Langsung ke konten utama

Kereta Kencana Bulan

Saya memiliki beberapa prestasi yang cukup membanggakan. Pertama, mungkin, saya belum pernah naik pesawat terbang. Terus naik kereta api juga bisa dihitung dengan jari. Terus, saya belum bisa menyetir mobil. Terus saya juga masih grogi jika harus menaiki motor berkopling tangan. Cukup membanggakan bukan. Oh iya satu lagi, saya juga jarang naik kapal. Tentu saja saya juga tidak bisa mengemudikan kapal tersebut. Jadi kalau di jalan ada orang menaiki mobil dan agak ngawur nyetirnya, saya tidak bisa langsung marah-marah. Lha wong saya nyetir saja nggak bisa. Naik motor matic juga nggak kalah canggungnya. Kaki ini suka gerak-gerak nggak jelas kayak nginjek rem. Padahal kan rem motor matic ada di tangan semua. Mana bisa berhenti kalau diinjek-injek.

Kereta api. Ini salah satu alat transportasi yang cukup membuat saya berdecak kagum. Untuk sekedar informasi saja, sekarang saya sedang gencar-gencarnya melakukan gerakan Indonesia Luar Biasa. Jadi setiap saya melihat apapun saya yang berhubungan dengan Indonesia, saya akan mengucapkan "Luar Biasaaaa....". Melihat lampu merah yang ada angkanya, luar biasaaa... Melihat ada mobil bisa berjalan dengan empat roda, luar biasaaa... Sulit untuk menemui dosen pembimbing, luar biasaaaa.... Terancam DO, luar biasaaa. Lamaran ditolak terus, luar biasaaa. Pokoknya melihat hal apapun akan saya ucapkan luar biasaaa. Nanti rencananya saya juga akan melakukan Gerakan Tepuk Tangan Indonesia. Jadi kalau melihat apapun saya akan bertepuk tangan yang keras. Ada baliho poster calon presiden, saya tepuk tangani. Ada kampanye partai, saya tepuk tangani. Ada yang tersangkut kasus korupsi, saya tepuk tangani. Ada penjual siomay lewat depan rumah saya tepuk tangani.
"Dua ribu bang. Nggak pedes."

Kembali ke kereta api tadi. Ceritanya minggu kemaren saya ingin sekali bertemu dengan seseorang. Ingin sekali pokoknya. Jatuh cinta? Lebih tepatnya membayar rindu. Eh tahu rindu nggak? Itu juga salah satu benda yang saya kagumi dan rencananya mau saya tepuk tangani juga. Rindu itu kalau meleset sedikit saja dari koordinat, dari orbitnya, dia bisa jadi cemburu lho. Pernah nggak tiba-tiba inget seseorang, terus kita sms tapi lama nggak ada balesan terus tiba-tiba kita jadi benci karena muncul pikiran yang aneh-aneh di dalam kepala kita. Pernah ngerasain gitu? Makanya besok dicek lagi. Jika timbul kebencian dalam diri kita, jangan-jangan itu hanya rindu yang berlebihan saja?

Iya, karena sakin rindunya mungkin, minggu kemaren saya melakukan wisata stasiun. Dari Solo ke Jogja. Sebagai pengangguran tanpa kantong, alias miskin di segala bidang, saya cukup tercengang mana kala mengetahui bahwasanya armada Prameks yang murah dan selalu penuh itu ternyata sudah mulai dikurangi jatahnya digantikan dengan armada yang lebih canggih fasilitasnya. Pokoknya apa-apa yang ber AC itu pasti lebih mahal daripada yang tidak ber AC. Padahal tidak semua manusia di belahan bumi ini cocok dengan AC. Salah satunya saya. Jadi sebel aja rasanya. Saya membayar lebih mahal untuk disiksa. Tarif naik dua kali lipat daripada yang tidak ber AC. Tapi, namanya juga perjuangan. Apalah artinya harta dan kekuasaan....

Pagi-pagi sekali saya sudah mandi. Dandan ala orang Korea Selatan karena saya tidak tahu dandan ala orang Korea Utara. Maunya sih berganti gaya ala Korea Utara. Kalau Korea Selatan kan sudah banyak yang meniru. Setelah mandi dan kandungan zat asam laknat di tubuh sudah berkurang, saya kembali memperbudak motor grand ceper kesayangan menuju Stasiun Balapan. Sebuah stasiun yang menginspirasi penyanyi campur sari Didi Kempot menjadi sebuah lagu. Sesampainya di sana saya melihat jadwal keberangkatan kereta. Karena jam 9 harus sampai di stasiun Tugu Jogja, jadi mau tidak mau saya harus berangkat memakai armada kereta yang ber AC. Tak apa itung-itung latihan fisik. Siapa tahu lama-lama akan terbiasa juga. Dan siapa tahu juga besok bakal punya kereta api pribadi. 

Pelan-pelan tubuh bereaksi karena dinginnya AC. Tangan kesemutan dan sebagainya. Karena terlalu mementingkan gaya dan salah informasi mengenai jadwal keberangkatan kereta, saya pun kedinginan aduhai. Sudah kalau tidur sendirian di kamar karena jomblo, eh ini naik kereta masih kedinginan juga. Lalu kebiasaan kebelet pipis pun datang. Asyiknya Tuhan itu disini, setiap kita akan membuang sesuatu dari dalam tubuh, ada yang namanya proses kebelet. Kebelet itu sebagai tanda yang harus kita tafsirkan. Coba kalau tanpa didahului dengan proses kebelet. Kan aneh, tahu-tahu celana kita basah di Mall dan menimbulkan bau pesing. Tahu-tahu kita berak pas makan malam dengan calon mertua. Jadi bersyukur saja kalau masih bisa merasakan kebelet. Yang ahli bahasa, tolong saya diberitahu apa bahasa Inggrisnya kebelet, bahasa Arabnya kebelet, dan bahasa Mandarinnya kebelet. 

Karena kebelet pula saya menuju toilet. Dan mau tahu apa yang terjadi? Ternyata di dalam toilet kondisinya lebih hangat. Sengaja saya berlama-lama di dalam toilet. Lumayan menghangatkan. Alhamdulillah Tuhan masih menyediakan tempat yang hangat di antara dominasi dingin. Tapi daripada nanti dicurigai, lebih baik saya kembali ke kursi saya. Setelah menikmati sekitar satu jam lebih perjalanan, akhirnya sampai saya di stasiun Tugu Jogja. Keluar, kembali ke loket tiket untuk membeli kereta menuju ke Solo lagi. 

Iya. Saya janji ketemuan di stasiun ini. Ada waktu satu jam an menunggu kereta. Saya duduk dengan setenang mungkin sambil menunggu kabar darinya. Karena kedinginian pula, saya memutuskan untuk membeli teh hangat. Melihat orang-orang di stasiun ini beraktivitas seneng rasanya. Opitimis memandang masa depan Indonesia yang lebih cerah. Indonesia boleh disebut negara demokrasi. Tapi demokrasi tidak sama dengan partai. Camkan itu jendral! Ini saya kesurupan apa kok nulis gini?

Dan cerita aneh pun dimulai. Kereta prameks yang akan saya naiki datang dari arah Kutoarjo. Penumpang yang banyaknya minta ampun keluar menghambur. Saya mulai panik. Saya angkat telpon.
"Halo, kamu dimana?"
"Ke timur mas. Ke timur saja."
"Ke timur?"
"Iya ke timur mas. tadi aku lihat mas."
"Kamu dimana? Aku sudah ke timur."

Saya mondar mandir keluar masuk dari gerbong yang satu ke gerbong yang lain. Mencari cari dimana dirimu..."
"Halo! Dimana sih?"
"Mas dimana?"
"Aku sudah di timur. Gerbong paling ujung."

Ada suara menyapa, "Maaf mas, ini gerbong khusus cewek."
Woooo lha kampret ini namanya. Dengan muka merah padam, saya ngeloyor keluar kamar. Suara telpon kalah dengan ramainya penumpang yang berdesak-desakan. Dengan tanpa perhitungan, saya asal masuk saya ke salah satu gerbong. Benar-benar asal masuk saja. Tak tahu endingnya akan seperti apa. Dan yap! Aku melihatmu! Ya Allah... akhirnya....

Sayangnya seneng saya hanya sesaat. Tiket saya hilang saudara-saudara. Wajah saya semakin panik! Mana ini tiket!!! Perasaaan sudah dimasukin ke saku celana! Kampreeettt!!!
"Tiket ku hilang! Gimana ini?"
"Sudah lah mas tenang saja. Wajahnya biasa aja ga usah panik." suara itu menenangkanku untuk sesaat. Tapi panik tetap tak bisa disembunyikan. Karena konon katanya barang siapa naik kereta dan kedapatan petugas tanpa tiket, akan diturunkan secara paksa. Muncul pikiran yang aneh-aneh di benak ini. Coba bayangkan, kalau anda ketahuan naik kereta tanpa tiket, anda akan dilempar ke luar. Itu masih belum seberapa. Anda naik kapal, ketahuan tanpa tiket, anda dilempar ke laut. Itu masih aman kalau anda bisa berenang. Anda naik pesawat terbang, ketahuan tanpa tiket, lalu anda di lempar keluar. Masih belum apa-apa karena amsih ada parasut. Coba bayangkan anda piknik ke bulan. Naik pesawat ulang alik NASA. Lalu di tengah perjalanan dari bumi menuju bulan anda ketahuan kedapatan naik tanpa tiket. Anda akan dilempar keluar!!!!! Anda akan mati dengan cara tragis. Tertabrak meteorid!!!! Atau tersambar komet!!!!!

Kemudian petugas pemeriksa datang.
"Udah mas tenang aja. Pakai saja tiketku."
"Terus kamu?"
"Udah pakai aja."
Petugas menghampiriku yang duduk di bawah karena kursi prameks penuh. Saya berikan tiketnya. Dan benar, saya tidak dilempar keluar. 

Fiuuuhhhh!!! Untung aku dipertemukan denganmu, coba kalau tidak. Seperti apa jadinya hidupku....
Ke bulan yuk, naik kereta kencana... eaaaaaaa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...