Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Mie Ayam Bi Ghoiri Hisaab

Ini syawal. Katanya ada puasa sunnah 6 hari. Yang katanya pula ada ganjaran setara dengan setahun puasa. Saya mendapat kabar kayak gitu dari karyawan sekolah yang tugasnya saban hari membuatkan teh bagi seluruh guru dan karyawan sekolah tempat saya absen pagi sekarang. Selalunya begitu. Ada syarat yang harus dilakoni, yang tentu saja syarat itu nggak enak. Wong sudah sebulan puasa kok ditambahi lagi 6 hari. Saat-saat di mana-mana banyak tersedia makanan kok malah disuruh puasa. Kalau pas ramadhan enak. Hampir semua kompak untuk tidak mengumbar makanan. Bahkan ada yang menutup sebagian warungnya supaya orang yang berpuasa tidak tergoda. Gitu sih enak. Lha ini syawal e. Makanan 'sak nggon-nggon' dan itu lezat semua e. Kok disuruh 'menolak'. Tantangan orang puasa syawal itu bukan hanya secara pribadi datang dari nafsu atau keinginan untuk makan tapi juga tantangan secara sosial. Di mana kita akan semakin nggak enak hati jika kita seolah-olah menolak apa yang sudah disediak...

Pria Hampa Udara

"Mungkin hanya peristiwa kecil dan sederhana yang ku tulis. Namun jika ada 'kamu' di dalamnya, itu sudah lebih dari segalanya..."  Saya akan mengisahkan sedikit hal yang saya alami beberapa hari kemarin. Iya sedikit saja karena saya ini bukan orang penting. Peristiwa-peristiwa besar di negara ini tidak begitu menarik perhatian saya. Pilpres, debat capres, black campaign, atau yang sejenisnya, adalah hal-hal yang sampai saat ini saya belum mampu memahaminya. Jadi kalau saya tidak menentukan pilihan, jangan lantas anggap saya golput. Karena orang yang memutuskan golput pasti sudah melakukan analisis yang mendalam berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keilmuwan. Sedangkan saya, saya memang tidak mengerti dengan itu semua. Saya butuh waktu untuk memahami sistem negara ini. Mungkin sekitar empat atau lima ratus tahun lagi.  Pembukaan catatan ini kurang menggigit ya? Malah bikin dahi mengernyit ya? Iya sih saya memang nggak ada pantes-pantesnya ngomongin hal-hal kayak gitu....

Saat Aku Cem, Bu, Ru

Heran. Alien seperti saya ini juga bisa yang namanya cemburu. Apa gegara sering lihat alien-alien yang lain sudah menemu jodohnya, berkembang biak, lantas membentuk koloni baru ya? Alien-alien tersebut terlihat sangat bahagia bersama koloni masing-masing. Apalagi kalau yang baru saja menikah. Mereka mendapatkan hadiah yang bermacam-macam. Ada yang dapat pesawat terbaru, ada yang dapat markas baru, bahkan yang paling menyenangkan adalah mendapatkan voucher keliling alam semesta selama 700 tahun. Itu yang bikin saya iri. Iri seiri-irinya. Lebih iri daripada sekedar menjadi presiden. Jadi presiden mah gampang. Keliling alam semesta itu yang bikin saya setiap malam nggak bisa bobo.  Adalah kebanggaan di kalangan kami, para alien dari jenis yang paling tampan, manakala bisa mengajak 'yang tercinta' keliling alam semesta. Iya, ada beberapa jenis atau golongan di dalam koloni kami. Dan saya, adalah salah satu alien dari golongan tampan. Tidak. Kami tak sempurna. Tampan bukan berarti s...

Itu Bahagia?

"Ini bukan tentang apa-apa yang membuatku menderita. Tapi sebaliknya..." Siang itu sepulang dari masjid dengan mimik wajah orang kepanasan, saya kembali ke sekolah. Kegiatan belajar mengajar sudah selesai. Namun jam kerja untuk karyawan dan guru baru berakhir menjelang ashar nanti. Entah kenapa cuaca di sekitar sekolah ini panas. Makanya dulu ketika HRD sekolah ini tanya kepada saya mengenai harapan atau apa yang akan saya lakukan terhadap sekolah ini jawaban saya agak sedikit hampir saja mendekati, aneh. "Pak Didik, apa harapan Pak Didik untuk sekolah ini?" tanya beliau. "Apa Bu? Harapan? Maksudnya?" Saya sengaja mengulang pertanyaan sebagai upaya untuk mengulur waktu dengan harapan saya bisa berfikir jawaban apa yang tepat yang akan saya berikan. Namun hal itu sia-sia. Saya tak menemukan jawaban normatif atau akademis atau intelektualis atau apalah sewajarnya orang berpredikat guru. "Iya Pak Didik. Apa yang akan lakukan Pak Didik di seko...

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Seandainya Aku Kepala Sekolah

Ceritanya begini. Namun sebelum saya melanjutkan lebih jauh catatan ini, sepertinya saya harus lebih berhati-hati jika mau menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Apalagi judulnya sudah menunjukkan ambisiusitas level 365 seperti itu. Seandainya... Aku... Kepala... Sekolah... Sebuah judul yang memiliki kadar keoptimisan yang tiada bandingnya mengingat saya saat ini hanyalah seorang guru yang baru melakoni satu bulan masa percobaan. Meski saya sendiri juga kurang begitu paham dengan posisi kepala sekolah karena menurut saya posisi guru sudah memiliki kemuliaan yang luar biasa dahsyatnya, lha kok ini ada satu posisi yang berada di atas guru yaitu kepala sekolah. Sekali lagi ingat, saya masih dalam masa percobaan. Jadi menjadi guru adalah cobaan bagi saya. Dan saya menganggap itu bukan cobaan yang remeh temeh. Melainkan cobaan yang luar biasa beratnya. “Mas sekarang di mana?” “Ngajar mas.” “Jadi guru?” “Semacam itulah mas.” “Jadi guru itu tanggung jawabnya berat lho.” “Nggak ha...