Akan saya beri sedikit pengantar, supaya apa yang anda pahami terhadap catatan ini nantinya tidak menimbulkan kesenjangan berfikir. Yang pertama saya mohon teman-teman semua untuk menyumbangkan sedikit senyum untuk saya. Energi senyum dari teman-teman itulah yang nantinya akan sedikit saya cicipi guna mendukung kelancaran saya dalam menulis catatan ini. Ya, saya butuh bantuan dari teman-teman. Karena catatan yang berikut ini adalah salah satu catatan yang cukup berat untuk saya tuliskan. Ada rasa yang menahan saya untuk tidak melanjutkan catatan ini. Banyak pertimbangan, karena ini menyangkut keseimbangan alam semesta. Ada indikasi bahwa jikalau saya tetap membulatkan tekad saya untuk terus maju menyelesaikan catatan ini maka planet Mars sana akan mengalami gempa. Dan para penghuninya akan segera menyelamatkan diri masing-masing menuju bumi. Kenapa ke bumi? Karena penyebab bencana tersebut dari bumi. Itu yang pertama.
Kemudian yang kedua, saya mohon juga agar teman-teman memanjatkan doa untuk saya agar saya diberi keluasan cakrawala pengetahuan, kedalaman cara berfikir, dan kejernihan obyektif. Karena bekal untuk melanjutkan catatan ini setidaknya mencakup tiga hal tersebut. Tanpa itu, saya tak akan mampu. Maka, saya harap keihklasan teman-teman semua untuk mendoakan diri saya agar tak mengalami kesesatan demi kesesatan. Contoh salah satu kesesatan itu adalah, bahwa sampai sekarang saya masih merasa berusia 22 tahun. Dan ini juga bisa menyebabkan makhluk Mars ramai berduyun-duyun datang ke bumi. Karena mereka tidak mau jika ada mahluk di alam semesta ini yang menyaingi mereka. Yang boleh merasa dirinya awet muda hanyalah makhluk Mars. Selain itu tidak boleh. Maka jika ada satu makhluk saja yang merasa dirinya awet muda, mereka akan segera melakukan demontrasi besar-besaran. Jadi, sekali lagi saya mohon keikhlasannya. Bukan apa-apa, hanya menjaga keseimbangan kosmos semesta saja.
Sekarang saya beri waktu untuk tersenyum dan memanjatkan doa untuk saya. Tak perlu lama-lama. Dua menit cukup. Mulai dari, sekarang.
Terima kasih. Dengan demikian maka ijinkan saya untuk menulis catatan ini.
Ceritanya, di Sabtu pagi menjelang siang yang cerah, saya kembali menjalani aktivitas mengajar di sebuah sekolah alam. Namanya, Sekolah Alam Bengawan Solo. Anda boleh menganggap sekolah itu ada, atau anda menganggap sekolah itu hanya khayalan saya semata silahkan. Ini juga untuk menjaga stabilitas imajinasi anda. Sekolah tersebut terletak di bantaran sungai Bengawan Solo. Sebuah sungai yang tentu anda kenal, bahkan namanya terngiang sampai ke Jepang. Iya, saya sendiri sewaktu kecil sangat gemar sekali mandi di sungai. Orang jawa menyebutnya 'Kali'. Kalau ada yang bilang bahwa anak-anak jaman sekarang lebih menyukai bermain game portable, game electronic, saya rasa tidak semua anak demikian. Di sekolah alam ini para murid masih sering bermain dengan air sungai. Katanya bermain sambil belajar. Kata teman saya, waktu kecil memang saat yang tepat untuk 'bermain sambil belajar', tapi kalau sudah menikah nanti, adalah saat yang tepat untuk 'bercinta sambil belajar'. Ingin rasanya saya mencampurkan racun tikus ke minuman teman saya itu.
Saya juga tak tahu kenapa hidup saya bisa melanglang sampai sejauh ini. Sampai kenal ini itu yang salah satunya juga kenal dengan para pengurus sekolah alam bengawan solo ini. Yang sampai akhirnya ada pembicaraan yang menyeret saya untuk sedikit terlibat membagi ilmu bermain musik perkusi kepada anak-anak usia SD yang belajar di sekolah alam ini. Selain saya ada beberapa anggota Kopasus Kandang Menjangan yang juga terlibat. Mereka membagi ilmu baris-berbaris dan bela diri karate. Untung rambut saya sudah pendek. Jadi kalau yang tidak tahu, mungkin saya juga dianggap anggota Kopasus. Pasukan elite terbaik nomer 3 di dunia itu. Bangga lho Indonesia punya mereka. Iyalah. Secara fisik kan saya Kopasus-able. Saya kan tinggi, kekar, garis wajah tegas, sorot mata tajam, cara berjalan tegap. Iya iya. Senyumnya nggak usah menghina gitu bisa nggak? Saya ikan asin-genic.
Iya saya disana didaulat untuk membagi ilmu tentang perkusi. Semacam pelajaran tambahan saja. Bagi saya, saya tidak sedang mengajari mereka ini itu, tapi hanya menemani mereka bermain. Sarana prasarana dan suasana di sekolah ini memang cocok sekali untuk belajar secara praktikum. Pokoknya sip. Tempatnya seperti tempat-tempat di negeri khayalan. Ada tanaman, termasuk tanaman obat, ada gazebo, ada kolam lelenya juga menjadi satu. Gazebo-gazebo kayu tersebut diberi nama dengan nama-nama pulau di Indonesia. Yang saya tahu cuma gazebo bernama Jawa dan Papua. Jadi kalau saya tanya,
"Ini nanti mau belajar dimana?"
"Di Jawa aja mas."
"Jangan. Bosen mas. Di Papua aja."
Kalau anda tidak paham dengan kondisi ini maka anda akan mengira saya dan anak-anak sedang merencanakan perjalanan keliling pulau-pulau di Indonesia. Tapi kalau memang hal itu harus terjadi secara nyata, kenapa tidak.
Mereka, anak-anak yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Dan anak-anak yang kreatifnya minta ampun. Jarang sekali bisa diam. Mereka tidak akan mau diajak belajar jika tidak ada unsur bermain disana. Beberapa pertemuan awal, saya dibuat mati kutu. Saya bingung harus bersikap seperti apa dengan anak-anak ini. Jelas sekali berbeda dengan sekolah formal yang dulu pernah saya hadapi. Mereka lebih bebas. Pagar batas mereka lebih luas. Karena secara fisik tak pernah ada tembok pembatas seperti ruang kelas layaknya sekolah-sekolah formal. Apa secara psikologis, ruang belajar mempengaruhi cara belajar dan output belajar? Yang fakultas psikolgi dan fakultas ilmu pendidikan mungkin bisa membantu saya. Karena saya tidak punya syarat dan rukun untuk menjadi guru ataupun psikolog anak. Tidak, saya sedang tidak mengagumi sekolah alam ini. Saya juga tidak mengatakan bahwa sekolah alam lebih baik dari sekolah formal ataupun sebaliknya. Yang saya lakukan hanya mencoba mencari nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa yang saya temui.
Dan saya benar-benar bingung. Materi teoritis tentu mereka, sebagai anak-anak akan merasa cepat bosan. Padahal ilmu perkusi itu salah satu ilmu dasar yang diperlukan untuk mempelajari berbagai ilmu musik yang ada. Begitu teorinya. Jadi misalkan ingin belajar biola, juga harus menguasai ilmu perkusi. Karena itu terkait dengan ketukan dan nilai nada nantinya. Pola ritmis bahasanya. Ini kalau saya teruskan akan menjadi kuliah singkat tentang musik. Kalau dalam ilmu baca tulis Al-Quran ada yang disebut dengan ilmu tajwid. Ketukan dan panjang pendeknya harus sesuai aturan. Perkara nadanya, solmisasinya bagaimana itu terserah. Masing-masing kultur tentu berbeda. Kita memang dibuat berbeda, tetapi pasti tetap ada yang menyatukan kita. Paham ya?
Nah karena saking bingungnya, lantas tidak ada jalan lain selain saya menjadi bagian dari mereka. Saya, dan anak-anak itu satu kesatuan. Tidak boleh dipisahkan. Kalau dipisahkan saya nanti yang akan kacau sendiri. Kasarnya, guru dan murid itu satu. Kalau dipisahkan aneh. Kalau tanpa murid, batal ke-guru-anmu. Kalau tanpa guru, batal ke-murid-anmu. Jadi yang sekarang jadi guru jangan berkacak pinggang,
"Lha aku kan guru. Kamu kan murid."
Yang murid juga nggak perlu minder, "Iya, aku kan hanya seorang murid. Dia kan guruku."
Kalian itu satu. Ngerti ya? Yang murid, hormati gurumu sewajarnya saja. Yang guru jangan meremehkan murid. Iya sih ada yang bilang, kalau guru kan dapat tunjangan sertifikasi, sedangkan murid kan tidak. Iya begitu juga boleh. Tidak masalah bagi saya. Dua kakak saya juga guru di sekolah formal. Saya paham. Cuma, ingin saya katakan bahwa, disini, yang, menggaji, saya, bukan negara, bukan wali murid, tapi langsung anak-anak. Jadi saya tidak ada urusan dengan negara. Setiap selesai pelajaran, salah seorang dari mereka mendatangi saya dengan menyodorkan amplop.
"Mas ini."
Jujur saya shock. Bener-bener shock. Bukan. Saya tidak sedang membicarakan nominal. Karena saya sedang melatih ilmu syukur saya. Ini masih tahap loading, belum buffering. Berapapun uang yang saya dapatkan, rasa syukur saya tidak boleh berbeda. Harus sama. Mau dapat lima ratus rupiah sehari atau lima ratus ribu rupiah sehari, rasa syukur dan tingkat kebahagiaan saya harus sama. Ini pelajaran untuk saya. Perkara nanti gagal atau berhasil, itu urusan nanti. Saya shock karena mereka yang menggaji saya. They are my boss meskipun mereka anak-anak. Gaji itu hasil iuran mereka.
Setelah saya klop menjadi satu dengan mereka, maka cara berfikir saya juga pasti menjadi jalinan yang harmonis dengan cara berfikir mereka. Cuma ya itu, kalau mereka sudah kreatif gitu, saya sendiri yang gagap. Pernah satu kali,
"Ini nanti seperti ini. Prek Dung Prek DungDung Prek DungDung Prek DungDung ya. Tirukan ya pelan-pelan."
"Mas ganti aja gini. Es Dung Es DungDung Es DungDung Es DungDung."
Maka terciptalah 'tepuk Es Dung'. Mereka sendiri yang bikin. Saya hanya memberikan stimulus saja. Guru yang baik adalah yang selalu memacu kreatifitas muridnya. Kalau muridnya masih berfikiran copy paste seperti robot berarti gurunya juga copy paste dulu belajarnya. Jadi ini juga PR buat para pendidik. Iya, nama saya kan Didik. Secara tidak langsung juga saya terlibat dalam dunia pen-Didik-an Indonesia.
Namun bukan itu semua yang ingin saya ceritakan. Itu hanya pengantar basa-basi semata supaya catatan ini kelihatan bermakna saja. Sederhana. Begini. Suatu kali saya datang ke sekolah dengan memakai celana pendek. Anak-anak mengejek saya. Karena mungkin memakai celana pendek adalah hal yang kurang pas bagi mereka.
"Hiiiii... mas Didik pake celana pendek.." mereka memergoki saya.
"Maaf, kaki mas Didik sakit."
"Kenapa mas?"
Lalu saya perlihatkan kaki saya.
"Hiiii.. jijik jijik mas. Mas jijik."
Iya kaki saya mengalami semacam lupus kulit. Kehilangan antibodi kulit di bagian kaki. Jadi gampang terkena gatal lalu kemudian menyebar terkadang juga sampai berair. Bisa disebut borok. Yang bikin kurang nyaman itu kalau berair. Bergerak nggak enak, tidur juga nggak enak. Kata ibu ini penyakit sewaktu saya kecil. Dan memang, bentuknya menjijikkan. Sangat menjijikkan. Jijik. Tapi saya sendiri nggak boleh ikut-ikutan jijik. Saya memahami bahwa ini adalah seni ukir tingkat tinggi. Tapi saya juga tak boleh terlalu lama mengagumi penyakit ini. Ikhtiar harus jalan terus, sampai akhirnya sekarang mulai mengering. Bentuknya seperti ukir-ukiran kayu. Saya sendiri tidak boleh memahami bahwa sakit itu penderitaan. Sakit itu caraNya menyehatkankan kita. Miskin itu caraNya mengkayakan kita. Dan mati itu caraNya menghidupkan kita.....
Dan sejak saat itu mereka memanggil saya, Mas "Jijik" Wahyu Kurniawan.....
Dan saya secara tidak langsung juga terlibat dalam dunia Pen-Jijik-an Indonesia.....
Komentar
Posting Komentar