Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2020

Seberang Jalan Wedangan Pak Sunar

"Wedangan ngarep WB lawas piye?" Adit, temen satu angkatan kuliah di Etnomusikologi ISI tahun 2004 itu menentukan lokasi untuk kami bersua di malam itu. Bukan dadakan tapi semacam rencana fleksibel yang sudah diagendakan siang sebelumnya. Seperti sudah tersusun rapi, rasanya hari itu saya kembali ke masa silam. Masa di mana saya mulai ketemu banyak makhluk yang aneh-aneh. Ajaibnya mereka hidup. Hidup mereka pun ajaib. Sebagian lagi keajaiban itu mereka tebar agar bermanfaat bagi orang banyak. "Wedangan ngarep WB lawas" merujuk pada satu tempat yang bagi saya tentu saja penuh romantisme. Penuh dengan kenangan. Pun termasuk kenangan yang dipenuhi impian. Siang hari sebelumnya, saya menerima kabar, bahwa Pak Bayu, begitu saya akrab memanggil beliau, berpulang. Salah satu kerabat dari kerabat keraton Mangkunegaran itu kalau dirunut, beliau adalah salah satu manusia baik yang saya anggap sebagai guru. Ada nama panjang beserta gelar, tapi beliau sepertinya lebih seneng di...

Anakku Keramas Pakai Minyak Telon

Jam-jam untuk memulai menulis. Waktu yang tepat untuk kembali ke tempat di mana aku bisa menjadi apa saja siapa saja dan bagaimana saja. Atau dalam skala radikalnya, aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi Tuhan, dalam tulisan. Asik. Tingkat langit mulai muncul ini. Ya, wong ora dikon dadi Tuhan wae menuso kadang secara langsung berlaku sebagai Tuhan bagi manusia yang lain. Dengan skala dan konteks masing-masing medan hidupnya. Contoh? Masih tanya contoh? Hadapi itu cermin.  Maka aku pilih untuk menjadi Tuhan sementara waktu saja. Itu pun dalam ruang lingkup kesempitan imajiku. Bukan yang sebenarnya Tuhan. Dan tentu saja tidak perlu diperdebatkan. Wong ini tujuannya untuk diriku sendiri kok. Cara-cara saya. Gaya-gaya saya. Ada ruginya juga situnya nggak nanggung kan?  Kalau berkenan, cukup baca saja. Tidak perlu dipikir. Atau kalau mau membalas ya nulis saja. Penak, enteng, ora pethenthengan kaya udun.  Tetapi saya juga tetap perlu meningkatkan kewaspadaan diri ter...

Yang Pertama Setelah Beranak Dua

Seperti judul, tulisan tetiba saja njedul. Pengen sekali mendokumentasi kembali cerita harian sebagai bahan cadangan warisan untuk keturunan. Ho'o. Semakin kesini jadi semakin lebih berani mengisi hari-hari menjadi makhluk yang bermanfaat dan bermartabat. Martabat Terang Bulan. Iya karena setelah sekian lama mengais-ais potensi ternyata nggak nemu juga.  Untungnya Tuhan membuat software untuk saya sebagai salah satu makhluknya yang lucu. Lucu banget. Banget lucune. Ketika saya berdoa minta diberi momongan, sama Tuhan nggak dikasih-kasih. Yeeeyy, kitanya hampir hilang kepercayaan sama Beliau dong yak. Begitu udah nggak minta-minta lagi terus dikasih. Ya sewajarnya bersyukur ya bersyukur aja. Masa mau protes lagi, "piye sih, kan wes gak nyuwun? Telat!" Kan gak lucu ye kan?  Anak udah ada, giliran minta rumah nih ceritanya, eh malah istri dibikin hamil lagi. Ye kan? Bercandanya Tuhan suka offside gitu kan ye? Gimana akunya nggak ngakak tralala? Jadi pekerjaan saya tiap hari ...