Langsung ke konten utama

Negeri Salah Makan

Gini lho. Itu apa namanya. Ini Senin ya? Saya baru saja selesai mencuci piring. Sepertinya cukup lama saya tidak mengasah kemampuan mencuci piring. Terakhir kapan ya? Ah lupa. Karena setiap pagi sudah ada yang mengambil alih wilayah teritorial mencuci piring saya. Ini tadi mumpung lagi sepi dan beliaunya lagi keluar kota jadi saya manfaatkan saja waktu yang ada. Lumayan. Skill kalau tidak diasah ya sayang. Pensil kalau tidak diasah ya tidak lancip. Tapi kalau diasah terus ya habis. 

Mencuci piring itu kegiatan yang istimewa. Saya tidak sedang mengajak bercanda. Ini serius. Mencuci piring itu merupakan aktivitas yang lingkup wilayah nilainya nasional bahkan internasional bahkan universal. Kalau kalian seorang pesohor, pejabat, public figure dan kalian tertangkap kamera sedang mencuci piring, berita itu bisa bernilai milyaran rupiah lho. Nanti di mass media termasuk media online anda akan menjadi trending topic selama berbulan-bulan dan tidak menjadi bulan-bulanan. Ini serius lho. Saya tidak sedang mengajak anda bercanda.

"Miss Universe berpose 'mencuci piring' dalam sesi pemotretan 'Bikini Beach' di Gurun Sahara"
"Seorang caleg mencoba mendulang suara lewat gerakan 'Cuci Piring Nasional'. Dia mencuci semua piring kotor di setiap rumah yang menjadi dapil-nya"
"Seorang TKW asal Indonesia berhasil memecahkan Rekor Muri dengan mencuci piring terbanyak di Arab Saudi"
"Mahasiswa melakukan aksi demo 'Cuci Piring Massal' sebagai sindiran atas marak Money Laundry oleh para koruptor"
"Sebuah foto satelit di Mars menangkap foto sesosok makhluk. Makhluk tersebut seperti sedang berjongkok dan membawa piring made in China di tangannya."
"Ibu negara tampak mesra dengan Bapak negara mencuci piring bersama. Momen ini diabadikan lewat tustel berlensa super panjang oleh Anak negara yang ditemani oleh Cucu Negara dan disaksikan para Tetangga negara."
"Didik mencuci piring karena piringnya kotor"

Berita yang paling bawah sendiri itu yang nggak ada nilainya sama sekali. Jadi nggak perlu repot-repot menilai saya rajin dan lain sebagainya. Sejak kapan mencuci piring identik dengan rajin. Tentu saja yang namanya hidup juga penuh halang rintang. Sewaktu saya mengumpulkan niat mencuci piring, ternyata niat tersebut tidak disambut dengan mulus oleh perut saya. Ini perut aneh. Ini jam berapa? Oke anggap saja ini sekitar jam sembilanan pagi ya. Terhitung sudah tiga kali saya jongkok dengan sempurna sembari mensyukuri setiap rasa yang menjalar dari perut saya dan menunggu beberapa makhluk terjun dengan mempesona. Untung saya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki jadwal yang padat. Coba kalau jadwal saya padat dan saya mengalami peristiwa alam 'perut mules' seperti itu. Apa nggak runyam semua jadwal saya. Apalagi kalau misalnya saya sudah ada jadwal meeting dengan beberapa petinggi perusahaan.

"Apa pendapat saudara Didik mengenai rasa tempe penyet instat yang akan kita ekspor ke Mars ini?"
"Maaf pak saya sakit perut."
"Anda mencret?"
"Tidak sampai mencret sih pak."
"Oke berarti kita berhasil. Tempe penyet ini akan jadi obat terapi bagi makhluk mars yang kesulitan buang air besar."
"Pak..."

Iya ini agak gimana gitu rasanya. Nggak sakit sih. Nggak cair juga. Cukup padat merayap bentuknya. Cuma ya itu. Tahu-tahu alarmnya berbunyi dari bagian pantat terus mulai menimbulkan rasa kurang nyaman. Terus saya mencoba melacak apa yang terjadi kemaren. Apa saja makanan yang saya masukkan ke mulut saya. Saya akan telurusi sejak sarapan dimulai. Investigasi penting ini pemirsa. Saja jamin Sherlock Holmes juga kalah sama saya kalau soal beginian.


-Minggu 19-01-2014 (Astaghfirulloh. Sudah 2014 ternyata!)-
Saya terbangun, dengan bibir tersenyum. Entah mimpi apa. Tahu-tahu tersenyum. Iya iya. Dianggep gila pasti. Saya ambil ponsel. Oh ada pesan masuk di sana. Oalah. Ini sudah lewat Shubuh. Aduh. Saya itu kalau Shubuhnya telat itu panik lho. Beneran panik. Eh nggak percaya. Panik saya. Saya kan sholeh. Dan lebih panik lagi bahwa ada instruksi pagi ini harus berada di Balaikota untuk melakukan sound check jam enam pagi. Oke. Tidak ada cara lain. Mau tidak mau saya harus bangun. Sebentar, saya bercermin selamat beberapa detik. Masih mempesona meski ada banyak bekas iler mengering. Bangun tidur itu mode paling jujur. Sebentar. Itu apa? Oh bulu hidung yang off side. Cukup bergegas kemudian menuju kamar mandi untuk sholat. Sebentar saya ulangi. Cukup bergegas, oke sampai sini belum ada yang janggal, kemudian menuju kamar mandi untuk sholat. Menuju kamar mandi, untuk sholat? Sholat di kamar mandi? Oke. Kalimatnya rancu. Ehmmm, oke saya ke kamar mandi untuk mandi. Setelah itu terserah mau sholat apa nggak, nggak saya ceritakan. Kemudian dandan cukup rapi dengan celana berbahan kain bukan Jin, berarti kain golongan manusia, yang saya beli karena harganya murah. Jadi kalau teman-teman ketemu saya sudah tidak memakai celana pensil karena pensilnya habis gara-gara diraut terus nggak usah heran ya. Lagian saya juga bukan public figure. Jadi nggak penting pakaian saya kayak apa. Yang penting keimanan dan ketaqwaan serta akhlak saya. Pret.

"Bagus lho mas celananya." oke terima kasih sudah memuji celananya, bukan pemakainya. Terima kasih.
"Mas, tumben ganti gaya. Pasti lagi ada apa-apa ini." Iya. Lagi ada peristiwa besar. Dua celana pensil saya sobek bersamaan. Yang satu bagian lututnya menganga, yang satu bagian pantatnya melongo. Terima kasih.
"Ih, mas Didik cocok deh pakai celana itu. Kelihatan berwibawa." Iya. Cuma 'kelihatan' berwibawa. Yang berarti aslinya tidak berwibawa. Terima kasih.
"Mas sekarang tambah rajin berdandan ya." Justru saya sedang malas-malasnya. Celana bahan kain bukan jeans itu nyucinya gampang. Kalau jeans susah nyucinya. Terima kasih.

Sudah rapi kemudian meluncur ke beskem dulu karena beberapa alat musik masih di sana. Sampai sekitar pukul enam pagi saya belum sarapan. Oke clue pertama, jam enam belum sarapan. Mendarat di beskem ada jajanan menggoda. Sejenis chocolatos. Saya ambil dua seharganya seribu rupiah. Saya makan satu. Oke clue kedua, chocolatos satu, sebelum sarapan. Lalu beberapa teman-teman aneh saya mulai berdatangan. Alat-alat musik beserta kostum dipersiapkan sedemikan rupa. Seorang teman datang dengan diikuti oleh taksi di belakangnya. Taksi ini sebagai pengganti armada angkut alat. Oke semua alat masuk. Lalu terpilihlah dua orang setelah melalui proses audisi dan eliminasi untuk menjadi pengawal pribadi sopir taksi dari beskem menuju balai kota. Saya dan seorang teman aneh saya. 

Posisi duduknya, alat musik yang berat, jimbe, conga, keyboard, bass elektrik, stand partiture, saron diatonis, dan beberapa alat musik lagi berada di jok paling belakang. Saya ada di deretan nomer dua. Sopir taksi di depan, teman aneh saya, di atas taksi. Dia memilih di situ karena wajahnya mirip aktor holywood spesialis film laga. Di dalam taksi sekitar hampir pukul tujuh, saya makan satu chocolatos lagi. Oke. Clue selanjutnya. Chocolatos (lagi) belum sarapan tanpa minum. Di dalam taksi, dingin. Saya, tidak memakai jaket. Berarti saya, kedinginan. Oke.

Perjalanan selesai. Sampailah kita di balai kota di mana akan berlangsung sebuah acara resepsi dan pengajian. Resepsi Pernikahan Massal. Saya dan sopir taksi keluar. Teman aneh saya, turun dari atas taksi dengan baju yang masih rapi. Kemudian datang dari belakang teman-teman aneh yang lainnya membantu mengangkat alat ke panggung. Karena kita grup anti mainstream, jadi kita angkat sendiri tanpa bantuan crew. Karena grup musik mempunyai crew itu terlalu mainstream. Taksi sudah terbayar lunas. Sopirnya segera bergegas meninggalkan kami. Kami pun dadah dadah melambaikan sapu tangan ke arah beliau sambil menangis. "Hati-hati pak, ini Indonesia.."

Selanjutnya adalah setelah alat dianggap cukup beres meski belum betul-betul beres, teman aneh saya datang dengan membawa bungkusan. He said "Nasi Kebuli.". The next clue is Nasi Kebuli. Sebuah makanan yang saya tidak tahu itu apa. Pernah mendengar tapi belum pernah memakan. Itu sekitar jam delapanan. Bungkusnya kecil,

"Ini apa?"
"Nasi kebuli." jawab teman aneh saya lulusan Afrika.
"Kayak nasi goreng?"
"Memang seperti itu."
"Ini apa?"
"Nasi Kebuli!"
"Bukan. Ini lho."
"Daging kambing."

Mendengar kata kambing, tanpa pikir panjang langsung saya habiskan. "Terima kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan makhluk sejenis kambing di dunia ini". Mungkin Kanjeng Nabi Ibrahim pernah mengucapkan hal yang sama seperti saya. Oke Nasi kebuli habis. Bagi saya cukup pedas. Tapi saya suka. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya makan nasi kebuli. Seharusnya saya masuk rekor muri sebagai Orang Indonesia 'Terkasihan' karena baru pertama kali makan nasi kebuli. 

Beberapa jam kemudian karena masih ada sisa bungkusan saya ambil bungkusan itu. Saya buka. Dan ternyata masih sama nasi kebuli. Saya tawarkan ke teman aneh saya karena saya tahu dia belum sarapan, datangnya telat, dan suka nasi kebuli. Kita bertukar bungkusan. Saya buka punya saya. Isinya, nasi oseng. Oseng apa ya. Kacang panjang apa buncis ya. Lupa. Pokoknya oseng. Itu clue selanjutnya. Cukup pedas juga tapi saya suka. Saya lahap habis. Dan agak seret karena minuman mulai menipis. 

Kemudian acara mulai berjalan. Seorang ustad berpakaian hitam sedang memberi pencerahan. Saya pamit ke kamar mandi untuk buang air mini. Di sela-sela acara setelah saya dari kamar mandi, saya ngemil jajanan jatah dari panitia untuk kita. Ini clue selanjutnya. Risoles berlalapkan cabai, kacang telur, arem-arem isi sambel goreng ati ayam, pedes. Oke. Betapa ingatan saya masih oke. Waktu berlalu acara demi acara pun usai 27 pasang pengantin sudah meninggalkan balaikota. Hadiah demi hadiah santunan demi santunan selesai dibagikan. Beribu doa sudah dilangitkan dan tukang-tukang becak sudah menanti mereka di gerbang depan. Saya telpon taksi lagi. Semua sudah beres baik administrasi dan alat musik sudah dirapikan. Saya kembali naik taksi. Dari Balaikota ke beskem. Teman aneh saya, lagi-lagi memilih naik di atas taksi. Sopirnya muda. Cara mengemudinya halus. Teman aneh saya kecewa karena kurang gregetnya.

Sampai di beskem kita kembali berunding. Dalam perundingan itu kita mengundang beberapa perwakilan dari negeri Kerajaan Belanda, VOC, dan kubu Pangeran Diponegoro untuk memutuskan, 'Enaknya makan siang kita di mana?'. Setelah melewati perdebatan demi perdebatan, perundingan pun berakhir dengan ditandai oleh malunya kubu Kerajaan Belanda dan VOC atas keputusan Pangeran Diponegoro. Alhasil kita makan di warung yang belum pernah kita sambangi sebelumnya.

POKWE begitu tulisan yang tertera di sana. POKWE itu kependekan dari NJUPOK (mengambil) DHEWE (Sendiri). Mengambil menu sendiri tapi boleh membayarnya tidak sendiri-sendiri. Saya mengambil sejenis oseng kacang yang dipadu dengan tempe, telur asin, dua buah daging giling dan segelas es teh. Es teh disini porsinya dua kali lipat dari yang biasanya. Mungkin inilah keunggulan warung makan ini. Lalu sesendok demi sesendok saya makan dan mulut saya merasakan keanehan. Ini apa? Pikir saya. Kok rasanya seperti ini. Saya deteksi satu persatu. Nasinya? Nggak mungkin. Telur asinnya? Nggak juga. Es teh? Apalagi. Daging gilingnya pasti. Saya habiskan daging gilingnya. Kok rasanya masih aneh. Kemudian, oseng tempe. Lha? Ini dia. Saya colek teman aneh saya yang ahli wushu. Siapa tahu lidahnya seampuh jurus wushunya.

"Coba deh."
"Kenapa?"
"Rasain aja."
"Mmmm,... kayak roti yang sudah kadaluwarsa."
"Makanya saya mau ambil lauk lagi tadi."
"Kenapa sih?" teman saya lulusan Afrika ikut nimbrung. Kami berbicara setengah berbisik karena takut terdengar pengunjung yang lain. Dia yang merekomendasikan kami agar makan di sini. Cuma dia satu-satunya yang sering makan di warung ini.
"Ini aneh rasanya. Kayak gimana gitu."
"Kamu ambil apa coba lihat. Oalah pantesan. Itu namanya Oseng Tempe Penguk." katanya sambil tersenyum. Entah apa arti senyummu itu kisanak.
"Penguk?"
"Iya. Di Solo ini ada jenis tempe penguk. Emang rasanya kayak gitu. Kayak busuk-busuk gimana gitu. Banyak yang suka kok."
"Lidah ku kaget lek. Ya tetep tak makan. Cuma rasanya aneh."

Ini clue selanjutnya. Tempe Penguk. Kemudian saya terpaksa mengambil sebotol fanta. Saya niati yang pertama untuk menetralisir rasa aneh di mulut yang menjalar sampai ke kepala saya. Yang kedua saya niati untuk membantu perekonomian Amerika. Kasihan. Kalau pakai motor, saya niati membantu perekonomian Jepang. Kalau pakai hape murah saya niati untuk membantu perekonomian China. Kalau minum air mineral kemasan saya niati untuk membantu perekonomian Perancis. Kalau umroh, saya niati untuk membantu perekonomian Arab Saudi. Kasihan mereka.

Kemudian malam harinya aku memilih nasi goreng kesukaanmu. Celakanya aku tidak bilang kepada penjualnya. Biasanya kamu sukanya pedes kan? Alhamdulillah aku dapat banyak dan pedes banget. Aku bawa pulang dan aku mangap-mangap di ruang makan sendirian.....

-Senin 20-01-2014 (Astaghfirulloh sudah 2014 ternyata!)-
Tahu kan kalian apa yang terjadi dengan saya selanjutnya. Mungkin saya salah makan. Di negeri sendiri saja saya masih bisa salah makan. Apa seluruh negeri ini juga mengalami hal yang sama dengan saya? Makan yang bukan hasil budaya dan kreativitasnya sendiri? Entahlah. Ini 2014. Hanya berharap Negeri ini tidak menjadi Negeri Salah Makan. Supaya apa-apa yang dihasilkan bukan kesalahan demi kesalahan dan kebodohan demi kebodohan yang berulang-ulang. Kalaupun harus ada satu manusia yang harus menanggung kebodohan seluruh rakyatnya, cukup saya saja. Semoga negeri ini bukan Negeri Salah Makan......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...