Mata ini masih berkaca. Bukan. Aku tidak sedang menangisi atau mencoba menangis atau berusaha mati-matian untuk kelihatan akan menangis. Ini. Air di mata yang terbendung dan membuat ilusi optik sehingga nampak seperti kaca ini bukan perwujudan efek samping ekspresi kesedihan. Bukan. Tolong jangan terburu untuk menyatakan sesuatu. Tahan dulu prasangkamu. Tahanlah. Tahanlah. Jangan sampai prasangkamu membuncah mengenai ubun-ubunku lalu dengan tegas mengecap dahiku dengan label-label penilaianmu. Tolong. Tahan saja prasangkamu. Jikalau perlu usir ia jauh-jauh dari benakmu. Aku tahu. Pikiranmu sudah begitu berat dan sepertinya kelebihan muatan. Jadi jangan tambahi dengan prasangka-prasangka samar. Aku takut kau tak akan mampu untuk menebak siapa aku dan bagaimana keadaanku sekarang. Bisa aku katakan, dan tolong setujui dengan anggukan. Meski anggukan itu ragu, tapi ketahuilah dan yakini sedikit saja dengan keimananmu, bahwa aku memang tidak apa-apa. Benar. Aku sedang tidak apa-apa. Kalaupun mata ini masih saja terus berkaca-kaca, oke saya habis menguap tadi.
Iya. Menguap. Tapi ingat. Menguap bukan selalu disebabkan oleh kantuk. Atau keinginan untuk bobocyang. Asik ya namanya, bobocyang. Kayak China gimana gitu. Bobo siang bobo siang. Iya. Nggak tau nih. Akhir-akhir ini saya sering susah untuk tidur siang. Padahal menurut legenda, tidur siang adalah aktifvitas yang menyehatkan. Boleh dilakukan meski durasinya sebentar. Ini untuk menanggulangi agar nanti malam kita bisa terbangun dan beribadah di sepertiga malam terakhir sebelum shubuh. Itu lho. Kayak nggak ngerti aja. Saat di mana para malaikat datang ke bumi bagi-bagi hadiah. Siapa tahu ada yang dapat dorprise. Lumayan kan.
"Bawa apa?"
"Pake nanya lagi. Ini."
"Apaan?"
"Udah terima aja. Susah amat."
"Emang kita kamu apa?! Kita boleh nego dong."
"Aaah. Dapatmu ini."
"Apaan sih?"
"Tahu."
"Cuma kertas gini?"
"Cerewet banget sih."
"Boleh dong cerewet. Emang kita kamu apa yang cuma diam nurut aja."
"Udah udah aku mau ke kamar sebelah."
"Buru-buru amat. Sini dulu kek. Ngobrol-ngobrol."
"Aaaash. Udah nggak ada waktu."
"Iya iya. Ati-ati. Kostum kamu nggak pernah berubah ya?"
"Emang kita kamu apa?! Kita kan istiqomah!"
"Oke. Anyway thanks yah hadiahnya."
"Anyway. By the way kali ah."
Huuuaaahhhmmm. Ini Kamis ya? Karena keterbatasan daya ingat saya kadang saya sampai nggak tahu ini hari apa. Padahal nama hari kan cuma ada tujuh. Cuma tujuh lho. Gimana kalau dibuat tujuh ratus nama coba. Apa nggak tambah puyeng saya. Oke sip ini hari ke empat ratus tiga puluh lima, dan nama hari ke empat ratus tujuh puluh lima, adalah, sebentar, ahad, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, lalu apa coba namanya....
Kalian pernah ngalamin kayak saya itu nggak? Lupa hari. Kalau lupa mandi sih itu memang prinsipil. Lupa hari. Jadi misal kita udah buru-buru ke kampus pake telat lagi waktunya. Nggak pakai mandi nggak pakai sarapan cuma cuci muka sama minum minyak wangi satu botol. Eh sampai di kampus dalam keadaan ngos-ngosan, dosennya nggak ada. Lalu kita marah. Kita lempar semua apa-apa yang ada di dekat kita. Kita tendang satu persatu pegawai TU. Kita hancurkan semua-muanya dengan semau-maunya. Lalu teman kita yang suka pake hijab ungu datang.
"Lin," namanya Lintang, "Lin, tumben ke kampus?"
"Sep?" namanya Septi, lahirnya Agustus akhir, suka pakai jilbab syar'i warna ungu, "Sep? Kok kamu ke kampus? Bukannya jadwal bimbinganmu besok?"
"Besok? Bimbinganku hari ini lah Lin."
"Ha? Bukannya ini hari Rabu Sep?"
"Aduh Lin. Ini kan hari ke empat ratus tiga puluh lima."
Begitu. Nggak tahu ini efek karena apa sampai bisa lupa hari saya. Masa tingkat ketampanan mempengaruhi tingkat kelupaan diri seseorang? Semakin tampan ia, semakin mudah lupa diri ia. Apa begitu ya? Semakin merasa sukses ia, semakin mudah lupa diri ia. Gitu ya? Semakin kaya ia, semakin mudah lupa diri ia. Gitu nggak sih? Semakin sehat ia, semakin mudah lupa diri ia. Semakin senggang ia, semakin mudah lupa diri ia. Gitu bukan? Kayaknya nggak ah. Aku selalu ingat kamu kok. Eh, tapi ini beneran Kamis kan yah? Iya kan? Awas lho kalian kalau nggak. Udah aku kasih judul Senin Kamis lho. Tiba-tiba ini Rabu kan nggak enak jadinya. Dikira saya plin plan lho. Awas lho kalian lho. Kamis kan ini? Woy! Jangan senyum senyum gitu! Ini kamis kan? Haloooo.... Ini Kamis bukan teman-teman... Ih, sengaja kalian. Biar tulisan saya nggak macthing sama judulnya kan. Sengaja kalian pasti. Kalian sedang melakukan konspirasi untuk menghentikan keyakinan saya menulis. Saya curiga. Katakan! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini. Cepat katakan! Atau kalau tidak saya akan ledakkan tempat ini! Cepat katakan!
Oke. Udah ah. Capek saya teriak-teriak. Tapi memang gitu kok. Kayaknya setiap nama-nama hari itu kayak punya karakter sendiri gitu. Gini. Yang sederhana aja. Misalkan kita lihat kalender. Terus di sana terpampang warna merah di deretan di luar hari minggu. What do you feel? Saya nggak tahu tapi hampir semuanya menjawab bahwa ada perasaan senang di sana mana kala kita menatap angka berwarna merah di antara dominasi angka berwarna hitam. Iya kan? Padahal kita belum tahu itu libur dalam rangka apa dan jatuh pada hari apa dan kita harus melakukan apa di hari ibur itu. Pokoknya senang dulu. Itu karena kita sudah terkondisikan oleh sistem yang mencuci otak kita sedari kecil. Bahwa kalau merah itu libur, kalau hitam atau warna selain merah adalah saatnya masuk sekolah. Iya kan? Kalian aja yang nggak sadar udah dikontrol oleh sistem sejak kecil. Dan itu sangat berdampak sekali lho. Anehnya lagi, kenapa harus warna merah yang dipilih? Kok tidak warna yang lain. Ini semakin mengacaukan cara berpikir kita lho. Jadi di Indonesia ini warna merah memiliki tiga persepsi. Satu berani, dua berhenti, tiga libur. Nyambung nggak?
Karena sudah sedari kecil kita dibuat seperti itu maka ketika kita punya kalender baru yang dipikirkan ada mengatur kegiatan untuk mengisi tanggal-tanggal merah tadi. Terus semuanya berduyun-duyun liburan. Di satu sisi ada kota yang sangat lengang. Di sisi lain ada kota yang tiba-tiba seolah mengecil karena terjadi penumpukan aktivitas manusia di sana. Yang aneh lagi, ada hari libur yang disamakan dengan penghormatan. Maksudnya apa? Emang kalau kita libur gitu makin rajin ibadahnya apa? Itu baru persoalan dua jenis hari. Libur dan nggak libur. merah dan selainnya. Asyik ya? Enak ya asal nerocos kayak gini. Kayak nggak ada beban ya? Mau? Susah!
Dan kita suka terbolak-balik. Hari pertama itu Ahad, bukan Senin. Senin itu hari kedua. Begitu seterusnya dan Kamis itu bukan hari keempat melainkan hari kelima. Ini juga soal sistem berpikir yang mengharuskan aktifitas pekerjaan kita berawal dari Senin dan libur jatuh di Ahad. Gini deh, ekstrem aja. Misalnya sekolah nggak ada liburnya sekalian gimana? Berani nggak negara ini bikin sistem seperti itu? Tapi kan capek nanti. Iya capek kalau model dan metode pengajaranmu itu-itu saja. Nanti anak-anak kelulusannya gimana? Lulusin aja semua. Terus pekerjaannya gimana? Susah amat. Angkat saja menjadi pegawai negeri semua. Eh bentar, kenapa jadi muntap gini. Nggak nggak nggak. Nggak jadi. Lupakan lupakan. Maaf khilaf.
Seolah hari itu harus dibeda-bedakan antara satu dengan yang lain. Ada alasan bagus. Bagus sekali. Pasti kalian suka dengan pernyataan berikut ini. Kenapa hari itu dibikin beda tujuh rupa? Karena kalau semua sama, di mana istimewanya? Bukannya perbedaan ada itu untuk saling melengkapi? Gimana? Biasa aja ya? Baiklah.
Saya kasih matematika lucu. Gini. Soal hari. Nanti silakan dicermati. Ahad, kalau memakai pendekatan bahasa kan memang artinya satu. Bahasa Arab ini. Isnain jadi Senin yang berarti dua dan seterusnya itu. Gini. Tolong pahami matematika ini secara lahiriyah saja nggak usah religi religinan. oke ya.
Ahad/Minggu = 1
Senin = 2
Selasa = 3
Rabu = 4
Kamis =5
Jumat = 6
Sabtu = 7
Pertanyaanya, kenapa orang lebih suka memakai istilah Senin Kamis? Kenapa istilah ini sangat populer? Sebentar. Harapannya ini nanti akan menjadi ilmu bagiamana kita menyikapi sesuatu. Sudah? Dicermati lagi deh. Apa yang kalian temukan? Belum? Cermati lagi coba. Ini persoalan matematika. Dulu disebut Ilmu Pasti. Gini. Kok tidak memakai istilah Kamis Senin? Udah mulai ada gambaran? Gini. Coba dijumlah. Ketemu angka berapa? 7? Berarti bisa dibilang Senin Kamis itu mewakili hari dalam satu minggu secara keseluruhan. Oke mungkin angka 7 kurang menarik perhatian karena bisa saja ada hari-hari yang dikombinasikan dijumlah dan ketemu 7. Misal Ahad Jumat. Selasa Rabu. Kalau melihat intervalnya yang paling memiliki kesimbangan ya Senin Kamis itu. Ahad Jumat jaraknya terlalu jauh. Selasa Rabu terlalu dekat. Iya nggak? Eh ini saya beneran mikir lho. Serius lho mikirnya. Cermati lagi deh. Ketemu angka berapa? 2 dan 5? 25? Ada apa dengan angka 25?
Oke. Disudahi saja. Saya mumet sendiri teman-teman. Makasih sudah bermain secara matematis. Syukur-syukur ada hikmah dan bisa diamalkan untuk anak cucu kelak. Misalnya mereka tidak mudah lupa hari.
Dan Aku akan menjumpaimu di tiap Senin Kamismu...
"Dek ini hari apa sih?"
"Hari pernikahan kita mas...."
Komentar
Posting Komentar