Ia meneliti rak buku kecil berwarna hitam yang menempel 50 cm di bawah jam dinding kamarnya. Rak buku yang awalnya sudah tertata rapi itu mulai berantak lagi. Setelah beberapa waktu lalu berhasil ditata dan dikelompokkan berdasarkan jenis buku supaya lebih mudah jika ingin mencari buku dan membacanya ternyata harus rela terusik dengan keberadaan beberapa plastik dan sachet shampo. Rak buku yang sekaligus menjadi tempat bersemayamnya berbagai jenis minyak. Minyak rambut, minyak wangi, minyak kayu putih dan yang lebih membingungkan lagi di sana pula terdapat isolasi besar warna cokelat dan transparan, pemotong kuku, serta celengan yang terbuat dari kaleng bergambar barbie. Padahal, ini kamar seorang lelaki. Kenapa harus ada barbie? Di rak buku itu pula terdapat semacam kotak kado, kardus minyak wangi, serta tempat berbentuk persegi empat ukuran 30x30 cm yang berisi berbagai macam barang. Tas kecil, kacamata, kabel data, CD album presiden SBY, Keroncong rohani, topi, sparepart alat musik, kartu tanda pengenal pers yang dicampur secara acak.
"Apa isi kepalaku seperti kotak itu? Campur aduk tak beraturan?" batinnya menggelitik.
Tak ketinggalan 2 charger yang menggantung di salah satu sisi rak buku dan sebuah samir yang didapat sewaktu prosesi wisuda kesarjanaan di sisi yang lain. Seolah saling membelakangi satu dengan yang lain.
"Sekarang sudah terbukti. Charger memang lebih murah daripada samir yang harus didapat dengan proses panjang nan mahal. Tapi charger lebih banyak manfaatnya daripada samir itu sendiri." ia tersenyum sembari mengingat betapa memang butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan kalung samir. 8 tahun 9 bulan. Sejenak ia menggelengkan kepala.
"Aneh Tuhan. Aneh."
Lalu dilhatnya map berwarna merah. Adalah sebuah map yang berisi ijazah dan transkrip nilai semasa ia menempuh kuliah untuk mendapat gelar S1 nya dulu. Dipandangnya dalam-dalam. Sesekali ia menghela nafas. Lirih ia ucapkan.
"Maaf. Kamu belum terpakai. Atau memang kamu sengaja tidak mau ku pakai?" ia bertanya kepada ijazah. Ijazah itu diam dan ia menganggap bahwa diam itu adalah sebuah isyarat jawaban 'ya'.
Lantas ia mengedarkan pandangan ke buku-buku penghuni rak tersebut. Sedikit. Sangat sedikit sekali. Apalagi jika mengingat bahwa ia memang pernah punya niat untuk membuat taman bacaan di pekarangan rumahnya kelak. Buku-buku itu masih dirasa sangat kurang. Rak tersebut memang penuh. Tapi bukan hanya buku yang berjajar di sana. Ada beberapa naskah yang ia sempat tulis. Ada buletin-buletin yang ia dapat dari sebuah forum keilmuwan. Ada juga naskah teman yang minta untuk dibaca tapi sampai sekarang belum juga selesai dibaca.
Satu persatu buku itu diamati. Lebih tepatnya ia menelisik ulang nama-nama penulis buku-buku tersebut. Lagi-lagi ia harus tertawa di pagi hari yang cerah ini. Ternyata tidak ada namanya di sana. Padahal ia cukup dikenal di beberapa kalangan sebagai seorang penulis. Namun tidak ada namanya di rak bukunya sendiri. Ia sering gagap menjawab jika ada kolega yang meminta buku karyanya.
"Maaf, saya sendiri tidak pernah punya buku-buk itu."
"Mana mungkin. Pasti punya lah."
"Saya memang nggak punya kok."
"Satu pun nggak ada?"
"Nggak ada."
Yang terpenting baginya sekarang bukan menumpuk buku karya-karyanya sendiri di rak bukunya sendiri. Ia tidak mau menumpuk ilmu yang ia peroleh untuk dikonsumsi oleh dirinya sendiri. Itu aneh. Ia tidak mau memasak sedangkan ada tetangga yang mencium masakan tapi ia berdiam diri dan tetap memakan masakan itu sendiri tanpa berbagi. Tidak. Itu bukan ia. Kalau pun harus banyak tulisan yang dihasilkan, biar mereka menjadi penghuni di rak-rak buku orang lain. Rak buku milknya, tetap terisi oleh tulisan buah pikiran dan alam imajinal manusia yang lain. Hanya untuk sekedar belajar memahami pikiran orang lain. Bukan membacanya, lantas menghakiminya.
Sekarang ia mulai belajar menulis lagi. Mengeja kata demi kata dan merangkainya. Titik koma harus jelas posisinya. Spasi juga harus tetap ada untuk memudahkan sebuah tulisan terbaca. Jarak. Itu intinya. Ada hal-hal yang memang harus dilihat secara fokus tajam dan jelas namun ada juga hal-hal yang memang lebih baik tetap dilihat dalam keadaan 'blur' atau kabur. Ia harus pandai menempatkan itu. Ia tetap bersyukur bahwa sampai sekarang meski ia cukup sering untuk menulis ternyata matanya masih dalam keadaan normal. Ini satu anugerah yang tidak layak untuk tidak disyukuri. Ia tidak mengharapkan bantuan kacamata untuk menulis dan membaca. Atau ini pertanda bahwa intensitas menulis dan membacanya masih kurang? Kurang dalam arti masih ada begitu banyak hal yang harus ia baca dan ia tulis? Benar seperti itu? Dalam hati ia mengangguk. Hal yang mengasyikkan mungkin. Perbanyak lagi membaca dan menulis. Baiklah mungkin itu cukup memberikan angin segar di pagi ini. Ia harus memperkuat daya baca dan daya tulisnya. Karena menurutnya semua manusia sangat potensial untuk menulis dan membaca. Yang berbeda adalah dayanya. Ada yang cukup sering dan bagus menuliskan gagasannya secara singkat di status, tl, atau pm namun masih mengaku tidak bisa menulis. Padahal ia cukup intens untuk meng-update statusnya dan menambah tl, atau berkali-kali mengganti pm nya. Oke. Berarti masalahnya ada di daya. Tidak semua manusia cukup bersabar untuk menjaga dayanya masing. Termasuk itulah yang dirasakan oleh dirinya. Daya daya dan daya. Ia harus mempelajarinya kembali
Lantas apa yang harus ia lakukan untuk cukup bersabar terhadap daya? Sabar? Mungkin hati jawabannya. Hati yang mudah terbolak-balik itulah modal untuk mengundang ide-ide untuk kemudian dituangkan menjadi sebuah gagasan yang cukup berisi. Benar? Sementara ini ia menyimpulkan seperti itu. Namun kesimpulan ini hanya bersifat sementara. Bukan kesimpulan abadi. Justru karena mudah terbolak-balik itulah ide-ide sering lebih mudah muncul. Ide itu juga sejenis hidayah. Petunjuk yang berikan Tuhan. Mungkin bentuknya bisa satu kata atau bahkan satu huruf. Kalau daya kita oke, kita bisa mengreasi kata itu menjadi beratus-ratus halaman buku. Iya, dimulai dari satu saja.
Kembali ia tersenyum. Sederhana ternyata. Sekarang ia baru merasakan ada sesuatu yang membuat matanya berbinar. Kenapa baru sekarang ia paham. Kenapa tidak dari 10 tahun yang lalu. Ia menganggap semuanya sudah terlambat. Ia menganggap pintu itu sudah tertutup. Tapi ada yang membisiki hatinya. Pintu yang tertutup bukan berarti terkunci dari dalam. Ketuk dan bersabarlah menunggu jawaban......
...............
Selamat pagi bagi yang membaca tulisan ini di pagi hari. Selamat siang bagi yang membaca tulisan ini di siang hari. Selamat sore bagi yang membaca tulisan ini di sore hari dan selamat malam bagi yang membaca tulisan ini di malam hari. Selamat makan juga bagi yang membaca tulisan ini sambil makan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang membaca sambil berpuasa.
Ada yang bilang bahwa hati itu memang mudah dibolak-balik. Sebentar, ini kok tiba-tiba ngantuk gini ya. Ambil solasi cokelat di rak buku dulu ya teman-teman. Sebentar aja kok. Oke. Saya ulang. Ada yang bilang bahwa hati itu memang dibuat mudah terbolak-balik. Sebentar. Masih ngantuk. Diolesi minyak kayu putih dulu siapa tahu matanya jadi semriwing. Baiklah. Saya ulang lagi supaya teman-teman semua tidak ketinggalan diskusi ini. Ada yang bilang bahwa hati itu memang sengaja dibuat mudah terbolak-balik. Yang sering ikut kajian pasti sering mendengar kalimat ini dari para ustad atau utadzahnya. Yang sering liqo' pasti juga sering mendengar pernyataan ini dari murobbi atau murrobiahnya.
Antum dan antumna pasti paham semua kan? Ini untuk menanggulanggi cinta yang berlebihan. Katanya. Fulan dan fulana di sebelah sana juga ngerti kan? Kalau yang sedang jatuh cinta seringnya doanya kayak gini,
"Ya Alloh yang Maha membolak-balikkan hati, berikan aku ketetapan dan kekuatan atas pilihanku untuk memilih dia sebagai pendamping hidupku."
Saya? Masa kalau saya berdoa terus saya umumin. Ya rahasia dong. Iya kalau untuk urusan hati dianggapnya hanya untuk urusan cinta dan pernikahan. Nggak ada yang melarang kok. Cuma skalanya jangan disitu-situ saja. Untuk yang lain kek. Misalnya ya " Ya Alloh yang Maha membolak-balikkan hati, bukakan hati para pengurus jajaran Pertamina bla bla bla"
Astagfirulloh. Kenapa semakin ngantuk gini ya. Kalau bicara hati itu kan satu materi yang cukup oke untuk dibahas. Oke saya coba bertahan. Atau kalau ada yang langsung mau bertanya mungkin? Biar saya juga bisa segera menanggulangi ngantuk ini. Ada? ya mbak kerudung ungu di sebelah sana? Apa mbak? Apa? Bisa agak keras sedikit? Oh. Apakah mas Didik pernah jatuh cinta? Gitu? Langsung saya jawab ya? Pernah mbak. Ada lagi? Iya mas berbaju koko lengan pendek putih sebelah sana? Agak keras sedikit mas. Hu'um hu'um. Kenapa hati manusia dibuat bisa terbolak-balik? Langsung saya jawab ya. Saya ulang pertanyaannya,
"Kenapa hati manusia dibuat bisa terbolak-balik?"
"Biar nggak gosong dan mudah terbakar mas."
Oke pertanyaan terakhir ya. Iya kamu. Lho? Ada kamu to? Kapan datang? Waduh jadi grogi ini aku. Bilang-bilang dong kalau mau datang. Kan aku. Waduh. Pertanyaannya pasti, uhmmm... Iya deh silakan kamu bertanya. Deg-degan ini.
"Apa kalau hatimu mudah terbolak-balik, berarti kamu akan dengan mudah meninggalkanku dengan alasan itu?"
"Iya hatiku mudah terbolak-balik. Memang. Jelas. Hatiku bolak-balik terus ke hatimu...."
shiiip...........:)
BalasHapus