Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Bani Siapa? Trah Siapa?

Baru sadar lebaran kemaren. Saudara dari istri saya yang kemudian sudah jelas dan sah menjadi saudara saya juga, jumlahnya, cukup mengejutkan. Khususnya bagi saya pribadi. Melihat latar belakang keluarga saya yang konon agak sulit untuk dilacak detail silsilahnya, maka tatkala saya menemukan bahwa istri saya memiliki saudara yang demikian aduhai jumlahnya, saya lantas bertanya kepada istri saya. "Itu tamu siapa lagi? Kok nggak habis-habis?" "Oh. Saudara di sini kan banyak. Ada keluarganya Kaji.." "Kaji yang mana lagi? Perasaan dari tadi yang bunda sebutkan semua Kaji. Sampai bingung ayah." "Sudah dibilang keluarganya banyak kok. Ada Bani Idris, Bani.." "Bani?" "Keluarga Pati nggak gitu yak?" "Nggak ada Bani-Bani an gitu. Ayah paling pol mentok taunya ya kakek-nenek. Ke atas lagi udah nggak ngerti. Mau melacak sulit. Konon katanya sih saudara banyak juga yang nggak terdeteksi." "Jangan-jangan ayah yang ng...

Runtuhnya Benteng Puasa

Jauh sebelum lebaran, bapak mertua saya sudah menawarkan hal yang cukup menggiyurkan. "Kalau kamu pulang Kebumen nanti tak sembelihkan ayam. Bapak piara ayam. Jumlahnya lebih dari cukup sekarang." Sudah pasti. Imaji tentang bagaimana ayam-ayam kampung itu  tersaji dalam varian olahan masakan. Mungkin opor. Mungkin goreng gurih. Atau bumbu Bali. Bayangan itu meraung-raung memenuhi relung. Ayam kampung memang memiliki daya magis daripada ayam boiler. Teknik yang sangat bagus. Ini bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman yang ingin mengundang saya. Kalau ingin saya datang, siapkan saja sesaji, pilih salah satu dari dua ini. Kambing atau ayam. Selesai persoalan kalian. Jadi, jauh sebelum puasa usai sebenarnya puasa saya sudah runtuh. Mungkin soal tahan menahan masih kuat. Namun isi kepala sudah tak karu-karuan. Melebihi acara masak memasak di teve. Baru dapat minggu kedua di bulan puasa aja, undangan buka bersama berdatangan. Apa inti dari buka bersama? Buka (makan dan minum) ...

Pertahanan dan Keamanan Puasa

Sampai di stasiun kereta api Kebumen, kami dijemput oleh keluarga kembaran istri saya. Mereka sudah dikaruniai anak alhamdulillah sehat. Gendut, chubby, laki-laki. Jarak tempuh dari stasiun kereta ke rumah mertua di Kebumen ternyata cukup dekat. Melewati kampus PGSD UNS cabang Kebumen kemudian sampai di jalan besar. Kurang dari sekilo sudah sampai di rumah mertua. Saya diboncengkan ipar sedangkan istri saya dan kembaran beserta anaknya naik becak motor. Sebuah kombinasi sempurna perkawinan antara becak dan motor. Bagi saya ini inovasi. Ini kreativitas yang layak diapresiasi. Nanti ketika waktunya tiba akan ada becak yang punya sayap atau baling-baling. Becak yang bisa terbang. Dan tak ada lagi jarak yang terlalu jauh antara abang-abang becak dengan pilot. Namanya Cak Wat. Becak pesawat tanpa pramugari. Lebaran di sini banyak makanan bertebaran di mana-mana. Setiap rumah menyuguhkan paling tidak menyuguhkan minimal 6 jenis makanan kecil. Jadi bisa dihitung berapa juta makanan kecil yan...

Dan Jajanan Itu Datang Sendiri

Beberapa tahun belakangan ini saya memang tidak terlalu ambil pusing terhadap perayaan lebaran. Terbesit untuk beli baju aja nggak. Apalagi beli cemilan, jajanan, atau apapun itu yang lazim ada di ruang tamu rumah-rumah pada saat lebaran. Lebaran salah satu indikatornya adalah menyebarnya beberapa jenis kue, biskuit, roti, yang dikemas dalam kaleng atau toples dan disajikan di meja ruang tamu. Pertama memang saya dan istri punya pikiran yang sama. Yaitu "memangnya siapa yang mau bertamu?" Hal itu semakin menguatkan keyakinan saya bahwa lebaran kali ini nggak usah beli makanan-makanan yang saya sebutkan tadi. Yang akan saya suguhkan adalah krupuk rambak. Tau? Jangan pura-pura nggak tau. Itu krupuk poluler banget. Murah memang. Sangat murah. Tapi urusan rasa. Beeehh... nggak ada duanya. Terlebih yang jual adalah tetangga sendiri. Jadi deket. Itu rencana saya. Namun, sekali lagi apa yang sudah saya rencanakan itu agak agak kurang berhasil. Popularitas rambak belum berhasil me...

Semburan Kasturi

Kami memutuskan bahwa sebelum tanggal 1 Syawal, kami harus sudah berada di Kebumen. Tak seperti tahun 1436 H. Tahun 1437 H ini kami, akan melakukan perjalanan laiknya sepasang suami-istri yang 'normal'. Karena kadang keputusan saya secara sepihak tergolong aneh bin ajaib. Tahun kemaren tradisi pulang kampung 1 syawal kami lakukan sebagai mana teman-teman pembaca sudah sering ketahui. Saya naik motor dari Solo ke Kebumen, istri saya naik kereta api dari Solo ke Kutoarjo untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan menggunakan bus ke Kebumen. Bisa dipahami teman-teman? Ribet dan terlihat kurangnya aura kekompakkan dalam diri kami. Maka, oleh sebab itu kami tak mengulangi hal yang demikian itu tahun ini. Tahun ini kami sepakat bahwa kami akan semakin kompak. Setelah menimbang dan berdiskusi agak lama, mengukur tingkat resiko, memperhatikan dengan seksama dampak apa yang terjadi, akhirnya kami memutuskan untuk bersama-sama melakukan perjalanan dari Solo menuju Kebumen dengan menggu...