Langsung ke konten utama

Pria Hampa Udara

"Mungkin hanya peristiwa kecil dan sederhana yang ku tulis. Namun jika ada 'kamu' di dalamnya, itu sudah lebih dari segalanya..." 

Saya akan mengisahkan sedikit hal yang saya alami beberapa hari kemarin. Iya sedikit saja karena saya ini bukan orang penting. Peristiwa-peristiwa besar di negara ini tidak begitu menarik perhatian saya. Pilpres, debat capres, black campaign, atau yang sejenisnya, adalah hal-hal yang sampai saat ini saya belum mampu memahaminya. Jadi kalau saya tidak menentukan pilihan, jangan lantas anggap saya golput. Karena orang yang memutuskan golput pasti sudah melakukan analisis yang mendalam berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keilmuwan. Sedangkan saya, saya memang tidak mengerti dengan itu semua. Saya butuh waktu untuk memahami sistem negara ini. Mungkin sekitar empat atau lima ratus tahun lagi. 

Pembukaan catatan ini kurang menggigit ya? Malah bikin dahi mengernyit ya? Iya sih saya memang nggak ada pantes-pantesnya ngomongin hal-hal kayak gitu. Apalagi ngomongin awal puasa ramadhan. Tambah nggak ngerti lagi saya. Jadi kalau ketemu saya nggak usah tanya mas didik puasa kapan. Karena saya pasti akan memiliki jawaban yang mencengangkan yang membuat iman anda terguncang. 

"Mas Didik puasa kapan?" 
"Kalau tak jawab hari ini apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Membelikan aku mobil, rumah, atau pesawat ulang alik NASA? Kalau tak jawab besok apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Membelikan baju Superman, Spiderman, Batman atau membelikanku planet baru?" 
"Ditanya gitu aja kok jawabnya gitu. Ya udah. Kalau tanggal 9 Juli besok milih satu atau dua?" 
"Kalau tak jawab satu apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Membelikan aku mobil, rumah, atau pesawat ulang alik NASA? Kalau tak jawab besok apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Membelikan baju Superman, Spiderman, Batman atau membelikanku planet baru?" 
"Kok jawabnya gitu lagi sih!" 
"Ya nggak usah tanya-tanya lagi. Saya nggak mau menjawab pertanyaan yang berpotensi melahirkan perpecahan. Meski itu perpecahan kecil." 
"Dasar alien!" 

Iya. Satu bagimu, mungkin dua bagiku. Dua bagimu, mungkin satu bagiku. Ada yang sudah puasa dua tapi bagi yang lain masih puasa satu. Ada yang pilih nomer urut satu tapi tak sedikit pula yang memilih nomer urut dua. Jangan-jangan satu dua sama saja? Sama-sama pilihannya. 

Hu'um. Seperti yang sudah tertulis di awal saya mau berbagi hal-hal kecil saja. Nggak filosofis nggak politis tapi ekonomis. 

Begini, hari Kamis tanggal 26 Juni 2014 saya membersamai temen-temen nasyid di acara pengajian tarkhib menyambut bulan Ramadhan di Griya Qur'an 6 Yayasan Lentera Qur'an di kota Karanganyar. Senengnya saya itu di sini. Saya ini kan bukan pria baik-baik bukan pria penting, apa-apanya jelek. Bahkan ada yang sering memanggil saya, "Jeleeekk..." gitu. Saya bersyukur, sebagai pria yang berkelakukan seperti ini saya masih diperkenankan Alloh dipertemukan dengan orang-orang dan lingkungan yang baik. Bau 'busuk' ini tertutup 'minyak wangi' mereka. 

Seneng rasanya bisa berkumpul bersama ahli surga-ahli surga ini. Teman saya bilang bahwa di sinilah tempat yang harus saya tulari virus menulis. Tambah makin seneng saya. Karena tiada hal yang menggembirakan selain menjadi pribadi yang bermanfaat tanpa paksaan dan imbalan. Imbalan dan paksaan itu beda tipis. Imbalan itu paksaan dalam bentuk halus. Iya saya maunya melakoni hidup sewajarnya manusia. Bisa berkumpul dengan orang-orang sholeh saja sudah alhamdulillah. Siapa tau kalau mereka punya rumah di surga saya ditawari mampir. Kan lumayan. 

Acaranya sederhana. Saya menyusup sebagai pemain musik. Saya pegang 'saron'. Saron itu termasuk perangkat gamelan Jawa. Tapi 'saron' yang satu ini nadanya beda. Kalau di Jawa ada ji ro lu mo nem untuk 'slendro' dan ji ro lu pat mo nem pi untuk 'pelog', yang saya mainkan ini nadanya kromatis diatonis. Dari G naik setengah demi setengah sampai Fis. Jadi bilahnya lebih banyak daripada 'Saron' Jawa yang asli. Bingung? Iya ini pengetahuan musik. Saya kan sarjana seni. Eh bener gitu nggak sih teori musiknya? Entahlah. 

Iya, namanya menyambut ramadhan ya kayak gitu. Inti acaranya adalah pengajian. Nggak. Nggak saya kok yang jadi pembicara. Kan sudah saya bilang kalau saya cuma main musik. Jangan tuduh saya yang bukan-bukan ah. Tampang kayak gini kok ngisi pengajian. Waktu pembicaranya naik podium, saya memilih untuk beristirahat di sebelah kanan panggung sambil nyeruput teh anget. Teh anget yang satu ini bagi saya sangat spesial. Baru kali ini saya menemukan cita rasa teh yang harus wajib fardhu 'ain mendapatkan penghargaan 'Teh Anget Terlezat se-Galaksi Bima Sakti'. Beneran weeenaaak. Hati saya sampai meleleh. Tubuh saya yang sejak siang kelelahan langsung terasa segar kembali. Ya Alloh teh anget ini membuatku bahagia. Saya tidak mau tahu dan tidak peduli siapa yang meracik. Namun konon kabarnya, kata teman saya yang membelikan teh ini, peraciknya adalah seorang yang sudah tua dengan model angkringan 'kuno' nya. Haduuuhh... Ini pasti seorang master teh yang sedang menyamar. Ijinkan aku berguru padamuuu... 

Iya sampai acara selesai teh anget itu menyita pembicaraan kita di dalam mobil saat perjalanan pulang ke Solo. Teh anget itu lebih menarik dibahas daripada 'puasa kapan' dan 'pilih siapa'. 

Namun lambat laun bahasan tentang teh anget itu pun tergerus oleh kalimat tanya, "besok ke pantai yuk!". Eh itu kalimat berita semi perintah ding. Ada wacana dari seorang teman, yang saya panggil ustad, supaya di hari Jum'at sebelum ramadhan, kita sebaiknya...pergi...ke...pantai... 

Yeeee.. Kita seneng aja dong diajak ke pantai. Pantai itu tempat yang dipenuhi air, pasir, batu, angin, pohon kepala, dan wc umum yang kurang terawat. 

Kita sepakat untuk berangkat menjelang sholat Jumat. Ada empat orang yang berangkat. Tiga lajang dan seorang pria beranak dan beristri satu. Celakanya, saya belum sarapan. Perut ini sudah nggak karuan rasanya. Target kita kan pantai di Pacitan. Tahu kan? Iya Pak SBY lahir di sana. Nah di Pacitan itu banyak banget pantainya. Kita menuju ke Pacitan dari Solo dengan memakai, piring terbang. 

Setelah browsing di internet, pilihan kita jatuh pada pantai Srau. Waktu tempuh dari Solo ke Pacitan lebih kurang 3 sampai 4 jam. Tiga sahabat saya itu sepertinya mengerjai saya. Katanya mau cari makan di Wonogiri nggak taunya malah jalan terus. Jadi sepanjang perjalanan saya lemes pemirsa. Untungnya sempat berhenti di AlfaMars buat beli roti sama air minum. Haaahhh.. Tapi ya masih lapar. Dan saya baru makan jam 3 sore saat sudah sampai di Pacitan. Lumayan lah daripada nggak makan. Itung-itung warming up sebelum ramadhan. 

Pantai Srau. Iya kita sampai di pantai Srau. Pemandangannya indah. Awan dan ombak seolah tak berjarak. Seneng rasanya. Pengen ngajak 'kamu' ke sini. Segera deh. Pantai Srau ini masih sepi. Seolah pantai ini milik kita berempat. Tak ada yang lain. Kita menikmati dengan cara masing-masing. Mungkin ada yang sedang terbayang kekasih hatinya. Mungkin juga ada yang terfikir tentang kekuasaan Tuhan. Yang jelas, kita tetap melakoni ritual foto-foto. 

"Enak ya pantainya kecil. Masih sepi. Kayak punya kita sendiri." Ujarku. 
"Iya enak. Kapan-kapan mau ngajak dia ke sini." Ujar si Ustad. 
"Fotoin dong fotoin." Ujar yang lain dan kita mengamini. 

Mungkin kehampaan adalah jalan menuju ketenangan. Di sini sepi menghampa, hingga yang ada hanya ruang untuk rasa syukur dan bahagia. 

Sampai... 

"Eh kalau jalan ke arah barat itu menuju kemana ya?" Tanya si Ustad. 
"Nggak tahu. Katanya pernah kemah di sini?" Tanyaku balik. 
"Iya. Tapi nggak sampai sana juga. Eh itu kok ada yang menuju ke sana ya?" 
"Mungkin itu jalan keluarnya." Jawab yang lain. 
"Yuk pulang yuk." 

Dan kita pun pulang memilih jalan ke arah barat tadi untuk memenuhi rasa penasaran. Lalu baru berjalan kurang dari 100 meter setelah belokan.. 

"Lhaaaa... Di sini lebih bagus pemandangannyaaa.... Udah terlanjur gelaaaap... Huaaaaa..."
"Iyaaa... Kenapa nggak dari tadiii..." 
"Kok bisa nggak ngerti yaaaa..." 
"Haduuuhh.. Udah sok filosofis reflektif kontemplatif tadiii..." 
"Eh itu di sana kok rame banget. Hahaha.. Kirain di sini sepi. Ke sana yuk.." 

Sepertinya Tuhan sedang menunjukkan betapa bodohnya kita. Benar-benar hampa otak kita. Dikira cuma kita sendiri yang di pantai. Dikira kita sudah menikmati pemandangan yang paling indah, dikira kita paling reflektif instropektif.. Tak tahunya... 

Dan yang paling bodoh adalah.. 

"Eh itu ada lampu-lampu terang. Lagi syuting ftv." 
"Bukan, foto prewed mungkin. Ke sana yuk." 

Tertera tulisan, 

Panitia HILAL RUKYAT kab Pacitan 

Ealah. Entah panitia, penetapan, atau pengintaian, atau apa saya lupa, yang jelas saya yang sudah menghindari pembicaraan seputar puasa ini malah dipertemukan langsung dengan proses Hilal Rukyat penetapan awal puasa. Ealah. 

Begitulah. Mungkin penderitaanmu saat ini, tidak enaknya hidupmu saat ini, adalah cara Tuhan untuk menyelamatkanmu dari jurang kehinaan yang lebih besar di depan. Pun begitu dengan kebahagiaan. Mungkin akan ada kebahagiaan yang lebih besar dari kebahagiaanmu yang sekarang, bersamaku. 

Ttd, 

Pria Hampa Udara 
*biar nyambung sama judulnya*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...