Langsung ke konten utama

Impotensi Potensi

Di rumah, ibu punya ramuan khusus yang komposisinya 'ngawur'. Entah dari mana resep yang beliau dapat. Yang jelas tidak ada kitab acuannya. Tidak ada takaran harus sekian gram bahan yang dimasukkan. Pokoknya segala macam daun di pekarangan rumah direbus. Kata ibu, resep 'jamu' ini mujarab. Tapi untuk kalangan keluarga sendiri. Apalagi ini, pikir saya. Bapak dan ibu pernah mengalami sakit yang berkepanjangan. Tidak parah sih. Cuma tidak kunjung sembuh dan harus bolak balik kontrol ke dokter. Entah dapat ide dari mana, kemudian ibu merebus beberapa tanaman yang ada di halaman ditambah beberapa lagi yang dibeli di pasar. Sudah berasa tabib ini. Uniknya, hasil ramuan ini berfungsi untuk pengobatan luar sekaligus dalam. Hasil rebusan tadi, ada yang dijadikan minuman dan ada yang digunakan untuk mandi. Ibu bilang, daripada keluar duit banyak ke dokter, ramuan ini memiliki efek yang cukup jelas. Tapi sekali lagi ramuan ini hanya khusus untuk keluarga kami sendiri. Ini yang sering diajarkan ibu kepada saya. Manjur untukmu, bukan berarti manjur untuk orang lain. Karena setiap tubuh manusia memiliki potensi yang berbeda beda. Jadi jika melihat sesuatu yang misterius dalam diri orang lain, jangan tergesa untuk menilai. Sesuatu dianggap misterius hanya kita belum tahu saja tentangnya. Lucunya, ramuan ini benar-benar manjur. Beberapa penyakit ibu dan bapak alhamdulillah tentu saja atas kehendak Tuhan berangsur sembuh. Iya kata ibu juga, tidak ada penyakit yang sekali diobati langsung sembuh. Harus ada proses. Dan disitulah letak pelajaran kesabaran. Pasti sembuh, namun ada waktunya. 

"Dik, mandi sekarang?"
"Nggih."
"Sudah ibu siapkan ramuannya. Nanti sisanya diminum. Ada di kulkas."

Sumpah. Berasa hidup di jaman kerajaan saya. Dimana herbal masih menjadi andalan yang utama. Bak pangeran yang akan mandi air hangat di kolam yang konon katanya bisa bikin awet muda. Masuk ke dalamnya dengan diiringi gendhing gamelan yang ditabuh para niyaga. Sayup-sayup terdengar membuat hati semakin tentram. Rileks mendera. Beberapa pengawal bertubuh kekar mengawasi di setiap sudut kolam keramat. Menjaga sang pangeran tampan mandi air mujarab ramuan ibunda tercinta dan berharap semoga putri dari kerajaan seberang sudi untuk menerima pinangannya. Mau mandi saja ribet ya? Pakai imajinasi yang aneh-aneh lagi. Ramuan 'aneh' tadi biasanya sebagai bilasan terakhir. Jadi wangi yang keluar seperti wangi tumbuh-tumbuhan. Kemudian,

"Itu diminum." kata ibu tanpa senyum. Saya mulai curiga.
"Yang gelas mana?"
"Yang kanan. Hati-hati pahit lho." kata ibu. Oke, fix. Saya panik akut.

Perlahan saya ambil gelasnya. Saya pegang hidung saya. Tahan nafas. Lalu. Glek glek glek dan...
Aaaaaaarrrrrhhhhh!!!!!!!!

Pahitnya setengah mati pembaca yang budiman. Mangap-mangap nggak karu-karuan saya. Ini apaan sih! Ibu sama bapak malah ketawa-ketawa lihat saya mangap-mangap. Iya sih. Mangap-mangap saya aneh. Semacam kombinasi mangap-mangap sama ngakak. Teriak-teriak nggak jelas. Antara kesurupan dan bahagia dapat lotere milyaran.

"Permen permen." kata bapak.
"Ini obatin permen." ibu memberikan solusi.
"Nggak. Aku mau menikmati pahitnya." jawab saya tak kalah aneh. Durasi pahitnya cukup lama. 

Beberapa waktu kemudian tubuh saya mengalami semacam ketidakberesan khususnya di bagian perut. Saya harus bolak-balik kamar mandi. Seolah-olah kamar mandi adalah rumah calon istri saya. Ini perut kenapa? 

"Kenapa?" tanya ibu datar.
"Nggak tahu."
"Mencret?"
"Nggak sih. Normal. Tapi sering."
"Jamu tadi memang 'membersihkan'. Bakteri-bakteri jahat semuanya mati." ibu beropini santai. Saya cuma manggut-manggut. Dan masih berulang kali keluar masuk kamar mandi sampai lemas. Memang sih, kalau tubuh kita bereaksi terhadap obat, berarti memang tubuh kita sedang tidak beres. Kalau tubuh kita tidak kenapa-kenapa ya obat tidak berpengaruh. 

Saya sekarang mulai curiga. Jangan-jangan gaya tulisan saya, cara bicara saya, yang ngawur ini memang pengaruh genetika ya? Ibu itu kalau masak, selalu bilang. "Ah asal aja. Enak-enak nanti.". Enak sih jadinya. Tapi ekspresinya itu lho. Seolah asal lempar bahan ke wajan aja. Apalagi kalau bikin sambel asal uleg aja itu cabe. Anehnya, ya enak. 

Cukup lama saya berusaha mencari sebenarnya potensi saya ini dimana. Yang baru ketemu cuma gaya ngawur tadi. Itupun karena genetika. Katanya orang yang tidak berhasil menemukan potensi dalam dirinya, dia akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidup. Bagi saya, menemukan potensi saja tidak cukup. Impotensi diri juga harus dipahami. Ini memperlemah? Tidak selalu. Impotensi hanya peringatan untuk memanfaatkan potensi. Kita hari ini ketemu potensi. Kalau tidak segera dimanfaatkan dengan baik potensi tadi akan berubah menjadi impotensi. Taruhlah saya mampu menulis. Kalau tidak diasah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya lama-lama juga akan mandul dan tidak produktif. Jadi begitu ada ide langsung dituangkan. Begitu mencintai seseorang langsung nyatakan. Kalau tidak nanti hanya akan jadi endapan dan cinta itu impotensi, tidak memiliki nilai sama sekali. Iya sih, meskipun akhirnya ditolak. Iya iya. Tau tau...

Kemudian teman-teman bilang kalau saya berpotensi menjadi vokalis, penyanyi. Saya iyakan. Saya berusaha semaksimal mungkin memahami, tidak hanya teknik vokal, tapi bagaimana ketemu karakter saya yang khas itu seperti apa. Akhirnya ketemu. Karakter khasnya, cempreng dan fals. Terus dipelajari juga bagaimana menyanyi dalam proses rekaman. Teknisnya seperti apa. Bagaimana menjaga lagu agar stabil alur emosinya. Bagaimana penggunaan diksi yang jelas supaya mudah dipahami liriknya. Terus bagaimana memanfaatkan sosial media yang ada untuk sarana berbagi sekaligus promosi karya. Jadi sebenarnya satu potensi yang kita temukan kalau benar-benar mau digali akan mengundang potensi-potensi yang lain. Dari belajar vokal bisa belajar teknis rekaman, mixing lagu supaya enak di telinga sampai penguasaan sosial media yang ada sekarang ini. Eh iya. Facebook, twitter, dan lain-lain itu saya menyebut bukan sosial media, tapi media sosialisasi. Bukan tempat untuk mengumbar keluh kesah dan aktivitas saja, tapi juga media promo atau sosialisasi yang efektif. Kalau benar-benar dimanfaatkan.

Terus misal lagi ini yah. Saya kebetulan dianugerahi Tuhan kemampuan menulis. Iya menulis ngawur tadi. Dulu saya memanfaatkan komunitas-komunitas penulis cyber online. Meski banyak yang menganggap itu seperti penulis karbitan, instan, namun dari sanalah keyakinan saya semakin kuat, bahwa untuk urusan gaya tulis menulis itu tidak harus sama seperti penulis yang sudah-sudah. Memang ada beberapa teori yang sama. Semisal dalam gaya penulisan jurnalistik. Harus memuat beberapa hal seperti 5W + 1H dan lain sebagainya. Namun untuk jenis essay, itu bisa bebas sebebasnya. Intinya hanya bisa dipahami oleh pembaca. Novel pun sebenarnya setiap penulis juga memiliki gaya yang berbeda. Jadi misal pun ada yang terinspirasi terhadap gaya tulis menulis saya, kalau pun dia ikut-ikutan seperti saya, atau copy paste, dia akan kesulitan jika mendapatkan tanggapan dari si pembaca. Karena kadang kalau saya membuat status misalnya, itu ada yang saya sengaja untuk tidak saya komentari balik jika ada yang berkomentar. Kesannya sombong yah? Bukan. Tidak semua harus ditanggapi. Misal ada kalimat seperti ini. Syarat untuk menjadi suami yang sholeh harus menikah dulu. Itu saya siapkan untuk tidak saya komentari balik karena sudah cukup jelas dan sangat informatif sekali. Lagian orang ngawur kok ditiru. Jadi, se-terinspirasi apapun saya terhadap penulis, kalau saya menulis, hasilnya akan tetap berbeda dengan orang-orang yang menginspirasi saya. Kadang saya juga tidak paham dengan tulisan saya sendiri. Ada beberapa memang yang saya juga bingung. Ini kenapa bisa jadi seperti ini? Ini maksut kalimat apa sih? Kok tidak enak gini? Dan lain sebagainya. Jadi jika satu tulisan selesai dan menurut orang lain bagus, bisa jadi bagi penulisnya itu masih bukan apa-apa.

Terus, dari diskusi dengan penulis cyber saya ketemu apa lagi? Dari sana saya diperkenalkan dengan note's FB. Dulu pas masih hangat-hangatnya nge-tag note FB, sering terjadi diskusi panjang antar pembaca note-note saya. Sampai beberapa bersitegang. Macem-macem pokoknya. Saya sih santai. Katanya catatan saya kontroversial dan lain sebagainya. Kamu kontra karena kamu tidak terlibat dan tidak menjadi bagian di dalamnya. Kalau kamu ikut andil ya kamu pro. Dulu saya sering berbicara tentang isu-isu di Indonesia. Sekarang saya rem. Saya sering bertanya pada diri saya sendiri. Saya ini orang Indonesia apa bukan sih? Nggak ketemu jawabannya ya saya sudahi saja. Yang penting potensi saya apa ya kalau bisa bermanfaat untuk orang lain, tidak hanya untuk orang Indonesia tapi juga orang Arab misalnya ya sudah, itu sudah cukup. Saya kadang mikir seperti ini. Saya benci sama koruptor itu apa karena saya tidak mendapatkan kesempatan untuk korupsi ya? Jangan-jangan kalau saya menjabat menjadi ketua umum, bendahara partai, presiden partai saya akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih parah? Saya tetap mencintai Indonesia. Tapi cara orang mencintai kan berbeda-beda. Ada yang melamarnya, bahkan ada yang sengaja meninggalkannya dengan alasan dia akan lebih bahagia tanpa kita.

Sampai mana tadi. Oh dunia note FB. Lantas menjalar ke blog, sampai ke pembelian domain, hosting dan bagaimana supaya blog saya ini berada di deretan paling atas di mesin pencarian google. Kalau bisa memanfaatkan bisa juga mendapatkan receh beberapa dollar dari google. Jadi mau mempelajari seluk beluk optimasi SEO dan belajar langsung dari para ahlinya. Kadang juga bisa mengundang iklan untuk masuk. Macem-macem. Untuk apa sih melakukan itu semua? Ya hanya memanfaatkan potensi sebelum semuanya berubah menjadi impotensi.

Nanti pasti ada yang komen gini.
"Makanya mumpung kamu masih punya potensi, buruan nikah. Daripada nanti keburu impotensi lho."
Iya iya, nggak usah nyinyir gitu kenapa sih. Mentang-mentang sudah pada berkembang biak.

Jangan-jangan orang yang korupsi itu bilangnya juga seperti itu,
"Iya. Ini kan dalam rangka memanfaatkan potensi jabatan, potensi posisi sebelum berubah menjadi impotensi..."

Tutup mata aja deh. Matiin tivi. Buang koran. Baca sms-sms mu aja sudah cukup buatku bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...