Langsung ke konten utama

Sarapan Harapan

Pohon-pohon cemara tinggi menjulang. Tinggi namun jauh dari kesan keangkuhan. Seolah ingin menyampaikan pesan bahwa itulah sebenar-benarnya pelindung dan pengayom. Ranting-ranting kecil mengering dan patah jatuh ke tanah. Di sanalah, ada kekecilan di antara kebesaran-kebesaran. Aneh, yang kecil, patah, dan terjatuh itu tidak merasakan kesakitan karena memang sudah sewajarnya ia mengalami itu.

Udara cukup sejuk. Seorang lelaki berumur berjalan di antara pepohonan itu. Lama ia menatap mereka. Mereka yang selalu setia menghamba di kaki gunung menjaga keseimbangan alam semesta. Kadang sedikit senyum terlukis di wajah lelaki berjaket biru hitam itu. Senyum yang ia sendiri tak tahu artinya. Akhir-akhir ini wajahnya dipenuhi dengan senyum. Untuk menambah ketampanannya? Ia rasa tidak begitu. Ia hanya ingin menikmati proses, cerita demi cerita hidup yang telah tertulis untuknya. Ia ingin total menjalani itu semua. Akting secara sungguh-sungguh.

Dihirupnya udara segar perlahan-lahan memasuki tubuhnya untuk kemudian ia hempaskan seirama saat menghirupnya.
"Maaf pohon, kucuri hasil jerih payahmu."
"Ambil saja. Toh itu memang dibuat untukmu."
"Kenapa udara di sini berbeda dengan yang di bawah sana?"
"Karena kamu sedang berada di bagian produksi."
"Oh."

Setelah 'oh' lelaki kembali memutar pandangannya ke segala penjuru. Tampak awan awan putih saling mengarak menurut kemana angin bergerak. Beberapa burung sekelebat tertangkap oleh matanya. Langit yang dulu selalu tampak jauh sekarang terasa lebih dekat. Lagi ia mengosongkan pikirannya. Ia tak mau mengisinya dengan apapun. Ia ingin menghampakan diri, bahkan ia mengaburkan tatapan matanya tatkala menjumpai manusia-manusia di sekitarnya. Ia tak mau lagi, hatinya kalah oleh matanya. Jika orang-orang sibuk ingin mempertajam penglihatannya dengan kacamata, ia lebih memilih mengaburkan pandangannya. Ini salah satu tafsirnya terhadap 'menjaga pandangan'. Ia sudah memiliki kemampuan untuk mengatur tingkat fokus mata. Seolah ia tak ingin melihat siapa yang ia ajak berbicara. Pun ketika berbicara dengan pohon. Kalau ada suara yang menjawab segala jenis pertanyaannya ia yakin itu bukan dari diri tapi memang pepohonan itulah yang menjawab salamnya.

Lagi ia tersenyum. Kalau boleh kagum, ia kagum dengan cerita hidupnya sendiri. Bukan cerita hidup orang lain. Ketika ia mendengar beberapa kawannya sudah menjadi ini itu punya ini itu, ia tak mau bereaksi terlalu banyak. Atau tiba-tiba termotivasi untuk bergerak. Tidak. Masa-masa itu sudah lewat baginya. Ia tak mau lagi mencipta api. Ia tak mampu lagi menjadi daun kering yang mudah terbakar. Tapi bagaimana pandangan orang lain terhadapnya. Atribut-atribut malas, terlalu banyak alasan, terlalu mendramatisir keadaan, terlalu bodoh, terlalu banyak pertimbangan, kurang beriman, dan beberapa hal yang pada era modern ini dianggap salah sudah tak dihiraukan lagi. Silakan. Silakan. Silakan. Ia mempersilakan siapa saja untuk memberikan komentar apa saja terhadap dirinya. 
"Tuhan, Engkau dengar kan apa kata mereka tentangku? Engkau tahu kan prasangkaan mereka terhadapku. Buat aku kuat menerima itu. Kalau memang harus terbukti tidak seperti itu, Engkau saja yang membuktikan. Aku tak cukup kuat."

Kabut mulai datang. Dingin menyergap tiba-tiba. Namun jaket dan sarung cukup melindunginya. Raganya memang menggigil tapi hatinya tak boleh lagi mengerdil. Selalu ia bertanya tentang kehidupan para utusan-utusan Tuhan. Bagaimana kalian setangguh itu menyikapi hidup di dunia. Ada yang dibuat sangat miskin tapi juga ada yang dibuat sangat kaya. Ada yang dibuat buruk rupa ada yang dibuat sebegitu tampannya. Ada yang dibuat susah bicara namun banyak juga yang ahli berdiplomasi. Ada yang ahli membuat kapal tapi ada juga yang terpaksa terjun dari kapal karena kalah undian. Ada yang punya keturunan beriman, ada juga yang punya keturunan pembangkang. Dan segala macam jenis cerita atau tepatnya kebenaran masa lalu yang harus terus menerus untuk diambil hikmahnya. 

Sedang ia. Siapa ia? Lelaki yang punya keyakinan aneh bahwa raganya boleh menua tapi tidak dengan pikirannya. Karena sesungguhnya yang mampu membuat abadi manusia adalah hati dan pikirannya. Raga hanya sebagai wadah. Tatkala ia melakukan sesuatu tanpa menggunakan hati dan pikirannya, sama saja. Begitu gumamnya.

Mulutnya mulai mengeluarkan uap. Itu tanda bahwa udara memang semakin dingin. Jarak pandang berkurang. Pohon-pohon cemara dan beberapa bukit di seberang sana mulai tak terlihat. Meski tak terlihat, bukan berarti tak ada. Segelas teh yang tadinya panas, berubah menjadi dingin. Tapi tetap ia meminumnya. Perubahan fisik tak mengurangi rasa cintaku padamu. Itu harapanku.
.........

Aduh. Sudah pada nunggu ya? Maaf baru bangun. Hu'um masih agak pegel-pegel ini. Teman-teman sini ada yang bisa mijit nggak? Yeeee, yang ikhwan aja. Yang ahli bekam atau apa gitu. Ha? Bisa minta tolong nggak? Ya jangan sekarang. Ini kan jadwalnya diskusi. Yang akhwat bisa dengar suara saya ya? Gimana? Agak berlendir gitu kan suaranya? Serak maksutnya. Ya udah nggak apa-apa deh. Gini. Kemaren yang merayakan tahun baru siapa? Nggak ada ya? Yang nggak merayakan tahun baru atau menganggap perayaan tahun baru adalah hal yang mubadzir siapa? Tu wa ga pat ma, banyak ya. Yang menganggap perayaan tahun baru itu bid'ah? Tu wa ga pat ma nam ju pan, banyak juga ya. Yang berpendapat bahwa merayakan tahun baru adalah hal yang salah, atau haram tapi ikut menikmati dan mengagumi 'keindahan' kembang api yang dinyalakan siapa? Apalagi kita meilhatnya dari gunung. Kenapa malah senyum-senyum gitu? Woy! Ditanya woy! Halooooo...

Sebentar matanya masih lengket. Bahas apa ini? Tahun baru? Nggak ya? Apa? Suhu politik 2014? Nggak ah. Bikin tambah pegel malah. Apa? Harga gas elpiji naik? Males aja ah. Bubarin aja kajian ini yuk. Nggak ya? Nggak boleh kayak gitu ya. Intelektualitas itu harus terus diasah. Biar iman tidak mudah goyah. Apa? Calon presiden favorit saya? Hayam Wuruk. Nggak boleh ya? Udah meninggal kok ya. Harus milih ya? Siapa ya? Uhmmm, golput boleh? Nggak boleh ya? Terus kalau tiba-tiba nanti di tahun 3015 ada orang Indonesia namanya Gonzalez Lana Putra yang kalau disingkat jadi GOLPUT terus ia ikut-ikutan nyapres kasihan dong. Nggak bakal menang dong? Kan nggak boleh milih Golput? Nggak mungkin ada? Katanya nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini? Itu nama yang keren lho. Ada yang mau makai buat nama anaknya? Limited edition itu. Gonzalez diambil dari nama pesepak bola profesional. Lana nama seseorang yang terlibat dalam cerita Superman. Putra karena ia lelaki.
Nama Lengkap: Gonzalez Lana Putra
Nama Panggilan: GOLPUT
Cita-cita: Presiden
Hobi: Nyapres

Iya iya nggak mungkin. Tapi jangan kaget lho kalau tiba-tiba ada nama seperti itu. Ini Indonesia lho. Apapun bisa terjadi lho. Yang nggak korup tiba-tiba aja bisa ikut korup lho. Yang nggak suka KKN tiba-tiba malah menjadi pelaku utamanya lho.

Yang sudah sarapan siapa? Tu wa ga pat ma nam. Banyak ya. Kalau begitu nggak usah pakai cemilan sama minum ya? Tetep pakai? Maunya! Bawa sendiri-sendiri dong.

Ada yang aneh dengan baju saya? Ini namanya style para pendaki gunung. Apa? Salah tempat? Itu kan cuma nama saja. Sandal gunung cocok untuk dipakai di medan sekitar gunung, tapi kan nggak terus nggak boleh dipakai ke masjid kan. Kalau di pakai rumah ibadah mau sandalnya seharga pesawat kepresidenan ya tetap nggak boleh dipakai lah. Mau dipakai ke pantai juga oke. Yang nggak boleh itu kalau sandal itu dipakai menimpuk imam sholat jum'at yang salah bacaan. Jaket biru hitam ini juga anget. Cocok untuk menjaga kondisi suhu tubuh karena cuaca yang nggak menentu kayak gini. Emang ada cuaca yang menentu? Menentu atau tidak menentu kan tergantung tingkat akurasi membacamu. Serandom apapun kalau masih mampu membacanya ya nyatanya masih bisa terbaca juga kok. Password-password kalian itu kan juga acak. Random banget. Tapi ada sistem yang mampu menyimpan kemudian menandainya bahwa password ini milik dari si fulan atau fulana. Makanya itu kalau hidupmu dirasa tak menentu ya dibaca lagi. Jangan jangan ada yang salah baca lagi. 

"Mau sarapan?"
"Jangan kau beri lagi aku harapan itu!"
"Sarapan mas! SARAPAN!"
"Sarapan? Aku kira harapan."
"Sarapan ya sarapan! Harapan ya harapan! Mana ada sarapan harapan?!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...