Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Wangi Iman Jangan Bergoyang

Mulai sekarang saya berusaha untuk menjaga penampilan layaknya seorang pria dewasa. Setelah mengganti model rambut dari 'gondrong merana' ke 'belah pinggir mempesona' saatnya memilih parfum yang sesuai dengan karater personal saya. Konon katanya, jenis parfummu menunjukkan kepribadianmu. Jargon yang mantap. Eksperimen penggunaan sabun bayi kemaren untuk sementara ini saya anggap gagal. Ternyata sabun bayi itu tidak menimbulkan banyak busa. Dengan kata lain penggunaannya memang sangat cocok untuk bayi yang memiliki anatomi tubuh yang kecil. Kalau yang memakai adalah orang dewasa yang tentu saja tubuhnya sudah mengalami pertumbuhan disana-sini maka, mandi dengan sabun bayi adalah suatu bentuk keborosan. Cepat habis. Itu yang saya alami. Kalau begini caranya pendanaan saya bisa membengkak. Semakin terkuras tabungan saya. Parfum. Membuat bau badan anda menjadi wangi. Menjadikan anda lebih percaya diri menjalani aktivitas yang padat sehari-hari. Iklan banget ya? Soal pa...

Tak Sekedar Memiliki (Cerpen)

Paijo menggulung celananya sampai atas lutut. Diangkatnya beberapa benda seperti kasur, panci, televisi, dan perabotan penting yang masih bisa diselamatkan. Sudah dua hari ini rumah Sri tergenang air. Tepatnya desa tempat dimana Sri tinggal sembilan puluh persen terkena banjir karena berada di sekitar tanggul sungai yang airnya meluap setelah diguyur hujan tiga hari tiga malam. Lantas siapa Paijo? Dia adalah calon tunangan Sri. Calon. Masih calon. Dan sebagai calon tunangan yang baik Paijo ikut berjibaku membantu mengevakuasi barang-barang milik keluarga Sri. Bapak, ibu, dan tiga adik Sri sudah mengungsi di kantor kelurahan yang kebetulan tidak terendam air. Bapak Sri sudah agak tua untuk melakukan aktivitas angkat mengangkat barang. Sedang ketiga adik Sri masih tergolong imut. Sri merupakan anak sulung di keluarga ini. Sebuah keluarga, dimana sebentar lagi Paijo akan menjadi salah satu bagiannya. “Mas itu figuranya ditinggal saja. Kata bapak tidak perlu semua barang diselamatkan....

Nama Sayang

Rasanya badan ini harus segera dilarikan ke hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya. Sampai saat ini belum ada niatan yang pasti. Belum juga ada visi misi yang jelas ke depannya kecuali niat melangsungkan ijab qabul dengan dana seminimal mungkin. Lelaki irit itu seksi. Iya karena memang belum ada dana yang mencukupi untuk melakukan selebrasi besar-besaran. Yang penting niatnya dulu. Perkara realisasinya kapan itu terserah sama perempuan yang mau. Nggak mungkin juga kalau harus minta bantuan orang tua. Dari kecil sudah dirawat disayang sedemikian rupa, masa sudah mau menikah masih manja. Meski ragil, tetep harus bersikap gentlemen. Kalau nggak punya ngomong nggak punya. Resikonya paling durasi jomblonya lebih lama. Karena tradisi keluarga sudah mengajarkan hal itu turun temurun. Nenek dulu juga harus menghidupi enam orang anaknya sendiri setelah ditinggal kakek. Dan enam orang itu akhirnya tidak ada yang luput menjadi pegawai. Minimal pegawai negeri dan sebagian menjadi perwira di mili...

Pengantin Masbuk

Ini mungkin akan menjadi catatan paling tragis di awal tahun 2013. Bukan tentang sesiapa, tapi ini lagi-lagi tentang sayang. Sayang lagi. Tentang saya.  Siang tadi saya dijemput oleh keluarga untuk diajak ke Wonogiri. Bukan. Saya tidak sedang akan melamar anak gadis dari daerah itu. Yakin. Pak lek atau paman saya ingin menggelar acara resepsi pernikahan putranya yang kedua besok pagi. Karena keluarga dari Pati tidak semua bisa hadir di hari itu, maka kami datang sehari lebih awal untuk sekedar ikut berbagi kebahagiaan dengan mereka. Kalau mau ke Wonogiri dari arah Pati kan melewati jalur Solo, jadi saya minta dijemput saja. Ide cemerlang kan? Tidak begitu merepotkan karena saya stand by di dekat terminal Tirtonadi. Dengan mobil Avanza putih, mereka menculik saya. Di dalam sudah ada kakak, ibu, bapak, sama pakdhe. Begitu masuk langsung disambut pertanyaan yang lebih mirip tusukan. "Sudah selesai?" tanya kakak sepupu saya. "Belum." jawab saya meringis. ...

PNS (Penulis Nista Sekali)

Saya sendiri suka heran. Itu teman-teman yang sudah lama sekali tidak ketemu, sekalinya ketemu langsung menyodorkan beberapa pertanyaan. "Gimana kabarnya?" Ini basa basi yang sudah paten tanpa dipatenkan hak patennya. "Dimana sekarang?" Ini merujuk tentang apa pekerjaan kita sekarang. "Sudah berapa anaknya?" Ini pertanyaan untuk menguji seberapa besar tingkat kejantannya kita. Sekali-kali diganti gimana gitu kek. Yang kreatif sedikitlah jadi manusia. "Gimana usahamu?" Ini bukan lagi basa basi. Konon beberapa keluarga China sering memakai pertanyaan ini. Semakin besar dan banyak usahanya, semakin bagus. "Sudah berapa buku yang kamu tulis?" Ini merujuk tentang seberapa kita mampu berkreasi. Nggak harus buku sih, bisa apa saja. "Berapa istrimu? Anakmu berapa dari istri keempatmu?" Ini lebih dari cukup untuk menguji kejantanan seorang laki-laki. Tidak hanya jantan, tapi juga bertanggung jawab Kayak gitu baru p...

Kebaikan Yang Berjilbab

Sabtu malam, 5 Januari 2013, saya melakukan hal yang paling romantis selama hidup saya. Saat itu Solo diguyur hujan deras sedari siang. Tentu ini berpengaruh terhadap cuaca. Sederhananya, hujan sama dengan dingin.  Hujan + Dingin + Jomblo = Neraka Dunia  Iya, hidup sendiri itu juga nggak gampang ternyata. Resolusi dua tahun yang lalu untuk menikah diumur 25 atau 26 mentah semua. Makanya saya sekarang nggak mau resolusi-resolusian! Bukan nggak percaya, tapi ikut kehendak Pencipta itu kok sepertinya lebih enak daripada ngeyel dengan pengetahuan yang terbatas ini. Sudah direncanakan matang-matang, tidak terwujud juga. Yang dilakukan sekarang hanya menerima. Iya eksekusinya yang buruk mungkin. Oke. Sabtu malam, disaat yang lain berduaan dengan orang yang disayang, saya harus berduaan dengan dosen pembimbing skripsi di rumah beliau. ROMANTIS! Rumus paling romantis sedunia, hujan + dingin + jomblo = bimbingan skripsi.  Saya melakukan dengan cepat dan langsung pulan...

Kamu AYU dalam rAYUku

Iya iya. Saya mau berjanji dalam tulisan kali ini saya tidak akan menyebut nama. Nanti kena tuntut lagi. Aneh. Punya nama, terus dipanggil namanya nggak mau. Lalu buat apa fungsi nama. Orang kok gampang tersinggung. Padahal itu belum tentu orang yang dimaksut. Apa peradaban sekarang peradaban manusia-manusia gampang ge-er. Disebut namanya saja muntap. Kalau muntap minum antiiii..... Nggak boleh nyebut nama ding. Lupa. Saya pakainya 'kamu' saja.  Iya kamu. Siapa lagi. Kali ini benar-benar kamu si pemilik senyum itu. Iya senyum yang manis itu. Yang membuat rasa lelahku menguap kemana. Yang membuatku lupa bahwa kemaren aku masuk gua pakai jas ala boyband   Korea . Walah! Jadi ingat cerita perjalanan kemaren. Saya mengawali tahun 2013 dengan sangat elegan. Masuk gua pakai jas ala boyband Korea ! Gini nih ceritanya. Saat itu tanggal 31 Desember 2012, biasalah gegap gempita gitu. Kesannya merayakan pergantian tahun adalah 'wajib'. Padahal masih ada pergan...