Saat ini saya sedang bingung. Bingung kenapa saya begitu bingung hanya gara-gara sepasang sepatu. Saya dan sepatu tidak begitu akrab. Saya lebih mencintai sandal. Tapi kenyataan di lapangan sering memaksa saya untuk bersepatu. Saya melakoni hidup dengan tidak ikhlas jika harus bersepatu. Sampai tulisan ini dimulai, saya hanya memiliki sepasang sepatu yang saya beli di toko dekat pos polisi. Yang beberapa jam kemudian, kalau tidak salah ingat terjadi penembakan di pos polisi itu. Iya, tidak ada hubungannya memang. Hanya saja peristiwa-peristiwa yang seolah-olah tidak ada hubungannya itu justru menjadi hal yang sangat kuat untuk diingat. jadi terkadang, persoalan 'benda' itu tidak hanya sebatas 'benda' saja. Namun juga ada dimensi waktunya. Yang kemudian, oleh beberapa kebudayaan manusia modern disebut benda-benda kesayangan atau benda favorit. Jadi misalnya, anda memiliki beberapa tumpuk pakaian yang semuanya bagus-bagus, tidak mesti semua benda itu anda menyayanginya. Atau tidak semua anda pakai sekaligus. Paling banyak empat sampai lima helai saja, sudah termasuk pakaian dalam. Selebihnya hanya pakaian-pakaian formalitas dan normatif misalnya seragam sekolah atau seragam kantor. Jadi jangan heran kalau ada orang yang sukanya pakai warna hitam terus, atau merah terus, memang seperti itulah. Dari sekian warna yang ditemukan oleh manusia, hanya satu atau dua saja yang menjadi favorit.
Memang, tidak selalu benar pernyataan-pernyataan di atas. Karena tulisan ini hanya ikhtiar untuk menuju kebenaran. Bukan menjadi kebenaran itu sendiri. Asem! Sangar ya kata-katanya? Saya ulang boleh? Saya ketik pakai font MIRING CAPSLOCK ya. MEMANG, TIDAK SELALU BENAR PERNYATAAN-PERNYATAAN DI ATAS. KARENA TULISAN INI HANYA IKHTIAR UNTUK MENUJU KEBENARAN. BUKAN MENJADI KEBENARAN ITU SENDIRI.
Cukup membuat sakit mata nggak? Kalau nggak saya akan tulis semua cerita di blog ini dengan font miring capslock. Apa? Jangan? Baiklah. Sebenarnya saya punya kisah lain yang masih ada hubungannya dengan sepatu.
Begini. Sebenarnya sepatu yang saya maksud tadi saya beli dari uang yang diberi oleh manajemen Nasyid Zukhruf. Sudah banyak yang ngerti grup ini kan? Iya, islami mungkin. Tapi bagi saya nggak sih. Biasa aja. Kenapa? Karena saya juga bingung yang islami itu yang seperti apa. Mungkin ini karena saya begitu gagap terhadap bahasa. Terhadap kata. Terus terang, di antara beribu-ribu kata yang diucapkan oleh manusia terutama Indonesia ini, tidak banyak yang saya pahami maknanya apa. Kalau pun saya paham, belum tentu saya menggunakannya sesuai maknanya. Jadi misal islami saya paham. Oh islami itu yang seperti ini to? Belum tentu kehidupan saya Islami seperti makna yang saya pahami. Saya melakoni saja. Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan. Tapi kan manusia itu memiliki perilaku aneh. Misal di dalam kelas, kita diberi kesempatan untuk bertanya. Begitu kita bertanya terus-terusan, kita dianggap menyepelekan yang memberi kesempatan. Kadang ada yang sampai marah-marah juga. Kan aneh, kita disuruh bertanya, begitu bertanya, kita dimusuhi. Dikira kita meremehkan. Dikira kita memprotes. Padahal kan kita bertanya karena benar-benar tidak tahu maknanya. Makanya sekarang saya banyak diam. Eh iya. Ada yang aneh lagi. Sudah tahu kalau kita diam masih ditanya, "Mas, kenapa diam?". Terus kita jawabnya gimana? Kalau kita jawab kan, berarti diam kita batal?
Kata saya anda, diganti dengan aku kamu saja ya. Karena paragraf berikut ini agak romantis. Jadi sekat formal antara kita harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Begini. Sejujurnya aku mengalami tekanan batin yang cukup besar tentang bahasa. Terutama untuk berkomunikasi dengan si-dia. Sering aku berkirim sms dengan bahasa Indonesia. Ini aneh! Pengennya aku itu, berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Kalau bisa Jawa halus. Beneran. Pernah dia mengajak untuk bersms ria dengan bahasa Jawa halus. Ya ampun.... Mak nyes... Adem tenan ati iki. Koyok piye ngono lho rasane. Jan bedo banget! Luwih angel diceritakne timbang nganggo bahasa Indonesia sing jare bahasa persatuan kui. Mergo aku karo dekne ki podho-podho wong Jawa-ne. Tenan ki! Ora ngapusi aku. Rasane koyok pas ketigo panas kae, ngombe banyu degan ning ngisor wit ringin. Wes cobanen nek gak percoyo karo aku. Coba koe sms an karo wong sing mbok tresnani nganggo basa Jawa alus. Rasakno dhewe.
Maaf. Agak kurang kontrol ini menulisnya. Tapi memang itu yang ingin saya sampaikan. Bahasa-bahasa asli daerah, seperti bahasa Jawa misalnya. Justru punya kekuatan untuk tidak semena-mena disingkat begitu saja. Kecenderungan orang menyingkat karena metode yang digunakan adalah short message service. Pesan singkat. Itu kan perpanjangan dari teknologi pager. Jadi kita sudah terkukung oleh kapasistas karakternya. Coba anda yang orang Jawa silahkan mengirim sms dengan basa Jawa. Anda tidak akan pernah berfikir menyingkatnya. Paling hanya beberapa kata yang sudah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Kalau bahasa Jawa halus, mungkin tidak punya peluang lagi disingkat. Di samping kita kembali memahami bahasa Jawa itu sendiri dan memperbanyak kembali kosakata yang kita tidak paham.
Jadi kalau diajak oleh nasyid Zukhruf pentas di acara pernikahan, saya sering bingung. Itu pranatacara atau pembawa acaranya bicara apa sih? Saya tahu akarnya itu bahasa Jawa. Tapi saya nggak ngerti. Dan saya menganggap itu bahasa yang aneh. Setahu saya setiap saya ikut pentas bersama Zukhruf, saya mengalami tiga kebudayaan yang berbeda. Jawa, Arab, Indonesia. Menarik sebenarnya. Hanya saja, ya itu tadi, saya gagap terhadap kata. Hampir semua kata. Jadi orang ngomong apa gitu kadang saya tidak bereaksi langsung. Linglung. Orang ini berbicara apa sebenarnya? Bodoh ya? Iya sih. Kalau saya pinter saya kuliah di STAN! Dan mungkin tidak pernah punya kesempatan untuk menulis di blog karena kesibukan saya sebagai pegawai pajak! Saya menulis bukan karena saya penulis. Tapi karena saya pengangguran. Saya bisa menganggur seperti ini berkat dukungan dan doa dari kalian. Termasuk dukungan dari mas Arif Nasrullah vokalis nasyid Zukhruf yang bilang kepada saya.
"Dik, kejadian ini harus kamu tulis." Saya cuma tersenyum. Niat saya menceritakan kejadian kemaren mas. Tapi yang tertuang malah seperti ini. Permintaan mas Arif menyadarkan saya bahwa, ternyata orang sudah salah sangka terhadap saya. Saya diprasangkai sebagai penulis. Padahal saya menulis karena saya pengangguran mas. Bukan karena saya penulis. Kalau menulis, saya tetap menulis mas. Tapi maaf, saya memang orang yang tidak selalu bisa memenuhi permintaan oarng lain. Saya menulis dulu tanpa diminta. Kemudian memang beberapa ada yang meminta. Mungkin lain kali saya ceritakan kejadian kemaren. Kejadian yang jelas-jelas mencolok mata saya. Bahwa orang yang menolong kita itu Islam apa bukan kita tak perduli. Kita sudah menganggapnya saudara karena kebaikannya memperbaiki dan mengganti kampas kopling mobil sewaan kita sendirian dari jam tiga sore sampai hampir jam sembilan malam di depan rumah yang sekaligus menjadi bengkelnya dengan ongkos ganti jasa yang murah. Rumah yang oleh mata saya mungkin tidak layak disebut rumah karena berdinding gedheg, anyaman dari bambu itu. Yang kalau mengutip pernyataan mas Faza, rumah itu sangat sederhana sekali. Misal kita tahu bahwa ternyata orang yang menolong kita kemaren itu masih bujangan, dan tiba-tiba ingin mengundang Zukhruf pentas di acara pernikahannya, apakah kita masih mau menyanggupinya? Apalagi kalau ternyata dia berbeda keyakinan dengan kita, sanggupkah kita menjadi permata yang menghiasi acara penting dalam kehidupannya? Kalau tidak, lantas kita ini sebenarnya perhiasan untuk siapa?
Maka kalimat penting aneh lainnya yang saya ucapkan adalah,
"Terima kasih. Berkat doa dan dukungan kalian semua, sampai saat ini saya masih menjadi bukan apa-apa."
Komentar
Posting Komentar