Langsung ke konten utama

Kado Masbuk

Beneran. Warga negara macam apa saya ini! Sebenarnya KTP saya ini Indonesia atau #**J***^ (baca: suatu tempat di planet Neptunus). Tanggal 26 Mei 2013 kemaren, adalah hari penting untuk warga Jawa Tengah menentukan siapa pemimpinnya. Ada tiga pasangan calon. Dan mereka tampan-tampan semua! Shit! Udah tampan, kaya lagi! Iya kan? Kalau mau jadi pemimpin orang banyak, pemimpin ummat, harus gitu! Tajir, tampan, berwibawa. Tiga pasangan yang menurut saya semuanya layak untuk menjadi orang nomer 1 di Jawa Tengah. Dan yang paling saya tidak mengerti adalah penggunaan istilah 'orang nomer 1' itu sendiri. Ada orang nomer 1 di tingkat RT. Ada orang nomer 1 di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan ada orang nomer 1 Indonesia.  Kok rasa-rasanya, penyebutan 'orang nomer 1' itu kayak searti dengan 'orang yang sampai' terlebih dahulu. Jadi orang nomer 1 di Indonesia adalah orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia. Iya nggak sih? Misalkan kita lomba lari. Menang. Dia kan disebut nomer 1. Jadi kalau denger penyebutan 'orang nomer 1' tadi kayak gini ilustrasinya.

Di sebuah tempat yang belum bernama muncul sesosok makhluk. Dia terlihat sendiri dengan membawa beberapa senjata yang terbuat dari bebatuan berpakaian terbuat dari kulit hewan. Mungkin itu kulit cicak bukan kulit buaya. Karena tidak ada tulisan D&G disana. Setelah melakukan perjalanan selama beberapa tahun, akhirnya dia sampai di sebuah daratan yang sangat indah dan kaya akan hasil alamnya. Lalu dengan tidak sengaja dan karena saking senangnya, dia berteriak teriak INDONESIA! INDONESIA! INDONESIA! Sebuah kata yang dia sendiri tidak tahu artinya dan dia menjadi orang nomer 1 disana..... tamat.

Saya akui. Saya tidak tahu arti dari kata Indonesia. Biar dikata bodoh juga tak apa. Emang nggak ngerti. Dan tidak pernah ada yang menjelaskan detailnya kepada saya. Ada yang tahu arti kata Indonesia? Apakah ada unsur doa disana? Sebagaimana para orang tua memberi nama kepada anak-anaknya? Jadi tanggal 26 Mei kemarin itu saya tidak menggunakan hak pilih pada pilkada Gubernur Jawa Tengah yang baru. Bukan. Saya tidak sedang mengampanyekan golput. Saya juga tidak anti sistem seperti itu. Saya itu warga negara yang penurut kok. Cuma saya harus lebih menuruti apa kata ibu saya daripada menuruti pemerintah. Lagian warga negara Indonesia kan banyak. Yang menurut sama pemerintah kan banyak. Jadi kalau ada seekor warga negara yang tidak menurut kan tidak apa-apa. Tidak ada pengaruhnya bagi pemerintah. Ini memang agak aneh sih. Saya ngerasa aneh juga kok.

"Assalamualikum, Dik..." Ibu menelpon.
"Waalaikumsallam, nggih Bu."
"Katanya mau pulang Pati lagi?"
"Iya bu."
"Kalau mau pulang, tanggal 2 Juni aja. Sekalian bayar pajak STNK motor."
"Oooo.. Tanggal 26 kan..."
"Ya, tanggal 2 aja sekalian. Lagian ibu ini mau jalan-jalan ke Jakarta akhir Mei."
"Nggih bu."
"Nanti jangan lupa STNK nya dibawa ya pas pulang Pati."
"Nggih bu."
"Yawes ngono wae ya. Sukses, assalamualaikum..."
"Waalaikumsallam.."
Ceklik!

Tidak semua orang berani mencalonkan diri sebagai pemimpin orang banyak. Mereka itu insan-insan yang selalu mencoba mengamalkan pepatah, 'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang banyak'. Mereka para insan kamil yang mau menanggung penderitaan banyak orang dan turut membantu meringankan penderitaan orang lain. Jangankan cuma tiga calon pasangan, tiga ribu calon pasangan pun akan saya pilih semua. Saya contreng semua. Tidak, saya tidak akan pernah capek mencontreng sampai tiga ribu kali. Saya anggap itu sama seperti menandatangani buku-buku saya. Demi kebaikan, saya tidak akan pernah capek. Partai-partai politik di negara ini semuanya baik-baik. Kalau ada beberapa yang tersangkut kasus, biasa itu. Jalan tidak semuanya mulus. Apalagi jalan di Indonesia. Sudah pasti banyak yang rusak.

Lagian siapa saya tho? Apa satu suara saya benar-benar punya pengaruh? Apa satu pilihan saya benar-benar bisa memaknai proses pesta demokrasi semacam itu? Rasa-rasanya kok nggak ya. Saya menjalani hidup model randomisme begini, pemerintah juga nggak tahu. Kok pemerintah. Wong ibu saya aja kadang juga nggak ngerti. Yang mampu dilakukan ibu saya cuma mendoakan, menawar kepada Tuhan hampir di tiap tengah malam supaya ke-random-an hidup yang dijalani anaknya di dunia ini tidak menjadi hal yang sia-sia. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang banyak. Seperti visi dan misi para pasangan cagub-cagub itu. Gini aja deh. Jujur, bagaimana perasaan anda semua lima detik sepulang dari TPS setelah mencontreng. Bahagia? Tambah bersyukur karena yakin itu pilihan yang tepat? Kalau pilihan anda menang, anda sujud syukur meski tak menerima imbalan dari pasangan yang anda pilih? Apakah nanti anda akan tetap akan bersyukur meski nanti pilihan yang anda pilih tadi melupakan anda, bahkan menyengsarakan hidup anda setelah dia terpilih? Saya yakin jawaban anda iya. Atau terpaksa iya. Atau pura-pura iya. Atau iya aja atau iya banget.

Kecuali kalau memang suara saya menjadi suara penentu di kompetisi itu.

"Didik mana Didik! Cari dia! Temukan dia! Cepat! Kita harus segera menentukan siapa pemenangnya! Cepat cari dia sampai dapat!" kata petugas.

Lalu datang seorang pria perlente dengan memakai stelan jas hitam dipadu dengan sepatu pantofel yang mengkilap berjalan slow motion dengan rambut klimis sisir ke belakang diterpa angin. Kacamata hitam yang dikenakan menambah kuat aura wibawanya.

"Haaaa???!!! Didiiiikkkkk!!!!" teriak cewek-cewek di sekitar lokasi pemilihan. Beberapa ada yang sudah hitam jari kelingkingnya. Beberapa lagi juga hitam jari kelingkingnya tapi bukan karena tinta. Melainkan upil yang lupa ditaruh di bawah meja.

"Didiiiikkk!!!" teriakan itu semakin menggelar. Beberapa petugas menyambutnya dengan karpet merah.

"Silahkan tuan Didik. Sebelah sini."

"Ada apa ini?" Tuan Didik berkata penuh wibawa. Pesonanya berhasil membuat perempuan-perempuan pingsan dibawa ambulan. Tak terkecuali nenek-nenek usia 80-an.

"Maaf sebelumnya. Tapi kami mohon Tuan Didik harus memilih satu di antara tiga pasangan calon ini. Suara anda sangat menentukan."

"Berikan saya alasan yang lebih kuat lagi untuk memilih. Karena ini sudah mengganggu waktu saya. You know? Time is Mommy. Waktu adalah ibu. Dia yang melahirkan aktivitas-aktivitas ke-manusia-an di muka bumi ini."

"Oh. Saya mengerti maksut Tuan Didik." Kemudian datang empat orang. Tiap orang membawa satu kardus berisi bertumpuk-tumpuk uang.

"Apa itu?" Tuan Didik bertanya.

"Kalau tuan masih merasa kurang. Kami bisa menambahkan berlipat-lipat. Tapi kami mohon segera tentukan pilihan tuan."

"Bukan itu. Bukan itu. Bukan itu." Tuan Didik menggeleng-gelengkan kepala. Semua tahu. Itu tanda tidak setuju. Dan seharusnya mereka mengerti bahwa kekayaan Tuan Didik tidak ada bandingannya.

"Maaf. Sekali lagi maaf. Kami mengerti Tuan Didik. Uhmmm...." lalu petugas itu melirik ke arah perempuan. Seperti memberi kode kepadanya. Perempuan yang sangat cantik kenalan banyak para pejabat tinggi. Semampai tubuhnya. Wangi kibasan rambutnya. Dan menggoda kerlingan matanya.

"Tuan Didiiikkkk..." perempuan itu setengah merengek sembari memepetkan tubuhnya ke tubuh tuan Didik yang duduk dengan segelas anggur Perancis. "Tuan harus memilih... Tuan harus segera memilih... Nanti setelah itu tuan bisa memilih apa saja bagian dari tubuh saya ini." perempuan itu merayu. Tuan Didik terlihat cukup tenang. Bahkan dia tidak melirik sedikit pun perempuan itu.

"Wahai perempuan cantik. Kembalilah kepada orang tuamu. Sampaikan salamku kepada mereka."
Perempuan itu cemberut. Bergegas pergi dan melepas sepatu hak tingginya.

"Wahai perempuan cantik!" Tuan Didik meneriakinya. Perempuan itu segera menoleh dan tersenyum. "Itu bersihkan dulu upil di kelingkingmu!" 

Bagi saya. Tanggal 26 Mei kemaren itu mendatangkan beberapa penyesalan. Yang pertama jelas saya menyesal kenapa saya tidak bisa menggunakan hak pilih saya di pilkada Gubernur Jawa Tengah. Iya kan? Pasti kalian juga menyesal jika tidak bisa berkesempatan memilih. Apalagi yang mahasiswa mahasiswi aktivis-aktivis kampus itu yang selalu menjadi kader-kader terbaik partai. Ya kan? Terus penyesalan terbesar saya adalah, bahwa beberapa bulan lalu saya pernah ngomong sama seseorang.

"Tanggal 26 Mei besok, mas harus 70 kilogram."
"Iya. Tanggal 26 Mei besok berat badan mas pasti 70 kilogram!" Yakin saya! Lebih yakin daripada calon-calon gubernur yang ikut pemilihan itu.
"Beneran ya mas. 70 kilo. Itu kado buatku."
"Iya! 70 kilo!"

Tapi apa mau dikata kemaren saya timbang tubuh saya masih dibawa 60 kilo. Gimana tidak menyesal coba. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan penggelonggongan supaya bisa 70 kilo. Saya minum layaknya sapi. Makan seperti sapi juga. Tapi Tuhan selalu memiliki keputusan terbaik dibandingkan keputusan manusia seperti saya yang jadi warga negara Indonesia saja tidak bisa amanah.

Uhmmm, mungkin aku bisa jadi 70 kilo kok. Tapi tidak sekarang. Itu tetap akan menjadi kado terbaik untukmu. Meski kado itu menjadi Kado Masbuk...
Selamat ulang tahun dan ulang weton kamu... Di hari Minggu dan Senin lalu...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yusuf, Aku Belajar Kepadamu

Terik. Siang ini cukup terik. Itu berarti bahwa pakaian-pakaian yang saya jemur insyaallah kering, siap diangkat. "Wahai manusia, ketahuilah jikalau dirimu masih ingin diangkat dijunjung-junjung, dirimu tak ubahnya seperti jemuran, yang, kepanasan, kasihan..." Quote cakep ini. Bagus kalau dijadikan penyemangat instan. Habis dipakai terus semangat, terus semangatnya ilang, quote nggak terpakai lagi, ganti quote yang lain. Iya, tadi pagi itu saya mencuci baju. Sekarang saya sering bangun pagi. Habis shubuh ga bobo lagi. Benelan. Aku tu ya sekalang jadi anak lajin gak cenen. Hu'um benelan. Kan aku udah gede. Mandi cendili lho. Maem juga ga dicuapin. Oke, sudah cukup menjijikkan belum? Begini ada yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman. Nggak. Saya janji nggak akan ada lagi kalimat-kalimat pembuat mual seperti tadi. Ini cerita serius. Ada sangkut pautnya dengan masa depan bumi. Uhmm, maksud saya masa depan Indonesia. Kan sekarang ini Indonesia masih dalam ...

Manusia KW 13

Iya. Masih di dalam kamar 3x3 meter ini. Tidak banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk spesies seperti saya ini selain mengetik dan mengetik. Kemajuan teknologi informasi ini cukup membantu atau setidaknya merangsang saya untuk semakin giat mengetik. Tentu selain alasan karena saya masih sendiri, di usia yang hampir 27 tahun ini. Tanpa tabungan, tanpa prestasi, tanpa pekerjaan, tanpa harta, bahkan hampir tanpa keyakinan kepada diri saya sendiri. Kalau melihat teman-teman seumuran yang sudah menggendong anak, kepengen aslinya. Kalau melihat teman-teman yang pergi ke kantor pulang sore disambut istri, kepengen juga aslinya. Atau kalau mendengar dari pulau seberang bahwa teman saya sudah menikah dua kali, saya tambah kepengen. Itu prestasi yang cukup membanggakan untuk pria berkapasitas wajah pas-pasan. Agak nyesek lagi kalau mendengar warta bahwa teman-teman perempuan yang pernah dekat dulu, sekarang sudah berkembang biak dan beranak pinak bahagia dengan keluarganya. Iya, tapi katanya ...

Kau Mau Hidupku

Rambutnya sudah tertata rapi. Beberapa bekas jerawat penghuni pipi kiri mulai tak kelihatan lagi. Sedikit lebih berseri dari biasanya. Wajahnya tak begitu tampan namun menenangkan. Tatapan matanya tak menggoda tak pula membuai angan. Dia, lelaki yang sudah mulai mantap menata diri. Lelaki yang berani tegas terhadap keyakinannya sendiri. Lelaki yang anti mengkritik orang lain sebelum melihat ke dalam diri sendiri. Kemeja lengan panjang warna biru begitu pas dengan tubuhnya yang ramping. Tidak atletis memang. Namun sekali lagi kemeja yang sepintas seperti jeans itu melekat erat sesuai bentuk tubuhnya. Belahan pinggir rambutnya mengingatkan kita pada kaum-kaum intelektual di era kolonial Belanda. Tapi, apa yang salah dengan mode masa lalu itu. Hanya sekedar penampilan, bolehlah kiranya sedikit meninjam masa lalu. Bentuk hidung, mulut, lebarnya mata, serta dagu yang terbelah tengahnya, makin memantapkan jati dirinya sebagai orang Nusantara. Ya, seperti inilah iia. Ia yang sering menanamka...