Manah Humanity School of Rock itu kita singkat menjadi LM. LM adalah sekolah yang disediakan untuk anak-anak sekitar Tawang Mangu yang putus sekolah dari sekolah-sekolah formal. Banyak alasan tentunya. Selain sekolah formal yang dianggap mahal, juga ternyata mereka di sekolah tidak mendapatkan ilmu-ilmu yang diperlukan semisal bercocok tanam. Lebih baik mereka bekerja membantu orang tua daripada harus bersekolah tanpa tujuan yang jelas. LM ini baru dalam masa-masa membangun karena beberapa pengurusnya yang dulu JOMBLO sekarang sudah BERUMAH TANGGA dan sebentar lagi akan BERKEMBANG BIAK. Di LM ini anak-anak selain diberi bekal keilmuwan seperti yang diajarkan di sekolah formal juga dibekali ilmu bercocok tanam mengembangkan berbagai jenis sayuran yang tidak hanya bermanfaat untuk keluarga di rumah masing-masing tetapi juga memiliki nilai ekonomis. Seperti buncis, sawi, tomat, cabai, dan beberapa lagi yang saya tak tahu namanya karena belum sempat berkenalan. Teman-teman terus bergerak mencari menyisir anak-anak yang putus sekolah untuk diajak ikut bergabung di LM ini. Selain itu ada kegiatan outbond yang digubah menjadi semacam pelatihan bahasa Inggris kilat. They called English Camp. Kegiatan ini bekerja sama dengan teman-teman dari Pare Kediri. Pasti sudah banyak yang tahu kalau ini. Teman-teman berjuang terus meski mendapat kendala disana-sini termasuk mulai tumbangnya satu persatu anak-anak yang pernah belajar di LM karena lebih memilih untuk bekerja di kota Solo.
Di sebelah bangunan LM ini ada rumah Pak Darmono sekeluarga. Beliau ini sudah kayak bapak saya, meski beliau belum tentu juga mengakui saya sebagai anaknya. Saya kan suka gitu. Mengakui siapa saja sebagai orang tua saya. Tujuannya tak lain tak bukan supaya dapat makan gratis. Nggak, becanda kok. Eh serius ding. Paragraf paling jujur ini.
Minggu saya asal naik ke LM saja dengan seorang teman yang sering nggak mau saya sebut namanya di tiap tulisan saya.
Saya itu hidupnya dipenuhi keburukan-keburukan namun entah mengapa orang-orang di sekitar saya itu kok orang-orang penebar kebaikan semua. Itu tadi saya cerita hari Sabtu ya? Sekarang hari Minggunya. Tanpa rencana pokoknya hari itu saya ingin naik ke daerah Tawang Mangu. Nggak tahu nanti di sana mau apa. Biasa seperti itu. Di Tawang Mangu ini tepatnya di Kalisoro ada rumah kecil agak berarsitektur joglo kuno-kuno gimana gitu. Rumah yang diwakafkan pemiliknya untuk digunakan sebagai sarana kegiatan sosial. Oleh teman-teman saya yang tentu saja orang-orang baik semua, rumah ini dimanfaatkan sebagai sekolah. Namanya Lembah Manah Humanity School. Saya sering menambahi menjadi Lembah Manah Humanity School of Rock. Iya karena dekat bebatuan gunung Lawu. Kalau dalam bahasa Jawa Lembah Manah itu berarti kerendah hatian. Karena kita orang Indonesia dan nggak suka hal-hal yang ribet maka nama gabungan dari bahasa jawa dan Inggris Lembah Manah Humanity School of Rock itu kita singkat menjadi LM. LM adalah sekolah yang disediakan untuk anak-anak sekitar Tawang Mangu yang putus sekolah dari sekolah-sekolah formal. Banyak alasan tentunya. Selain sekolah formal yang dianggap mahal, juga ternyata mereka di sekolah tidak mendapatkan ilmu-ilmu yang diperlukan semisal bercocok tanam. Lebih baik mereka bekerja membantu orang tua daripada harus bersekolah tanpa tujuan yang jelas. LM ini baru dalam masa-masa membangun karena beberapa pengurusnya yang dulu JOMBLO sekarang sudah BERUMAH TANGGA dan sebentar lagi akan BERKEMBANG BIAK. Di LM ini anak-anak selain diberi bekal keilmuwan seperti yang diajarkan di sekolah formal juga dibekali ilmu bercocok tanam mengembangkan berbagai jenis sayuran yang tidak hanya bermanfaat untuk keluarga di rumah masing-masing tetapi juga memiliki nilai ekonomis. Seperti buncis, sawi, tomat, cabai, dan beberapa lagi yang saya tak tahu namanya karena belum sempat berkenalan. Teman-teman terus bergerak mencari menyisir anak-anak yang putus sekolah untuk diajak ikut bergabung di LM ini. Selain itu ada kegiatan outbond yang digubah menjadi semacam pelatihan bahasa Inggris kilat. They called English Camp. Kegiatan ini bekerja sama dengan teman-teman dari Pare Kediri. Pasti sudah banyak yang tahu kalau ini. Teman-teman berjuang terus meski mendapat kendala disana-sini termasuk mulai tumbangnya satu persatu anak-anak yang pernah belajar di LM karena lebih memilih untuk bekerja di kota Solo.
Di sebelah bangunan LM ini ada rumah Pak Darmono sekeluarga. Beliau ini sudah kayak bapak saya, meski beliau belum tentu juga mengakui saya sebagai anaknya. Saya kan suka gitu. Mengakui siapa saja sebagai orang tua saya. Tujuannya tak lain tak bukan supaya dapat makan gratis. Nggak, becanda kok. Eh serius ding. Paragraf paling jujur ini.
Minggu saya asal naik ke LM saja dengan seorang teman yang sering nggak mau saya sebut namanya di tiap tulisan saya.
"Nggak tahu, pokoknya kesana dulu." komen saya menanggapi pertanyaannya, "kita mau apa disana?"
Sampai di LM sepi karena lagi nggak ada kegiatan. Kita langsung melongo berdua. Menghampakan diri masing-masing. Larut dalam lamunan masing-masing. Sesekali senyum-senyum sendiri saling ejek karena mungkin kita sedang dihinggapi masalah yang sama beratnya. Akhirnya setelah menengok cabai, buncis dan para followersnya saya memilih glundang-glundung di kasur sambil baca-baca buku fiqih wanita karena ada perpustakaan sederhana sekali di LM ini. Oke, salah baca sepertinya. Cuaca dingin sudah mulai datang. Kabut juga sudah turun. Tiba-tiba datang anak kecil satu perempuan satu cowok membawakan teh panas. Woooo, pas sekali saudara-saudara. Padahal kita kesana tanpa niat tapi suguhan masih saja datang. Mereka adalah putra putri Pak Darmono. Teh belum habis, datang makanan berat, nasi beserta lauknya. Woooo, berbinar mata ini karena perut juga belum terisi sedari pagi. Ini seperti yang saya ceritakan di atas, masih banyak orang baik di Indonesia ini. Tahu saja kalau ada dua makhluk terlantar yang lagi kelaperan.
"Iya saya lagi sakit. Kemaren habis ujan-ujanan membantu saudara punya hajat." ujar Pak Darmono.
"Oh...." hanya 'oh' karena saya benar-benar nggak bisa ngomong.
Ternyata Tuhan menyuruh saya kesini sekalian untuk menjenguk pak Darmono yang lagi kurang sehat. Mulai sekarang jangan pakai kata SAKIT tapi KURANG SEHAT. Itu lebih baik. Kalau rumah sakit, nggak usah diganti. Karena ada rumah sakit yang pekerjaannya memang membuat orang tambah sakit. Eh iya nggak sih. Aduh, betapa buruknya prasangka saya. Nggak ada nggak ada. Saya ralat. Eh tahu nggak siapa yang mencetuskan pertama kali bahwa Hospital itu diartikan sebagai Rumah Sakit? Atau itu saduran dari bahasa mana sih? Belanda? Kok aneh gitu penyebutannya? Rumah Hantu juga kurang pas. Mana ada Hantu beli rumah? Manusia aja banyak yang gelandangan nggak punya rumah kayak saya ini kok. Itu hantunya, ikut bikin aja nggak, kok dengan tiba-tiba punya rumah. Emang kalau rumah Hantu arsitek sampai kuli bangunannya hantu semua apa? Yang pas itu cuma Rumah makan, karena makan itu kata kerja. Sedang sakit dan hantu itu kata sifat dan kata benda. Ini tadi sampai mana? Malah cerita hantu? Nah kalau rumah bersalin agak mending. Tempat kita ganti baju. Kata orang Jawa.
Meski beliau sakit. Beliau tetap memuliakan kita sebagai tamu. Menjamu dan berdiskusi berbagai macam hal dengan tamu yang kebetulan ingin menularkan bisnis online nya. Kita seneng aja. Dapat makan minum plus ilmu gratis. Manggut-manggut slow motion aja pura-pura ngerti apa itu bisnis online sambil sesekali nyeruput teh panas di ruang tamu. Di luar hujan sudah mulai deras. Dan kita berpamitan pulang.
Anehnya disitu. Sesakit-sakitnya manusia nusantara, dia masih peduli kepada sesamanya.....
Masuk Senin yah? Senin saya mengurusi urusan kampus. Iya iya urusan makhluk aneh itu. Iya, si skripsi itu! Apalagi??!!! Nggak usah diceritain. Bikin capek aja! Saya ganti dengan cerita tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan saya. Sepertinya lebih menarik ketimbang cerita skripsi yang nggak jelas itu. Skripsi saya maksutnya yang nggak jelas. Kalau skripsi-skripsi para sarjana di Indonesia ini kan jelas semua. Jujur semua. Valid semua. Bermanfaat semua. Skripsi saya mah bukan apa-apa. Itu kan hanya novel setengah jadi. Atau novel jadi-jadian. Eh...
Ini enaknya dibikin romantis galau-galau gerimis atau gimana ini? Romantis galau-galau gerimis aja? Oke. Saya mah nurut sama yang baca. Ehem, bismillah. Ini tantangan terberat. Menceritakan kebaikan-kebaikan perempuan yang sekarang sedang tidak bersama saya lagi. Iya lah. Saya kan ngetik sendirian di dalam kamar. Kalau ditungguin perempuan malah nggak jadi ngetik ntar. Diskusi.
Sebenarnya ada 345.799.699 perempuan di Indonesia ini yang pernah dekat dengan saya. Tapi dari 345.799.699 itu saya mencoba menganalisis, eh ini perlu diinget juga. Kaidah yang dianggap bener itu Analisis, diagnosis. Bukan Analisa Diagnosa. Yang paling nggak enak itu yang Analisa. Lupakan. Saya ulang. Setelah saya kalkulasi saya analisis dengan menggunakan berbagai metode termasuk menghitung mean median modus dengan rumus interval pemfaktoran dan semua rumus matematis yang saya nggak paham semuanya itu, akhirnya saya simpulkan menjadi satu kata kunci saja. HIJAB.
Hijab, jilbab, kerudung, silahkan mau memahami menggunakan kata yang mana. Mungkin ada satu kata lagi yang memiliki konotasi penutup yang hampir sama namun jarang digunakan yaitu kelambu. Coba kita cek satu-satu.
"Perempuan itu memakai hijab biru untuk menjaga kesuciannya."
"Perempuan itu memakai jilbab biru untuk menjaga auratnya."
"Perempuan itu memakai kerudung biru untuk menjaga diri dari yang bukan muhrimnya."
"Perempuan itu memakai kelambu biru untuk menjaga diri dari serangan nyamuk."
Jilbab atau apa penyebutannya itu adalah satu kultur yang memiliki esensi spiritualitas atau bisa disebut budaya religiusitas. Dia tidak hanya berfungsi sebagai fashion atau mode saja tetapi memiliki makna bahwa perempuan berhijab adalah perempuan yang mengikrarkan dirinya bahwa selama hidupnya dia akan berusaha menjaga dan menjaga apa yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Karena 'dada' adalah bentuk hasil kekotoran yang diperbuat oleh Hawa, maka 'dada' itu juga yang harus dijaga berusaha untuk tidak dikotori lagi oleh kaum Hawa, dengan cara ditutupi menggunakan jilbab tadi. Tidak dibiarkan diperlihatkan sembarangan kecuali kepada muhrimnya. Kalau sekarang lebih mengarah hanya ke modisnya saja itu saya tidak tahu karena jilbab itu budaya religiusitas yang sudah ada sejak berabad-abad silam. Tahu? Makanya perempuan itu lebih dekat dengan Tuhan daripada laki-laki. Kalau nggak percaya coba sakiti satu saja hati perempuan, nanti lihat efeknya. Saya sudah pernah mengalami saudara-saudara. Hahaha. Ini kenapa tertawa? Ada yang lucu?
Iya. Akhir-akhir ini saya didekatkan dengan perempuan-perempuan berjilbab. Dan itu juga yang membuat saya bingung. Saya ini kan orang buruk, kenapa malah didekatkan dengan perempuan yang baik-baik. Ini yang sering membuat saya linglung bukan kepalang. Mau protes juga tidak bisa. Mau mendemo juga nggak tahu kemana harus mendemo. Perempuan-perempuan yang pernah dekat denganku adalah perempuan yang luar biasa besar kesabarannya, betapa cerdasnya mereka. Calon ibu-ibu yang diamanahi Tuhan untuk menyongsong kemuliaan bangsa ini. Namun karena keistimewaan-keistimewaan itulah mereka tidak ada yang mau melanjutkan hubungan denganku.
Nggak. Nggak tragis tragis banget lah. Wajar itu. Kan rumusnya sudah jelas. Lelaki baik-baik mendapatkan perempuan baik-baik. Saya kan lelaki buruk. Bahkan busuk akalnya. Culas perangainya. Licik sorot matanya. Apa? Sebutin? Sebutin apa? Sebutin satu persatu namanya? 345.799.699 suruh sebutin semuanya? Mending ngetik skripsi mas! Emang kita petugas sensus penduduk?!
Udah. Masuk Selasa aja. Soalnya saya mau berkelakar sampai hari Rabu. Karena dua hari itu betul-betul hari pertarungan bagi saya. Selasa niat saya mau melanjutkan mengurus urusan administrasi kampus. Tapi karena satu dan lain hal saya membatalkan itu. Spele sih. Buku pedoman kuliah tahun 2004 saya tiba-tiba raib. Kayak kitab gaib aja. Usut punya usut ternyata dibawa teman satu angkatan yang belum lulus juga. Akhirnya saya ambil paksa buku itu. Di saat yang lain seorang teman mengirim pesan singkat kepada saya. Ika, bukan nama sebenarnya. Dia bertanya apakah hari Rabu besok saya jadi ikut menghadiri acara penting pernikahan teman di Salatiga. Saya jawab belum tahu. Karena saya masih ingin menyelesaikan urusan administrasi kampus. Tapi Selasa sore itu pula tubuh saya mengalami keanehan. Sendawa dari Senin malam hingga Selasa sore tak kunjung pergi. Ditambah kondisi tubuh yang semakin menurun. Tenggorokan mulai terasa ingin digaruk. Badan mulai terasa pegal-pegal. Walah! Apa ini?!
Saya sempat berfikir ini gejala masuk angin. Tapi bagaimana dengan kehadiran belalang yang saya temui tiga kali berturut-turu di tempat yang berbeda tadi? Pertanda apa ini. Selasa malam tubuh sudah terasa nggak karu-karuan.
"Kerjaan siapa ini?" begitu batin saya. Maklum karena beberapa tahun lalu saya sempat bertanya-tanya dan menganalisis sistematika cara kerja Santet. Iya santet. Mau saya ulang lagi? Santen! Saya bersama teman-teman yang enggan disebut 'dukun' mencoba mencerna cara kerja santet. Bagaimana proseduralnya bagaimana birokrasinya. Bagaimana mengubah materi menjadi anti materi untuk kemudian diubah menjadi materi lagi di ruang yang berbeda. Apakah ini ada urusannya teleportasi apa tidak. Bagaimana melakukan rekayasa gelombang dsb. Tujuannya sederhana. Menjadi pengusaha jasa pengiriman barang super duper kilat. Enakkan mau kirim barang, motor misalnya dari Solo ke Jakarta. Tinggal santet aja tuh motor, kirim ke dalam rumah di Jakarta. Cepat, efisien barang selamat tanpa takut tergores atau lecet. Atau bisa juga untuk memindahkan mesin cuci dari lantai satu ke lantai tiga misalnya. Boleh disebut dengan teknologi TELETRANSPORTASI. Karena teknologi dari santet yang digunakan sekarang baru sebatas ranah digital. Hanya perpindahan deret angka saja. Rekening, sms, online, dsb. Teletransportasi itu mungkin seperti saat Sulaiman memindahkan kerajaan Ratu Bilqis kali ya. Satu kedipan mata.
Tapi karena sampai sekarang belum ketemu metodenya setiap tubuh ini ada yang nggak beres pikiran saya lantas, "ini pasti ada yang ngerjain." Seperti itu terus menerus. Padahal kondisi tubuh udah lemes panas nggak karu-karuanm kenapa saya malah mikir berburuk sangka seperti itu??? Padahal kalau badan kurang sehat kan lebih baik bersyukur dan menganggap ini peleburan dosa. Tapi kenapa saya malah menambah dosa dengan berburuk sangka bahwa ada yang nyantet menyakiti saya.
Namun dari kesekian prasangka buruk itu, mentah oleh minyak kayu putih. Santet kalah oleh minyak kayu putih. Spele.
"Mas, mau minyak kayu putih? Aku ada minyak kayu putih...." dia menawari saya lewat sms.
Seseorang mengantarkan minyak kayu putih ke kos. Ini yang membuat saya yakin kalau saya benar-benar masuk angin bukannya kena santet. Prasangka saya mentah lagi-lagi oleh kebaikan seseorang yang tak pernah saya duga sebelumnya. Seseorang yang akhir-akhir ini sering membangunkan saya untuk sholat malam meski saya hampir selalu telat membacanya. Sampai hari Rabu di hari penting itu saya masih lemes dan muntah beberapa kali di kamar mandi hingga terpaksa tidak bisa ikut bersenang-senang merayakan pernikahan teman di Salatiga. Tapi karena kebaikan dan ketulusan seseorang berjilbab itu pula, saya jadi tahu, kalau kebaikan itu tidak memerlukan pembalasan apa-apa. Begitu juga keburukan. Lagi-lagi saya disembuhkan bukan karena minyak kayu putihnya, tapi oleh ketulusannya dalam menebarkan kebaikan sebagai wakil Allah di muka bumi. Kebaikan Allah yang berhijab, berjilbab, berkerudung, berkelambu. Bener-bener dilakukan dengan tertutup dan tak bisa terduga darimana datangnya. Min haitsu la yah tahsib.....
"Pertemukan aku dengan orang-orang yang aku pernah berburuk sangka kepadanya. Dan dalam pertemuan itu, tolong tunjukkan dan buktikan, bahwa aku keliru, Tuhan..... Aamiin...."
Maturnuwun.
Sampai di LM sepi karena lagi nggak ada kegiatan. Kita langsung melongo berdua. Menghampakan diri masing-masing. Larut dalam lamunan masing-masing. Sesekali senyum-senyum sendiri saling ejek karena mungkin kita sedang dihinggapi masalah yang sama beratnya. Akhirnya setelah menengok cabai, buncis dan para followersnya saya memilih glundang-glundung di kasur sambil baca-baca buku fiqih wanita karena ada perpustakaan sederhana sekali di LM ini. Oke, salah baca sepertinya. Cuaca dingin sudah mulai datang. Kabut juga sudah turun. Tiba-tiba datang anak kecil satu perempuan satu cowok membawakan teh panas. Woooo, pas sekali saudara-saudara. Padahal kita kesana tanpa niat tapi suguhan masih saja datang. Mereka adalah putra putri Pak Darmono. Teh belum habis, datang makanan berat, nasi beserta lauknya. Woooo, berbinar mata ini karena perut juga belum terisi sedari pagi. Ini seperti yang saya ceritakan di atas, masih banyak orang baik di Indonesia ini. Tahu saja kalau ada dua makhluk terlantar yang lagi kelaperan.
"Iya saya lagi sakit. Kemaren habis ujan-ujanan membantu saudara punya hajat." ujar Pak Darmono.
"Oh...." hanya 'oh' karena saya benar-benar nggak bisa ngomong.
Ternyata Tuhan menyuruh saya kesini sekalian untuk menjenguk pak Darmono yang lagi kurang sehat. Mulai sekarang jangan pakai kata SAKIT tapi KURANG SEHAT. Itu lebih baik. Kalau rumah sakit, nggak usah diganti. Karena ada rumah sakit yang pekerjaannya memang membuat orang tambah sakit. Eh iya nggak sih. Aduh, betapa buruknya prasangka saya. Nggak ada nggak ada. Saya ralat. Eh tahu nggak siapa yang mencetuskan pertama kali bahwa Hospital itu diartikan sebagai Rumah Sakit? Atau itu saduran dari bahasa mana sih? Belanda? Kok aneh gitu penyebutannya? Rumah Hantu juga kurang pas. Mana ada Hantu beli rumah? Manusia aja banyak yang gelandangan nggak punya rumah kayak saya ini kok. Itu hantunya, ikut bikin aja nggak, kok dengan tiba-tiba punya rumah. Emang kalau rumah Hantu arsitek sampai kuli bangunannya hantu semua apa? Yang pas itu cuma Rumah makan, karena makan itu kata kerja. Sedang sakit dan hantu itu kata sifat dan kata benda. Ini tadi sampai mana? Malah cerita hantu? Nah kalau rumah bersalin agak mending. Tempat kita ganti baju. Kata orang Jawa.
Meski beliau sakit. Beliau tetap memuliakan kita sebagai tamu. Menjamu dan berdiskusi berbagai macam hal dengan tamu yang kebetulan ingin menularkan bisnis online nya. Kita seneng aja. Dapat makan minum plus ilmu gratis. Manggut-manggut slow motion aja pura-pura ngerti apa itu bisnis online sambil sesekali nyeruput teh panas di ruang tamu. Di luar hujan sudah mulai deras. Dan kita berpamitan pulang.
Anehnya disitu. Sesakit-sakitnya manusia nusantara, dia masih peduli kepada sesamanya.....
Masuk Senin yah? Senin saya mengurusi urusan kampus. Iya iya urusan makhluk aneh itu. Iya, si skripsi itu! Apalagi??!!! Nggak usah diceritain. Bikin capek aja! Saya ganti dengan cerita tentang perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan saya. Sepertinya lebih menarik ketimbang cerita skripsi yang nggak jelas itu. Skripsi saya maksutnya yang nggak jelas. Kalau skripsi-skripsi para sarjana di Indonesia ini kan jelas semua. Jujur semua. Valid semua. Bermanfaat semua. Skripsi saya mah bukan apa-apa. Itu kan hanya novel setengah jadi. Atau novel jadi-jadian. Eh...
Ini enaknya dibikin romantis galau-galau gerimis atau gimana ini? Romantis galau-galau gerimis aja? Oke. Saya mah nurut sama yang baca. Ehem, bismillah. Ini tantangan terberat. Menceritakan kebaikan-kebaikan perempuan yang sekarang sedang tidak bersama saya lagi. Iya lah. Saya kan ngetik sendirian di dalam kamar. Kalau ditungguin perempuan malah nggak jadi ngetik ntar. Diskusi.
Sebenarnya ada 345.799.699 perempuan di Indonesia ini yang pernah dekat dengan saya. Tapi dari 345.799.699 itu saya mencoba menganalisis, eh ini perlu diinget juga. Kaidah yang dianggap bener itu Analisis, diagnosis. Bukan Analisa Diagnosa. Yang paling nggak enak itu yang Analisa. Lupakan. Saya ulang. Setelah saya kalkulasi saya analisis dengan menggunakan berbagai metode termasuk menghitung mean median modus dengan rumus interval pemfaktoran dan semua rumus matematis yang saya nggak paham semuanya itu, akhirnya saya simpulkan menjadi satu kata kunci saja. HIJAB.
Hijab, jilbab, kerudung, silahkan mau memahami menggunakan kata yang mana. Mungkin ada satu kata lagi yang memiliki konotasi penutup yang hampir sama namun jarang digunakan yaitu kelambu. Coba kita cek satu-satu.
"Perempuan itu memakai hijab biru untuk menjaga kesuciannya."
"Perempuan itu memakai jilbab biru untuk menjaga auratnya."
"Perempuan itu memakai kerudung biru untuk menjaga diri dari yang bukan muhrimnya."
"Perempuan itu memakai kelambu biru untuk menjaga diri dari serangan nyamuk."
Jilbab atau apa penyebutannya itu adalah satu kultur yang memiliki esensi spiritualitas atau bisa disebut budaya religiusitas. Dia tidak hanya berfungsi sebagai fashion atau mode saja tetapi memiliki makna bahwa perempuan berhijab adalah perempuan yang mengikrarkan dirinya bahwa selama hidupnya dia akan berusaha menjaga dan menjaga apa yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Karena 'dada' adalah bentuk hasil kekotoran yang diperbuat oleh Hawa, maka 'dada' itu juga yang harus dijaga berusaha untuk tidak dikotori lagi oleh kaum Hawa, dengan cara ditutupi menggunakan jilbab tadi. Tidak dibiarkan diperlihatkan sembarangan kecuali kepada muhrimnya. Kalau sekarang lebih mengarah hanya ke modisnya saja itu saya tidak tahu karena jilbab itu budaya religiusitas yang sudah ada sejak berabad-abad silam. Tahu? Makanya perempuan itu lebih dekat dengan Tuhan daripada laki-laki. Kalau nggak percaya coba sakiti satu saja hati perempuan, nanti lihat efeknya. Saya sudah pernah mengalami saudara-saudara. Hahaha. Ini kenapa tertawa? Ada yang lucu?
Iya. Akhir-akhir ini saya didekatkan dengan perempuan-perempuan berjilbab. Dan itu juga yang membuat saya bingung. Saya ini kan orang buruk, kenapa malah didekatkan dengan perempuan yang baik-baik. Ini yang sering membuat saya linglung bukan kepalang. Mau protes juga tidak bisa. Mau mendemo juga nggak tahu kemana harus mendemo. Perempuan-perempuan yang pernah dekat denganku adalah perempuan yang luar biasa besar kesabarannya, betapa cerdasnya mereka. Calon ibu-ibu yang diamanahi Tuhan untuk menyongsong kemuliaan bangsa ini. Namun karena keistimewaan-keistimewaan itulah mereka tidak ada yang mau melanjutkan hubungan denganku.
Nggak. Nggak tragis tragis banget lah. Wajar itu. Kan rumusnya sudah jelas. Lelaki baik-baik mendapatkan perempuan baik-baik. Saya kan lelaki buruk. Bahkan busuk akalnya. Culas perangainya. Licik sorot matanya. Apa? Sebutin? Sebutin apa? Sebutin satu persatu namanya? 345.799.699 suruh sebutin semuanya? Mending ngetik skripsi mas! Emang kita petugas sensus penduduk?!
Udah. Masuk Selasa aja. Soalnya saya mau berkelakar sampai hari Rabu. Karena dua hari itu betul-betul hari pertarungan bagi saya. Selasa niat saya mau melanjutkan mengurus urusan administrasi kampus. Tapi karena satu dan lain hal saya membatalkan itu. Spele sih. Buku pedoman kuliah tahun 2004 saya tiba-tiba raib. Kayak kitab gaib aja. Usut punya usut ternyata dibawa teman satu angkatan yang belum lulus juga. Akhirnya saya ambil paksa buku itu. Di saat yang lain seorang teman mengirim pesan singkat kepada saya. Ika, bukan nama sebenarnya. Dia bertanya apakah hari Rabu besok saya jadi ikut menghadiri acara penting pernikahan teman di Salatiga. Saya jawab belum tahu. Karena saya masih ingin menyelesaikan urusan administrasi kampus. Tapi Selasa sore itu pula tubuh saya mengalami keanehan. Sendawa dari Senin malam hingga Selasa sore tak kunjung pergi. Ditambah kondisi tubuh yang semakin menurun. Tenggorokan mulai terasa ingin digaruk. Badan mulai terasa pegal-pegal. Walah! Apa ini?!
Saya sempat berfikir ini gejala masuk angin. Tapi bagaimana dengan kehadiran belalang yang saya temui tiga kali berturut-turu di tempat yang berbeda tadi? Pertanda apa ini. Selasa malam tubuh sudah terasa nggak karu-karuan.
"Kerjaan siapa ini?" begitu batin saya. Maklum karena beberapa tahun lalu saya sempat bertanya-tanya dan menganalisis sistematika cara kerja Santet. Iya santet. Mau saya ulang lagi? Santen! Saya bersama teman-teman yang enggan disebut 'dukun' mencoba mencerna cara kerja santet. Bagaimana proseduralnya bagaimana birokrasinya. Bagaimana mengubah materi menjadi anti materi untuk kemudian diubah menjadi materi lagi di ruang yang berbeda. Apakah ini ada urusannya teleportasi apa tidak. Bagaimana melakukan rekayasa gelombang dsb. Tujuannya sederhana. Menjadi pengusaha jasa pengiriman barang super duper kilat. Enakkan mau kirim barang, motor misalnya dari Solo ke Jakarta. Tinggal santet aja tuh motor, kirim ke dalam rumah di Jakarta. Cepat, efisien barang selamat tanpa takut tergores atau lecet. Atau bisa juga untuk memindahkan mesin cuci dari lantai satu ke lantai tiga misalnya. Boleh disebut dengan teknologi TELETRANSPORTASI. Karena teknologi dari santet yang digunakan sekarang baru sebatas ranah digital. Hanya perpindahan deret angka saja. Rekening, sms, online, dsb. Teletransportasi itu mungkin seperti saat Sulaiman memindahkan kerajaan Ratu Bilqis kali ya. Satu kedipan mata.
Tapi karena sampai sekarang belum ketemu metodenya setiap tubuh ini ada yang nggak beres pikiran saya lantas, "ini pasti ada yang ngerjain." Seperti itu terus menerus. Padahal kondisi tubuh udah lemes panas nggak karu-karuanm kenapa saya malah mikir berburuk sangka seperti itu??? Padahal kalau badan kurang sehat kan lebih baik bersyukur dan menganggap ini peleburan dosa. Tapi kenapa saya malah menambah dosa dengan berburuk sangka bahwa ada yang nyantet menyakiti saya.
Namun dari kesekian prasangka buruk itu, mentah oleh minyak kayu putih. Santet kalah oleh minyak kayu putih. Spele.
"Mas, mau minyak kayu putih? Aku ada minyak kayu putih...." dia menawari saya lewat sms.
Seseorang mengantarkan minyak kayu putih ke kos. Ini yang membuat saya yakin kalau saya benar-benar masuk angin bukannya kena santet. Prasangka saya mentah lagi-lagi oleh kebaikan seseorang yang tak pernah saya duga sebelumnya. Seseorang yang akhir-akhir ini sering membangunkan saya untuk sholat malam meski saya hampir selalu telat membacanya. Sampai hari Rabu di hari penting itu saya masih lemes dan muntah beberapa kali di kamar mandi hingga terpaksa tidak bisa ikut bersenang-senang merayakan pernikahan teman di Salatiga. Tapi karena kebaikan dan ketulusan seseorang berjilbab itu pula, saya jadi tahu, kalau kebaikan itu tidak memerlukan pembalasan apa-apa. Begitu juga keburukan. Lagi-lagi saya disembuhkan bukan karena minyak kayu putihnya, tapi oleh ketulusannya dalam menebarkan kebaikan sebagai wakil Allah di muka bumi. Kebaikan Allah yang berhijab, berjilbab, berkerudung, berkelambu. Bener-bener dilakukan dengan tertutup dan tak bisa terduga darimana datangnya. Min haitsu la yah tahsib.....
"Pertemukan aku dengan orang-orang yang aku pernah berburuk sangka kepadanya. Dan dalam pertemuan itu, tolong tunjukkan dan buktikan, bahwa aku keliru, Tuhan..... Aamiin...."
Maturnuwun.
kebaikan itu sumbernya dari Ngatini :)
BalasHapusIya kali ya... Hehe...
Hapus