Langsung ke konten utama

Percepatan Skripsi

Beberapan bulan lalu, saya memecahkan rekor dalam hidup saya sendiri. Seumur-umur, saya adalah pecinta buku diskon. Tak peduli isinya seperti apa, asal murah, di bawah 20 ribu saya beli. Syukur-syukur dapat yang harga 5 ribuan. Sebagian adalah novel atau kumcer, kumpulan cerpen. Atau essay. Kan ada tuh kumpulan-kumpulan essay orang-orang pinter yang dulu di awal terbit harganya mencapai 50 ribuan tapi setelah sekian tahun turun menjadi 20-25 ribuan. Agak ketinggalan sih, tapi tak apa. Itung-itung persiapan untuk anak cucu. Katanya harta peninggalan yang utama adalah ilmu. Emang ada hubungan buku dengan ilmu? Oh kalau tidak, mungkin bisa untuk persiapan membuat perpustakaan kecil-kecilan. Siapa tahu bermanfaat untuk banyak orang. Atau kalau nggak, kalau misal kepepet bukunya sudah tidak pernah dibaca lagi, bisa dijual loakan. Atau sekalian diberikan kepada penjual nasi bungkus supaya lebih bermanfaat. Tapi sepertinya saya tidak tega memperlakukan buku seperti itu. Bagaimana pun, ia (buku), dunia yang sekarang didekatkan dengan saya. Jadi alangkah nistanya saya kalau saya menyia-nyiakan. Ini tadi mau cerita apa saya?

Oh pemecahan rekor. Iya. Saya ingat ada buku yang pernah saya beli. Buku Emha Ainun Nadjib yang berjudul Demokrasi La Roibbafiih. Harganya 50 ribu lebih. Saya beli karena saya diberi referensi oleh teman. Katanya, Emha Ainun Nadjib itu juga salah seorang penulis yang unik. Tulisannya nyeleneh tapi syarat dengan informasi dan sangat aktuil. Saya turuti saja untuk membeli kemudian membacanya. Sekarang buku itu dibawa teman saya.

Tapi rekor yang sebenarnya bukan itu. Karena saya kurang kerjaan dan lagi kelebihan duit, jalan-jalan lah saya. Sesaat setelah mengambil duit dari ATM ada pesan masuk di BB. Yang intinya mau minta tolong kepada saya untuk dicarikan buku berjudul 7 KR (Keajaiban Rezeki) karya Ippho Santosa. Tapi karena itu tadi, saya kelebihan duit, sekalian saya tawarin saja untuk saya belikan. Dengan anggun saya naiki sepeda motor grand ceper saya menuju toko buku Gramedia. Masuk lah saya dengan gaya model sedang berjalan di cat walk. Tapi keanggunan saya itu tidak berpengaruh terhadap sekuriti toko yang selalu mengawasi saya. GR kok sama sekuriti yah? Sama kamu aja ya GR nya. Saya tetap pede meski dicurigai. Buku 7 KR itu buku yang sangat mudah dicari. Konon best seller. Dan penulisnya itu tekenal. Kaya tapi sederhana. Katanya sih gitu. 

Ya buku ber hard cover itu mudah saya endus. Terpampang dengan jelas. Saya ambil, saya angkat dengan slow motion, saya kibaskan rambut, saya lirik sekuriti dengan agak angkuh, dan saya tatap bandrol harganya, daaaannnnn, hampir pingsan di tempat saya. Ternyata harga buku itu hampir 80 ribuan kalau nggak salah. Oke, sesak nafas untuk sesaat. Mata berkunang-kunang. Keringat dingin bercucuran. Itu buku?! Ini mungkin yang dinamakan shock culture. Kaget atau tidak siap dengan hal-hal yang baru. Biasa berkunjung ke diskonan, tahu-tahu di hadapkan kepada peristiwa yang menggemparkan. Bukan, terus terang bukan karena duit. Kaget aja sih. Boleh kan? Kaget aja kok, nggak kaget banget. Mau tahu aja apa mau tahu banget? Mau tahu anget aja. Serius nggak kaget saya. Oke persendian mulai goyah. Tapi karena saya memang sudah berniat membelikan saya ambil buku itu. Sekalian membuktikan kepada sekuriti bahwa saya juga bisa membeli buku mahal. Saya ke kasir dan segera membayar. Kalau di restoran kalau nggak bawa duit kan bisa nyuci piring, lha kalau di toko buku?

Itulah salah satu rekor di dalam hidup saya. Beli buku paling mahal sepanjang hidup saya. Dan lagi-lagi buku itu bukan untuk saya sendiri. Sudah saya berikan untuk orang lain. Yang beberapa waktu kemudian saya jatuh cinta dengannya. Cieeeee...... kayak manusia aja. Saya kan manusia bukan alien juga bukan. Ya tak apalah. Sekali-sekali hidup kan juga ada jatuh cintanya juga. Meski berulang kali ditolak tapi mencinta itu wajib hukumnya. Ya, kalau sekarang sering ditolak sih, mikirnya saya gampang saja. Mungkin dulu saya juga sering menolak dan menyakiti hati perempuan lain. Perempuan kan jarang ngomong langsung. Yah kalau memang ada yang tersakiti saya minta maaf. Kalau ada yang suka karena tulisan, karena dandanan, karena pemikiran saya, yah oke oke saja. Nggak masalah. Kalau memang ada yang sedang menunggu saya untuk menyelesaikan sarjana saya ya saya harap bersabar sedikit. Insyaallah begitu wisuda, saya akan mengajukan lamaran. Saya akan ajak bapak ibu saya ke rumah sebagai tanda keseriusan saya. Kalau memang ada yang lebih baik, yah, mbok saya dipikirkan lagi. Hahaha....

Kalau bang Ippho punya percepatan rezeki, saya coba percepatan skripsi deh. Valid ga valid, berapapun nilainya, yang penting lulus. Saat ini saya sedang ngebut-ngebutnya dan sedang ngawur sengawurnya. Yeah!!! Gitu aja sih. Eh buku saya Sarjana Masbuk juga satu penerbit dengan bukunya bang Ippho itu. Emang ada hubungannya???!!!!

untuk Kamu, kalau memang sedang menungguku, 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...