Langsung ke konten utama

Akomodasi Kanjeng Nabi

Santai saja ya. Karena ada yang mengangap Senin itu hari yang agak gimana gitu. Iya sih kalau nganggepnya setiap hari adalah kerja saya rasa kok ketemu hari Senin ya biasa saja. Ya yang sekolah apa yang ada di instansi tertentu mau nggak mau ya harus ikut upacara bendera. Iya itu ritual yang sampai sekarang saya masih sulit untuk mencernanya. Sekarang gini. Kalian bangun pagi-pagi terus mandi. Abis mandi kan badan otomatis seger, wangi, rapi. Terus tiba-tiba sampai di sekolah kamu dijemur, keringetan, dan berlinanglah air di sekitar ketekmu yang mengakibatkan stabilitas bau tubuhmu mengalami gangguan yang signifikan.  Makanya deodorant laris. Bukan berarti saya menyarankan anda untuk anti-air lho. Tapi mbok ya dipikir lagi. Itukan namanya menyia-nyiakan mandimu. Hati-hati lho. Jangan suka menyia-nyiakan sesuatu, apalagi menyia-nyiakan orang yang mencintaimu.

Lagian, upacara kan nggak ada hubungannya dengan kelulusanmu yang itu juga berarti tidak ada hubungan dengan intelektualitas akademismu. Yang tahu sejarahnya upacara bendera diadakan tiap Senin siapa? Ntar saya diceritain kronologisnya ya. Tapi, upacara bendera itu memang ada baiknya kok. Untuk melatih kedisiplinan dan fisik para siswa. Berasa nulis untuk majalah remaja. Bahasa bisa ringan gini sih. Biasanya kan tulisan saya berat dan sulit dicerna. Karakter tulisan saya berbobot kan? Meskipun saya kurus. Dan sangat menginspirasi kalian kan? Lhoooo, saya e. Nggak, nggak, bercanda. Terinspirasi atau tidaknya kalian itu bukan tanggung jawab saya. Kewajiban saya menulis karena ini anugerah nikmat yang harus saya syukuri. Biar ditambah kenikmatan menulisnya. Kalian bisa memilih siapa yang menginspirasi kalian. Toh, meskipun saya terinspirasi dengan satu tokoh misalnya, itu tidak serta merta berpengaruh sepenuhnya di kehidupan saya. Misalnya saya terinspirasi Superman. Tidak serta merta saya kemana-mana memakai celana dalam di luar. Atau saya terinspirasi oleh Spiderman kemudia saya bobo'nya pake jaring kayak di pantai. 

Saya tahu, kalian sudah punya panutan masing-masing. Dan kalian yang Islam tidak ada panutan yang lebih baik selain beliau, Kanjeng Nabi yang sekarang sedang tersenyum. Iya kan? Iyalah. Saya tahu kalian kok. Meskipun kalian cinta mati mengidolakan banyak tokoh, tapi hati kalian terpaut sama Kanjeng Nabi. Iya to? Hati kalian nggak bisa berbohong. 

"Kanjeng Nabi..."
"Apa le?" 
"Itu sekarang banyak umat mengidolakan selain panjenengan. Ada yang mengidolakan ustaznya, yayasannya, mahzabnya"
"Terus?"
"Iya apa nggak bahaya itu?"
"Aku juga nggak meminta untuk diidolakan. Kalau mau ikuti aku, kalau tidak ya nanti resiko ditanggunglah. Aku lebih tahu darimu. Aku merasakan hati mereka berteriak-teriak memanggil-manggilku. Tenang saja."

Herannya saya terhadap diri saya sendiri adalah, saya juga belum bisa sepenuhnya mengikuti jalannya Kanjeng Nabi. Saya cuma baru 'mencuri' satu ilmunya saja. Mencoba berjualan dengan berkata apa adanya. Harga beli saya segini silahkan anda mau ngasih untung saya berapa. Itu saja sudah membuat saya kadang linglung kayak orang gila. Ini gimana caranya bisa hidup kalau seperti ini saya. Sudah tahu semua kan cara berjualan Kanjeng Nabi. Iya sih, Nabi kaya, atau tepatnya pernah kaya. Ingat ya, pernah kaya. Setiap saya mikir, rasanya nggak kuat hidup kayak gitu. Pantesan tidak semua manusia disuruh Tuhan menjadi nabi. Lha wong jalan hidupnya beratnya kayak gitu kok. Tapi ya saya tahunya cuma itu saja. Kalau ikhwan-ikhwan yang disana itu kan jelas lebih baik daripada saya. Yang pakaiannya rapi-rapi pakai celana bahan dan berkemeja itu. Apalagi yang pakai baju koko atau kemeja batik. Sudah tampan, rapi, sholeh lagi.

Di suatu sore, Kanjeng Nabi menemui si fulan yang memanggil-manggil beliau tanpa henti.

"Kanjeng Nabi saya mau ikut panjenengan."
"Beneran? Yakin? Kuat kamu?"
"Insyaallah kuat."
"Sudah pernah ditindih batu sambil dijemur di bawah terik matahari?"
Si fulan diam tidak menjawab.
"Siap ditinggalkan orang-orang yang sangat kamu sayangi?"
Si fulan melongo. Matanya hangat.
"Siap tidak dianggap apa-apa? Sekali dianggap, dianggap sebagai orang gila. Siap?"
Si fulan, entahlah.
"Sudah nggak usah nangis. Aku tahu. Kamu itu cukup mengikuti jalanku semampumu. Menikahlah dulu. Aku menikah."
"Dengan Bunda Khadijah yang jan..."
"Ssstttt. Kamu ikuti saja. Menikahlah dulu. Menikah. Aku tahu kamu. Ikuti semampumu saja. Kamu nggak mau kan menikah sama janda? Aku tahu kamu le. Aku tahu kondisi umat-umatku sampai sekarang. Pokoknya, kamu panggil, Aku datang. Kamu tak memanggil, Aku yang menghampirimu..."
"Lho kok malah panjenengan yang bawa oleh-oleh Kanjeng Nabi?"
"Sudahlah. Kalau aku sudah datang, apalagi yang kamu risaukan le?".
"Kanjeng Nabi kalau besok aku di neraka, jangan lupa jenguk aku nggih. Duh Kanjeng Nabi, aku ingin tetap melihat senyum baginda meski dari dasar neraka."
"Sssttt. Kamu upacara bendera saja nggak kuat kok, apalagi di neraka. Nggak mungkin kamu di neraka." Kanjeng Nabi tersenyum..
"Iya Kanjeng Nabi, memanggilmu, aku tak perlu memikirkan bagaimana akomodasimu nanti. Karena terkadang muncul keyakinan, masihkah Allah memperhatikanku yang sering lalai ini? Maka tak ada cara lain selain memanggilmu Kanjeng Nabi. Berharap syafaat panjenengan untuk leluhurku dan semua keturunanku di setiap hidup dan matinya...." si fulan menyeka air matanya dan bergegas berniaga tetap dengan cara yang sama. 

"Apa kalau saya tidak mengambil untung sudah pasti berarti saya rugi?" kata si fulan tersenyum. Senyumnya lebih lepas melebihi orang gila yang tertawa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...