Langsung ke konten utama

Itu Bahagia?

"Ini bukan tentang apa-apa yang membuatku menderita. Tapi sebaliknya..."

Siang itu sepulang dari masjid dengan mimik wajah orang kepanasan, saya kembali ke sekolah. Kegiatan belajar mengajar sudah selesai. Namun jam kerja untuk karyawan dan guru baru berakhir menjelang ashar nanti. Entah kenapa cuaca di sekitar sekolah ini panas. Makanya dulu ketika HRD sekolah ini tanya kepada saya mengenai harapan atau apa yang akan saya lakukan terhadap sekolah ini jawaban saya agak sedikit hampir saja mendekati, aneh.

"Pak Didik, apa harapan Pak Didik untuk sekolah ini?" tanya beliau.
"Apa Bu? Harapan? Maksudnya?" Saya sengaja mengulang pertanyaan sebagai upaya untuk mengulur waktu dengan harapan saya bisa berfikir jawaban apa yang tepat yang akan saya berikan. Namun hal itu sia-sia. Saya tak menemukan jawaban normatif atau akademis atau intelektualis atau apalah sewajarnya orang berpredikat guru.
"Iya Pak Didik. Apa yang akan lakukan Pak Didik di sekolah ini ke depan." tanya beliau, santun tapi tegas. Beliau ingin jawaban briliant keluar dari mulut saya. Saya melihat ke luar. Panas sekali, batin saya.
"Ngademke (menyejukkan) sekolah." Yes. Jawaban sempurna. Babar blas nggak ada unsur intelektualitasnya. Saya bahagia bisa menjawab ngawur seperti itu. Ayem saya. Ini mungkin akan menegaskan bahwa saya memang sejatinya tidak layak untuk menjadi seorang guru.
"Iya Pak Didik. Saya paham. Saya paham. Yang lain jawabannya yang singkat seperti Pak Didik ya." tutur beliau kepada guru-guru baru yang lain. Saya, melongo. Paham? Paham beneran? Apa yang harus dipahami dari dua kata singkat dari jawaban saya itu? Sedangkan teman-teman yang lain tentu saja menjawab dengan cukup diplomatis dengan kalimat yang urut dan jelas maksudnya. Lha saya? Itu kan jawaban ngambang. Turun nggak naik juga nggak. Beliau paham malah giliran saya yang bingung.

Namun sepanas apapun, ketika adzan dhuhur berkumandang, saya tetap harus berjuang sekuat tenaga untuk pergi ke masjid. Harus harus dan harus. Meskipun dengan langkah gontai dan penglihatan yang kurang jelas karena mata menyipit akibat cuaca panas, saya tetap harus mau melangkahkan kaki ke masjid. Keringat ini adalah keringat pengorbanan dan perjuangan. Saya yakin tidak ada yang sia-sia dari sebuah pengorbanan. Info aja, lokasi masjidnya, uhmmm, bersebelahan dengan sekolah. Berdempetan. Cuma dipisahkan tembok. Maaf. Udah mau terharu ya? Maaf maaf.

Iya, sepulang dari masjid saya memeriksa hape yang sedari pagi saya taruh di tas. Ada pesan masuk di sana dari nomer tak bernama. Inti pesan itu adalah meminta saya untuk menjadi pembicara di sebuah acara di salah satu universitas negeri di Jogja. Tema acara tersebuat adalah jurnalistik. Tentu saja ini berkaitpaut dengan hal tulis menulis. Yang menarik dari pesan itu adalah bahwa mereka hanya mampu memberikan dana yang mereka anggap sebenarnya tidak layak atau kurang layak untuk diberikan kepada pembicara. Saya tersenyum pelan. Dalam hati saya bingung. Memang berapa sebenarnya bayaran jika menjadi pembicara? Saya awam soal duit-duit seperti ini. Ngertinya kalau saya mau dapat duit ya saya dagang. Ini diminta menjadi pembicara saja kok ternyata ada urusannya dengan duit. Saya lihat nominal yang ditawarkan. Menurut kalkulasi saya setidaknya itu membuat saya tidak berjalan kaki dari Solo ke Jogja dan dari Jogja ke Solo. Itu cukup kok. Saya tahu harga tiket kereta tujuan Solo Jogja dan sebaliknya. Saya iya kan tawaran tersebut. Saya bilang kalau saya akan berangkat dari Solo ke Jogja naik kereta.

Setelah melihat hasil desain posternya, saya cukup kaget dengan adanya pembicara yang lain. Saya tahu ini orang meski saya tidak begitu kenal. Dia penulis sastra muda. Dua novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Bukunya sudah terbit banyak dengan jarak terbit yang dekat. Boleh dibilang dia penulis yang produktif. Yang menarik lagi, penerbit tempat dia bekerja sebagai editor sekarang adalah penerbit yang pada tahun 2007 pernah menolak naskah novel teenlit saya. Ini apalagi, pikir saya. Well, saya menikmati peristiwa-peristiwa tak terduga seperti ini. Akhirnya dipertemukan juga.

Hari Sabtu 24 Mei 2014. Begitu yang tertera di kalender. Dan hari itu juga saatnya saya melenggangkan kaki ke tanah Jogja. Saya banyak belajar di Jogja. Kapan-kapan saya note-kan. Kondisi saya saat itu kurang fit. Mungkin kurang kontrol makan, mungkin juga kurang kontrol pikiran. Kepala saya pusing bukan main. Saya hampir membatalkan keberangkatan ke Jogja. Ini kenapa dengan kepala? Kok datang di saat yang seperti ini. Sabtu Shubuh saya paksa mandi karena saya ingin berangkat memakai kereta berjadwal jam 6 pagi. Acaranya sekitar jam 8. Durasi perjalanan lebih kurang satu jam. Jadi saya punya waktu istirahat 1 jam di Jogja. Selesai mandi tanpa sarapan saya meluncur ke stasiun Balapan. Pesan tiket, tunggu sebentar lalu masuk ke kereta. Dan, kereta pun berjalan. Membawa sejuta harapan. Sayang, pikiran ini masih dipenuhi dengan, "Aku nanti mau ngomong apa ya?"

Sempat karena saya tidak tahu lokasi acara, saya kontak dengan mbak panitia.
"Mas transportasi untuk besok aman kan?" tanya beliau via telpon sehari sebelumnya. Saya paham maksudnya.
"Aman mbak. Saya pakai kereta jam 6 pagi."
"Kira-kira sampai di jogja jam berapa mas?"
"Jam 7 nan mbak."
"Oh oke deh mas."
"Mbak, enaknya saya turun Lempuyangan apa Tugu?"
"Lempuyangan aja mas. Nanti biar dijemput staf saya."
"Mbak, kalau ada bus trans jogja saya naik bus aja mbak. Nggak usah dijemput."
"Nggak mas. Biar nanti dijemput staf saya di stasiun Lempuyangan."
"Oh, iya deh mbak. Maturnuwun sebelumnya."
"Iya sama-sama."

Dijemput? Kayak anak TK aja dijemput. "Mas Didiiikk.. Udah dijempuuuuttt..."

Saya itu pengennya naik trans jogja bisa muter-muter sambil nyari sarapan. Kan lumayan masih ada waktu satu jam. Tapi apa boleh buat. Terus kalau dijemput itu repotnya saya nggak bisa melakukan aktivitas pagi yang selalu membuat bahagia saya. BAB. Itu hampir tiap pagi saya lakukan. Kalau berangkatnya pagi-pagi sekali kan saya harus melakukan itu sesampainya di stasiun di Jogja. Kalau saya lakukan di kos takutnya terlambat nanti.

Tapi nggak baik juga menolak permintaan mereka. Sekitar jam setengah delapan dua pemuda menjemput paksa saya dari Lempuyangan menuju lokasi.

"Saudara Didik! Anda harus segera ikut kami!"
"Tidak! Tidak! Apa salah saya?"
"Aaahh. Tak usah banyak bicara. Ikut kami! Atau pantatmu meledak!"
"Jangan-jangan! Itu satu-satunya yang bisa membuat saya BAB tiap paginya sehingga saya selalu merasa bahagia."
"Kalau begitu ikut kami!"
"Baik-baik". Kemudian saya diseret memakai pesawat Sukhoi dari Lempuyangan ke lokasi.

Sampai lokasi panitia meminta maaf karena lokasinya dipindah.

"Seharusnya kita nggak di sini mas. Tempatnya lebih bagus. Tapi karena pihak kampus lagi ada acara dan mau menggunakan ruangan itu, jadi kami yang mengalah. Silakan mas."
"Oh, sudah biasa. Eh kalau nyari angkringan deket sini mana ya?"
"Oh, mau sarapan mas?"
"Iya. Belum sarapan saya. Kalau nggak ada angkringan warung apa gitu juga boleh."
"Iya mas bentar."
"Dari sini kemana? Saya jalan kaki aja."
"Nggak mas. Biar dianter salah satu teman panitia. Bentar saya carikan orang mas."

Kemudian,

"Ayo mas saya anter."
"Ha? Saya mbak?"
"Iya. Sama saya."
"Serius?"
"Iya mas."
"Naik apa?"
"Naik motor mas."
"Lha? Boncengan?"
"Iya mas."
"Nanti kalau di jalan ada yang lihat terus marah gimana?"
"Ahh, nggak ada mas."
"Angkatan berapa mbak?"
"2012."
"Astaga.."
"Kenapa mas?"
"Nggak papa."

Saya panik teman-teman. Haruskah saya berboncengan dengan perempuan berkerudung yang baru saya kenal? Apa kata sekjen PBB jika mengetahui hal ini? Di tengah kepanikan datanglah pemuda yang menjemput saya di Lempuyangan tadi.

"Mas Didik.. Hiyaaaattt!!!"

Pertarungan sengitpun terjadi antara perempuan dan pemuda itu.

"Dasar kau siluman! Jangan ganggu mas Didik! Enyah kau dari tempat ini! Hiyaaattt!!" Pemuda itu sigap mengeluarkan jurus andalannya. Perempuan yang disinyalir sebagai siluman itu akhirnya menyerah dan kalah. Nyawa saya berhasil diselamatkan.

"Mas mau makan apa?"
"Apa aja yang penting makan. Angkringan kalau ada."
"Burjo aja ya mas. Mau?"
"Iya deh."

Kami berdua sarapan di burjo. Saya memesan nasi goreng, pemuda itu memesan nasi telur. Makanan khas burjo. Dia tanya mengenai banyak hal tentang saya. Tentu saya jawab dengan riang gembira. Saya ceritakan apa-apa yang ingin diketahuinya. Termasuk satu rahasia yang sebenarnya tak boleh diketahui oleh publik.

"Kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Saya mau ngobat dulu."
"Ngobat mas?"
"Hu'um." Lalu saya mengambil tolak angin sachet. Glegek glegek glegek. "Masuk angin saya."
"Hahaha.. Kirain mas."

Selesai sarapan kita kembali menuju ke lokasi acara. Namun di tengah jalan,

"Eit eit eit.." saya menepuk pundakknya.
"Ada apa mas?" Dia agak kaget dan mengerem mendadak.
"Itu timnas bukan?"
"Iya mas itu timnas U-19 lagi latihan."
"Eh eh lihat bentar boleh?"
"Boleh mas."

Entah kenapa namun hati ini terasa bahagia melihat anak-anak muda yang di malam sebelumnya berhasil mengalahkan timnas sepak bola U-19 Yaman. Saya melihat mereka dari jarak yang cukup dekat. Mau terlalu dekat masih malu. Saya bertatap mata dengan coach Indra. Mau foto nggak enak juga.

"Saya semalam menangis nonton permainan mereka melawan Yaman."
"Ahahaha.. Masa mas? Saya malah nonton langsung." Pemuda itu menanggapi.
"Iya. Mereka bermain selayaknya anak kecil yang bermain. Maksimal, sungguh-sungguh namun tidak dengan amarah yang besar. Santai, enak ditonton. Pokoknya bikin saya menangis."
"Ntar sore kalau mau lihat mereka latihan bisa mas."
"Sudah yuk. Kembali yuk. Nggak enak nanti ditungguin."

Saya bahagia bukan karena saya menjadi pembicara yang dimuliakan dengan berbagai fasilitas. Saya bahagia karena melihat langsung timnas sepak bola U-19 latihan di parkiran mobil.

"Lha? Latihannya cuma kayak gitu kok berhasil mengalahkan Yaman?" batin saya. Dan justru karena itu saat acara berlangsung saya mampu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari moderator dan peserta talkshow dengan enteng dan mengalir begitu saja. Mengingat saya sebenarnya tidak memiliki syarat dan rukun menjadi penulis.

"Mas gimana caranya supaya kita bisa menulis komedi sedangkan kita tidak memiliki sense of humor yang besar?"
"Menulis sesuatu yang lucu itu tidak harus dengan sesuatu yang lucu. Pernah kuliah diajar oleh teman sekelas yang udah jadi dosen? Saya pernah dan itu nggak enak. Itu merupakan siksaan yang membuat saya menderita. Namun setelah kisah itu saya tulis ulang, para pembaca menganggap hal itu sebagai sebuah kelucuan. Mereka tertawa bahagia. Padahal saya sendiri juga tidak pernah bermaksud melucu. Jadi, jangan takut menderita. Penderitaan itu bisa berubah menjadi kebahagiaan jika kita mau menulisnya."

Sepanjang perjalanan pulang ke Solo saya mikir, "Kok saya bisa ngomong kayak gitu ya? Ah ini pasti gara-gara nonton timnas U-19 latihan tadi."

Kayak gitu bahagia? Itu bahagia? Iya aja deh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...