Langsung ke konten utama

paHAMILah

Sudah hampir tujuh bulan ini perut istri saya membesar. Kadang konstraksi kecil. Kayak ada yang memukul-mukul dari dalam. Lucu rasanya. Jadi perempuan itu gitu ya? Bisa hamil. Membawa makhluk hidup di dalam perutnya selama lebih kurang 9 bulanan. Saya tanya sama istri saya,
"Kayak gitu rasanya gimana? Bawa perut gede."
"Sekarang ya berat. Kenapa?"
"Nggak papa."
Perempuan kalau hamil itu kayak punya gelombang positif berlapis-lapis. Katanya karena dibantu dari dalam. Pusat energinya double. Ada yang bilang sih, kalau hamil itu gampang lemes. Bawaannya pengen tidur. Saya pikir itu wajar. Butuh sering isi ulang daya. Toh tidurnya itu bukan karena alesan males.
Perempuan hamil itu mendapat bermacam fasilitas. Baik dari Tuhan maupun dari manusia. Coba aja kalau nggak percaya. Yang jomblo itu kalau udah nikah nanti kan tau. Nggak perlu baper. Nggak perlu banyak konsep. Nggak perlu nyari bahagia. Nggak mesti kok nikah itu mesti bahagia. Nggak mesti seneng-seneng terus. Ya ada berantemnya. Ada adu argumennya. Ada saling bersebrangan prinsipnya. Ada beda keinginannya. Kalau saya beda pendapat dengan istri saya, misalnya soal kapan pertama kali terasi ditemukan, kami tidak akan berkelahi. Level kami sudah bertarung. Kami pendekar kok. Jurus kami berbeda. Dia jurusan pendidikan kewarganegaraan di UNS, saya di etnomusikologi ISI Solo. Bertarung terus, sampai akhirnya dia hamil.
Sampai sekarang, bagi saya 'hamil' itu merupakan misteri yang terhijab dengan baik. Kayak Tuhan itu mau ngasih tau ke manusia, "Kamu, nggak usah bingung kalau ada manusia kok bisa hamil. Nggak perlu tanya juga kenapa harus hamil? Kok nggak langsung ceprot turun dari langit berwujud manusia? Kenapa harus disimpan selama itu di perut ibu? Nggak perlu ditanyakan. Karena semakin bertanya, semakin terlihat bahwa kamu tidak tau apa-apa. Itu bukti kalau ada Yang Maha Tau. Kalau istrimu hamil cukup pahamilah dia."
Dan sebab itu pula sekarang saya tidak pernah protes lagi di kantor kalau ada pegawai perempuan yang dapat cuti hamil. Karena saya pikir dulu kalau perempuan dapat cuti hamil, lelaki harusnya dapat cuti menghamili dong.
Ah, saya aja yang ge-er. Perempuan memang punya rezeki berupa kehamilan. Tetapi yang membuat hamil siapa? Suaminya? Proses fisiknya, iya. Tapi yang membuat jadwal kapan seorang perempuan hamil? Siapa? Jadi saya tidak berhak dapat cuti menghamili.
Sekali lagi jangan iri sama perempuan hamil. Yang belum hamil semoga setelah baca catatan ini segera diberi rezeki kehamilan oleh Tuhan. Yang udah punya keturunan boleh kok ditambah lagi. Itu yang jomblo nggak usah cengar-cengir. Nikah dulu, baru hamil! Yak!
Cukup pahami kehendak Tuhan. Pahamilah. Karena ada 'hamil' di dalam 'paHAMILah'.
Suwun kabeh yak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Grup Neraka, Pemilu Neraka

Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta. Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit sna...

Speed Siput

Sebenarnya tadi saya mau nulis dengan judul 'Energi Selingkuh'. Tapi takutnya nanti menciderai hati pembaca yang budiman maka saya tunda untuk mempublikasikan tulisan yang rawan kecaman dan cemoohan tersebut. Mari sebelum kita menginjak-injak acara berikutnya ada baiknya sejenak kita menundukkan kepala dan mengucapkan dalam hati, semoga kalian memiliki pasangan yang loyal alias setia. Sudah hampir setengah tahun ini, saya dan istri secara alamiah sepakat untuk menggunakan 1 hape berdua. Tidak ada konsepsi khusus semua terjadi begitu saja. Tidak ada masalah secara ekonomi. Karena sejak awal Januari sampai sekarang ini kami masih dalam tahap menimbang kira-kira hape apa yang cocok dengan karakter keluarga kami. Apakah yang sekedar kuat buat ML? Atau yang tidak perlu memakai ML? Atau yang bisa dengan nikmat ML di berbagai tempat? Tak terasa sampai hampir setengah tahun ini kami berbagi menggunakan hape. Hape yang masih 3G. Nomor WA milik saya. Nomor untuk telpon dan sms GSM mil...