Harinya minggu. Tanggalnya 24. Bulannya Maret. Tahunnya 2013. Berarti kalau Sabtu tanggalnya 23 dengan bulan dan tahun yang sama. Di hari itu untuk pertama kalinya saya mengatakan kepadamu duhai perempuan berbaju, bahwa saya bahagia. Iya. Berbaju. Warnanya? Tak penting itu. Yang penting berbaju saja. Bahagia itu salah satu kata penting di dalam kehidupan manusia yang diciptakan Tuhan namun sama sekali kurang disukai oleh dunia akademisi manusia itu sendiri. Silahkan cek di tulisan-tulisan ilmiah, berapa banyak kata bahagia digunakan. Lebih banyak mana ketimbang kata komprehensif, signifikan, valid, atau menarik dan terkait? Membicarakan dunia ilmiah versi akademisi memang kurang membahagiakan saya. Karena tidak adanya kemampuan untuk itu. Di dalam ujian akhir skripsi saja kata teman-teman yang sudah melakoninya kita diajari harus bisa 'memenangkan pertarungan' dengan para penguji. Atau setidaknya pura-puralah menjadi pemenang. Sedangkan sudah bertahun-tahun saya menyatakan dan menarik diri dari segala jenis perlombaan di kehidupan ini. Kalau dibilang Didik sekarang beda dengan Didik yang dulu. Iya memang. Didik sekarang lebih tampan. Jelas itu. Didik sekarang lebih cerdas. Itupun sangat jelas. Didik sekarang lebih mempesona. Sangat syah itu.
Tanggal atau hari bisa menjadi begitu penting dan membahagiakan bagi sebagian orang. Tapi juga bisa menyedihkan bagi sebagian yang lain. Misalnya, tanggal 24 Maret 2013 itu ada yang sangat sangat bahagia karena sudah bergelar suami istri. Namun ada juga yang cekot-cekot kepalanya menyaksikan orang yang dicintainya bersanding mesra dengan orang lain di pelaminan. Ada yang bercita-cita menjalani lakon seperti ini? Tidak semua orang mampu melakoninya. Ini adalah cerita khusus untuk orang-orang yang diistimewakan Tuhan. Deritanya sungguh tak terperi. Bahkan malaikat bisa geleng-geleng kepala melihatnya sambil tertunduk hormat. Iblis? Kalau dia ikhlas menjalani cerita hidup yang seperti itu dan total dalam aktingnya, iblis tak akan bisa berbuat banyak. Karena iblis kalah telak dengan orang yang ikhlas.
Iya. Ini hanya soal pernikahan. Tidak ada pernikahan yang luar biasa. Adanya pernikahan luar dalam. Njobo njero kata orang Jawa. Antara jasmani (luar) dan ruhani (dalam) harus benar-benar bersatu. Kalau tidak, ya nggak tahu. Orang saya belum menikah.
Saya belajar dari orang yang mampu menanggung derita berat seperti itu. Pelan-pelan saya mulai mencintai kekalahan. Mengakui keberadaannya, mau berkenalan, kemudian mencintainya. Yang saya lakoni sekarang ini apa yang saya cintai. Jadi kalau saya dianggap kalah, berarti saya harus mencintai sepenuh hati kekalahan saya itu. Yang mampu dilakukan hanyalah mengumpulkan teknik menghibur diri sendiri. Bahkan saking semangatnya saya menghibur diri sendiri, sampai sampai saya mengakui sementara bahwa tidak ada doa yang tertunda. Adanya ditolak atau diterima. Karena bagi saya Tuhan itu tegas. Kalau jadi, maka jadilah. Kalau tidak ya tidak. Kalimat 'mungkin belum saatnya' itu hanya cara manusia menghibur diri saja. Karena saking sayangnya Tuhan kepada manusia, maka manusia diberi bekal untuk menghibur diri secara otonom. Otonomi menghibur diri. Oh iya, kata 'saat' dalam bahasa Jawa itu berarti waktu yang baik. Makanya kalau mau adzan kalimat yang tertulis di tivi-tivi adalah saat adzan Maghrib untuk wilayah...... Yang digunakan kata saat adzan, bukan waktu adzan. Karena saat lebih spesifik. Jelas rujukannya. Adzan itu salah satu penanda memasuki waktu yang baik.
"Mas Didik kapan skripsi selesai? Kenapa tidak segera diselesaikan?" ini pertanyaan yang saya anggap sebagai kekalahan saya itu. Mula-mula saya marah jika ditanya seperti itu. Apalagi yang tanya perempuan. Maksutnya apa? Sudah tahu belum lulus masih ditanya kayak gitu. Namun perlahan saya mencoba menerima dan mencintai pertanyaan itu dan sadar atau tidak sadar saya harus mengakuinya bahwa memang saya belum pantas untuk bergelar sarjana. Mungkin Tuhan sudah memasang slogan dalam hidup saya yang berbunyi "KATAKAN TIDAK PADA SARJANA". Tapi apa ya benar Tuhan seperti itu?
Kata teman saya, kalau ingin pinter dan mengembangkan berbagai jenis kemampuan menghibur diri, syaratnya gampang. Hormatilah kedua orang tuamu. Makanya beberapa kali jika ada perempuan yang dekat dengan saya selalu saya sarankan untuk bilang kepada orang tuanya saja tentang hubungannya dengan saya. Kalau orang tua bilang tidak, ya sudahi saja sampai disini. Dan jangan beritahu saya apa alasannya. Pun saya tidak akan pernah bertanya apa alasannya keluarganya menolak saya.
"Mas, bapak ibu masih belum bisa menerima kehadiran mas Didik." itu saja cukup. Saya akan pergi dan tetap berjalan tegap. Lebih tegap daripada PNS yang apel Senin pagi. Jangan bawa-bawa alasan belum lulus, pengangguran, weton nggak cocok, beda tarbiyah, beda liqo, beda pengajian, dan alasan-alasan yang akal saya tidak mampu menerimanya. Jangan sampai saya membenci alasan-alasan itu. Saya tidak bisa membenci orang-orang yang tidak bergelar sarjana. Karena saya mengenal orang-orang yang tidak bergelar atau tak kunjung lulus kuliahnya, kehidupan mereka lebih rumit ketimbang urusan skripsi atau sarjana sehingga mereka memilih untuk tidak mencapainya. Saya tidak bisa membenci pengangguran. Ini paling aneh. Antara pengangguran dani bekerja itu hanya diukur dari hasil. Kalau ada hasilnya, baru anda diakui sebagai orang yang bekerja. Namun kalau anda bekerja namun tidak menghasilkan apa-apa, anda disebut pengangguran. Sampai kiamat akan tetap seperti itu. Perhitungan weton atau hari lahir juga tidak bisa saya benci karena itu hasil ijtihad orang-orang Jawa jaman dulu. Saya menghormati leluhur saya. Menghormati itu bukan berarti tunduk dan menyembah. Bisa juga mengkritisinya.
Sampai paragraf ini sudah ada yang menangis? Belum ya? Dramatisasinya masih kurang ya? Waduuuhhh, berarti saya gagal menjalankan peran sebagai penulis. Atau ada yang sudah berhasil merembes air matanya? Itu juga saya masih belum dikatakan total dalam menjalankan akting saya sebagai penulis. Karena tulisan saya ini sebenarnya tidak ada urusannya dengan tangisan anda.
Baiklah kita coba dari awal lagi. Masih sanggup membaca? Itu tadi paragraf pertama paragraf sok eksis. Paragraf kedua sok makrifat. Paragraf ketiga sok bijak. Paragraf keempat sok tahu soal bahasa. Paragraf kelima sok marah. Paragraf seterusnya paragraf kesombongan. Dan paragraf sebelum ini sampai paragraf ini adalah paragraf karena kehabisan bahan.
Oh iya. Rumusnya cuma satu, jangan pernah percaya sama saya. Nite all, and met bobo buat kamu...
Sampai paragraf ini sudah ada yang menangis? Belum ya? Dramatisasinya masih kurang ya? Waduuuhhh, berarti saya gagal menjalankan peran sebagai penulis. Atau ada yang sudah berhasil merembes air matanya? Itu juga saya masih belum dikatakan total dalam menjalankan akting saya sebagai penulis. Karena tulisan saya ini sebenarnya tidak ada urusannya dengan tangisan anda.
Baiklah kita coba dari awal lagi. Masih sanggup membaca? Itu tadi paragraf pertama paragraf sok eksis. Paragraf kedua sok makrifat. Paragraf ketiga sok bijak. Paragraf keempat sok tahu soal bahasa. Paragraf kelima sok marah. Paragraf seterusnya paragraf kesombongan. Dan paragraf sebelum ini sampai paragraf ini adalah paragraf karena kehabisan bahan.
Oh iya. Rumusnya cuma satu, jangan pernah percaya sama saya. Nite all, and met bobo buat kamu...
wah, saya pernah mengalaminya...sakiiiit bangeudh...apalagi saya nekad lihat ijab-qabulnya...whahahaha...hikz T.T
BalasHapus