Iya iya. Saya
mau berjanji dalam tulisan kali ini saya tidak akan menyebut nama. Nanti kena
tuntut lagi. Aneh. Punya nama, terus dipanggil namanya nggak mau. Lalu buat apa
fungsi nama. Orang kok gampang tersinggung. Padahal itu belum tentu orang yang
dimaksut. Apa peradaban sekarang peradaban manusia-manusia gampang ge-er.
Disebut namanya saja muntap. Kalau muntap minum antiiii..... Nggak boleh nyebut
nama ding. Lupa. Saya pakainya 'kamu' saja.
Iya kamu. Siapa lagi. Kali ini benar-benar kamu si pemilik senyum itu. Iya senyum yang manis itu. Yang membuat rasa lelahku menguap kemana. Yang membuatku lupa bahwa kemaren aku masuk gua pakai jas ala boyband
Walah! Jadi
ingat cerita perjalanan kemaren. Saya mengawali tahun 2013 dengan sangat
elegan. Masuk gua pakai jas ala boyband Korea !
Gini nih ceritanya.
Saat itu tanggal
31 Desember 2012, biasalah gegap gempita gitu. Kesannya merayakan pergantian
tahun adalah 'wajib'. Padahal masih ada pergantian detik, menit, jam juga. Kan jadinya nggak adil kalau yang dirayakan cuma
pergantian tahun aja. Iya kita mengenal konsep adzan itu sebagai penanda
sekaligus perayaan pergantian lima waktu akibat dari revolusi bumi. Dari awal
terangnya bumi hingga saat gelapnya. Setiap waktu memiliki keistimewaan
masing-masing. Unik dan berkarakter. Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya.
Seperti apa karakter waktunya? Kenapa hanya waktu-waktu itu yang akhirnya lolos
seleksi dan berlabel 'wajib'? Kenapa dari tawaran 50 rakaat malah menjadi 17?
Kesannya lebih sedikit yah? Ye! Nggak gitu juga. Itu kan salah satu metodologi penciptaan rindu. Kalau
jarang ketemu kan jadinya rindu. Kalau sudah rindu kan energinya besar. Gelombangnya positif. Jadi
kalau rindu kok malah galau, itu bukan rindu, tapi nafsu. Ngerti?
Shubuh, sifatnya
menyongsong cahaya. Penuh kesanggupan-kesanggupan untuk menjalani kehidupan
sesuai orbit masing-masing. Dhuhur, sifatnya menjadi cahaya itu sendiri. Penuh
kesadaran dan kejujuran dalam menjalankan kehidupan. Begitu terlihat jelas,
tegas, mana yang nyata mana bayang-bayang. Ashar, sifatnya menyosong peralihan
intensitas cahaya. Mempersiapkan segalanya saat terang akan berubah menjadi
gelap. Siapa tahu hidup kita sering dipenuhi kegelapan. Magrib, sifatnya agak
sakral. Ini saat peralihan yang membutuhkan kesiapan-kesiapan bekal memasuki
kegelapan. Saat kehidupan manusia berada di dalam lorong kegelapan. Isya, ini
penegasan eksistensi kegelapan. Saat dimana manusia dituntut daya fikirnya,
kreativitasnya untuk memunculkan tindakan-tindakan solutif membuat cahaya-cahaya
sementara. Jelas kan yah? Nggak usah diulang kan yah? Paham kan ?
Lagian ini juga ngawur. Kalau percaya kebangeten gitu aja. Namun karena ngawur
itu juga saya mau menuliskannya. Kalau selama ini hidup kita merasa gelap,
berada di waktu Isya, kreatiflah dan tenang saja pasti ada saatnya nanti masuk
ke wilayah Shubuh. Cahaya di atas cahaya. Gelap itu cahaya yang terhalangi. Toh
masih ada kerlip bintang dan ayunya rembulan yang menemani. Si satelit bumi.
Pengawas bumi. Kalau nggak mendung sih.
INI TADI MAU NULIS
APA!!! MALAH YANG KELUAR KAYAK GITUUUUU!!!!
Ya ampun.
Istigfar dik istigfar. Tuh kan terlihat betapa tidak konsistennya saya.
Baiklah saatnya istiqamah. Gini, tanggal 31 Desember 2012 kemaren, ada jadwal
raker, rapat kerja teman-teman Pin... okeh! Nggak nyebut nama! Istiqamah! Aku
sebut 'komunitas' aja. Ada salah satu komunitas yang sering memprasangkai
saya sebagai bagian dari mereka, ingin mengadakan rapat kerja. Nggak apa-apa.
Kalau saya diakui malah seneng. Apalagi diaku saudara. Nggak rugi juga. Tempat
yang mereka pilih untuk rapat adalah wilayah Segoro Gunung, lereng gunung Lawu.
Ye! Kalau ini sih nggak apa-apa nyebut nama. Gunung kan bukan makhluk yang mudah tersinggung. Kalau
gunung mudah tersinggung sudah habis manusia. Gunung itu bagian penting dari
kehidupan manusia. Wahyu pertama Kanjeng Nabi juga diberikan di gunung.
Memangnya kamu, mudah tersinggung! Sebuah rapat kerja yang menurut saya
misterius. Kenapa harus di gunung kalau hanya sekedar rapat? Kenapa nggak di
hotel berbintang 5 biar lebih kelihatan kaya? Usut punya usut, antara gunung
dengan hotel berbintang 5 itu lebih dingin gunung. AC mah kalah! Kulkas
apalagi! Sambil manggut-manggut slow motion, saya bisa terima alasan pemilihan
tempat itu. Logis logis logis...
Ceritanya
komunitas itu punya beberapa divisi. Kalau meminjam bahasa mereka 'satelit'.
Setiap satelit memiliki target untuk tahun 2013. Target-target itu nantinya
akan dikerjakan dengan semaksimal mungkin agar tercapai. Yang jelas target itu
untuk kemaslahatan umat. Iya kali. Apa gimana ya kemaren itu ya? Saya nggak
nyimak sih. Nyimak aja nggak mana mungkin bisa menulis dengan detail. Lagian
konsentrasi saya bukan tertuju ke rapat itu tapi ke senyummu. Itu senyum yang
aneh. Bikin saya merinding. Bukan! Saya nggak lihat kuntilanak di gunung! Kalau
kuntilanak itu ketawa, bukan senyum! Mana ada kuntilanak senyum! Kalau
kuntilanak senyum berarti kuntilanak juga beribadah seperti manusia dong?
Katanya senyum adalah ibadah? Senyum itu sejenis makhluk pertengahan.
Maksutnya, dia berada di antara tawa dan tangis. Senyum kalau kelebihan dosis
jadinya tawa. Kalau kekurangan dosis jadinya tangis. Makanya perempuan agak
kurang baik kalau ketawanya berlebihan. Lebih baik senyum aja. Nggak usah juga
nangis terlalu kencing, eh kencang. Meski menitihkan air mata, kalau bisa
sambil senyum yah. Kayak kamu itu. Manis kok.
Dik konsisten dik! Menulis, bukan M E R A Y U!
Dik konsisten dik! Menulis, bukan M E R A Y U!
Iya iya! Saya
itu kalau diajak rapat suka nggak konsentrasi. Sering melamun. Yang jelas di
komunitas itu per satelit memiliki banyak agenda untuk tahun 2013,
setelah beberapa evaluasi di tahun sebelumnya. Rapat pertama sekitar jam
delapanan malam hari. Aduh, tahun baru kemaren jatuh hari apa sih? Selasa yah?
Berarti rapatnya Senin malam. Dari jam delapan sampai secukupnya. Mereka semua
ngomongin apa juga saya lupa. Karena saya sangat khusyuk bin sibuk menyetrika
celana yang basah akibat kehujanan pas berangkat dari Solo. Nggak. Saya nggak
akan bilang kalau nyetrikanya pakai lampu. Belum pernah lihat kan ?
Lampu kan mengeluarkan cahaya.
Cahaya juga memiliki energi panas. Kebetulan cahaya dari lampu itu panas
banget. Saya gosokkan lampu itu di celana. Iyalah masih saya pakai celananya.
Masa nyetrika sambil telanjang? Saya kan
nggak bawa celana cadangan. Bisa bikin huru hara kalau saya telanjang di sana .
Saya beri tahu ya. Di komunitas ini para perempuannya berjilbab! Kalau saya
telanjang, bisa langsung dibacakan ayat Kursi rame-rame saya. Atau di
Yassin-kan di tempat! Enak aja! Meskipun saya urakan orangnya, tapi saya tahu
tata krama. Nista banget yah paragraf ini. Maaf. Khususnya untuk 'kamu'. Aku
memang begini orangnya.
Dik konsisten dik! Menulis, tak sekedar C U R H A T!
Dik konsisten dik! Menulis, tak sekedar C U R H A T!
Iya. Sampai mana
tadi? Nyetrika celana sambil memperkenal siapa diri saya di hadapan teman-teman
yang belum kenal saya. Saya berkenalan dengan cara yang sederhana. Mereka belum
tahu bahwa saya sebenarnya P N S (Penulis Nista Sekali). Iya, saya kan
nggak mau menyombongkan diri. Anti saya sama yang begituan. Saya juga nggak
promo kalau buku Sarjana Masbuk karya Didik W. Kurniawan jadi buku laris di
Gramedia Solo. Nggak. Saya nggak mau sombong. Kayak gitu aja disombongin. Dalam
perkenalan itu saya tidak banyak bicara. Takut mempesona kaum hawa di sana .
Sudah terlalu sering soalnya.
Di awal-awal,
"Mas
bukunya bagus. Tulisannya bagus. Mencerahkan. Bisa bikin ketawa tapi juga
sekaligus mikir. Bla bla bla..." Begitu tahu aslinya, giliran diajak
menikah, malah ditinggal pergi. Saya sudah eneg dipuji. Saya kan
bukan Syech Puji. Saya juga belum memiliki nyali seperti Ali yang berani meminang putri Kanjeng Nabi. Saya Didik.
Dik konsisten dik! Menulis, bukan M E R A T A P!
Dik konsisten dik! Menulis, bukan M E R A T A P!
Ye! Meratap
sedikit juga boleh kali! Gini. Menurut saya, udara di gunung pas malam hari itu
hanya terdiri dari dua model. Dingin dan dingin bangeeeetttttt! Kampret! Saya
kalau sama udara dingin itu agak berkebalikan. Sulit untuk beradaptasi dengan
udara dingin. Kalau nggak kembung ya gampang kebelet pipis. Eh keren yah. Ada
kencing ada pipis. Padahal secara praktek sama. Kok bisa dibedakan ya? Kalau
kata pipis itu kayak lebih lembut dan romantis. Coba bandingkan,
"Sayang,
sudah maem? Jangan lupa sebelum bobo', pipis dulu." sama "Sayang,
sudah makan? Jangan lupa sebelum tidur, kencing dulu.". Kalimat yang kedua
kayak kita lagi ngomong sama kuda.
Waktu ternyata
sudah menunjukkan lewat tengah malam. Itu artinya sudah memasuki tahun baru.
Teman-teman keluar ke halaman meski udara dingin. Kembang api dibagi-bagikan
kepada siapa saja yang mau menyalakannya. Namun ternyata teman-teman
kebingungan mencari korek untuk menyalakan kembang api. Mungkin ini yang harus
dibenahi. Kita suka salah sangka terhadap korek. Korek selalu kita hubungkan
dengan rokok. Kalau ada orang bawa korek itu sama dengan perokok. Oke, kita
boleh tidak setuju terhadap keberadaan rokok. Memang untuk menyalakan rokok
salah satunya adalah dengan memakai korek tapi tidak selalu orang yang membawa
korek itu perokok. Saya sendiri tidak merokok. Nggak tahu kenapa juga sampai
nggak merokok. Dan saya paling benci disebut sebagai perokok pasif. Orang tidak
merokok kok bisa-bisanya disebut perokok. Udah gitu ditakut-takutin pula kalau
perokok pasif itu juga berbahaya efeknya. Nggak adil itu namanya. Jadi jangan
lupa, besok-besok siapkan koreknya juga. Untung di dapur ada korek. Kalau nggak
kan aneh bawa kembang api cuma
diplototin sampai pagi. Iya, kembang api dinyalakan anak-anak berteriak, asap
dimana-mana. Biasa.
Pesta kembang api berakhir pula. Karena
kedinginan pula terpaksa saya tidur dengan sorot lampu yang saya gunakan untuk
menyetrika tadi. Cukup bisa menghangatkan tubuh saya yang slimmy ini. Ye! Kalau
kurus sih bukan, ramping atau lebih tepatnya tipis. Kalau tipis kan
kesannya lebih seksi, transparan dan bikin penasaran. Astagfirullah, nista lagi
saya.
Lalu, suara adzan Shubuh berkumandang. Ini waktu yang tepat untuk menyongsong
cahaya. Saya bangun dan berwudhu. Saya kuat-kuatkan tubuh ini meski dinginnya
air hampir membuat saya kehilangan keseimbangan, hampir membuat saya terjatuh
di dalam kamar mandi. Saya paksa, karena sholat Shubuh tepat waktu adalah
kegiatan langka dalam hidup saya. Saya berusaha untuk tidak menjadi makmum
masbuk. Saya cukup menjadi makmum, tapi tidak berani untuk mencalonkan diri
sebagai imam. Kapasitas saya memang belum mumpuni untuk menjadi imam. Imam itu
harus benar-benar paham dengan Islam dan fasih bacaan Qurannya. Sedangkan saya
Al Kafiruun saja masih sering muter-muter nggak jelas. Sehingga butuh waktu
lama untuk mencapai ayat "Lakum diinnukum wa liyaddiin....".
Haaaahhhhh..... Menghela nafas sebentar boleh yah. Biar agak lega. Sudah, nggak
usah nangis bacanya. Senyum dong. Nah gitu kan
tambah manis 'kamu'.
Dik, didik! Menulis, bukan M E...."
Dik, didik! Menulis, bukan M E...."
Iya iya. Setelah
pagi menjelang, tentu sudah masuk ke tahun 2013, ada yang sudah menyiapkan kopi di dapur. Enak kopi buatanmu. Cocok untuk udara
pagi di lereng Lawu. Cukup membuat sumringah wajah ini. Sambil bicara ngalor
ngidul dengan seorang teman tentang masalah pernikahan, akhirnya perjalanan yang
konon katanya cukup menantang ke sebuah air terjun kecil di atas bukit dimulai.
Kostum saya saat
itu rangkap-rangkap. Di dalam sendiri ada singlet, lalu kaos, lalu hoodie, lalu
jas. Kenapa saya bawa jas, karena kata ibu, jas itu cocoknya untuk udara
dingin. Jas di Eropa itu berfungsi untuk menghangatkan tubuh sewaktu perjalanan
di luar rumah jika musim dingin tiba. Bukan untuk dipakai pergi ke kantor
seperti di Indonesia
saat ini. Apalagi dipadu dengan dasi yang nggak jelas fungsinya apa. Awalnya dasi
kan untuk para pelayan restoran
saja. Terus terpaksa kantornya dipasang AC biar matching. Itu kata ibu saya
yang hanya lulusan SMP. Saya kombinasikan dengan syal. Kata teman-teman
saya mirip artis Korea .
Korea mana?
Yang jelas! Korea
Selatan apa Korea
Utara? Artis Korea
apa? Korengan iya.
Iya, saat
berjalan saya selalu memasukkan kedua tangan saya ke saku celana. Lebih elegan
aja rasanya meski dompet isinya entah berapa. Ini bukan gaya-gayaan tapi memang
sudah kebiasaan dari dulu kalau berjalan suka memasukkan kedua tangan ke saku
celana. Meski dianggap salah kostum hari itu, saya cukup percaya, bahwa Tuhan
bersama orang-orang yang memang sudah ditakdirkan mempesona, seperti saya. Di awal perjalanan
perut ini mual. Hampir tidak kuat rasanya. Kata seorang teman ini karena efek
minum kopi dan belum sarapan. Tapi menurut saya ini lebih karena kembungnya
perut saya yang tidak tahan terhadap dingin. Lalu muntahlah saya di beberapa
tempat selama perjalanan menuju air terjun yang katanya dekat dengan Gua Jepang
itu. Kata teman, muntah itu adalah aktivitas mengeluarkan energi
negatif. Iya kali ya. Saya tidak cukup penasaran. Biasa saja sih. Saya putuskan
untuk melanjutkan perjalanan meski perut ini nggak karu-karuan. Kata
teman-teman jangan menyerah. Ye! Ini bukan masalah menyerah atau tidak. Tapi
menakar. Tahu porsi dan posisi. Nggak asal nekat! Beberapa area memang agak
ekstrim butuh melewati bebatuan gede yang licin karena ada aliran air di sungai
kecil. Enak sih udaranya seger. Saya istirahat sebentar duduk di batu sementara
teman-teman sudah di depan. Ya sudah saya ikuti mereka. Ada
yang sengaja berbasah-basahan saat melewati sungai. Kalau saya sih jangan
sampai basah. Hari itu saya targetkan jangan sampai basah dan kotor. Karena
saya nggak bawa baju ganti. Setelah sampai di air terjun itu lantas ada yang
berteriak memberikan komando agar satu persatu masuk ke dalam gua. Baiklah saya
coba. Saat pertama kali masuk saya berteriak minta lampu senter. Apa
coba jawabnya. “Hatimu lebih terang daripada penglihatanmu! Ayo
maju!”. Iya ya. Untung PLN nggak pakai kalimat itu sebagai slogan saat mati
lampu. Ternyata guanya pendek. Kirain panjang gitu. Ye! Tahu gitu juga saya
nggak teriak-teriak minta senter. Durasi perjalanan gelapnya nggak selama kalau
PLN melakukan pemadaman listrik begilir.
Bener kan .
Saat dirimu berada di Isya, kreatif dan tenanglah pasti ada saat-saat Shubuh
dan Dhuhurmu dik. Gelap itu hanya Cahaya yang tertunda. Jomblo itu Suami yang
tertunda.
Udah ah nulis
puisi sedikit. Biar nyambung sama judulnya.
Kamu AYU dalam
rAYUku
Kamu AYU dengan
tatapan sAYUmu
Kamu AYU karena
kamu pAYUng peneduh jiwaku
Kamu AYU karena
kamu memang cahayaku, cahAYU
Iya, kamu,
pemilik nomer hand phone 0856xxxx itu
Sayangnya, kamu
benar-benar AYU, tidak hanya dalam rAYUku…
shiiip dech om...
BalasHapus*semoga kau dapatkan pendamping hidupmu...
Jaya terus om Didik...^_^