"Wedangan ngarep WB lawas piye?" Adit, temen satu angkatan kuliah di Etnomusikologi ISI tahun 2004 itu menentukan lokasi untuk kami bersua di malam itu. Bukan dadakan tapi semacam rencana fleksibel yang sudah diagendakan siang sebelumnya. Seperti sudah tersusun rapi, rasanya hari itu saya kembali ke masa silam. Masa di mana saya mulai ketemu banyak makhluk yang aneh-aneh. Ajaibnya mereka hidup. Hidup mereka pun ajaib. Sebagian lagi keajaiban itu mereka tebar agar bermanfaat bagi orang banyak. "Wedangan ngarep WB lawas" merujuk pada satu tempat yang bagi saya tentu saja penuh romantisme. Penuh dengan kenangan. Pun termasuk kenangan yang dipenuhi impian. Siang hari sebelumnya, saya menerima kabar, bahwa Pak Bayu, begitu saya akrab memanggil beliau, berpulang. Salah satu kerabat dari kerabat keraton Mangkunegaran itu kalau dirunut, beliau adalah salah satu manusia baik yang saya anggap sebagai guru. Ada nama panjang beserta gelar, tapi beliau sepertinya lebih seneng di...
Coretan Ngawur Hati Yang Hampir Hancur