Ini Sabtu. Lebih cocok kalau suasana dibikin sendu. Untuk merenungi
hal-hal lama untuk kemudian diakali sedemikian rupa menjadi sesuatu yang
baru. Sebenarnya ada satu hal penting yang ingin saya ceritakan terkait
Indonesia di tahun 2014 nanti. Tapi saya menahannya. Sudah lama saya
menahan niat berbuat untuk Indonesia. Indonesia sudah besar. Tanpa
sumbangsih saya Indonesia sudah bisa membebaskan diri dari segala
masalah yang membelenggunya. Itulah Indonesia. Jadi karena ini Sabtu,
sekali lagi, lebih baik menulis yang syahdu. Membicarakan hal-hal
sederhana. Sekedar bertukar rindu. Antara aku, dan kamu.
Sambil
menunggu rendaman baju, saya mau menjelaskan kepada para pembaca bahwa
saya ini angkatan 2004. Jadi tolong ketika ketemu saya, jangan fitnah
saya dengan menyebutkan bahwa saya angkatan 2009. Iya, sih meskipun ada
kebanggaan dikira awet muda, dan masih kecil, tapi saya tak mau terus
terusan membohongi kalian semua. Iya, ganteng. Saya memang ganteng.
Gantengnya orang Jawa ya kayak saya ini. Kalau Edward Cullen itu ya
gantengnya orang sono. Kalau artis Korea itu ya cantiknya orang Korea.
Nggak ada kecantikan universal. Setiap manusia itu dilahirkan di tempat
yang berbeda. Edward Cullen itu ganteng, tapi saya juga ganteng. Paham
ya? Nggak? Kecantikan dan ketampanan itu nggak bisa dibandingkan antara
satu dengan yang lain. Ratu Majapahit Tri Buana Thungga Dewi dulu juga
cantik. Cantik versi Majapahit. Roro Mendut juga cantik. Roro Jonggrang
juga cantik. Tak ada yang menandingi ketampanan Nabi Yusuf. Ya iyalah.
Orang nabi Yusuf cuma satu. Mau dibandingkan dengan apa? Jadi kulit yang
nggak terang tapi juga nggak gelap sekali, hidungnya panjang sekaligus
melebar, rambutnya tidak begitu ikal namun juga tidak lurus. Itulah
ganteng. Tapi gantengnya saya. Gantengnya kamu juga beda. Alloh Maha
kreatif kok. Yang diniscayakan beda biarlah berbeda. Nggak usah dipaksa
sama apalagi dibandingkan dengan sesuatu yang beda.
Memang banyak yang tertipu dengan mata.
"Mas Didik angkatan berapa?"
"Coba tebak kira-kira saya angkatan berapa? Saya baru saja lulus."
"Uhmmm, 2008?"
"Masa saya setua itu?"
"Angkatan 2009?"
"Hihihi... Iya deh anggap saja saya angkatan 2009."
"Berapa yang benar mas?"
"2009. Hihihi..."
"Mas berapa?"
"Saya sudah tua. Saya angkatannya Boedi Oetomo."
Ada
hal yang kurang mengenakkan mana kala kita dianggap masih muda. Karena
bisa saja kita dianggap kurang dewasa. Katanya tingkah saya masih
kekanak-kanakan. Lebih suka pakai celana pendek daripada celana panjang.
Susah kan ketika kita dianggap kurang dewasa. Karena dewasa itu bukan
terletak di berapa jumlah usia hidup kita sekarang, tapi terletak pada
sikap. Kalau orang Jawa menyebutnya lelaku. Dan siapa orang yang dewasa
itu? Orang yang dewasa adalah orang yang mampu memetik hikmah di segala
peristiwa yang ditemuinya sebagai bekal untuk menyikapi
peristiwa-peristiwa baru yang akan ditemuinya.
Iya.
Memang. Menjadi lelaki itu harus pandai berbohong. Khususnya kepada para
perempuan. Bohong itu perlu. Tapi sayangnya tak ada perempuan yang mau
dibohongi. Kalau rayuan itu bukan membohongi. Rayuan itu kejujuran yang
dibungkus dengan keindahan. Keren ya? Saya juga baru nemu ini. Pas
menulis ini tadi. Rayuan itu kejujuran berbalut keindahan.
Harusnya sudah saatnya mencuci tapi bentar dulu.
Saya masih rindu dengan kamu.
Iya kamu.
Kamu yang kalau mandi sering tak pakai baju.
Contoh rayuan ya seperti itu. Jujur namun indah.
Saya rindu dengan kamu.
Iya, kamu yang sebelum makan mengucapkan bismillah dulu.
Woooo... bagus kan? Saya kasih lagi,
Saya rindu dengan kamu.
Kamu yang kalau naik motor mesinnya dihidupkan dulu.
Saya rindu dengan kamu.
Iya kamu, yang kalau tidur selalu terpejam matamu, tapi hatimu selalu terbuka untukku.
Udah
ya, yang lain cari sendiri. Buat bekal di malam minggu. Ingat, jujur
namun indah. Nyuci dulu ya. Ma'acih ceman-ceman Dek Didik mandi duyu
ya.... *salim satu persatu*
Komentar
Posting Komentar