Langsung ke konten utama

Seberang Jalan Wedangan Pak Sunar

"Wedangan ngarep WB lawas piye?"
Adit, temen satu angkatan kuliah di Etnomusikologi ISI tahun 2004 itu menentukan lokasi untuk kami bersua di malam itu. Bukan dadakan tapi semacam rencana fleksibel yang sudah diagendakan siang sebelumnya. Seperti sudah tersusun rapi, rasanya hari itu saya kembali ke masa silam. Masa di mana saya mulai ketemu banyak makhluk yang aneh-aneh. Ajaibnya mereka hidup. Hidup mereka pun ajaib. Sebagian lagi keajaiban itu mereka tebar agar bermanfaat bagi orang banyak.
"Wedangan ngarep WB lawas" merujuk pada satu tempat yang bagi saya tentu saja penuh romantisme. Penuh dengan kenangan. Pun termasuk kenangan yang dipenuhi impian.
Siang hari sebelumnya, saya menerima kabar, bahwa Pak Bayu, begitu saya akrab memanggil beliau, berpulang. Salah satu kerabat dari kerabat keraton Mangkunegaran itu kalau dirunut, beliau adalah salah satu manusia baik yang saya anggap sebagai guru. Ada nama panjang beserta gelar, tapi beliau sepertinya lebih seneng dipanggil Pak Bayu. Memang, sudah sekian tahun saya tidak pernah lagi ketemu dengan beliau. Pertemuan intens saya terjadi circa 2006. 
Ketika itu Indra Permana (Mas Man), yang pertama kali mengajak saya blusukan ke kawasan keraton Mangkunegaran wilayah sayap Barat. Gerbang barat. Untuk apa? Untuk nunut nggarap tugas kuliah. Kebetulan ada tugas membuat acara radio. Jurusan kami memang aneh. Apa-apa dipelajari. Sampai mumet kepala ini. Awalnya dulu saya pikir jurusan ini tidak jelas. Tapi saya pikir lagi sekarang, apa ada jurusan di universitas yang jelas? Bukannya semuanya hanya menawarkan ketidakjelasan saja? Lulusannya, berapa prosentase yang jelas nasibnya dan yang tidak jelas nasibnya?
Nah, di kediaman Pak Bayu ini, ada ruangan yang cukup lengkap piranti kebutuhan rekamannya. Meski sederhana, tapi di tahun-tahun itu alat yang ada sudah cukup layak. Kami nunut di kamar Mas Bayu. Putra pertama Pak Bayu. Asik ya. Satunya Pak satunya Mas. Di kamar mas Bayu ini kami nyuwun tulung agar dibantu, difasilitasi mengerjakan tugas membuat acara bertema musik etnik ini. Dari situlah saya sering glibat-glibet di sana. Kadang juga nunut madhang. Sering tidak sengaja ketemu dengan tamu-tamu Pak Bayu juga. Lebih tepatnya sering melihat beliau menemui tamu-tamu. Mungkin beberapa ada orang penting. Bahkan penting banget. Satu yang saya ingat, bangunan kediaman Pak Bayu ini punya banyak pintu. Konon dulunya sering dipakai untuk acara berburu keluarga Keraton. Jadi semacam bangunan semi permanen, atau tenda portable, mungkin jenis teknologi arsitek yang cukup canggih pada jamannya karena konon sering dipakai untuk berpindah tempat dalam waktu yang singkat. Itu kalau saya tidak salah ingat.
Ada satu momen di mana saya, Indra, dan Pak Bayu ngobrol. Ya tidak bisa lepas dari ingatan adalah betap beliau banyak ilmunya. Salah satunya, tentang betapa mekanisme santet itu sederhana. Dan tujuan awal santet ada, tidak digunakan untuk hal-hal jahat. Kalau saya pikir justru santet itu metode pengobatan. Ya namanya obat, kalau dosisnya terlalu berlebihan kan juga bisa jadi alat pembunuh kan? Tetapi di luar itu saya salut sama beliau yang berhasil menemani ketiga anaknya sampai hari Rabu Pahing 28 Oktober itu tiba.
Saya sebenarnya pengen datang ke lokasi di gerbang barat Mangkunegaran itu. Tapi agak berat. Karena bisa jadi saya sesenggukan di tempat. Jadi saya pilih untuk memutari wilayah keraton Mangkunegaran sampai lebih kurang 7 kali putaran. Jangan ditanya alasannya. Saya juga nggak ngerti. Pokoknya saya ingin memberikan penghormatan terakhir. Dan itu cara saya.
Mas Bayu punya dua adik. Satu, saya panggil beliau Mas Ryo. Satu lagi Mas Banu. Mas Ryo ini yang punya studio musik WB (West Brother). Dulu lokasinya di jalan Gatot Subroto seberang wedangan Pak Sunar. Studio ini saya angkat untuk tema skripsi saya. Kalau nggak ada studio ini beserta para punggawanya mungkin sampai sekarang saya belum lulus-lulus atau mungkin sudah diusir dari kampus. Sekarang lokasinya sudah berpindah tempat di Gerbang Barat Puro Mangkunegaran alias kediaman Pak Bayu. 
Jadi ketika malam harinya Adit mengajak saya untuk wedangan di seberang WB lawas saya tak bisa menolak. Itu bukan sekedar ajakan. Tapi semangat hidup. Semangat untuk berbuat baik. Semangat untuk menjadi, syukur-syukur suri tauladan yang baik bagi anak-anak saya. Sebagaimana saya melihat sosok Pak Bayu yang menurut saya berhasil menemani anak-anak yang memiliki semangat suka berbagi. Entah apa bentuk dan bagaimana caranya.
Malam itu saya jadikan titik balik. Bukan untuk mengumpulkan ingatan tentang berapa mantan saya, tetapi untuk menjadi pemantik, bahwa seberang jalan wedangan Pak Sunar memiliki semangat hidup yang abadi dan tak pernah padam.
Sugeng kondur, sugeng tindak Pak Bayu... 
Maturnuwun...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...