2012 mau habis ya katanya? Percaya kalau 2013 nanti masih ada kehidupan di bumi? Atau percaya kalau 2050 nanti makhluk Tuhan yang katanya paling sempurna ini akan melakukan ekspansi besar-besaran ke planet Mars? Saya? Saya besok saja mau berbuat apa saja saya tidak tahu. Kok berani-beraninya meramalkan soal kehidupan tahun 2013. Apa? Resolusi? Resolusi apa? Saya merasa hidup saya tak pernah buntu. Itu kan untuk manusia-manusia yang punya visi dan misi yang jelas dalam hidupnya. Jadi kalau targetnya tidak tercapai dianggap gagal, atau buntu. Ada sih ada target. Ya buat hiburan saja kalau-kalau saya masih hidup lama. Kan nggak ngerti besok bagian dari tubuh saya yang gatal sebelah mana? Bisa kepala, bisa pas di siku, bisa setengah centimeter pas di bawah mata? Tahunya kan begitu gatal langsung digaruk. Pengetahuan saya sangat-sangat terbatas bahkan untuk satu detik ke depan, apalagi untuk satu tahun ke depan.
Ngomong-ngomong soal target, pura-puranya saya mau menargetkan diri saya sendiri. Apa ya, setelah mikir-mikir boleh juga sekali-sekali berpikir seperti orang kebanyakan. Setiap pergantian tahun ikut merayakan. Ikut teriak-teriak. Ikut menyemangati diri mewujudkan mimpi yang belum terwujud di tahun sebelumnya. Gimana mau terwujud kalau tidak segera bangun? Emmm, yang pertama mungkin saya ingin pergi ke Jepang, Belanda, sama Israel di tahun 2013 nanti. Sama istri nggak yah enaknya? Maunya sih sama istri. Jepang asyik. Cantik-cantik. Kalau di film sih. Makanya pengen lihat langsung. Cantiknya cantik beneran apa trik kamera. Belanda juga oke. Pengen sepedaan saja sih. Katanya disana orangnya suka sepedaan. Sudah lama saya tidak naik sepeda. Boleh lah dua bulan sepedaan disana. Kalau Israel itu, pengen pegang langsung tangan Rabi disana. Salaman maksutnya. Sambil lihat tembok ratapan juga oke. Teknik supaya mimpi itu bisa terwujud kan macam-macam caranya to? Misalnya dengan mencatat atau memvisualisasikannya. Kalau pengen pergi ke Australia pasang gambar, koleksi apapun yang berbau tentang Australia. Kanguru, bumerang aborigin, sampai selimut bermotif bendera Australia. Nggak apa-apa to? Nggak apa-apa banget dong. Sah-sah saja itu.
Tapi kalau cuma Jepang Belanda Israel kok rasanya masih kurang ya? Manusia kalau kurang ya kurang terus. Maka jimat paling mujarab ya Hasbunnallah, Cukup Allah, cukupkan Ya Allah. Kalau Allah sendiri yang mencukupi, bisa berarti itu lebih dari cukup untuk ukuran kita sebagai manusia. Bahkan melebihi target-target yang sudah kita catat kita visualisasikan sebelumnya. Misal saya fokus untuk pergi ke Jepang, bisa saja saya perginya ke Australia terus naik pesawat ulang alik sampai ke Mars. Kalau nggak percaya ya coba saja. Dan saya mau mencoba merapal mantra itu. Katanya hidup itu harus berani bereksperimen. Supaya otak nggak mudah mandeg. Supaya anugerah yang bernama kreativitas setiap saat selalu menghampiri. Supaya pintu hidayah selalu terbuka. Hidayah dalam bidang apapun. Sience, eh sains itu tulisan bahasa Inggrisnya gimana sih? Hidayah dalam bidang seni, ekonomi, politik, apapun pokoknya yang mencerahkan. Yang tidak membuat Tuhan gampang marah.
Sejak kemaren-kemaren saya sudah memulai untuk bereksperimen. Mulai dari hal-hal kecil sih. Biasanya saya mandi dengan sabun cair satu merk yang berbau agak ke Jepang-Jepangan. Wajar lah secara saya kan 2013 ingin pergi ke Jepang. Namun karena di mini market langganan saya sabun merk itu habis, jadi saya agak sedikit bingung. Bisa-bisa saya tidak mandi sampai menunggu stock sabun merk itu kembali ada. Atau bisa saja saya ubeg-ubeg seluruh toko di kota Solo demi sabun merk itu. Kok rasa-rasanya fanatisme saya muncul gara-gara merk sabun itu. Kalau tidak merk itu, tidak! Wow! Radikal sekali saya! Jangan ah! Masa hanya gara-gara fanatisme sempit terhadap satu jenis merk saya jadi buta terhadap merk lain? Saya sudah kecanduan kalau begini namanya. Haduhhh! Terus sampho yang biasanya juga habis di mini market itu. Klop! Semakin bingung. Dan semakin jelas banhwa saya sudah terkena hasutan oleh pikiran saya sendiri. Oke! Fine! Saatnya bereksperimen! Berkeliling lah saya di dalam mini market yang pelayan perempuannya berjilbab semua itu. Oke Dik kita lihat seberapa cerdas kamu untuk menemukan solusi mengatasi kecanduanmu itu. Saya tantang kamu Didik W. Kurniawan yang katanya penulis buku laris, ikhwan underground, atau kentut buaya lah peduli amat sama sebutan orang lain!
Dan yap! Hidayah itu datang saudara-saudaraku yang dimuliakan mertua dan calon mertua! Saya ambil sabun khusus untuk bayi. Cukup inovatif karena sabun itu tidak hanya berfungsi sebagai sabun tapi juga sampho. Sayangnya model semacam itu tidak ada yang untuk orang dewasa. Kebutuhan orang dewasa dipisahkan antara sabun dan sampho. Jadi besok-besok kalau anda berpapasan dengan orang ganteng tapi bau parfumnya mirip sabun bayi, itu saya! Lumayan hemat pengeluaran. 2 in 1. Efisiensi!
Iya sih. Kalau itu dianggap hanya pikiran orang yang kurang kerjaan ya memang benar. Kurang kerjaan itu enak kok kalau pas waktunya pas tempatnya. Kayak tadi malam pas malam minggu. Iseng-iseng buka twitter sambil nyimak TL siapa tahu ada yang bermanfaat. Terus ada satu tweet yang berbunyi lebih kurang, "mau ke SS ni, bagi info dong". Terus aku kirim bbm ke pemilik akun twitter itu. Pikirku SS itu Spesial Sambel, yang waurngnya deket sama tempat persembunyianku. Iseng aja sih nanyain "mau ke SS?". Eh dijawabnya apa coba. "Iya mas mau nonton.". Ini SS apa? Di warung Spesial Sambel mau nonton apa? Ada pertunjukkan apa di warung? Ngeliat orang nguleg cabe? Nyimak orang goreng tahu? Sekarang SS nya pasang layar tancap? Ini SS apa? SS apa sih?! Tapi karena saya termasuk kaum yang berfikir, ternyata SS itu bukan Special Sambel, tapi Solo Square! Kampret! Bener sih, disana emang ada studio XXI nya. Pantesan pengen nonton. Sebenarnya saya maunya glundang glundung di kasur seperti biasa, tapi karena sekali lagi hidup itu juga butuh eksperimen, saya coba deh untuk keluar dari kandang di malam minggu meski saya tahu persis jalanan Solo di hari Sabtu itu hampir mirip Jakarta, macet. Ya meski nggak mirip mirip banget.
Oke, tanpa mandi tanpa ganti baju dari hari Jumat, segera meluncur ke XXI. Nonton apa coba? Habibie & Ainun! Awalnya sebagai seorang jomblo laknat agak ragu juga untuk menonton. Tapi karena ini dalam rangka eksperimental ya oke lah. Seumur hidup juga belum tentu bakal kejadian lagi. Alhamdulillah sudah dibelikan tiket. Apa? Enak aja menuduh orang sembarangan. Meski nggak punya, saya anti gratisan! Bahkan saya menawarinya untuk saya traktir. Kalau percaya berarti bodoh. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, saya masuk ke studio XXI. Luar biasa. Ini prestasi yang cukup membanggakan. Harga diri saya meningkat beberapa level kalau ini saya ceritakan kepada calon mertua saya. Emang iya? Nanti saja kalau membahas soal yang satu itu. Saya mau menceritakan yang nonton bioskopnya saja.
Iya. Saya nonton dengan khidmat sambil sesekali melirik perempuan berkerudung di samping kanan saya. Di awal-awal film belum terjadi hal-hal tidak diinginkan. Iyalah cerita kisah cinta pak Habibie. Masa cerita Jokowi! Kisah yang asyik. Kisah yang menurut prediksi saya akan digunakan beberapa spesies famili jomblo laknat untuk merayu gebetannya. Yang biasanya panggil adek-kakak an, umi-abi an, papa-mama an, atau beibeh-beibeh an, pangeran-tuan putri an akan segera tergantikan dengan habibie-ainun an. Perempuan berkerudung di sebelah kanan saya itu nyeletuk pas pertama kali si Reza Rahardian itu muncul sebagai Habibie dewasa.
"Jangan-jangan kamu belah pinggir terinspirasi pak Habibie ya?"
"Ye! Nggak gitu juga kali." saya potong rambut itu sebelum film itu muncul.
Sampai beberapa adegan di menit-menit terakhir mulai terdengar sound sound aneh yang berasal dari sebelah kanan saya, "Sruuuupppp, Sruuuuppp....". Berhenti untuk beberapa menit. Lalu terdengar lagi bunyi aneh tersebut, "Sruuuupppp, Sruuuuppp..." Berulang dan berulang lagi. Oke fix! Terdeteksi! Itu adalah karakter sound dari ingus yang ditarik kembali ke dalam hidung supaya tidak menetes. Perempuan berkerudung di sebelah kanan saya itu pilek. Ini film apa virus sih, kok bisa membuat orang flu mendadak. Mengharukan? Iya sih. Tapi saya sudah tidak bisa menangis. Kisah hidup saya sudah cukup tragis. Sangat tragis. Saya kedinginan saudara-saudara yang dimuliakan mertua dan calon mertua! Saya sudah nggak sempat menangis. Jari-jari saya sudah mulai mati rasa. Tubuh ini kekurangan lemak sepertinya. Perempuan berkerudung di sebelah kanan saya itu menangis. Iya menangis. Untuk sementara waktu boleh disimpulkan bahwa dia menangis. Dan bodohnya saya seharusnya saya kan bisa untuk bertindak heroik, "Mau tisu?".
Kurang tanggap saya. Sayang sekali. Padahal film Habibie&Ainun cukup mendukung saya untuk berkata, "Mau tisu?". Iya nggak apa-apa. Bahagia punya tokoh seperti mereka berdua yang katanya ferkuensi hati lebih utama dibandingkan cantik atau kaya tidaknya pasangan. Itu yang membuat pikiran saya melayang-layang ke beberapa bulan yang lalu.
Dulu teman saya bercerita,
"Mas, calon mertua minta saya untuk bisa meminang anaknya, saya harus PNS."
"Oh, ya nggak masalah. Kalau kamu sanggup ya turuti." kata saya sok bijak.
"Iya mas. Saya masih punya keyakinan saya bisa meski saya tidak memiliki modal apa-apa. Modal saya cuma yakin."
"Bagus itu bagus." saya manggut-manggut slow motion.
Sekarang,
"Hahahaha!" teman saya ngakak, "katanya ditolak? Harus PNS dulu?! Hahahaha..."
"Asem i. Gantian sekarang ya." saya merengut.
Iya. Sejak saat itu saya berjanji nggak mau sok bijak-bijak lagi. Nggak mau ngasih pendapat, bicara yang sok tenang sok bahagia. Betapa rumitnya hidup ini. Peristiwa ini sering saya jadikan jawaban jika ada teman yang suka bertanya soal menikah dengan yang berbeda agama.
"Mas kalau pendapat mas soal menikah beda agama?"
"Mas mas. Kamu pikir menikah dengan yang seagama gampang apa? Banyak syarat juga! Harus PNS dan lain sebagainya e! Apalagi yang beda agama."
"Hahaha!!!"
Di suatu sore ibu berpesan kepada saya sambil mengusap rambut saya,
"Le, ibumu iki cuma pensiunan PNS. Koe kudu iso luwih tinimbang ibu." Perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia? Dasar pemalas! Cari sendiri artinya! Becanda.
"Nak, ibumu ini hanya pensiunan PNS. Kamu harus bisa lebih daripada ibu."
Kalau orang tuamu masih menginginkan menantu PNS, aku terima sayang. Mungkin aku dulu sering memandang perempuan dari fisiknya saja. Makanya aku harus terima karma ini. Tapi kalau aku hanya menjadi PNS, aku durhaka terhadap ibuku. Itu juga hanya pembuktian pelampiasan. Untuk membuktikan kepada orang tuamu saja. Bukan membuktikan cintaku yang sejatinya. Aku more than PNS! Apa itu? Lihat saja nanti...
Eh novel yang tokoh utamanya PNS ada nggak yah?
Komentar
Posting Komentar