Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2013

Malaikat Pelukis Iler

Sebentar, selonjoran dulu. Soalnya kemaren habis jalan-jalan. Liburan saya. Biar orang mengira saya seorang pekerja. Pekerja kan butuh liburan. Ini masih ngantuk-ngantuk. Apa? Nggak lah. Justru karena itu saya terlihat makin tampan. Iya. Kalian nggak harus setuju sih. Tapi model paling jujur sedunia adalah 'Bangun Bobo' mode on. Wajah terlihat apa adanya. Dimana iler yang mengering di sekitar mulut membentuk sebuah rangkaian abstraksi yang artistik. Lho iya kan? Kalian nggak sadar sih. Sebenarnya ada malaikat yang membentuk motif iler itu lho. Tenang aja malaikat bukan makhluk Mars kok. Susah lho itu bikinnya karena setiap manusia memiliki motif iler kering yang berbeda. Jadi pas tubuhmu tergeletak tak sadarkan diri, malaikat yang biasa menjagamu lantas mengambil kayu kecil seukuran korek api. Kemudian dia mendekati tubuhmu pelan-pelan supaya tidak menimbulkan goncangan yang bisa mengakibatkan kamu tersadar dan bangun dari bobomu. Pernah mengalami mimpi kan? Mimpi itu sebenar...

Kamu, Cerminku

Ini Senin, dan saya belum pernah merasa setampan ini sebelumnya. Dari dulu belum pernah. Kalau bisa dirata-rata sejak kecil saya sangat benci dengan cermin. Terhadapnya saya tidak memiliki antusias. Atau bahasa sekarang menyebutnya saya orang yang tidak terdidik untuk menonjolkan kepercayaan diri sendiri. Itu kenapa kata teman-teman psikologi saya lebih banyak mengalami kehilangan demi kehilangan. Genggaman saya terhadap sesuatu yang sangat cintai sangatlah lemah. Genggaman yang rentan dan mudah sekali terlepaskan. Tak apa itu versi mereka, dan saya sepakati pendapat mereka. Toh, sebelum mereka melemparkan pernyataan semacam itu mereka sudah melakukan penelitian demi penelitian dan mengumpulkan teori sebanyak dan se-valid mungkin. Yang jelas, saya belum pernah merasa setampan ini. Cermin itu benda paling memuakkan sejagat raya. Itu benda yang seolah-olah menegaskan siapa diri saya tapi ternyata dia juga yang menipu saya habis-habisan. Saya membuang energi dengan mempercayai apa ya...

Betapa Setianya Aku

Yeah! Sepertinya saya cukup bersemangat sekali untuk menulis hari ini. Tak pernah se-bergairah ini. Udara pagi lagi baik sama saya. Tadi saya ngomong sebentar sama dia. "Kamu tumben baik banget sama aku." tanyaku. "Ye! Aku juga tiap pagi, tiap hari berganti juga pasti dibilang baik sama manusia. Menyegarkan hidup mereka katanya." tutur udara. "Salah siapa situ labil!" bentakku, "Kalau pagi seger, begitu siangan dikit aja, eh udah panasnya minta ampun!" "Hus!" giliran udara menghardikku, "Kamu tuh yang bodoh! Aku stabil bukan labil! Manusia itu yang bikin kita, makhluk udara, jadi labil begini!" udara bertambah sewot. Saya nyengir. Taulah, bisa tersinggung juga udara. Makanya sekarang saya kalau bangun pagi, lebih tepatnya kalau bisa bangun pagi, lebih tepatnya lagi, kalau beruntung bisa bangun pagi, saya suka menyapa makkhluk berjenis udara itu. Ada rumusnya kalau mau. Mau nyoba? Tapi ini cara saya lho.  Perta...