Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Negeri Salah Makan

Gini lho. Itu apa namanya. Ini Senin ya? Saya baru saja selesai mencuci piring. Sepertinya cukup lama saya tidak mengasah kemampuan mencuci piring. Terakhir kapan ya? Ah lupa. Karena setiap pagi sudah ada yang mengambil alih wilayah teritorial mencuci piring saya. Ini tadi mumpung lagi sepi dan beliaunya lagi keluar kota jadi saya manfaatkan saja waktu yang ada. Lumayan. Skill kalau tidak diasah ya sayang. Pensil kalau tidak diasah ya tidak lancip. Tapi kalau diasah terus ya habis.  Mencuci piring itu kegiatan yang istimewa. Saya tidak sedang mengajak bercanda. Ini serius. Mencuci piring itu merupakan aktivitas yang lingkup wilayah nilainya nasional bahkan internasional bahkan universal. Kalau kalian seorang pesohor, pejabat, public figure dan kalian tertangkap kamera sedang mencuci piring, berita itu bisa bernilai milyaran rupiah lho. Nanti di mass media termasuk media online anda akan menjadi trending topic selama berbulan-bulan dan tidak menjadi bulan-bulanan. Ini serius lh...

Senin Kamis

Mata ini masih berkaca. Bukan. Aku tidak sedang menangisi atau mencoba menangis atau berusaha mati-matian untuk kelihatan akan menangis. Ini. Air di mata yang terbendung dan membuat ilusi optik sehingga nampak seperti kaca ini bukan perwujudan efek samping ekspresi kesedihan. Bukan. Tolong jangan terburu untuk menyatakan sesuatu. Tahan dulu prasangkamu. Tahanlah. Tahanlah. Jangan sampai prasangkamu membuncah mengenai ubun-ubunku lalu dengan tegas mengecap dahiku dengan label-label penilaianmu. Tolong. Tahan saja prasangkamu. Jikalau perlu usir ia jauh-jauh dari benakmu. Aku tahu. Pikiranmu sudah begitu berat dan sepertinya kelebihan muatan. Jadi jangan tambahi dengan prasangka-prasangka samar. Aku takut kau tak akan mampu untuk menebak siapa aku dan bagaimana keadaanku sekarang. Bisa aku katakan, dan tolong setujui dengan anggukan. Meski anggukan itu ragu, tapi ketahuilah dan yakini sedikit saja dengan keimananmu, bahwa aku memang tidak apa-apa. Benar. Aku sedang tidak apa-apa. Kalaup...

Hati Bolak-Balik

Ia meneliti rak buku kecil berwarna hitam yang menempel 50 cm di bawah jam dinding kamarnya. Rak buku yang awalnya sudah tertata rapi itu mulai berantak lagi. Setelah beberapa waktu lalu berhasil ditata dan dikelompokkan berdasarkan jenis buku supaya lebih mudah jika ingin mencari buku dan membacanya ternyata harus rela terusik dengan keberadaan beberapa plastik dan sachet shampo. Rak buku yang sekaligus menjadi tempat bersemayamnya berbagai jenis minyak. Minyak rambut, minyak wangi, minyak kayu putih dan yang lebih membingungkan lagi di sana pula terdapat isolasi besar warna cokelat dan transparan, pemotong kuku, serta celengan yang terbuat dari kaleng bergambar barbie. Padahal, ini kamar seorang lelaki. Kenapa harus ada barbie? Di rak buku itu pula terdapat semacam kotak kado, kardus minyak wangi, serta tempat berbentuk persegi empat ukuran 30x30 cm yang berisi berbagai macam barang. Tas kecil, kacamata, kabel data, CD album presiden SBY, Keroncong rohani, topi, sparepart alat musik...

Sarapan Harapan

Pohon-pohon cemara tinggi menjulang. Tinggi namun jauh dari kesan keangkuhan. Seolah ingin menyampaikan pesan bahwa itulah sebenar-benarnya pelindung dan pengayom. Ranting-ranting kecil mengering dan patah jatuh ke tanah. Di sanalah, ada kekecilan di antara kebesaran-kebesaran. Aneh, yang kecil, patah, dan terjatuh itu tidak merasakan kesakitan karena memang sudah sewajarnya ia mengalami itu. Udara cukup sejuk. Seorang lelaki berumur berjalan di antara pepohonan itu. Lama ia menatap mereka. Mereka yang selalu setia menghamba di kaki gunung menjaga keseimbangan alam semesta. Kadang sedikit senyum terlukis di wajah lelaki berjaket biru hitam itu. Senyum yang ia sendiri tak tahu artinya. Akhir-akhir ini wajahnya dipenuhi dengan senyum. Untuk menambah ketampanannya? Ia rasa tidak begitu. Ia hanya ingin menikmati proses, cerita demi cerita hidup yang telah tertulis untuknya. Ia ingin total menjalani itu semua. Akting secara sungguh-sungguh. Dihirupnya udara segar perlahan-lahan mem...