Langsung ke konten utama

Tersedak Kelereng (Cerpen)

Ada anak kecil tersedak kelereng. Ibunya bingung. Lari ke rumah tetangga, mereka tak punya penyelesaian. Si anak semakin sulit bernafas. Ketika si Ibu berlari kembali ke rumah dia melihat tulisan yang tertempel di tiang listrik karatan.

"JASA SEDOT DAN KURAS WC hub 085647036656"

Si Ibu mempercepat larinya. Sampai di rumah langsung menyambar telepon genggam yang tergeletak di dekat anaknya yang masih dalam kondisi tercekat tenggorokkannya. 

"Untung kamu cuma tersedak kelereng. Coba kamu tersedak hape ini."

Si anak melotot. 

Si Ibu menekan angka-angka yang diingatnya.

"Halo. Ini jasa sedot WC?"
"Iya benar. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ini anak saya tadi mainan kelereng terus tersedak. Bisa tolong disedot?"
"Ibu harus periksa. Ini yang sakit kayaknya ibu deh."
"Enak aja. Saya sehat. Baru saja lari-lari keliling kampung meminta bantuan."
"Kok nggak minta tolong polisi?"
"Anak saya tersedak kelereng! Bukan tersedak plat nomor polisi!"
"Kalau yang menyedot kami, nanti anak ibu juga ikut tersedot!"
"Iya nggak apa-apa. Yang penting kelerengnya bisa disedot!"
"Bu! Ibu paham nggak sih!"
"Kalau nggak paham ngapain saya telpon ke nomer ini?"
"Bawa ke dokter bu! Jangan sedot WC. Anak ibu bisa...."

Tut tut tuuuttt....

"Yah mati lagi. Pulsa habis lagi. Sabar ya nak. Lain kali kelerengnya ibu rebus dulu biar empuk."

Si anak tetap melotot.

Si Ibu terduduk lemas. Dia cuma mengelus-elus kepala anaknya sambil komat kamit baca doa. Berharap anaknya tidak apa-apa dan kelereng yang tertelan segera bisa keluar. Si Ibu mengambil remot tivi. Mencari hiburan karena pikirannya tidak karuan. Dia bingung, kenapa anaknya bisa makan kelereng.

Si anak konsisten melotot.

"Telah ditemukan kepingan yang diduga bagian dari piring terbang. Kepingan yang ditemukan di area peternakan sapi itu membuat geger warga sekitar karena menghancurkan tiga kandang sapi sekaligus. Beruntung kandang-kandang tersebut dalam kondisi kosong ketika kepingan sebesar rumah di perumahan KPR itu jatuh. Warga marah lantaran sampai saat ini tidak ada aparat pemerintah yang datang untuk sekedar menengok kepingan itu. Padahal itu bisa menjadi kepingan-kepingan sejarah." siaran kuis keluarga itu terpotong oleh sebuah berita singkat.
"Lho? Itu kan desa rumah nenek nak?" kata si Ibu.

Si anak masih konsisten melotot.

"Lihat. Di kandang itu kamu sering bermain bersama anak-anak paman Tarman. Nah. Itu itu itu! Kolam depan kandang itu sering menjadi arena berenang kalian. Untung kolamnya tidak hancur nak. Kalau hancur...
Kalian tidak bisa bersenang-senang lagi. Untung untung... eh nak, kalau kelereng itu nanti bisa keluar, kita main ke rumah nenek lagi yak. Mau nggak?"

Si anak mengangguk. Tapi tetap melotot.

"Pasti nenekmu sekarang sedang merindukan kita. Sudah lama kita nggak ke sana. Bapakmu sibuk sih. Masih banyak sawah yang harus digarap. Eh nanti kalau kelerengnya keluar, kamu segera bantu bapak di sawah yak. Bawa makan siang juga. Kamu temeni bapak makan. Jangan kelereng terus yang dimakan."

Si anak mengangguk lagi. Tapi tetap melotot.

"Sekarang tatap ibu. Lihat ke sini. Lihat mata ibu. Siap yak."

Brak! Brak! Brak!

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Klontang!

"Akhirnyaaaa... kelerengnya keluarga jugaaaa..." Si Ibu senang.

Namun, si anak tetap melotot. Sambil melakukan salam dua jari.

"Apa? Masih dua lagi nak? Astagaaa..."

Brak! Brak! Brak!

Klontang! Klontang!

"Huuuhhh... akhirnya..."

Si anak batuk batuk masih merasakan sakit di tenggorokan. Dengan hati-hati si anak mulai berbicara.

"Ini gara-gara ibu nggak membolehkan aku main hape. Aku kan jadi tersedak kelereng."
"Eh. Kan ibu sudah bilang. Mending kamu tersedak kelereng daripada tersedak hape."
"Tapi kan kelerengnya tiga."
"Eh, Masih mending. Kalau semua hape ibu tertelan? Hape ibu kan tiga juga?"
"Ah ibu. Pokoknya kalau bapak pulang, aku mau minta hape." 
"Mau kamu makan?"
"Ah ibuuu..."

Si Ibu memeluk anaknya.

"Yang kuat ya nak. Yang sehat. Karena bapakmu..... tidak sedang menggarap sawah. Sudah tidak ada lagi sawah yang bisa digarap. Sudah tidak ada. Mas... cepat pulang dari kamp pelatihan NASA ya... semoga kamu tidak jadi pergi ke Mars Mas... padi nggak akan bisa tumbuh di sana. Percuma juga kalau sampai di sana cuma jadi petani."
batin si Ibu sambil menahan air yang akan segera mengucur deras dari matanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Grup Neraka, Pemilu Neraka

Oke. Untuk teman-teman yang baru hadir bisa mengambil tempat duduk yang disediakan. Di depan kalian sudah ada satu paket makanan kecil beserta air minum dalam kemasan. Mari kita berdialog dalam suasana yang santai, rileks, dan tidak ada curiga antara satu dengan yang lain meski baju yang teman-teman kenakan semuanya tidak ada satupun yang sama. Baju couple itu baju yang jelas-jelas beda antara satu dengan yang lainnya. Namun tatkala masing-masing kuat pendiriannya bahwa mereka berbeda satu sama lain justru itulah unsur utama penyatuan itu. Berpasangan itu jelas-jelas menyatukan unsur yang berbeda. Bukan menyatukan unsur yang sama. Sandal kanan pasangannya sandal kiri. Keduanya disebut sepasang sandal. Satu laki-laki satu perempuan keduanya disebut mempelai berdua. Satu aku satu kamu disebut dengan cinta. Mas panitia tolong dicek satu persatu jangan sampai tidak ada yang tidak mendapatkan snack. Karena teman-teman saya yang hadir disini mereka datang secara ikhlas. Jadi sedikit sna...

Sesaji Di Dalam Kulkas

Seperti otomatisasi, kehadiran kulkas di ruang tengah seakan memanggil-manggil makanan untuk berduyun-duyun datang dan tinggal di dalamnya. Kulkas ini jauh dari kata hampa. Selalu terisi, dengan cara yang misterius dan tak terprediksi. Seperti kisah-kisah jaman dulu. Ada periuk yang tiba-tiba berisi nasi padahal tak pernah ada beras satu butirpun di sana. Di tempat teratas tentu saja ada kotak pembeku. Oleh istri dimanfaatkan untuk membuat batu-batu es. Jaga-jaga kalau ada tamu yang suka makan batu es. Emang ada? Banyak kawan saya berjenis makhluk pemakan batu es. Berapa? Banyak. Laki atau perempuan? Perempuan. Makan es batu seperti ngemil kacang kulit. Jadi freezer ini merupakan tempat sesaji untuk makhluk-makhluk itu. Di rak kedua tepat di bawah freezer sering digunakan istri sebagai tempat penyimpanan kaki ayam atau yang lazim kita kenal dengan 'cakar'. Lebih menggugah selera disebut dengan 'ceker'. Saya berada di garda depan untuk urusan ceker ini. Ceker adalah s...

paHAMILah

Sudah hampir tujuh bulan ini perut istri saya membesar. Kadang konstraksi kecil. Kayak ada yang memukul-mukul dari dalam. Lucu rasanya. Jadi perempuan itu gitu ya? Bisa hamil. Membawa makhluk hidup di dalam perutnya selama lebih kurang 9 bulanan. Saya tanya sama istri saya, "Kayak gitu rasanya gimana? Bawa perut gede." "Sekarang ya berat. Kenapa?" "Nggak papa." Perempuan kalau hamil itu kayak punya gelombang positif berlapis-lapis. Katanya karena dibantu dari dalam. Pusat energinya double. Ada yang bilang sih, kalau hamil itu gampang lemes. Bawaannya pengen tidur. Saya pikir itu wajar. Butuh sering isi ulang daya. Toh tidurnya itu bukan karena alesan males. Perempuan hamil itu mendapat bermacam fasilitas. Baik dari Tuhan maupun dari manusia. Coba aja kalau nggak percaya. Yang jomblo itu kalau udah nikah nanti kan tau. Nggak perlu baper. Nggak perlu banyak konsep. Nggak perlu nyari bahagia. Nggak mesti kok nikah itu mesti bahagia. Nggak mesti seneng-se...