Sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa untuk mencerna catatan kali ini
diperlukan kejernihan hati, keluasan berfikir, dan kemantapan prinsip.
Ketiganya harus bersinergi demi terjalinnya suatu komunikasi yang baik
antara saya dengan anda. Jadi kalau anda masih merasa banyak dosa, saya
mohon untuk tidak meneruskan. Serius ini. Tapi percuma saya bilang bahwa
tulisan ini begitu sakralnya, toh kalian tahu bahwa ketrampilan saya
sesungguhnya adalah membuat bagaimana caranya supaya anda tidak mau
mempercayai saya. Begitu ya?
Kalau saya tanya, apa yang pertama kali anda respon ketika saya menyebut kata ‘1 Muharram’? Silakan yang menjawab, kalender Hijriyah Islam, tonggak momentum kebangkitan Islam, masa hijrah nabi, Piagam Madinah, Madinatul Munawarrah, Abdurrahman bin Auf, atau yang terkait dengan itu semua, saya haturkan beribu maaf karena kita tidak sedang satu frekuensi untuk membicarakan itu. Meskipun sekarang saya lagi getol mempelajari kembali Piagam Madinah dan semua jenis perjanjian yang pernah ditulis di muka bumi ini tentang perdamaian antar manusia, tapi itu nanti dulu.Takutnya kalian atau bahkan saya sendiri tidak bisa mencerna dan kita mengalami ‘mencret berfikir’ secara berjamaah. Repot nanti malah.
Atau kalau ada pertanyaan, apa yang pertama kali anda respon ketika saya menyebut kata ‘1 Suro’? Kirab? Horor? Suzana? Sundel Bolong? Kebo Kyai Slamet? Kraton? Pusaka? Jawa? Wingit? Konflik Keraton? Pelarangan Kirab? Syirik? Gunungan? Raja meminta perlindungan kepada Walikota? Kalender Jawa? Atau yang masih berhubungan dengan itu semua, saya juga menghaturkan beribu-ribu maaf karena kita sedang tak sehati untuk mendiskusikannya. Meski, saya, lahir, dan besar, di tanah Jawa ini.
Saat itu, sebelum 1 Suro, ada pesan masuk di hape saya. Dari seorang teman, atau lebih tepatnya, adik. Dia masih keturunan Kyai dari Rembang. Sangat cocok menyematkan kata ‘Gus’ sebagai awalan untuk menyebut namanya. Saya baca pelan-pelan pesan itu. Intinya, dia meminta saya untuk menemaninya pergi ke Semarang dengan beberapa teman lagi.
“Tenang mas, akomodasi ditanggung.” Satu kalimat yang sangat saya harapkan sekali. Kalau dapat apa-apa gratis pasti seneng kan? Sekaya apapun kalian kalau dengar kata gratis tiba-tiba kalian menjadi miskin kan?
Sudah dijadwalkan hari keberangkatannya adalah Selasa yang itu bertepatan dengan tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Pergi kita adalah dalam rangka menjenguk teman yang sakit. Di sisi lain, ada gerombolan teman yang lain yang sudah merencanakan bahwa tepat dipergantian tahun itu mereka akan melakukan apa yang disebut dengan ‘Naik-Naik Ke Puncak Gunung’. Saya, galau. Antara harus ikut ke Semarang atau, pergi, ke puncak, gunung, Lawu.
Ada rasa penasaran di hati saya dengan gunung Lawu. Dia, si Lawu itu, menjadi tempat favorit beberapa Raja yang pernah hidup di tanah Jawa untuk bersemedi, meditasi. Selain itu sering terdengar cerita bahwa, banyak dari mereka yang pernah bersemedi, yang tentu saja orang-orang besar itu, hilang secara misterius bersama raganya, atau yang sering dikenal dengan ‘moksa’. Si Lawu juga menjadi tempat peristirahatan terakhir beberapa Raja. Dan yang menarik adalah keluarga dari mantan Presiden Indonesia yang kedua juga disemayamkan di salah satu lerengnya, termasuk raga Pak Soeharto dan Bu Tien. Ada apa? Benarkah ungkapan ‘Gunung Lawu penyimpan berjuta ilmu’ itu? Ungkapan yang cukup mengusik orang yang kurang kerjaan seperti saya. Berarti ada energi khusus yang ada di Lawu yang itu terkoneksi secara sembunyi dengan Raja, pemimpin di Jawa. Tapi apa dan bagaimana bentuk energi itu. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan langsung pergi ke Lawu dan kita berada di salah satu puncaknya, lalu kita interogasi dia (Lawu) secara perlahan dan sistematis untuk mendapatkan data yang cukup akurat nantinya. Pakai bahasa apa? Kalian pasti punya masing-masing bahasa untuk berdialog dengan gunung atau dengan makhluk-makhluk Alloh yang lain. Berdialog dengan boneka aja yang jelas-jelas tak ada nyawanya aja kalian bisa. Berdialog dengan kertas kosong aja kalian bisa. Berdialog dengan hape aja bisa. Saya setuju, naik ke puncak gunung adalah cara kita menyadari betapa kecilnya diri kita. Itu yang standart ya seperti itu cara berfikirnya. Saya kan beda. Saya kan cerdas. Iya nggak? Iya sih beda tipis dengan gila. Begini, kalian kan manusia, yang diciptakan paling sempurna, tapi tidak boleh pamer dan bilang kalau kalian paling sempurna. Gitu kan? Berarti gunung, sama manusia, sempurna mana? Manusia. Bahasa gunung, dengan bahasa manusia, sempurna mana? Kalau gunung bisa bicara, dengan bahasanya, berarti manusia bisa menangkapnya nggak? Harusnya jawabannya bisa. Karena parameter kesempurnaan manusia terhadap makhluk Alloh yang lain adalah manusia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain itu. Hewan bisa bicara? Tapi tak punya akal. Manusia bisa bicara, dan punya akal. Paham ya? Jadi setelah baca tulisan ini silakan bicara dengan apa saja, dengan makhluk apa saja, dan siap-siaplah anda diteriaki anak kecil sambil sesekali dilempari batu, “Orang gilaaa…. Orang gilaaa….”
Seharusnya, saya memuaskan rasa penasaran saya dengan ikut gerombolan pergi ke Lawu. But, eit eit eit. Itu gunung, dan saya belum pernah sekalipun kesana. Biasanya, yang pertama itu yang selalu bikin grogi, canggung. Dan lagi, itu gunung. Fisik saya, tubuh, chasing saya ini rentan terhadap dingin. Terutama di bagian-bagian tertentu yang tanpa bisa diprediksi bisa terkena apa yang disebut dengan sindrom ‘kebelet pipis akut’. Jadi kalau dingin saya terancam oleh makhluk yang bernama, dehidrasi. Ini penyakit kurang gaul yang pernah menggerogoti saya di semester 8 dulu. Jadi kalau saya mau ikut naik ke puncak Lawu dalam rangka ngobrol dengan Lawu, saya harus mempersiapkan banyak hal dalam waktu yang cukup singkat. Wah, nggak bisa kalau seperti ini. Iya kalau fisik saya oke sih nggak masalah. Kalau nggak oke, kan saya malah merepotkan gerombolan tadi. Lagian kan di gerombolan itu ada beberapa perempuan, termasuk, ah nanti. Masa saya harus kelihatan lemah di hadapan perempuan. Pantang bagi lelaki untuk lemah di hadapan perempuan. YEAAAHHH!!!
Saya juga belum punya perlengkapan untuk naik gunung. Dan akhirnya, yah, saya tidak bisa ikut gerombolan yang penuh dengan semangat dan dedikasi tinggi untuk Indonesia itu. Sampai bawa bendera Indonesia di puncak segala. Kurang nasionalis gimana coba? Saya memutuskan untuk menemani teman saya ke Semarang aja. Naik mobil duduk manis sambil ngemil.
Tapi karena manusia adalah makhluk yang sempurna tadi, saya memecah diri saya menjadi 3 bagian. Yang pertama, raga saya, saya ajak ke semarang. Kenapa raga saya? Penjelasannya nanti. Yang kedua, fikiran saya, saya ajak untuk mengurusi tulisan untuk sebuah majalah. Yang ketiga, ini bagian yang paling penting, hati saya, saya suruh mendaki ke gunung Lawu. Kenapa hati saya? Nanti. Ini memakai keahlian amuba. Membelah diri.
Gerombolan teman sudah berangkat dari Solo menuju Lawu memakai sepeda motor saling berboncengan, dan saat itu hujan. Agak sedikit khawatir dengan mereka, semoga mereka sehat-sehat saja. Mulai sendu di bagian ini.
Sebenarnya ‘hujan’ itu ‘aku’, yang menemanimu.
‘Dingin’ itu ‘aku’, yang memelukmu.
‘Basah’ itu ‘aku’, yang tak ingin jauh darimu.
Seberapa banyak rintik air hujan, sebanyak itulah doaku untukmu.
Pinjam tisu.
Saya ikut ke Semarang. Raganya yang ke Semarang. Berangkat tepat di tanggal 1 Suro pukul sekitar pukul sembilan pagi. Mampir sebentar di Soto Mbok Giyem Boyolali yang sepi jika warungnya tutup. Rame tenan ya Alloh. Emang enak sih, lezat. Makin lezat karena lagi-lagi ini ditraktir. Kita lanjutkan perjalanan lagi. Sopirnya oke. Lebih keren daripada pembalap formula1. Keren abis pokoknya. Was wus tapi tak membahayakan penumpang. Kita lalui jalanan dari arah Solo menuju Semarang.
Akhirnya, kita sampai di masjid Baiturrahman Semarang yang terletak di sekitar simpang lima Semarang yang berdiri tegak diantara mall dan komplek perhotelan. Cuaca cukup terik dan saya lupa membawa sunblock. Cuma bawa sarung saja. Karena kaki saya lagi kurang beres, jadi saya belum berani memakai celana panjang. Sebenarnya kalau dari segi fungsi lebih banyak sarung sih. Celana emang bisa jadi penutup aurat. Tapi lebih sempurna sarung. Sarung bisa jadi penutup aurat, alas setrikaan, dibikin kostum ninja, dan yang jelas sarung bisa dipakai di kepala tapi celana panjang tidak.
Kita istirahat sambil menunggu jemputan dari tuan rumah. Iya ternyata, teman yang akan kita jenguk ini yang menjemput kita sendiri. Tubuhnya segar bugar. Tertawanya juga renyah. Kelihatan sehat. Agak canggung dengan saya, karena kita memang jarang berkumpul. Setelah bercanda sebentar, kita melanjutkan perjalanan menuju kediamannya di daerahTelogosari sekitar 3-4 km ke arah timur dari masjid.
Sesampainya di rumah kita disuguhi berbagai macam makanan. Yang tak bisa terlupakan adalah tahu baso. Al Fatehah untuk penemu tahu baso. Wuenak tenan. Apalagi baru diangkat dari penggorengan. Kepulan asapnya sangat merangsang dan seolah memaksa saya untuk segera memasukkannya. Yeah… satu, satu, satu, satu, satu.. iya saya makannya satu kok. Satu, satu, satu, satu… Mulai agak penuh perutnya. Lalu muncul ‘wingko’. Ngerti wingko? Wingko itu, uhmmm, wingko itu sama kayak, uhmmm, wingko itu persis dengan wingko. Iya, itu. Tentu saja minuman sudah tersedia dengan ‘cool’. Karena cuaca terik, minuman, amblas pemirsa. Tahu baso, juga. Saya, kalap.
“Gimana ceritanya?”
“Gini mas. Pas mau pulang ke Semarang, pas sampai boyolali saya mengantuk, lalu entah seperti apa, saya sampai terjatuh sedalam 3 meter. Oh ingat, ini mas MU ya?” Tuturnya santai, sehat, sambil mengingat saya. Iya. Dia ketemu saya pas saya memakai jaket club sepakbola MU. Berarti saya fans MU? Nggak juga. Dia, harus menjalani operasi karena kecelakaan itu. Total perawatan selama 3 bulan. Satu setengah bulan di rumah sakit Solo, satu setengah bulan lagi dirawat di rumah sakit di Semarang. Dan menghabiskan sekitar 200an juta lebih.
“Biaya perawatan ada yang ditanggung oleh perusahaan tempat ibu bekerja. Dan masih harus operasi untuk memasukkan ini.” tuturnya sambil membuka kaos menunjukkan usus halusnya yang masih kelihatan. Kelihatan, karena sebagai jalan untuk membuang kotoran. Iya, dia buang air besar melalui usus halus yang dikeluarkan dari perut. Ada semacam kantong plastik di sana yang berfungsi untuk menampung kotoran itu. Usus halus dan kotorannya terlihat dengan jelas karena kantong plastik tersebut transparan.
“Kalau buang air normal lewat anus mungkin tiga minggu sekali. Karena ada usus di dalam yang harus dipotong, jadi buang air sementara lewat usus halus dekat perut ini.” Tambahnya. Saya diam. Untung hati saya sudah saya tinggal di Lawu bersamamu, karena kalau tidak sudah habis hati saya melihat teman saya itu. Dia sakit, tapi tak menderita. Sangat tegar. Biasa saja. Normal meski kemana-mana harus membawa kantong plastik berisi kotoran. Makannya, juga normal, banyak dan lahap sekali. Bandeng presto krispi yang dipadu dengan lalapan dan sambel disantap dengan nikmat. Masih bisa bercanda juga. Tak ada raut muka sedih, minder, atau apapun yang lemah-lemah. Saya mikir, “Ini apalagi Tuhan…”
Tiba di Solo, saya mencoba menghubungi yang baru turun dari Lawu. Apakah mereka sudah turun atau baru perjalanan pulang ke Solo. Ya, sedikit rasa khawatir boleh lah. Memang semakin sedikit yang kita tahu, semakin rentan kita mengalami kekhawatiran. Kemudian mendapat kabar bahwa semua sudah kembali dengan selamat meski tiba agak malam.
Dan saya kemudian melihat diri saya sendiri. Saya sering stress kalau penyakit gatal saya kumat. Penyakit yang entah datangnya darimana, dan sudah berkali-kali datang sejak kecil. Saya pulang dengan berjuta harapan. Saya niati, saya harus masuk menyelam.
Malam, saya mengambil posisi duduk di antara dua sujud. Memejamkan mata. Hati mengucap, “Laillaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhalimin..”
Aku menyelam di antara sel-sel tubuhku. Ku temui mereka satu persatu, ku salami, ku rangkul erat. Sambil terucap kata maaf, karena sudah menyakiti mereka satu persatu. Ku jumpai mereka. Ada yang sehat, tapi lebih banyak yang sakit. Banyak yang tidak terawat. Banyak yang sering diacuhkan. Bahkan disiakan. Awalnya mereka juga tak mau berbicara denganku, tapi dengan segala hormat ku pinta mereka untuk mendengarkanku.
“Maaf saudara-saudara ku yang budiman. Terutama yang di bagian kaki. Sebenarnya saya juga tak tahu kalian kenapa bisa terserang sampai seperti itu…”
“Itu karena kamu bodoh!” salah satu sel menudingku.
“Iya!” timpal beberapa yang lain.
“Iya, tapi maaf saya memang taktahu.” Jawab saya sedih hampir menangis.
Lalu datang salah satu sel ,bentuknya cukup besar. Mungkin dia delegasi bagian hati.
“Tak apa anak muda. Yang penting kamu sudah mau ke sini dan meminta maaf. Sekarang saya jelaskan. Sebenarnya kamu bukan sakit. Gatalmu ini bukan penyakit. Ini tombol on/off yang diciptakan sebagai pengingat, pemberi peringatan. Jadi kalau sistem di tubuhmu, perbuatanmu, laku hidupmu, cara berfikirmu, ada yang kacau, tinggal dipencet tombol on maka gatalmu kumat. Kamu lebih banyak bersyukur, karena tombol itu tak setiap hari di tekan dalam posisi ‘on’. Sekarang cari tombol off dan tekan.”
Hari itu, kalian mendaki, esoknya aku menyelam, dalam diam 1 Muharram.
Kalau saya tanya, apa yang pertama kali anda respon ketika saya menyebut kata ‘1 Muharram’? Silakan yang menjawab, kalender Hijriyah Islam, tonggak momentum kebangkitan Islam, masa hijrah nabi, Piagam Madinah, Madinatul Munawarrah, Abdurrahman bin Auf, atau yang terkait dengan itu semua, saya haturkan beribu maaf karena kita tidak sedang satu frekuensi untuk membicarakan itu. Meskipun sekarang saya lagi getol mempelajari kembali Piagam Madinah dan semua jenis perjanjian yang pernah ditulis di muka bumi ini tentang perdamaian antar manusia, tapi itu nanti dulu.Takutnya kalian atau bahkan saya sendiri tidak bisa mencerna dan kita mengalami ‘mencret berfikir’ secara berjamaah. Repot nanti malah.
Atau kalau ada pertanyaan, apa yang pertama kali anda respon ketika saya menyebut kata ‘1 Suro’? Kirab? Horor? Suzana? Sundel Bolong? Kebo Kyai Slamet? Kraton? Pusaka? Jawa? Wingit? Konflik Keraton? Pelarangan Kirab? Syirik? Gunungan? Raja meminta perlindungan kepada Walikota? Kalender Jawa? Atau yang masih berhubungan dengan itu semua, saya juga menghaturkan beribu-ribu maaf karena kita sedang tak sehati untuk mendiskusikannya. Meski, saya, lahir, dan besar, di tanah Jawa ini.
Saat itu, sebelum 1 Suro, ada pesan masuk di hape saya. Dari seorang teman, atau lebih tepatnya, adik. Dia masih keturunan Kyai dari Rembang. Sangat cocok menyematkan kata ‘Gus’ sebagai awalan untuk menyebut namanya. Saya baca pelan-pelan pesan itu. Intinya, dia meminta saya untuk menemaninya pergi ke Semarang dengan beberapa teman lagi.
“Tenang mas, akomodasi ditanggung.” Satu kalimat yang sangat saya harapkan sekali. Kalau dapat apa-apa gratis pasti seneng kan? Sekaya apapun kalian kalau dengar kata gratis tiba-tiba kalian menjadi miskin kan?
Sudah dijadwalkan hari keberangkatannya adalah Selasa yang itu bertepatan dengan tanggal 1 Muharram atau 1 Suro. Pergi kita adalah dalam rangka menjenguk teman yang sakit. Di sisi lain, ada gerombolan teman yang lain yang sudah merencanakan bahwa tepat dipergantian tahun itu mereka akan melakukan apa yang disebut dengan ‘Naik-Naik Ke Puncak Gunung’. Saya, galau. Antara harus ikut ke Semarang atau, pergi, ke puncak, gunung, Lawu.
Ada rasa penasaran di hati saya dengan gunung Lawu. Dia, si Lawu itu, menjadi tempat favorit beberapa Raja yang pernah hidup di tanah Jawa untuk bersemedi, meditasi. Selain itu sering terdengar cerita bahwa, banyak dari mereka yang pernah bersemedi, yang tentu saja orang-orang besar itu, hilang secara misterius bersama raganya, atau yang sering dikenal dengan ‘moksa’. Si Lawu juga menjadi tempat peristirahatan terakhir beberapa Raja. Dan yang menarik adalah keluarga dari mantan Presiden Indonesia yang kedua juga disemayamkan di salah satu lerengnya, termasuk raga Pak Soeharto dan Bu Tien. Ada apa? Benarkah ungkapan ‘Gunung Lawu penyimpan berjuta ilmu’ itu? Ungkapan yang cukup mengusik orang yang kurang kerjaan seperti saya. Berarti ada energi khusus yang ada di Lawu yang itu terkoneksi secara sembunyi dengan Raja, pemimpin di Jawa. Tapi apa dan bagaimana bentuk energi itu. Cara untuk mengetahuinya adalah dengan langsung pergi ke Lawu dan kita berada di salah satu puncaknya, lalu kita interogasi dia (Lawu) secara perlahan dan sistematis untuk mendapatkan data yang cukup akurat nantinya. Pakai bahasa apa? Kalian pasti punya masing-masing bahasa untuk berdialog dengan gunung atau dengan makhluk-makhluk Alloh yang lain. Berdialog dengan boneka aja yang jelas-jelas tak ada nyawanya aja kalian bisa. Berdialog dengan kertas kosong aja kalian bisa. Berdialog dengan hape aja bisa. Saya setuju, naik ke puncak gunung adalah cara kita menyadari betapa kecilnya diri kita. Itu yang standart ya seperti itu cara berfikirnya. Saya kan beda. Saya kan cerdas. Iya nggak? Iya sih beda tipis dengan gila. Begini, kalian kan manusia, yang diciptakan paling sempurna, tapi tidak boleh pamer dan bilang kalau kalian paling sempurna. Gitu kan? Berarti gunung, sama manusia, sempurna mana? Manusia. Bahasa gunung, dengan bahasa manusia, sempurna mana? Kalau gunung bisa bicara, dengan bahasanya, berarti manusia bisa menangkapnya nggak? Harusnya jawabannya bisa. Karena parameter kesempurnaan manusia terhadap makhluk Alloh yang lain adalah manusia memiliki apa yang tidak dimiliki oleh makhluk lain itu. Hewan bisa bicara? Tapi tak punya akal. Manusia bisa bicara, dan punya akal. Paham ya? Jadi setelah baca tulisan ini silakan bicara dengan apa saja, dengan makhluk apa saja, dan siap-siaplah anda diteriaki anak kecil sambil sesekali dilempari batu, “Orang gilaaa…. Orang gilaaa….”
Seharusnya, saya memuaskan rasa penasaran saya dengan ikut gerombolan pergi ke Lawu. But, eit eit eit. Itu gunung, dan saya belum pernah sekalipun kesana. Biasanya, yang pertama itu yang selalu bikin grogi, canggung. Dan lagi, itu gunung. Fisik saya, tubuh, chasing saya ini rentan terhadap dingin. Terutama di bagian-bagian tertentu yang tanpa bisa diprediksi bisa terkena apa yang disebut dengan sindrom ‘kebelet pipis akut’. Jadi kalau dingin saya terancam oleh makhluk yang bernama, dehidrasi. Ini penyakit kurang gaul yang pernah menggerogoti saya di semester 8 dulu. Jadi kalau saya mau ikut naik ke puncak Lawu dalam rangka ngobrol dengan Lawu, saya harus mempersiapkan banyak hal dalam waktu yang cukup singkat. Wah, nggak bisa kalau seperti ini. Iya kalau fisik saya oke sih nggak masalah. Kalau nggak oke, kan saya malah merepotkan gerombolan tadi. Lagian kan di gerombolan itu ada beberapa perempuan, termasuk, ah nanti. Masa saya harus kelihatan lemah di hadapan perempuan. Pantang bagi lelaki untuk lemah di hadapan perempuan. YEAAAHHH!!!
Saya juga belum punya perlengkapan untuk naik gunung. Dan akhirnya, yah, saya tidak bisa ikut gerombolan yang penuh dengan semangat dan dedikasi tinggi untuk Indonesia itu. Sampai bawa bendera Indonesia di puncak segala. Kurang nasionalis gimana coba? Saya memutuskan untuk menemani teman saya ke Semarang aja. Naik mobil duduk manis sambil ngemil.
Tapi karena manusia adalah makhluk yang sempurna tadi, saya memecah diri saya menjadi 3 bagian. Yang pertama, raga saya, saya ajak ke semarang. Kenapa raga saya? Penjelasannya nanti. Yang kedua, fikiran saya, saya ajak untuk mengurusi tulisan untuk sebuah majalah. Yang ketiga, ini bagian yang paling penting, hati saya, saya suruh mendaki ke gunung Lawu. Kenapa hati saya? Nanti. Ini memakai keahlian amuba. Membelah diri.
Gerombolan teman sudah berangkat dari Solo menuju Lawu memakai sepeda motor saling berboncengan, dan saat itu hujan. Agak sedikit khawatir dengan mereka, semoga mereka sehat-sehat saja. Mulai sendu di bagian ini.
Sebenarnya ‘hujan’ itu ‘aku’, yang menemanimu.
‘Dingin’ itu ‘aku’, yang memelukmu.
‘Basah’ itu ‘aku’, yang tak ingin jauh darimu.
Seberapa banyak rintik air hujan, sebanyak itulah doaku untukmu.
Pinjam tisu.
Saya ikut ke Semarang. Raganya yang ke Semarang. Berangkat tepat di tanggal 1 Suro pukul sekitar pukul sembilan pagi. Mampir sebentar di Soto Mbok Giyem Boyolali yang sepi jika warungnya tutup. Rame tenan ya Alloh. Emang enak sih, lezat. Makin lezat karena lagi-lagi ini ditraktir. Kita lanjutkan perjalanan lagi. Sopirnya oke. Lebih keren daripada pembalap formula1. Keren abis pokoknya. Was wus tapi tak membahayakan penumpang. Kita lalui jalanan dari arah Solo menuju Semarang.
Akhirnya, kita sampai di masjid Baiturrahman Semarang yang terletak di sekitar simpang lima Semarang yang berdiri tegak diantara mall dan komplek perhotelan. Cuaca cukup terik dan saya lupa membawa sunblock. Cuma bawa sarung saja. Karena kaki saya lagi kurang beres, jadi saya belum berani memakai celana panjang. Sebenarnya kalau dari segi fungsi lebih banyak sarung sih. Celana emang bisa jadi penutup aurat. Tapi lebih sempurna sarung. Sarung bisa jadi penutup aurat, alas setrikaan, dibikin kostum ninja, dan yang jelas sarung bisa dipakai di kepala tapi celana panjang tidak.
Kita istirahat sambil menunggu jemputan dari tuan rumah. Iya ternyata, teman yang akan kita jenguk ini yang menjemput kita sendiri. Tubuhnya segar bugar. Tertawanya juga renyah. Kelihatan sehat. Agak canggung dengan saya, karena kita memang jarang berkumpul. Setelah bercanda sebentar, kita melanjutkan perjalanan menuju kediamannya di daerahTelogosari sekitar 3-4 km ke arah timur dari masjid.
Sesampainya di rumah kita disuguhi berbagai macam makanan. Yang tak bisa terlupakan adalah tahu baso. Al Fatehah untuk penemu tahu baso. Wuenak tenan. Apalagi baru diangkat dari penggorengan. Kepulan asapnya sangat merangsang dan seolah memaksa saya untuk segera memasukkannya. Yeah… satu, satu, satu, satu, satu.. iya saya makannya satu kok. Satu, satu, satu, satu… Mulai agak penuh perutnya. Lalu muncul ‘wingko’. Ngerti wingko? Wingko itu, uhmmm, wingko itu sama kayak, uhmmm, wingko itu persis dengan wingko. Iya, itu. Tentu saja minuman sudah tersedia dengan ‘cool’. Karena cuaca terik, minuman, amblas pemirsa. Tahu baso, juga. Saya, kalap.
“Gimana ceritanya?”
“Gini mas. Pas mau pulang ke Semarang, pas sampai boyolali saya mengantuk, lalu entah seperti apa, saya sampai terjatuh sedalam 3 meter. Oh ingat, ini mas MU ya?” Tuturnya santai, sehat, sambil mengingat saya. Iya. Dia ketemu saya pas saya memakai jaket club sepakbola MU. Berarti saya fans MU? Nggak juga. Dia, harus menjalani operasi karena kecelakaan itu. Total perawatan selama 3 bulan. Satu setengah bulan di rumah sakit Solo, satu setengah bulan lagi dirawat di rumah sakit di Semarang. Dan menghabiskan sekitar 200an juta lebih.
“Biaya perawatan ada yang ditanggung oleh perusahaan tempat ibu bekerja. Dan masih harus operasi untuk memasukkan ini.” tuturnya sambil membuka kaos menunjukkan usus halusnya yang masih kelihatan. Kelihatan, karena sebagai jalan untuk membuang kotoran. Iya, dia buang air besar melalui usus halus yang dikeluarkan dari perut. Ada semacam kantong plastik di sana yang berfungsi untuk menampung kotoran itu. Usus halus dan kotorannya terlihat dengan jelas karena kantong plastik tersebut transparan.
“Kalau buang air normal lewat anus mungkin tiga minggu sekali. Karena ada usus di dalam yang harus dipotong, jadi buang air sementara lewat usus halus dekat perut ini.” Tambahnya. Saya diam. Untung hati saya sudah saya tinggal di Lawu bersamamu, karena kalau tidak sudah habis hati saya melihat teman saya itu. Dia sakit, tapi tak menderita. Sangat tegar. Biasa saja. Normal meski kemana-mana harus membawa kantong plastik berisi kotoran. Makannya, juga normal, banyak dan lahap sekali. Bandeng presto krispi yang dipadu dengan lalapan dan sambel disantap dengan nikmat. Masih bisa bercanda juga. Tak ada raut muka sedih, minder, atau apapun yang lemah-lemah. Saya mikir, “Ini apalagi Tuhan…”
Tiba di Solo, saya mencoba menghubungi yang baru turun dari Lawu. Apakah mereka sudah turun atau baru perjalanan pulang ke Solo. Ya, sedikit rasa khawatir boleh lah. Memang semakin sedikit yang kita tahu, semakin rentan kita mengalami kekhawatiran. Kemudian mendapat kabar bahwa semua sudah kembali dengan selamat meski tiba agak malam.
Dan saya kemudian melihat diri saya sendiri. Saya sering stress kalau penyakit gatal saya kumat. Penyakit yang entah datangnya darimana, dan sudah berkali-kali datang sejak kecil. Saya pulang dengan berjuta harapan. Saya niati, saya harus masuk menyelam.
Malam, saya mengambil posisi duduk di antara dua sujud. Memejamkan mata. Hati mengucap, “Laillaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhalimin..”
Aku menyelam di antara sel-sel tubuhku. Ku temui mereka satu persatu, ku salami, ku rangkul erat. Sambil terucap kata maaf, karena sudah menyakiti mereka satu persatu. Ku jumpai mereka. Ada yang sehat, tapi lebih banyak yang sakit. Banyak yang tidak terawat. Banyak yang sering diacuhkan. Bahkan disiakan. Awalnya mereka juga tak mau berbicara denganku, tapi dengan segala hormat ku pinta mereka untuk mendengarkanku.
“Maaf saudara-saudara ku yang budiman. Terutama yang di bagian kaki. Sebenarnya saya juga tak tahu kalian kenapa bisa terserang sampai seperti itu…”
“Itu karena kamu bodoh!” salah satu sel menudingku.
“Iya!” timpal beberapa yang lain.
“Iya, tapi maaf saya memang taktahu.” Jawab saya sedih hampir menangis.
Lalu datang salah satu sel ,bentuknya cukup besar. Mungkin dia delegasi bagian hati.
“Tak apa anak muda. Yang penting kamu sudah mau ke sini dan meminta maaf. Sekarang saya jelaskan. Sebenarnya kamu bukan sakit. Gatalmu ini bukan penyakit. Ini tombol on/off yang diciptakan sebagai pengingat, pemberi peringatan. Jadi kalau sistem di tubuhmu, perbuatanmu, laku hidupmu, cara berfikirmu, ada yang kacau, tinggal dipencet tombol on maka gatalmu kumat. Kamu lebih banyak bersyukur, karena tombol itu tak setiap hari di tekan dalam posisi ‘on’. Sekarang cari tombol off dan tekan.”
Hari itu, kalian mendaki, esoknya aku menyelam, dalam diam 1 Muharram.
Komentar
Posting Komentar