Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...

Popok dan Pupuk

Hijaunya itu yang pertama kali membuat saya jatuh cinta. Geraknya yang gemulai tatkala diseret angin, itu yang membuat hati ini ingin. Iya. Padi di sawah yang menghijau lalu menguning untuk kemudian di makan oleh manusia. Iya padi itu yang membuat pagiku selalu menjadi syahdu. Bapak saya dulu punya kebiasaan mengajak saya muter-muter naik sepeda onthel tiap pagi. Sawah di sekitar kota kabupaten ini masih banyak. Yang saya rasakan pada saat itu hanya perasaan ‘adem’ tatkala memandang hamparan sawah yang menghijau. Hati ini riang tatkala berpapasan dengan para petani yang akan menggarap sawah di pagi hari. Saya menyebut mereka dengan kata ‘tentara’. Tak tahu juga mengapa justru saya menyebut para petani itu dengan tentara. Didik kecil sudah menaruh hati pada sawah. “Brata? Cita-citanya apa?” “Jadi dokter pak.” “Rudi apa?” “Pemain sepakbola.” “Diah?” “Polwan.” “Didik?” Bingung. Diam. Tapi hati ini berkata “punya sawah.” Yang lebih ekstrim, “mau beli gedung-gedung ...

Lamaran Laa Roibafiih

Di suatu tempat yang sunyi, tersebut lah salah seorang pemuda yang sedang dirundung pilu. Di tengah-tengah kegelapan yang merubungnya dia tak mau membuka mata. Terpejam sampai tak tahu kapan waktunya. Meringkuk ia di sana. Rambutnya sangat kusut. Pakaiannya juga tak pernah berganti. Bau asam menyeruak dari tubuhnya. Bahkan ia sudah tak bisa melihat beda, mana makanan mana kotoran. Juga hati yang tak mengerti mana jeda, mana kesempatan, dan mana kerterburuan..... Hingga secercah cahaya datang. Cahaya yang kecil tapi cukup menenangkan. Cahaya yang dibawa seorang perempuan. Cahaya yang terpancar dari senyum simpulnya. Cahaya yang mungkin tak akan pernah padam atau dipadamkan. Cahaya yang jumlah tidak hanya 99. Cahaya yang berisi penuh dengan harapan. Tangan terjulur menawarkan kesegaran alur. Uluran yang sangat sayang untuk dilewatkan.  "Kemarilah. Ku temani kamu berjuang." perempuan itu berkata seraya wajahnya diterangi cahaya. "Kamu, mau menemaniku?" pemud...

Grup Neraka, Pemilu Neraka

Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta. Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit sna...

Ternyata Hitam Jidatku

Cek cek cek...  Cek satu, dua, tiga....(aaaaa) Yang duduk paling belakang bisa menangkap suara saya? Ha? Bisa ya? Sip. Mas operator tolong echo-nya dikurangi sedikit. Cek (eek).. Yap sip. Yang pertama, selamat datang bagi teman-teman semua. Sesuai dengan apa yang saya instruksikan kemarin bahwa saya akan melakukan klarifikasi perihal jidat saya yang menghitam. Tapi mohon bagi teman-teman seperti biasa mari kita satukan persepsi, asumsi, dan segala hal yang berkait paut dengan itu demi kelancaran acara jumpa pers ini. Nanti akan ada sesi tanya jawab. Kalau mampu saya jawab, saya jawab. Kalau kurang puas dengan jawaban saya, saya minta teman-teman semua mau menerima dengan hati yang legowo. Maka mulai dari sekarang dan beberapa menit ke depan saya mohon teman-teman memperluas hati masing-masing. Supaya apa yang akan saya sampaikan ini nantinya benar-benar bisa diserap, setidaknya menjadi ilmu hikmah. Atau minimal teman-teman semua bisa mendapatkan satu kalimat premis bahwa, ...

Mata Yang Membakar

Setelah sempat dihampiri semacam lupus kulit di kaki, hari minggu kemaren datang lagi keanehan di dua mata saya. Sementara mata saya yang terlihat hanya dua karena mata ketiga masih saya sembunyikan. Letaknya di tengah dahi. Kalau waktunya sudah tiba dan pada saat dibutuhkan mata ketiga saya itu akan terbuka dan mengeluarkan sinar. Saya sebut mata ketiga saya itu dengan 'senter'.  Minggu pagi setelah bangun tidur rasanya ada yang mengganjal di mata. Sulit mata ini untuk terbuka. Agak berat dan lengket. Ini kenapa lagi pikir saya. Kemudian saya berdiri di depan cermin dan mendapati sesosok manusia dengan ciri-ciri 3T. Tinggi Tegap Tampan. Oh itu saya sendiri. Hampir lupa kalau saya memang tampan.  "Kamu mau tubuh yang seperti apa?' "Asal Engkau menghendaki untukku, apapun aku terima." "Ini?" "Tidak. Karena Engkau menggunakan kalimat tanya." "Ini!" "Tidak juga. Karena Engkau selalu mendahulukan kasih sayangM...