Langsung ke konten utama

Seminar Pintu Orgasme

Ini bukan reportase atau diam-diam ber-reportase atau pura-pura tidak sedang ber-reportase. Anggap ini kenang-kenangan kecil dari saya untuk rekan-rekan saya di Komunitas Pintu Indonesia, Solo. Ada yang ngganjel dengan cara penulisan saya itu? Kok Indonesia dulu, yang notabene teritorial wilayah administratif dan kekuasaan jauh lebih besar daripada Solo, tapi seolah-olah malah Indonesia terasa lebih sempit dan menjadi bagian dari peta sejarah Solo. Seharusnya kan skema kepenulisan alamat biasanya dari wilayah tersempit dulu baru ke wilayah yang lebih luas. Desa, kecamatan, kabupaten, porpinsi, baru negara. Berarti seharusnya Komunitas Pintu Solo, Indonesia. Tapi saya sendiri lebih suka penulisan yang pertama tadi. Didik W.Kurniawan, tempat lahir: Indonesia, Pati. Jadi enak kalau ditanya orang tidak perlu susah susah menjawab dan berbusa-busa mulutnya serta cukup untuk menjadi bukti bahwa saya adalah orang yang senatiasa menjunjung tinggi rasa nasionalisme.

"Asli mana mas?"
"Asli Indonesia mas." selesai sudah. Masa mau dilanjutkan,
"Indonesia? Indonesianya mana mas?"
"Indonesia ya Indonesia mas. Yang benderanya merah putih."
"Indonesia yang mana mas?" nah kalau pertanyaan menukik seperti ini mari kita datangkan ahli sejarah, arkeolog-arkeolog sakti, pakar-pakar budaya dan bahasa, pakar militer, dan semua orang-orang sakti,  kita kumpulkan minta tolong kepada mereka untuk menjawab pertanyaan ini. Kalau ingin cepat terjawab, syaratnya gampang. Jangan pernah melibatkan saya.

"Jangan pernah melibatkan saya". Itulah idiom yang saya pakai saat beberapa bulan lalu rekan-rekan komunitas Pintu Indonesia, Solo tadi, berniat memfasilitasi penyebaran ilmu. Sebut saja proses itu dengan Seminar. Sudah tahu kan seminar itu apa? Itu teknik penulisan Basa Jawa. Asal katanya Sinar, mendapat seselan 'um'. Jadilah Suminar, kemudian Bahasa Indonesia mengadopsinya menjadi Seminar bersifat menyinari. Dan semoga analisis ngawur saya ini tidak mengurangi esensi dari kata seminar itu. Bahwa seminar itu memang memberikan pencerahan, baik bagi para peserta, pembicara, maupun panitia penyelenggara serta menjadi suminaring jagad, memancarkan cahaya ke seluruh semesta karena percikan-percikan ilmu yang berlalu lalang dalam proses yang disebut seminar tadi. Enaknya orang tidak punya predikat ya seperti ini. Ngawur dan tidak memiliki tanggung jawab apalagi nilai moral. Salah sudah biasa, kalau pun benar juga kemungkinannya sangat kecil.

Rekan-rekan mempersiapkan sedemikian rupa. Dari niat hingga ke masalah teknis semua dipikirkan dengan matang melalui rapat-rapat. Lho katanya "jangan libatkan saya", kok saya bisa tahu? Iya, karena saya lebih sering dolan disana. Saya di dunia ini kan hidupnya berlalu lintas dengan rute yang sama sekali tidak jelas. Jadi asal ada orang ngumpul, saya nimbrung. Syukur-syukur kalau ngumpulnya itu diniati untuk menunjukkan kepada Allah dan Rasul, bahwa kita memang lebih suka paseduluran, bersaudara, daripada bermusuhan, bertengkar, saling menyakiti satu sama lain. Saya dolan, dan meski akhirnya didaulat sebagai sie sponsorhip saya juga tidak aktif. Karena saya punya pemahaman yang mungkin orang lain tidak akan pernah paham dengan pemahaman saya yang satu ini terkait dengan sie sponsorship. Menurut saya, sie konsumsi, kerjanya, menyiapkan konsumis. Sie acara, kegiatannya memandu, mengawasi acara. Berarti sie sponsorship, tugasnya menjadi sponsor, bukan mencari sponsor. Berarti saya harus menjadi sponsor meski kecil-kecilan. Banyak alasan yah saya? Eh ngerti sie nggak? Sieeeee Sieeeeee Sieeeee......

Saya orangnya ya seperti itu. Kakehan alasan, ora mudengan, gampang kagetan, gampang gumunan, seneng ngapusi. Kalau saya berbaju rapi, kemeja dan lain sebagainya itu aslinya hanya untuk menutupi kelemahan saya. Kalau kok kebetulan menemui saya berdandan seperti itu, itu bukan saya niati untuk memantaskan diri supaya kelak nanti saya berjodoh dengan perempuan yang rapi dan lain sebagainya. Saya kalau rapi berarti saya lagi kere. Nggak ada duit. Itu saja. Catet yah. Kalau lagi berpakaian seadanya jarang ganti baju, kumel, kucel, menjijikan, nah itu baru pertanda. Saya. Kere. Banget. Jadi semoga anda semua bukan manusia yang suka berlebihan dalam menutupi kelemahan seperti saya dengan berpura-pura kuat. Karena saya yakin, terutama rekan-rekan di komunitas pintu ini adalah orang yang terus menerus menggali potensi kelebihan yang ada pada diri masing-masing untuk kemudian dengan segenap kemampuan yang ada mencoba berbagi atas apa-apa yang ia punya, ilmu, tenaga, waktu, uang, pikiran untuk kemaslahatan bersama. 

Apakah ini kalau saya sering ngumpul dengan rekan-rekan di komunitas ini berarti jodoh saya juga berasal dari sini. Sumpah, ayu-ayu, pinter-pinter, cerdas, kuat, istiqamahe gede, kon opo wae iso rek! Jawabnya bisa iya dan bisa tidak. Karena level jodoh itu ada tiga. Satu, jodoh itu kalau sering ketemu. Dua, jodoh itu yang mirip wajahnya. Tiga, jodoh itu sama dengan suami istri sebagaimana yang sering dipahami oleh banyak orang. Jodol level pertama, pendekatannya adalah "Kalau jodoh, kita tetap akan bertemu." Seperti seorang guru yang tiap pagi ketemu muridnya, berarti mereka berjodoh. Level kedua, ini belum ketemu titik terangnya karena tiap mata selalu berbeda dalam mencermati apa itu kembar, apa itu mirip. "Wah, wajahmu mirip mbak yang itu." Repotnya kalau ada seribu perempuan di dunia ini yang wajahnya mirip saya. Opo arep tak rabi kabeh? Lha Nabi Sulaiman po? Level yang ketiga sudah jelas. Ketiga level itu punya wilayah validitas masing-masing dan tidak bisa semena-mena ditarik garis kesimpulannya untuk disatukan. Misalnya kalau saya sering ketemu dengan perempuan di komunitas itu bukan lantas, dialah kelak istri saya. Mungkin saja sih, tapi apa ya mereka sudah hilang kewarasannya dan mau diperistri oleh organisme seperti saya ini. Jadi kalau memang naksir dengan perempuan yang masih satu komunitas ya diseriusi, kalau ditolak jangan langsung cepat-cepat bunuh diri. Cari cara mati yang elegan dulu. Buat kagum para malaikat. Cari caranya saja, berpikir keras, ntar kamu nggak bakalan jadi bunuh diri. Mana ada mati yang elegan? "Telah meninggal dunia dengan elegan...." Mungkin juga istri saya masih dari komunitas itu, tapi yang jarang aktif. Saya kan jarang aktif juga. Katanya yang baik dapat yang baik. Yang jarang aktif dapat yang jarang aktif juga dong. Fix. Pekok!

Maka karena saya sudah sangat yakin dengan kemampuan teman-teman, saya sengaja agak menarik diri sedikit dari niatan mereka untuk menyelenggarakan seminar. Saya yakin tanpa keterlibatan saya teman-teman sudah cukup mumpuni untuk melakoni itu semua. Oke fix, saya lebih sering meringkuk di kamar daripada harus berhujan-hujan keluar untuk rapat seminar itu.

Akhirnya omongan saya terbukti juga. Bahwa tanpa keterlibatan saya acara seminar itu jadi digelar. Karena belas kasihan dari rekan-rekan saya tetap dianggap sebagai bagian dari panitia. Mungkin karena mereka iba melihat saya yang sudah umur segini belum juga menikah dengan pekerjaan yang tidak jelas. Semua panitia berseragam, termasuk saya disuruh untuk memilih seragam. Tapi saya sendiri memilih untuk menjadi peserta dengan membayar tiket seharga 100 ribu. Sumpah! Seumur hidup aku ini yang pertama. Saya itu agak alergi dengan seminar seminar apalagi seminar yang bersertifikat. Mending kalau dapatnya sertifikat rumah tanah. Lha ini laku saja belum tentu sertifikatnya. Saya juga heran kok mau saya mengeluarkan duit segitu padahal kondisi dompet saya berada di level hampa udara. Hanya angin penghuninya. Kesunyian demi kesunyian penduduknya. Ada satu alasan yang membuat saya tersenyum sekaligus menangis. Cerita sedikit yah.

Di komunitas ini ada yang namanya Umbu. Tapi bukan Umbu Landu Paranggi, seorang penyair yang meniadakan dirinya sebagai seorang penyair, yang lebih memilih 'kehidupan puisi' daripada gemerlap eksistensi duniawi. Salah seorang guru dari Emha Ainun Nadjib. Saya tidak akan melanjutkan tentang beliau, karena bagi saya Umbu yang satu ini juga menarik. Selalu monolog, berbicara dengan dirinya sendiri. Umbu,  Ika Umbu Nay, salah satu penggiat seminar ini adalah perempuan yang mungkin otaknya sudah konslet sehingga membeli buku Sarjana Masbuk sampai tiga ekor. Selama ini setahu saya, kebanyakan teman minta gratisan buku kepada saya. Tapi ini, dia yang notabene memanggil saya "Om" beli sampai tiga buku. Bagi saya ini adalah kehormatan yang luar biasa. Lalu ada Isti, panitia, yang juga membeli buku itu. Jadi alangkah naifnya saya, kalau dalam seminar ini saya minta gratisan juga. Kata orang Jawa Wagubet! Wagu banget!

Tindakan saya itu sebagai penebus, sekaligus penegas bahwa saya memang bukan panitia, sekaligus juga saya mencoba menjadi sponsorship meski levelnya kecil. Seratus ribu dapat apa? Iya. Kata ustaz itu tuh, bersedekah lah dengan uang, kalau tidak ada uang, dengan ilmu pikiran, dengan tenaga, dengan waktu. Itu juga saya niati sedekah. Namun, bagi saya sedekah dengan duit itu justru sedekah yang terendah. Karena ilmu pikiran waktu tenaga itu lebih utama kadang tidak bisa tergantikan oleh uang. Juga nilai sedekah tidak ditentukan oleh banyak sedikitnya uang, tapi seberapa hatimu mengikhlaskannya. Jadi kalau sedekah,... nggak jadi deh.

Makhluk Misterius itu bernama Orgasme
Ini adalah perjuangan yang sensasional bagi saya. Tahu judul seminarnya apa? Pendidikan Seks The Power of Love dari sinilah kehidupan dimulai. Baca judulnya saja darah sudah mendidih saudara-saudara. Pembicaranya ada empat. Satu sebagai moderator Kang Nass, ada Mas Indra, ada pak Lek Agus Sahid, ada Bulek Farida. Dua nama terakhir ini juga sebagai penulis tentang aktivitas seks. Sayang saya lupa bukunya apa. Ini kan bukan reportase, jadi tidak perlu detil-detil amat. 

Ruangan seminarnya cukup mendukung. Ber AC adem banget. Karena umur saya tujuh belas saja belum ada, tujuh belas windu, jadi saya berangkat ke seminar dengan memakai pampres. Takut ngompol. Iya cuma ngompol. Serius cuma ngompol. Kan adem ruangannya. Pembicaraan itu menukik pada, bahwa yang dinginkan oleh setiap orang dalam berhubungan badan adalah orgasme dan orgasme. Untuk mencapai itu, semuanya berpengaruh. Tidak hanya penis, vagina, tapi juga kehidupan spiritualitas, utamanya pikiran juga ikut mengatur ritme, bagaimana supaya tidak terjadi ejakulasi dini pada lelaki. Karena lelaki sejati adalah lelaki yang tak gampang ejakulasi dini. Bagaimana suami bisa tahan lama dan tahan goyang, juga bagaimana 'teknik' istri ketika meminta untuk disetubuhi. Seminar ini juga ditujukan untuk jomblo-jomblo laknat seperti saya yang haus akan pengetahuan. Termasuk tentang baik buruk seks pra jabatan, eh seks pranikah.

Dari sekian lama pembicaraan, akhirnya saya menyimpulkan bahwa tokoh utamanya bukan keempat pembicara yang secara bergantian ngomong di depan. Tokoh utama seminar ini adalah makhluk bernama Orgasme. Bayangan saya, dia adalah makhluk dari planet lain, kepalanya gede, matanya satu, dan seluruh wajahnya tertutup oleh mata itu. Turun dari pesawat, pesawatnya bentuknya kayak piring. Lalu berkata, 

"Akulah orgasme, akulah orgasme, akulah yang kalian cari...."
"Akulah orgasme, akulah orgasme, akulah utusan Tuhan untuk membahagiakan kalian...."
"Akulah orgasme, akulah orgasme, akulah religiusitas, akulah cara Tuhan agar kalian mendekat kepadaNya..."
"Akulah orgasme, akulah orgasme, akulah cara Tuhan agar kalian kembali kepadaNya...."
"Akulah orgasme, akulah orgasme, berpasanganlah kalian, temukan aku dalam jamaah-jamaah keluarga kecilmu, agar Tuhan setuju, bahwa kenikmatan, tak perlu didapat dengan terburu-buru....."




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...