Langsung ke konten utama

Yang Pertama Setelah Beranak Dua

Seperti judul, tulisan tetiba saja njedul. Pengen sekali mendokumentasi kembali cerita harian sebagai bahan cadangan warisan untuk keturunan. Ho'o. Semakin kesini jadi semakin lebih berani mengisi hari-hari menjadi makhluk yang bermanfaat dan bermartabat. Martabat Terang Bulan. Iya karena setelah sekian lama mengais-ais potensi ternyata nggak nemu juga. 
Untungnya Tuhan membuat software untuk saya sebagai salah satu makhluknya yang lucu. Lucu banget. Banget lucune. Ketika saya berdoa minta diberi momongan, sama Tuhan nggak dikasih-kasih. Yeeeyy, kitanya hampir hilang kepercayaan sama Beliau dong yak. Begitu udah nggak minta-minta lagi terus dikasih. Ya sewajarnya bersyukur ya bersyukur aja. Masa mau protes lagi, "piye sih, kan wes gak nyuwun? Telat!" Kan gak lucu ye kan? 
Anak udah ada, giliran minta rumah nih ceritanya, eh malah istri dibikin hamil lagi. Ye kan? Bercandanya Tuhan suka offside gitu kan ye? Gimana akunya nggak ngakak tralala?
Jadi pekerjaan saya tiap hari sejak saat itu yang gembira-gembira aja. Kalau hati dan batin ini dipindai, tulisannya "wkwkwkwkwk". Dan ini akan menjadi jenis tertawa terpanjang yang pernah ada. Sepanjang hidup saja. 
Kalau ada yang menjumpai saya, ngajak ngobrol, nggibah, bahkan nginvestigasi bau-bau korupsi, percayalah itu hanya di luar saja. Batin dan hati saya sudah nggak di planet ini. Nggak ada saya urusan dengan perpecah belahan di antara kalian. Kalian mau eker-ekeran, kerahan, dalam berbagai skala monggo. Atau yang mau menggelapkan uang dan tidak ada rasa bersalah sama sekali, monggo. Lagian menggelapkan uang itu gampang. Tinggal dimatikan saja lampunya. Lampu itu letaknya di hatimu. Klik mati.
Ya kalau ada kesempatan, paling saya juga bakal milih menggelapkan daripada menerangkan. 
Kalau mantra saya sih gini, tiap mau berbuat yang menurut saya sendiri itu salah, tidak layak tapi saya tak kuasa untuk menolak, saya cuma bilang gini, "Han, ini serius? Ini saya dibiarkan atau gimana? Ada alternatif lain? Saya sudah nggak bisa mikir lagi. Engkaunya yang punya banyak data. Bermahatakterhingga jumlahnya. Tulung lah. Yak? Wong uripku ya ora bakal selawase neng kene. Tulung njih. Maturnuwun."
Jawabannya langsung dibales lewat mulut istri saya, "Dodol penyet Lamongan yo yah!"
Tak iyani dong. Siapa tau Tuhan bakal memberi kepercayaan kepada kami sebagai penjual penyet Lamongan. Bukan sebagai PNS, karyawan, anggota Ormas, anggota DPR, atau apa saja yang membuat Tuhan hilang kepercayaannya kepada kami. Karena bagi kami yang terpenting saat ini cuma itu, kami percaya Beliaunya, Beliaunya juga percaya kepada kami. Percayai dan gembirakan kami dengan cara yang tidak terlalu memberatkan dan merepotkan mu Han..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...