Badan ini masih nggak karu-karuan rasanya. Hari minggu kemaren hari yang cukup memerlukan banyak energi. Seharian saya menemani teman-teman dari Blues Brother Solo (BBS) ke Jogja, sebagai kontingen dari Solo untuk menghadiri pesta musik blues gede-gedean yang diadakan teman-teman Jogja Blues Forum. Acara itu dihelat selama dua hari berturut-turut. Tanggal 1 dan 2 desember 2012. Dari siang hingga malam. Teman-teman BBS dapat jadwal hari kedua. Acara bertajuk Why Blues itu dihadiri banyak band blues dan komunitas-komunitas blues area pula Jawa. Menghadirkan pula bintang tamu seperti Adrian Adhieutomo, Gugun Blues Shelter dan Ginda and The White Flowers.
Saya? Ikut main? Nggak lah. Bisa apa saya? Kalau disuruh jual gitar sih masih bisa. Kalau suruh maen ya angkat tangan saya. Apalagi musik blues yang butuh penjiwaan luar biasa menurut saya. Iya. Saya cuma ingin klangenan saja bersama teman-teman yang hampir dua tahunan sudah nggak kumpul ini. Tahun 2010 saya sering menemani mereka ngamen di cafe dengan bayaran ala kadarnya. Juga wira-wirinya mereka ke Jogja di tahun yang sama. Bagaimana para pecinta musik blues di Solo ini berupaya agar musik blues tetap ada. Karena konon akar dari musik populer sekarang ini juga berawal dari blues. Dibela-belain hujan-hujanan naik motor ke Jogja, ke cafe De Klik hanya untuk berkumpul dengan teman-teman blues Jogja. Ikut maen disana-sini. Ngebir juga. Eh. Salah ketik. Nggak. Saya nggak doyan bir. Serius. Nggak doyan. Apa? Dibayarin? Kalau itu mah beda cerita. Nggak nggak. Saya nggak doyan bir. Eh nggak percaya. Masih enakan air bening kok.
Kami berangkat dari Solo jam delapan pagi bersepuluh menggunakan mobil. Solo itu kalau minggu pagi ada car free day sepanjang jalan utama Slamet Riyadi dari setengah enam sampai jam sembilan. Ini program tinggalan dari Pak Jokowi. Eh, berarti saya sudah lama di tinggal di Solo yah? Dulu pertama kali ke Solo, walikotanya belum pak Jokowi. Masih siapa lupa saya. Pas 2006 kayaknya baru ada pilihan walikota. Yang menang Pak Jokowi terus periode kedua menang lagi. Lha ini Pak Jokowi sudah pindah ke Jakarta, saya kok masih di Solo. Harusnya saya ikut pindah juga dong. Iya harusnya saya pindah ini. Masa Jokowi pindah, saya nggak ikut pindah? Emang siapa saya???!!! Nggak ada hubungannya sama Jokowi???!!!
Blues. Konon ini musik yang menggambarkan kesedihan para budak kulit hitam. Asal katanya blue, sebuah warna yang mewakili kesedihan itu sendiri. Dan blues, mungkin berarti keharu-biruan. Awalnya mereka bersenandung tanpa alat musik. Iya lah, dimana-mana yang namanya budak kan minim fasilitas. Boro-boro pakai gitar. Mereka bernyanyi layaknya grup acapella atau bernyanyi tanpa iringan alat musik. Mungkin supaya mereka nggak terlalu menumpuk kesedihan. Maka, tidak ada jalan lain untuk menumpahkan kesedihan mereka selain bernyanyi dan berteriak-teriak. Lalu setelah sekian lama perjalanan jadilah musik blues seperti yang sekarang ini. BB King, Buddy Guy, Steve Ray Vaughen, Jimmy Hendrix, Eric Clapton dan seabreg pemusik blues baik dari Indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Nanti dicari sendiri siapa mereka. Dinikmati sendiri. Diapresiasi sesuai interpretasi masing-masing. Kalau saya, karena saya nggak bisa maen, sejarahnya juga tidak begitu menguasai, jadi kalau ada orang bilang, "Ini musik blues..." saya cukup manggut-manggut imut.
Iya katanya banyak teman itu memudahkan urusan. Saya yang hidupnya nggak jelas ini, kok ndilalah dipertemukan dengan banyak orang. Yang tadi dari komunitas blues, sekarang dari komunitas nasyid. Ngerti kan? Begitu saya menyebut nasyid, yang terbesit di kepala anda adalah, saya sholeh, saya religius, saya beriman, saya orang baik-baik pokoknya. Yes! Dan kalau anda berpikiran seperti itu anda tertipu. Sip!
Di Solo ini ada beberapa grup nasyid yang saya kenal. Yang sering menculik saya Zukhruf, terus ada AlKaline, ada Q-voice, ada Fourteen, terus opo meneh yah, kok dadi lali. Yowes kui sek lah.
Nasyid, dari kata an-syadu, bersenandung. Sudah jelas kan ini bahasa mana? Yap bener Tagalog! Arab Arab lek. Kata salah seorang teman saya Argo, dari nasyid Zukhruf, awalnya nasyid digunakan sebagai perlawanan masyarakat Palestina, terhadap Israel yang mencaplok wilayahnya. Atau sering disebut dengan nasyid harokhi. Dengan irama seperti mars yang menghentak-hentak. Iya mars, musik dari planet Mars itu. Kalau rock, musik dari bebatuan. Maka nasyid memberikan semangat tersendiri bagi masyarakat Palestina. "Gaza Gaza Gaza....!!!!"
Di beberapa mazhab ada yang melarang penggunaan semua alat musik. Ada yang melarang alat musik berdawai saja. Ada yang kurang setuju terhadap lirik yang memuji nabi secara berlebihan. Susah ya? Kalau dalam bermusik sering mendengar istilah "Kamu megang apa?". Karena konsep memegang itu macam-macam bentuknya. Ada memegang itu sendiri, ada menepuk, menggaruk, memijit. Kalau ekstrim memukul. Alat musik cuma terdiri dari empat cara memegang itu. Kalau sebangsa drum, rebana, saron, demung, kendhang itu ikut yang ditepuk. Kalau gitar, biola, rebab, harpa, sitar, kecapi, itu ikut yang digaruk. Kok digaruk? Lha coba aja. Pas tangan kita menggaruk itu kan seperti sedang memetik/menggenjreng gitar atau menggesekkan bow biola ke senar naik turun naik turun gitu kan? Memijit itu bisa piano, bisa juga keyboard. Komputer. Kalau seruling? Seruling ikut yang dipegang. Kalau nggak dipegang gimana niupnya?
Jadi sebenarnya memperlakukan alat musik, atau memainkan alat musik itu sama seperti sikap kita terhadap tubuh kita sendiri. Ya dipegang, ya digaruk, ya dipijit, ya ditepuk.
Sedikit saja saya nulis sejarahnya, karena jujur nggak ngerti. Baru mendengar kata nasyid aja tahun 2010 an. Sebelum-sebelumnya mana pernah. Dari Palestina akhirnya merambah ke Malaysia yang dipopulerkan oleh Raihan dan teman-teman. Terus sampai kesini. Terus sering dibawakan pas ada acara aksi demo mengecam dan mengutuk kekejaman Israel. Dibawakan pas ada milad partai politik berbasis Islam.
Namun meski sedikit, ini yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia. Orang indonesia itu mau membawakan lagu musik berbahasa Arab oke-oke aja. Bahkan kalau membaca Quran bisa lebih Arab daripada orang Arab sendiri. Mau menyanyikan lagu dengan lirik bahasa Inggris juga oke. Bahkan bisa lebih barat daripada orang barat itu sendiri. Sudah banyak buktinya.
Blues dan nasyid, sama-sama lahir dari tekanan-tekanan. Lahir dari ketidaknyamanan situasi. Mungkin penindasan, mungkin peperangan. Pertanyaannya, kalau ada orang Palestina punya mantu ya nanggap grup nasyid kayak disini to? Mbok nanggap Zukhruf, saya kan bisa ikut....
Iya katanya banyak teman itu memudahkan urusan. Saya yang hidupnya nggak jelas ini, kok ndilalah dipertemukan dengan banyak orang. Yang tadi dari komunitas blues, sekarang dari komunitas nasyid. Ngerti kan? Begitu saya menyebut nasyid, yang terbesit di kepala anda adalah, saya sholeh, saya religius, saya beriman, saya orang baik-baik pokoknya. Yes! Dan kalau anda berpikiran seperti itu anda tertipu. Sip!
Di Solo ini ada beberapa grup nasyid yang saya kenal. Yang sering menculik saya Zukhruf, terus ada AlKaline, ada Q-voice, ada Fourteen, terus opo meneh yah, kok dadi lali. Yowes kui sek lah.
Nasyid, dari kata an-syadu, bersenandung. Sudah jelas kan ini bahasa mana? Yap bener Tagalog! Arab Arab lek. Kata salah seorang teman saya Argo, dari nasyid Zukhruf, awalnya nasyid digunakan sebagai perlawanan masyarakat Palestina, terhadap Israel yang mencaplok wilayahnya. Atau sering disebut dengan nasyid harokhi. Dengan irama seperti mars yang menghentak-hentak. Iya mars, musik dari planet Mars itu. Kalau rock, musik dari bebatuan. Maka nasyid memberikan semangat tersendiri bagi masyarakat Palestina. "Gaza Gaza Gaza....!!!!"
Di beberapa mazhab ada yang melarang penggunaan semua alat musik. Ada yang melarang alat musik berdawai saja. Ada yang kurang setuju terhadap lirik yang memuji nabi secara berlebihan. Susah ya? Kalau dalam bermusik sering mendengar istilah "Kamu megang apa?". Karena konsep memegang itu macam-macam bentuknya. Ada memegang itu sendiri, ada menepuk, menggaruk, memijit. Kalau ekstrim memukul. Alat musik cuma terdiri dari empat cara memegang itu. Kalau sebangsa drum, rebana, saron, demung, kendhang itu ikut yang ditepuk. Kalau gitar, biola, rebab, harpa, sitar, kecapi, itu ikut yang digaruk. Kok digaruk? Lha coba aja. Pas tangan kita menggaruk itu kan seperti sedang memetik/menggenjreng gitar atau menggesekkan bow biola ke senar naik turun naik turun gitu kan? Memijit itu bisa piano, bisa juga keyboard. Komputer. Kalau seruling? Seruling ikut yang dipegang. Kalau nggak dipegang gimana niupnya?
Jadi sebenarnya memperlakukan alat musik, atau memainkan alat musik itu sama seperti sikap kita terhadap tubuh kita sendiri. Ya dipegang, ya digaruk, ya dipijit, ya ditepuk.
Sedikit saja saya nulis sejarahnya, karena jujur nggak ngerti. Baru mendengar kata nasyid aja tahun 2010 an. Sebelum-sebelumnya mana pernah. Dari Palestina akhirnya merambah ke Malaysia yang dipopulerkan oleh Raihan dan teman-teman. Terus sampai kesini. Terus sering dibawakan pas ada acara aksi demo mengecam dan mengutuk kekejaman Israel. Dibawakan pas ada milad partai politik berbasis Islam.
Namun meski sedikit, ini yang membuat saya bangga menjadi orang Indonesia. Orang indonesia itu mau membawakan lagu musik berbahasa Arab oke-oke aja. Bahkan kalau membaca Quran bisa lebih Arab daripada orang Arab sendiri. Mau menyanyikan lagu dengan lirik bahasa Inggris juga oke. Bahkan bisa lebih barat daripada orang barat itu sendiri. Sudah banyak buktinya.
Blues dan nasyid, sama-sama lahir dari tekanan-tekanan. Lahir dari ketidaknyamanan situasi. Mungkin penindasan, mungkin peperangan. Pertanyaannya, kalau ada orang Palestina punya mantu ya nanggap grup nasyid kayak disini to? Mbok nanggap Zukhruf, saya kan bisa ikut....
Komentar
Posting Komentar