Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Motorku Dipasangi Jimat

Saya tidak mengada-ada. Saya sendiri juga awalnya tidak percaya dengan yang dilakukan teman saya, si pemilik bengkel kecil di Solo Selatan. Ini bermula saat motor kesayangan saya, honda grand astrea impressa 97 mengalami mogok parah yang kedua kalinya. Pada mogok parah yang pertama dulu, kata teman saya si pemilik bengkel, motor saya 'diganggu'. Saya tidak percaya. Pokoknya motor yang hasil pemberian ibu saya itu harus bisa aktif kembali. Mesinnya oke. Si pemilik bengkel itu sendiri yang bilang. Karena saya sudah langganan selama bertahun-tahun untuk sekedar perbaikan ringan dan ganti oli. Maka saya percayakan motor itu kepadanya. Alhasil setelah digarap selama empat hari berturut-turut akhirnya motor yang sudah mangkrak berbulan-bulan di kontrakan saya itu bisa ditunggangi lagi. Sebelum mogok parah yang kedua, motor saya mengalami kejadian memilukan. Kejadiannya setelah maghrib pada saat saya pulang membeli lampu kalau tak keliru. Di tikungan ada mobil antrian mobil dan bebe...

Pakaian Kesucian

Berkali-kali istri saya bertanya kepada saya. Pertanyaan yang menukik menjadi saran. Pertanyaan yang dimuati harapan agar saya menjawab "Iya." Tapi saya sendiri sulit menyediakan jawaban yang demikian. Justru yang keluar semacam pembentengan diri. Setiap istri menanyakan pertanyaan serupa, jawaban saya maksimal hanya senyuman. Sampai akhirnya saya tak kuat untuk tidak menjawab. Di suatu siang yang terik di tengah bulan puasa istri saya kembali menyodorkan pertanyaan itu. "Yah, kamu nggak pengen beli baju lebaran apa?" "Nggak." "Kenapa?" "Kepikiran ganti baju aja nggak. Apalagi beli." Istri saya menghela nafas cukup panjang. Sepanjang jalan kenangan. Tapi bukan istri saya kalau tak cerdik. Di suatu sore menjelang berbuka dia kembali mengemukakan pertanyaan. Namun pertanyaan kali ini agak sedikit berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. "Yah.." "Apa bun?" "Kamu nggak beli sandal?" "Ehmmm.." s...

Tunjangan Setiap Hari

Memang, saya, layaknya manusia pekerja, yang memiliki atasan berlapis-lapis, akan sangat bergembira ria sekali jika mendengar kata THR. Entah kenapa yang namanya THR itu selalu identik dengan ekspresi ceria. Tunjangan Hari Raya dan Taman Hiburan Rakyat. Keduanya, menghibur. Baru tiga tahun terakhir ini saya akrab dengan THR. Dan bentuknya selalu sama yaitu uang. Dan inilah yang membuat saya gelisah berkepanjangan. Banyak uang baru beredar menjelang puncak peringatan Hari Raya. Saya memang agak sedikit geli dengan uang baru. Kalau saya punya banyak uang baru, rasanya sayang kalau mau digunakan. Kalau nggak dipakai ya terus gimana. Dilema melanda. Saya penasaran, sejak kapan mulai ada pembagian THR? Kenapa merujuk ke salah satu Hari Raya saja? Dan kenapa pembagiannya pas bulan Ramadlan? Kan kita puasa latihan menahan ya? Kalau digoda dengan THR kok saya rasa banyak yang tumbang di tengah puasa. Kok tidak dibagikan setelah Hari Raya saja? Atau dijadikan dua kali pembagian. Tahap pertama...

Sesaji Di Dalam Kulkas

Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana. Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit. Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu. Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah s...

Nafsu Minum Bertambah

Karena kulkas, kami sekarang mengkonsumsi air rebusan sendiri. Meskipun demikian air galonan tetap ready steady buat jaga-jaga kalau ada tamu yang agak sedikit fanatik terhadap air. Semisal, "Mau minum apa? Anget? Dingi? Teh? Sirup? Apa kopi?" "Air mineral aja kalau ada. Tapi jangan yang isi ulang. Kalau bisa yang A***." "Emang ada air galonan isi ulang?" "Ada. Dan itu tidak sehat. Banyak kandungan zat besi dan..." "Tenang aja. Galonku bukan isi ulang. Tapi isi air." "????" Namanya tamu kan ya macam-macam jenisnya. Kalau nggak ditanya dulu nanti takut menyakiti hati. Kan nggak enak. Ada yang suka kopi gulanya dikit. Ada yang suka es teh esnya dikit. Ada yang suka teh anget dicampuri irisan jeruk. Kalau saya sendiri minum itu yang penting cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan di dalam tubuh. Makanya sekarang saya sering menginstruksikan kepada istri agar lebih giat lagi mendukung gerakan 'AyoRebusSendiriAirMinummu...

Butuh Kedinginan

Setelah kulkas bermukim di ruang tengah, istri mulai mengaktivasi kemampuan memasaknya. Setiap pagi selama bulan puasa sebelum berangkat ke tempat kerja, dia menyempatkan berbelanja di tempat mbak Sri yang letaknya mepet dengan kontrakan kami. Katanya mbak Sri belum lama membuka warung si rumahnya. Sekitar empat tiga tahun yang lalu. Namun usahanya tergolong cepat berkembang. Rumah yang sekaligus warungnya baru selesai direnovasi sebelum bulan puasa kemaren. Hampir setiap pagi warung ini ramai pembeli. Mereka membeli berbagai macam kebutuhan. Dari yang pokok hingga yang bersifat pendamping saja. Murah. Kata itu yang mampu mewakili satu alasan kenapa warung mbak Sri berkembang pesat. Mbak Sri selalu mengawali paginya dengan berangkat kulakan ke Pasar Legi sekitar jam empat pagi dan sampai di rumah jam setengah enam pagi. Bagi istri berbelanja di warung tetangga menjadi sarana sosialisasi. Ketemu dengan tetangga yang lain. Membicarakan satu dua tema acak tentang apapun. Katanya istr...

Ada Kulkas Di Rumahku

Memang saya ke Solo 'kosongan'. Nggak bawa bekal apa-apa selain doa restu dan ridho bapak ibu dan kedua mertua saya. Setahun menempati kontrakan dengan trend hidup ala saya. Kalau teman-teman yang pertama kali mampir, pasti komentarnya sama. "Luas banget rumahmu." Lha ora luas piye mas mas. Kosongan model ngene ki ya mesti luas. Keuntungannya adalah saya dan istri bisa guling-guling dimana aja. Ruang tamu, ruang tengah, dapur, bahkan kamar mandi (opsi terakhir ini). Karena kosong ya mesti sejuk. Kalau rumah kalian gerah, dicek barang apa saja yang kalian simpan. Barangnya bisa menimbulkan panas apa nggak? Biasanya barang elektronik. Setelah sekian waktu berlalu, makhluk-makhluk imut yang sudah lama migrasi datang lagi ke rumah. Tikus. Mereka selalu membuat dapur porak poranda. Cabe bertebaran di mana-mana. Tomat sudah berlubang tengahnya. Tisu amburadul menyebar di bawah meja. Dan kabel magic com menjadi kudapan selanjutnya. Ealah. Kok ya tega. "Makanya. Ha...