Langsung ke konten utama

Teknologi Ketampanan

Sepertinya mau tidak mau, sadar tidak sadar, jujur tidak jujur harus saya akui, kalau perlu saya ketik dengan capslock, saya tulis dengan font yang besar sekali, atau saya desain tulisan itu dengan coreldraw kemudian saya cetak dan saya pasang di pinggir-pinggir jalan, bahwa saya ini TAMPAN! Maaf salah ketik. Karena saya tidak terbiasa mengetik dengan menggunakan laptop jadi capslock sering tidak sengaja kepencet. Maaf berjuta maaf saya haturkan. Ini kali pertama saya ngetik di blog dengan menggunakan laptop 'milik kamar sebelah'. Perangkat komputer di kamar saya sekarang lebih sering rewel. Itu pentium 4 kayaknya. Sebuah komputer yang sangat menjunjung asas kemandirian. Dia sangat mandiri. Dengan tiba-tiba dia bisa me-restart dirinya sendiri tanpa saya suruh. Padahal ada program deepfreeze yang kalau mati atau restart semua data yang belum tersimpan bisa raib, harus mengulang dari awal lagi. Terkhusus untuk program word-nya. Atau dia bisa menjadi lambat dari biasanya. Jika digunakan untuk memutar file mp3, atau file-file video, suara yang dihasilkan mengalami slowmotion. Suara itu kalau melambat temponya, frekuensinya akan semakin mengecil, atau terdengar semakin merendah, low, bahasa audionya. Kayak orang mau berak, tapi kotorannya sulit keluar hingga dia harus ngeden mati-matian. Kalau suara mengalami percepatan dari ukuran normalnya maka frekuensinya akan semakin meninggi, terdengar seperti orang menjerit. Kalau pernah naik odong-odong, itu kadang ada lagu anak-anak dengan vokal agak aneh cempreng gimana itu, nah itu contohnya. Kalau menjerit mengeluarkan frekuensi tinggi, lubang anus kita akan mengalami penyempitan atau menutup. Kalau ngeden dengan frekuensi rendah, atau suara bass lah, lubang anus akan melebar. Nggak percaya? Besok coba deh. Belum pernah kan ada orang berak tapi menjerit? Oke, applause yang meriah untuk saya.

Komputer itu juga memiliki ilmu kanuragan. Kalau sudah di shutdown, kadang dia bisa hidup sendiri. Pertama dulu saya kaget. Pernah saya shutdown dan sudah muncul tulisan windows it's shutingdown lalu saya tinggal keluar keluyuran lama. Begitu pulang tahu-tahu kok komputernya aktif? Saya sempat berpikir, jangan-jangan komputer itu ada 'yang jaga'. Wah agak serem kalau begitu ceritanya. Berulang kali seperti itu. Hingga akhirnya saya putuskan untuk menungguinya saat saya membunuhnya. Eh, ternyata memang dia tidak mati, cuma pura-pura mati lalu hidup lagi. Tombol shutdown beralih fungsi menjadi tombol restart. Ealah. Nggak apa-apa. Aku masih mencintaimu kok komputer. Kamu kan yang paling tahu apa-apa yang aku lakukan. Bahkan kamu tahu bagaimana perasaanku. Kamu yang.... Ah sudahlah. Mending kamu istirahat dulu. Kayaknya kamu sudah capek menemaniku. Aku pakai laptop ini dulu yah. Nggak kok. Aku nggak selingkuh. Aku nggak akan pergi meninggalkanmu. Saudaramu si pentium 3 dulu sudah laku terjual 150 ribu. Angka yang fantastis bukan? Dia memang tipe komputer murahan. Masa dengan harga segitu saja dia rela meninggalkanku. Padahal dia kan yang paling tahu bagaimana aku berjuang dengan tulisan-tulisan, cerpen yang amburadul itu. Tapi biarlah dia melakoni jalan hidupnya sendiri. Setiap orang punya cerita hidup sendiri kan? Meskipun dia istri atau suami bahkan anak kita sekalipun. Yang bisa kita lakukan hanya membantu membaca skenario hidup mereka. Kalau ada yang kurang, minta revisi saja sama penulis naskahnya. Kalau dikasih syukur, kalau nggak dikasih ya minta lagi. Manusia kan begitu to? Dikasih terus saja masih minta terus, apalagi nggak dikasih. Memaksa dengan cara halus. Nggak boleh? Yang bilang nggak boleh siapa? Tidak meminta saja dikasih kok apalagi meminta. Ya tinggal kesadaran akan kebutuhan kita saja. Kalau anak-anak kita kelak memang butuhnya piknik ke Mars, studi banding ke Neptunus, mau tidak mau ya harus minta dan berusaha untuk kesana. Mimpi itu kan kalau jelek, dilupakan, kalau baik berusaha untuk diwujudkan. Iya kan? Manusia itu kan makhluk yang pandai bersyukur. Seperti para pembaca blog sarjana masbuk ini. Kalau mimpi buruk, ketika bangun dia akan berucap "Syukurlah cuma mimpi. Semoga tidak menjadi kenyataan.". Kalau mimpinya baik, begitu bangun langsung berusaha untuk mewujudkannya. Oke,  sekali lagi applause yang meriah untuk saya.

Kata orang, kalau kamu ingin mendapatkan sensasi mengetik dengan cepat, kamu seharusnya pakai laptop, bukan komputer. Maka dari itu saya ingin mencobanya. Siapa tahu lebih bisa mengirit waktu. Namun ini lain ceritanya. Yang namanya adaptasi ternyata juga tidak bisa diprediksi. Ini saja masih sering salah-salah ngetiknya. Kayak orang lagi belajar mengetik. Sekian baris ini sudah tidak terhitung jumlah kesalahannya. Ini adalah proses ngetik terparah. Untung ada tombol backspace. Bisa dihapus dan diulang lagi. Coba kalau mesin ketik. Sudah habis berapa lembar kertas saya ini tadi. Iya, sebagai orang yang terjerumus di dunia kepenulisan, saya ini masih memposisikan diri sebagai orang luar, bukan orang dalam, apalagi orang ahli di bidang ini. Saya masih sering terkagum dengan novelis dan cerpenis, termasuk komikus yang bisa menulis dengan alur yang enak diikuti yang bisa menyeret pembacanya untuk masuk ke alur tersebut. Itu sisi substansinya. Kalau dari segi teknis teknologinya apalagi. Mengetik dengan menggunakan laptop saja masih begini. Kalau kata orang Jawa 'unak-unuk'. Masih meraba-raba. Kalau masih meraba berarti potensi melakukan kesalahan jauh lebih besar daripada melakukan kebenaran. Masih kurang jelas hidupnya karena gelap yang mendominasi. Begitu ada sedikit cahaya, yang terjadi malah silau. Salah-salah karena saking silaunya bisa buta. Apa jangan-jangan saya memang sedang menuju proses itu? Ge-er terhadap cahaya itu? Belum siap dengan kehadiran cahaya? 

Maka dari itu, ini yang sebenarnya saya mau ketik di awal tadi. Bahwa mau tidak mau, sadar tidak sadar jujur tidak jujur, saya masih banyak tidak tahunya daripada tahunya. Perbandingannya bisa 1: 1 triliyun bahkan lebih. 1 untuk tahu dan 1 triliyun untuk tidak tahu. Atau tidak bisa dihitung lagi mungkin. Jadi ilmu pengetahuan saya memang dipertanyakan. Kalaupun terkadang sampeyan-sampeyan menjumpai saya sedang berbicara seolah-olah saya tahu banyak hal, berpengetahuan luas, ketahuilah bahwa itu karena ketrampilan berbohong dan tingkat ke-ngawur-an saya semakin meningkat. Jarang sekali apa-apa yang saya omongkan itu valid. Beberapa orang teman dekat saya sudah paham hal itu. Ada yang bilang kemarin saya punya metode yang khas dalam menyikapi kondisi perasaan. Dia mencontohkan bahwa saya ini tipikal orang yang suka melakukan segala sesuatunya secara sembunyi-sembunyi atau melakukannya diam-diam. Dia menebak kalau saya suka dengan seseorang, saya lakukan dengan diam-diam. Atau bahasa kerennya, menurut dia, saya ini orangnya simbolis banget. Kalau saya suka dengan seseorang, saya tidak langsung menyatakan. Tapi saya wujudkan dalam bentuk tulisan dan berharap itu dibaca atau terbaca oleh orang yang saya suka. Lalu level harapan itu meningkat menjadi 'syukur-syukur dia membaca, kemudian mengerti, memahami, lalu mau diperistri'. Saya jawab, IYA! Dan sekarang pertanyaan saya kepada diri saya sendiri, Apakah metode seperti itu efektif? Saya jawab sendiri TIDAK! Kemudian ada suara lain menjawab, BUKAN TIDAK TAPI BELUM! Saya curiga itu suara Mario Teguh.

Gimana bisa valid coba. Saya beri satu contoh kasus. Contoh kasus? Kayak cita rasa judul sebuah skripsi. Gini. Orang tidak boleh memindahkan hujan. Karena itu dianggap salah satu hal yang menentang hukum alam. Maka resikonya cukup besar. Nah, iseng-iseng saya bilang seperti ini sama teman saya.

"Misal begini. Kan kalau memindahkan hujan itu memakai teknologi internal manusia yang berdasar pada satu keyakinan yang kuat kemudian masih dilandasi lagi dengan kejernihan hati yang ditempuh melalui jalur puasa, kok tidak menggunakan metode yang lain saja?"
"Misalnya?" 
"Hujannya jangan dipindah."
"Terus?"
"Gunakan teknologi internal itu untuk membuat hijab atau penutup buatan. Semacam filter. Seperti stadion sepak bola yang atapnya bisa ditutup."
"Maksutnya gimana sih?"
"Ya kita buat penutupnya dari bumi. Memanfaatkan energi panas bumi. Lakunya bisa ditempuh dengan keyakinan dan kejernihan hati tadi."
"Modelnya kayaknya apa? Bahannya dari apa?"
"Kayaknya polusi udara itu bisa memicu mendung deh. Kita balik saja logika itu. Kalau mendung bisa dipicu, awan putih mungkin juga bisa. Kita buat lapisan udara baru di bawah mendung itu sebagai filter hujan tadi. Jadi tidak menyalahi hukum alam. Hujannya tetap turun, petirnya tetap menggelegar. Seperti kita membuat kipas angin untuk mengurangi kegerahan tubuh."
"Terus kalau ada pesawat lewat gimana? Bukannya itu malah menghambat perjalanan mereka karena lapisan udara yang menebal?"
"Serius amat kayak gitu aja ditanggapi. Ini kan ngawur aja. Ya kalau soal pesawat ya, kita buat pesawat-pesawat baru yang bisa menyesuaikan dengan teknologi yang baru itu. Kan orang membuat sesuatu itu berdasarkan kebutuhan. Kalau butuhnya bertempur, maka pesawat yang dibuat ya pesawat tempur."
"Mi ayam aja yuk. Otak kamu sudah panas. Sebentar lagi hang itu." teman saya menanggapi karena asas pertemanan. Bukan karena ilmu pengetahuan saya.

Makai laptop saja masih grogi begini, kok sudah mikir lapisan udara baru lah. Pesawat baru lah. Itu kayak jomblo nggak laku-laku tapi bercita-cita poligami dan membuat daftar siapa saja kelak perempuan yang akan diperistri. Tahun pertama si ini. Tahun kedua si ini. Tahun ketiga anaknya si itu. Tahun berikutnya mantan istrinya si itu. Pede amat bang! Perempuannya aja belum tentu mau bang! Menaklukan komputer pentium 4 aja gagal terus, apalagi menaklukkan hati perempuan bang! Ngaca bang! Ngaca! 

Sudah sering sih neng. Sering menyesal sih sebenarnya. Tiap ngaca yang nampak di cermin bukan wajah saya. Tapi huruf  Te-A-Em-Pe-A-En.

DAN BERIKAN APPLAUSE YANG MERIAH UNTUK SAYA!!!

Komentar

  1. hmmmm...masalah tampan.....
    sing nulis yo termasuk :) ketampanan tulisane,nulis ketampanan temane,nek butuh narasumber ya taktampanane..hehehe, malah komen dadi ra tampan..smoga tdk salah tampan..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...