Jam-jam untuk memulai menulis. Waktu yang tepat untuk kembali ke tempat di mana aku bisa menjadi apa saja siapa saja dan bagaimana saja. Atau dalam skala radikalnya, aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi Tuhan, dalam tulisan. Asik. Tingkat langit mulai muncul ini. Ya, wong ora dikon dadi Tuhan wae menuso kadang secara langsung berlaku sebagai Tuhan bagi manusia yang lain. Dengan skala dan konteks masing-masing medan hidupnya. Contoh? Masih tanya contoh? Hadapi itu cermin.
Maka aku pilih untuk menjadi Tuhan sementara waktu saja. Itu pun dalam ruang lingkup kesempitan imajiku. Bukan yang sebenarnya Tuhan. Dan tentu saja tidak perlu diperdebatkan. Wong ini tujuannya untuk diriku sendiri kok. Cara-cara saya. Gaya-gaya saya. Ada ruginya juga situnya nggak nanggung kan?
Kalau berkenan, cukup baca saja. Tidak perlu dipikir. Atau kalau mau membalas ya nulis saja. Penak, enteng, ora pethenthengan kaya udun.
Tetapi saya juga tetap perlu meningkatkan kewaspadaan diri terhadap sikap dan pilihan hidup saya sendiri. Bukan apa-apa. Sekarang saya sudah diijinkan oleh Beliau untuk merasakan hidup sebagai manusia dengan predikat Bapak dari dua anak. Mau tak mau saya harus siap menemani langkah-langkah kecil mereka menyusuri tapak tangga kehidupan ini. Bagi saya, ini tugas yang sudah cukup berat. Tidak mudah. Apa lagi selama ini saya belum merasa menjadi 'acuan' atau percontohan yang mumpuni bagi anak-anak saya. Apa iya, anak saya harus mendengar bapaknya dulu kuliahnya sangat lama. Apa iya, anak saya harus mendengar bapaknya dulu paling susah diatur, siapa saja dieyel, termasuk Tuhan. Apa iya, anak saya harus mendengar bapaknya dulu sangat kurang cocok berurusan dengan birokrasi yang ruwet bin njlimet. Dan apa iya, anak saya harus tau bapaknya dulu nggak punya kemampuan apa-apa yang bisa dibanggakan?
Itu terus menghampiri kepala saya setiap detik selama nafas ini masih ada. Anak-anak saya butuh suri tauladan. Butuh proyek percontohan. Butuh arahan-arah praktis bagaimana hidup harus dihadapi. Padahal era mereka bakal beda dengan era yang saya lakoni. Situasi baru mengharuskan solusi baru.
Asyiknya adalah saya dan anak-anak saya sama-sama tidak tahu menahu bakal seperti apa era yang akan datang. Karena sama-sama tidak tahu maka saya putuskan untuk bersama-sama mereka mencari tahu. Tentang apa pun yang baru. Syukur-syukur menemukan sesuatu yang bakal punya manfaat dengan skala-skala tertentu. Nggak harus luas dan banyak. Sedikit juga nggak papa asal ada manfaatnya.
Tetap dibarengi dengan kewaspadaan. Protokol yang saya terapkan sekarang dan mungkin selamanya adalah protokol kewaspadaan. Tidak bisa tidak. Itu menejemen resiko yang harus saya pegang.
Karena baru saja terjadi di keluarga saya. Ceritanya begini.
Entah kapan saya memulai kebiasaan ini. Seingat saya ini berlaku ketika anak pertama saya, Cakrakya Cahaya Cahayu lahir. Tau kan persenjataan untuk para bayi. Ada armor bernama Pampers dan Minyak Telon. Satu untuk eek satu untuk menjaga kehangatan tubuh.
Satu pagi, rambut saya terasa kering dan awut-awutan kalau agak panjang. Tipe rambut yang susah diatur kayak orangnya. Apa lagi setelah keramas, makin kering ini rambut. Ora penak disawang. Sedang saya tidak terlalu nyaman dengan rambut yang terlalu pendek. Serba bingung. Mau pakai minyak rambut seperti pomade, nggak nyaman juga. Terlalu lengket. Rasanya seperti menyunggi lem.
Tau-tau terbesit ide menggunakan minyak telon sebagai minyak rambut. Asal pakai saja. Sialnya, saya nyaman. Bener-bener paling pas. Nggak lengket, nggak kering, dan tetep membuat diri ini good looking. Waduh, seneng dong saya.
Satu hari setelah bangun tidur istri saya nyeletuk, "rambutmu kok wangi? Ini bukan wangi shampo lho.". Saya sendiri juga heran. Kok bisa sewangi ini. Begini kronologinya. Sekali lagi ini berlaku untuk saya dan rambut saya ya. Bukan untuk panjenengan.
Setiap pagi, sehabis mandi, sebelum berangkat ke 'tempat bermain' saya selalu mengolesi rambut dengan minyak telon. Sepulangnya, di sore hari, saya mandi keramas. Begitu bangun tidur, wudhu rambut basah, efeknya adalah rambut menjadi wangi. Bukan wangi minyak telon, bukan pula wangi shampo. Mungkin perpaduan antara kedua wewangiannya. Wangi jenis baru. Wewangian hibrida. Wangi gitu aja nek bingung. Enak kan saat bangun tidur, tiba-tiba rambut jadi wangi? Kan biasanya pas bangun tidur bau-bau yang muncul semacam perpaduan Iler kering dan abab mubal? Iya kan?
Ini yang saya bilang perlunya waspada tadi. Saya lengah di titik ini. Saya nyaman dan bahagia setiap pagi memakai minyak telon sebagai pengganti minyak rambut. Tetapi ada momentum anak saya melihat aktivitas saya membuka tutup botol minyak telon, menuangkan ke telapak tangan, dan mengoleskan ke rambut.
Pas pulang dari 'tempat bermain' siang tadi saya kaget mendapati rambut anak saya yang berkilau. Kemilaunya menyilaukan mata. Sampai ke mata batin silaunya.
"Kakak pakai minyak apa Bun? Minyak urang-aring?" Tanyaku kepada istri.
"Dia pakai minyak telon!"
"Ha?"
"Iya! Tiru-tiru kamu. Disok neng rambut. Koyok keramas!"
Begitu penting suri tauladan ya kak?
Komentar
Posting Komentar