Sekitar Februari tahun 2020, sebelum Indonesia benar-benar dinyatakan terinfeksi Corona, Teras Baca ada. Ceritanya waktu itu, sepanjang jalan di depan kontrakan kami, oleh pemerintah daerah setempat disulap menjadi arena Car Free Day. Iya. Jalan yang lebh kurang memiliki lebar 4 meter, yang kalau ada dua mobil papasan, salah satu harus mengalah, pada setiap hari Minggu ditutup. Tidak boleh ada satu kendaraan bermotor yang lewat. Secara teknis sama dengan apa yang diterapkan di jalan protokol di beberapa kota di Indonesia. Ini jelas mendatangkan peluang secara ekonomi bagi penduduk desa Purbayan dan sekitarnya. Masyarakat banyak yang memanfaatkan peluang untuk berdagang. Termasuk, istri saya. Sambil nyambi jualan apa saja barang yang layak dijual. Salah satunya buku anak dengan harga di bawah sepuluh ribuan. Merespon kesempatan itu, kami berdua diskusi kecil. Apa mungkin ya kami membuat semacam tempat pustakan kecil dengan buku-buku dengan harga di bawah sepuluh ribuan itu? Free...
Cerita berawal dari tas slempang kesayangan yang dibrakoti tikus. Kan entut ya? Jadi keluarga kami itu belum beres urusan sama tikus. Padahal itu tas slempang favorit. Buatan tangan berlabel TIT. Itu pernah aku ceritakan dulu kalau kalian ingat. Pemiliknya seorang mahasiswa ISI Solo yang berasal dari Pati. Satu daerah denganku. Garapannya bagus. Kuat awet. Tahan lama. Dihajar panas hujan oke saja. Dan kenapa bisa dibrakoti tikus. Itu juga salahku. Tas slempang itu aku jadikan tempat penyimpanan mie instan. Karena itu satu-satunya tempat aman untuk menyimpan. Pikirku. Aman dari tikus dan aman dari Kya, anak pertamaku. Itu bocah umur belum tahun ketiga tapi kalau lihat mie, baik itu instant maupun non instant, sudah kayak ketemu sesuatu yang harus segera diganyang. Nahas. Di suatu pagi, istri mendapati tas itu sudah sobek bagian depannya. Mie instant rebus di dalamnya, jelas. Sudah berlubang bungkusnya dan berkurang pula. Dan bekas brakotan tikusnya kentara. Hah! Brengsek. Hidu...