Langsung ke konten utama

Tsar Jannah

Baru jam sebelas siang. Tapi rasanya ini masih ngantuk aduhai. Tak tahu kenapa bisa ngantuk seperti ini. Perasaan semalam cuma ngobrol bersama seorang teman sampai sekitar pukul sebelas malam. Sudah pasti apa saja yang kita obrolkan. Tahu kan kalau saya ini manusia yang kualitasnya dipertanyakan? Jadi isi obrolannya juga jauh dari kualitas itu sendiri. Tapi karena saking tidak berkualitasnya kadang sampai bisa berjam-jam durasinya. Kalau dulu sering sampai adzan Shubuh baru selesai. Semalam itu cuma sampai jam sebelas saja. Cukup pendek untuk sebuah obrolan yang tidak berkualitas. Total sekitar hanya dua jam lebih sedikit. Harus saya sudahi obrolan tak berkualitas itu karena 'sinyal' kebelet pipis sudah datang. Jadi obrolan tak berkualitas yang sering saya jalani itu alarmnya cuma kebelet pipis. Bukan rasa kantuk. Eh, ternyata kantuk itu masuk dalam kategori 'rasa' ya? Baru tahu saya malah. Mirip rasa cinta, rasa sayang, rasa sedih gitu? Rasanya ngantuuuuuk banget. Ealah ternyata.

Iya. Kantuk itu rasa. Bukan penyakit. Jadi rasa kantuk dan tidur itu bisa jadi tidak ada hubungannya sama sekali. Ada orang yang tidur tanpa merasakan kantuk. Hypnosis mungkin? Bius mungkin? Pingsan mungkin? Meskipun rasa kantuk itu suka disandingkan dengan tidur. Rasa kantuk diprasangkai sebagai penyakit, sedangkan tidur diduga sebagai obat. Yang tidak saya pahami lagi adalah adanya tidur berkualitas. Baru tahu juga kalau tidur itu adalah kualitasnya. Parameternya, pertama, kalau bangun tidur segalanya menjadi segar. Kedua, tidur yang tidak memerlukan durasi berjam-jam mungkin cukup beberapa menit saja. Kalau tidur ada kualitasnya berarti ada tidur ori, tidur KW, tidur KW super, tidur KW 2, dan tidur bajakan?

Tidur tidur aja gitu. Pakai kualitas. Lagian kalau parameternya durasi, itu bukan kualitas, tapi kuantitas kan?

Iya beneran ini masih dilingkupi rasa kantuk. Sudah berapa kali mata ini dikucek kayak cucian. Menguap juga sudah tak terhitung. Pernah ada yang menghitung dalam sehari kita menguap berapa kali? Kayaknya asyik juga untuk dicoba esok hari. Jadi semisal gini. Setiap hari saya akan mencatat aktivitas sederhana secara lebih detail. Kantuk berapa kali. Kentut berapa kali. Kucek mata berapa kali. Garuk-garuk berapa kali. Bagian mana yang sering digaruk juga dibedakan jenisnya. Kita pegang hidung berapa kali. Korek-korek kuping berapa kali. Benerin resleting berapa kali. Menata rambut pakai tangan berapa kali. Betulin jarum jilbab berapa kali. Kencengin ikat pinggang berapa kali. Kurang kerjaan yah? Iya sih emang.

Bener kalau kurang kerjaan. Karena saya sebenernya ini dalam proses menunggu jadwal ujian pendadaran dari kampus. Iya. Mitosnya supaya gelar sarjana masbuk yang sering saya bawa kemana-mana itu bener-bener menjadi kenyataan. Iya. Kalau sarjana cumlaude itu mungkin masa studinya 3 tahun 9 bulan. Kalau sarjana masbuk itu 9 tahun 3 bulan. Cuma beda letak tahun dan bulan saja kok. Potensi masuk surganya sama. Sudah pada ngerti kan kalau semua sarjana di Indonesia bakalan masuk surga?

Suatu saat si fulan di datangi malaikat penjaga surga di rumahnya. 

"Hai si fulan." malaikat membuka percakapan penting.
"Siapa ente?"
"Aku malaikat penjaga surga."
"Bukannya malaikat penebar rizki yang biasa kesini?" si fulan mencoba menebak.
"Khusus hari ini aku yang datang. Bukan dia."
"Tumben. Ada apa gerangan?"
"Aku membawa berita baik untukmu."
"Untukku? Khusus untukku saja?"
"Iya. Ini spesial untukmu."

Merasa penasaran, si fulan kemudian mencoba mengorek data yang lebih banyak dari malaikat penjaga surga.

"Hai malaikat yang rupawan. Apakah kiranya kabar baik yang akan kau sampaikan kepadaku itu. Katakanlah."
"Kamu, hai si fulan. Pada saatnya nanti kamu akan menjadi salah satu penghuni surga. Bahkan menjadi slah satu pemimpin di surga." 
"Ha?" si fulan senang sekaligus heran, "kalau boleh tahu apa sebab aku dijadikan penghuni surga bahkan menjadi salah satu pemimpin di surga? Apakah karena aku ahli ibadah malam?"
"Tidak." jawab malaikat.
"Apakah karena aku ahli puasa?" tetiba si fulan ingin menangis.
"Tidak."
"Apakah karena aku sering menebar kemanfaatan di muka bumi ini?" air hangat mulai keluar dari mata si fulan.
"Tidak."
"Lantas atas sebab apa aku dijadikan salah satu penghuni surga?" si fulan tak kuasa menahan tangis karena merasa bahwa selama ini ibadah-ibadah yang dilakukan ternyata menjadi sia-sia saja.
"Tidak. Tidak karena itu semua."
"Lantas apaaaaa...." tangis si fulan semakin menjadi.
"Kamu menjadi salah satu penghuni surga karena kamu seorang sarjana. Tsar dan Jannah. Sar atau Tsar itu pemimpin sedang Jannah itu surga si fulan. Jadi, semua orang yang bergelar sarjana, secara otomatis dia akan menjadi penghuni surga karena sudah melampaui proses wisuda atau vishuda, yang berarti penyucian diri. Dia akan menjadi pemimpin, karena setiap manusia adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri."

Tangis si fulan tak terbendung lagi. Sepenting itu kah gelar sarjana? Sesuci itukah sarjana? Semulia itukah? Serentak beribu penyesalan menyerbu dirinya. Kalau saja dia paham sejak dulu apa itu sarjana mungkin dia tidak akan asal-asalan mengerjakan skripsi sebagai tugas akhirnya. Jika tahu sehebat itu arti kata sarjana, mungkin dia tidak akan berlama-lama masa studinya. Andai sudah sejak lama dia paham bahwa sarjana memuat kesakralan sedemikian rupa, yang bukan sekedar formalitas sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan dan simbol status sosial di masyarakat saja. Atau hanya batu loncatan untuk strata strata selanjutnya. Atau hanya prasyarat untuk menjadi pegawai negeri saja... ah si fulan hanya bisa meratap dan meratap. Fikirannya goyang. Akalnya kembali tertendang. Hatinya gamang. Cermin di depannya menampakkan sosok yang tak ada kualitasnya sama sekali. Sosok yang mungkin tidak memiliki wajahnya yang asli. Selama ini hanya bayangannya yang berjalan. Bukan dirinya yang sejati.

Si fulan kembali mengingat semua apa yang telah dia lakukan saat menempuh pendidikan di sebuah perguruan tinggi. Iya perguruan tinggi. Yang cukup tinggi kemuliaannya dibandingkan dengan apapun jua di muka bumi ini. Tidak akan pernah ada sebutan perguruan rendah. Semuanya perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang melahirkan sarjan-sarjana yang rendah hati. Perguruan tinggi yang menelurkan calon-calon penghuni surga nanti. Bukan perguruan rendah yang mencetak manusia-manusia yang tinggi hati yang doyan mencuri. Iya, si fulan merasa dirinya bukanlah sarjana seperti yang dikatakan malaikat itu. Si fulan kembali ingin berdialog dengan malaikat itu. Namun ternyata si malaikat sudah tak di tempatnya.

Si fulan lalu bersujud,
"Duh Kanjeng Nabi, kekasihNya yang sejati, perkenankan ku kirimkan salam untukmu dari tempat yang nikmatnya sering kali ku ingkari. Dunya, ini..."
 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...