Langsung ke konten utama

Wedang Wedding

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan terlebih dulu sebelum panjenengan kembali bertemu dengan model tulisan yang selalu membawa hawa kerinduan seperti ini. Yang pertama, kalau kebetulan hari ini panjenengan sedang dalam masa penantian melaksanakan prosesi pernikahan, tolong segera jauhkan apa-apa saja yang membuat anda membayangkan kehadiran mantan.
Yang kedua, kalau kebetulan hari ini panjenengan sudah berhasil menjauhkan diri dari godaan bayangan mantan, tolong dicek lagi, apakah panjenengan sudah benar-benar terbebas dari hal yang sedemikian melenakan itu.
Yap! Yang punya sensitivitas tinggi terhadap mantan bisa menghentikan membaca sampai di sini saja.
Menurut hemat saya, bayangan mantan akan berpengaruh terhadap rasa wedang teh yang disajikan di acara-acara wedding. Wedang-wedang (tentu saja teh, bukan wedang kepal milo) yang beterbangan di kegiatan wedding menjadi salah satu minuman penentu. Wedang berperan sebagai front man, avant grade sebelum semua menu dikeluarkan oleh prajurit sinoman. Wedang merupakan kesan pertama yang akan membuat tamu betah duduk khidmat sampai selesainya prosesi. Wedang pula yang akan menghantarkan cita rasa para tamu menuju kenikmatan hakiki. Karena belum ada survei, sebenarnya para tamu undang hadir itu memiliki motif yang bermacam-macam. Ada yang sekedar berburu stok foto status WA dan instastory. Ada yang pengen terlihat sebagai pasangan paling romantalis se-galaksi Bima Sakti karena hadir dengan pakaian sarimbit. Ada yang kurang kerjaan menjadi pengamat makanan dan minuman yang disajikan. Tapi itu bukan saya. Orangnya sudah pindah ke Saturnus kalau itu.
Bahkan wedang lebih dulu berjajar rapi sebelum para tamu hadir. Betapa mulianya akhlak wedang ini.
Lantas apa hubungan bayangan mantan dengan rasa wedang di acara weddingmu?
Kalau yang kamu ingat adalah saat-saat manis nan indah bersamanya, bisa jadi wedangmu akan terlalu manis. Tentu saja akan berkurang nikmatnya. Membuat tenggorokan gatal.
Kalau yang kamu ingat adalah saat-saat yang paling menjengkelkan karena kamu berusaha untuk bisa segera melupakannya dengan cara mengingat segala keburukannya, bisa jadi rasa wedangmu akan terlalu sepet. Pahit yang berkepanjangan. Sepet yang menyiksa.
Wedang paling lezat adalah yang nasgithel. Panas, legi, kenthel. Lha opo mantanmu, hot, sweety, and yummy? Nduwe mantan wae ora mas mas....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...