Langsung ke konten utama

Mie Ayam Bi Ghoiri Hisaab

Ini syawal. Katanya ada puasa sunnah 6 hari. Yang katanya pula ada ganjaran setara dengan setahun puasa. Saya mendapat kabar kayak gitu dari karyawan sekolah yang tugasnya saban hari membuatkan teh bagi seluruh guru dan karyawan sekolah tempat saya absen pagi sekarang. Selalunya begitu. Ada syarat yang harus dilakoni, yang tentu saja syarat itu nggak enak. Wong sudah sebulan puasa kok ditambahi lagi 6 hari. Saat-saat di mana-mana banyak tersedia makanan kok malah disuruh puasa. Kalau pas ramadhan enak. Hampir semua kompak untuk tidak mengumbar makanan. Bahkan ada yang menutup sebagian warungnya supaya orang yang berpuasa tidak tergoda. Gitu sih enak. Lha ini syawal e. Makanan 'sak nggon-nggon' dan itu lezat semua e. Kok disuruh 'menolak'. Tantangan orang puasa syawal itu bukan hanya secara pribadi datang dari nafsu atau keinginan untuk makan tapi juga tantangan secara sosial. Di mana kita akan semakin nggak enak hati jika kita seolah-olah menolak apa yang sudah disediakan oleh orang lain untuk kita. Belum lagi kalau sudah keluar kalimat, 

"Rezeki kok ditolak, nggak bersyukur itu namanya." 

Rempong kan? Dimakan batal nggak dimakan dianggap nggak pandai bersyukur. Padahal jelas Tuhan membenci orang yang nggak pandai bersyukur. 

Syukur alhamdulillah sekarang, meja saya di kantor setiap pagi selalu ada bergelas-gelas teh hangat. Inilah surga teh. Dulu saya sering ke kantor mencari-cari teh. Sekarang setelah saya ditempatkan di kantor malah semakin di dekatkan dengan teh. Syukur sih. Tapi tantangannya, berani nggak saya untuk "Katakan Tidak Kepada Teh!"? Saya seringnya begitu. Kalau mendapat anugerah yang di luar perhitungan saya, seringnya saya malah puasa, menahan untuk tidak segera bersenang-senang dengan apa yang saya terima. Saya mesti selalu bertanya sama Tuhan. 

"Ini saya disuruh apa lagi dengan anugerah sebanyak ini Tuhan? Untuk saya lampiaskan membeli ini itu ini itu atau ada hal yang lebih besar kemanfaatannya yang harus saya lakoni di hari depan?" 

Biasanya sih Tuhan nggak langsung menjawab. Paling Dia senyum aja gitu. Untuk menikah? Untuk beli rumah? Tuhan tetep nggak menjawab. Senyum aja Dia. Asal nggak murka aja udah syukur. Tahu kelakuan makhlukNya yang kayak gini Tuhan nggak murka aja udah syukur beribu-ribu syukur. 

"Pak Didik dapat berapa hari?" 
"Walah Pak baru juga mau dua." 
"Ahaha saya sudah dapat enam pak." 
"Wah udah enak dong pak." 
"Iya Pak Didik. Tapi godaannya luar biasa besar pak. Undangan halal bihalal di mana-mana dan itu sudah pasti dipenuhi dengan makanan yang enak-enak." 
"Iya pak." 
"Pak Didik di sini godaannya besar dong? Ahahaha.." 
"Nggak pak ah biasa aja. Paling juga cuma pengen. Ahahaha.." 

Dan hari itu benar-benar terjadi. Kalau nggak keliru itu puasa kedua saya. Jadi pahalanya baru setara dengan puasa 2/6 tahun. Eh, masa hitungannya gitu sih? Abaikan abaikan. Di puasa yang kedua itu, salah seorang guru sudah koar-koar, bahwa makan siang untuk guru dan karyawan nanti adalah.... Jreng jreng.. Mie Ayam Ceker.. Huaaaaa.. Ini makanan favorit sayaaaa.. Mamaaaaa... Mie Ayam Ceker maaaa... Mie Ayam Cekeeeeerrr... 

Saya langsung garuk-garuk meja, garuk-garuk lantai, garuk-garuk jendela, gelas, sepatu, wastafel, semua saya garuk. Tuhaaaann.. Itu makanan yang saya harapkan nanti di surga ada selain teh manis anget. Itu makanan yang meski ketika ada ayam hidup lari-lari di pekarangan rumah dan membuang kotoran sesuka hatinya dan mungkin juga menginjak kotorannya sendiri, saya usir ayam itu tapi begitu dia menjelma menjadi mie ayam ceker saya langsung mencari-carinya. Tuhaaan.. Aku kudu piyeee.. Saya histeris stadium 14. 

Kemudian mie ayam itu pun datang. Semua karyawan dan guru dipanggil untuk segera berpesta. Saya sudah berkali-kali dipanggil. Saya bimbang. Bimbang pake banget. Makan nggak ya makan nggak ya? Saya putuskan untuk NO! 

Seorang guru menghampiri saya, 

"Pak Didik! Makan dulu sana!" 
"Iya Bu nanti aja." 
"Puasa to?" 
"Uhmmm, iya." 
"Bawa pulang. Buat buka! Pokoknya bawa pulang!" 

Haloooo... Mie ayam itu mie nya direbus keleuuusss... Dan ini masih jam 12 siang. Kalau saya makan buat buka sekitar enam jam lagi apa jadinya mie ayam ituuuu??? Bubur ayaaammm??? Mie paling lunak seduniaaaa??? Lembek kaliiii??? Bakal aneh itu. Belum lagi mesti udah nggak anget lagi. Tambah aneh mestiiii... 

Saya pegang kepala. Saya jambak rambut saya sendiri. Lalu saya bentur-benturkan kepala saya ke meja sampai mejanya memar bahkan mengalami gegar otak. Saya sih nggak apa-apa. Saya kan sakti. Keturunan dukun e. 

Entah apa lagi yang harus saya lakukan. Akhirnya dengan langkah gontai saya berjalan menuju tempat makan siang. Di mana di sana sudah menanti kekasih hati, Mie ayam ceker. 

"Mana?" 
"Itu Pak di plastik. Nanti piringnya pake ini. Katanya puasa Pak?" 
"Hehehe.. Lho kuahnya mana?" 
"Itu di panci." 
"Lha udah kosong gini?" 
"Wah berarti anda belum beruntung pak." 

Gini teman-teman. Niat puasa saya sudah saya hancurkan. Dengan pertimbangan, saya takut kalau jatah mie ayam saya terbuang percuma gegara rasanya sudah tidak enak tatkala saya makan pas waktu magrib nanti. Itu asumsi saya. Pokoknya saya mau makan mie ayam itu, siang itu juga. Tapi lha kok kuahnya abis? Emang sih antara mie ayam dan kuahnya dipisah. Lalu saya ambil satu bungkus saya bawa ke meja kantor yang udah mengalami gegar otak tadi, saya letakkan di sana. Saya pegang, saya lihat, ini kalau enam jam lagi rasanya kayak apa ya? Kalau saya makan sekarang kok kurang seger nggak ada kuahnya. Kalau tak bawa pulang nanti rasanya kayak apa. Iya sih bener ga ada kuahnya, tapi kan tetep saja di dalam plastik begini. Saya lihat terus. Saya elus-elus. Haduh. Saya sudah bilang kalau ini mau saya makan buat buka. Kalau nanti nggak saya makan berarti saya tipe lelaki yang nggak bisa dipegang omongannya. Haduh. Ya udahlah mie ayam ceker tanpa kuah di plastik ini saya bawa pulang aja. 

Dengan perasaan teraduk-aduk saya masukkan bungkusan itu ke dalam tas. Prediksi; sudah pasti dingin nanti. 

Magrib menjelang... 
Adzan berkumandang... 
Saya duduk di meja makan... 
Dengan perasaan nggak karuan... 
Membuka sebuah bungkusan... 
Berisi... 
Mie ayam, tanpa perhitungan... 

Bismillah ya Alloh, entah rasanya seperti apa, janji haruslah ditepati. 

Haaaaeeemmm... Lha? Kok masih enak gini? 
Haaaaeeemmm... Ini beneran nggak basi? 
Haaaaeeemmm... Ya Alloh, ini jadi kayak mie goreng lho. Bumbunya meresap banget. Rasa ayamnya juga makin aduhai. Cekernya apalagi.. Hmmmm.. 

Innalloha yarzuqu mayasyaaaa' bi ghori hisaab... 

Nuwun nuwun Gusti..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Reposisi Kegembiraan Nabi

Ini hal yang cukup menggembirakan. Sangat menggembirakan. Iya. Benar-benar menggembirakan. Bagi orang yang tidak punya predikat bahkan pekerjaan apapun ini, 'diajak' kemana-mana adalah hal yang menggembirakan. Saya sudah tidak perlu bersusah payah menjadwal diri saya harus bangun jam sekian, harus makan jam sekian, harus mandi jam sekian, harus ke kantor jam sekian. Karena itu saya malah alhamdulillah. Tidak ada tanggungan apa-apa. Jadi kemana-mana saya ngikut saja sama ajakan teman-teman. Saya tidak punya pendirian yang kuat sebagai laki-laki? Iya, kalau cara berfikirmu lahiriyah. Kalau rohaniyah kamu akan menemukan hal-hal baru jika berinteraksi dengan spesies sejenis saya ini. Nggak percaya? Ketemuan yuk! Sambil ngopi-ngopi gitu. Ngemil-ngemil. Berdua aja sih. Khusus perempuan tapi. Nggak. Becanda. Saya percaya saja bahwa orang-orang yang mengajak saya keliling kemana-mana itu orang-orang baik dan disayang sama Allah sama Rosul. Karena diantara teman-teman, saya adalah yang...

Puasa Tidak Kuat

Ini sudah masuk pergantian tahun Islam dan Jawa. Biasanya paling enak kalau mengingat-ingat masa lalu. Kalau ada yang baru, biasanya yang lama malah bikin rindu. Sedikit membongkar-bongkar file-file usang. Tapi saya tidak akan membahas tentang manuskrip kuno saya yang dari abad ke-4 sampai sekarang belum berhasil saya selesaikan. Huruf depannya S belakangnya I. Betul! SAPI! Skripsi skripsi! Itu barang teraneh yang pernah saya temui dalam hidup. Semoga Desember ini kelar. Februari 2013 bisa ikut adek-adek lima atau enam tingkat di bawah saya wisuda. Nanti gelarnya Sarjana Masbuk saja, tidak usah Sarjana Seni (S.Sn). "Saya nikahkan Didik Wahyu Kurniawan Sarjana Masb..... Lho ini nggak salah?" "Apa pak?" "Ini?! Mana ada gelar Sarjana Masbuk? Jangan guyon ah dek!" "Ada pak penghulu. Serius. Nih!" menyodorkan buku Sarjana Masbuk. Sombong dikit lah. Sekali-kali. Iya, bulan puasa lalu hampir tidak ada catatan. Sayang sekali memang. Tapi a...